NovelToon NovelToon
BENANG MERAH TAKDIR BERDARAH

BENANG MERAH TAKDIR BERDARAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mata Batin / Horor
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

"Satu bisa melihat yang tak kasat mata, satu lagi memburu yang nyata. Namun, sang maut mengincar keduanya."


Kiara tahu ada yang salah saat bayangan merah mulai melilit leher orang-orang di sekitarnya. Sebagai anak indigo, ia adalah saksi bisu dari takdir berdarah yang akan segera terjadi. Di sisi lain, Reyhan berjuang melawan waktu di kepolisian untuk menghentikan monster dalam wujud manusia yang terus menambah daftar korban.


Persahabatan mereka diuji ketika benang merah itu mulai mengarah pada masa lalu yang selama ini mereka simpan rapat-rapat. Bisakah logika pistol Reyhan melindungi Kiara dari teror yang bahkan tidak bisa disentuh oleh peluru? Ataukah mereka hanyalah bidak dalam permainan takdir yang sudah dirancang untuk berakhir dengan kematian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka,Bubur,Dan Rahasia

Bau karbol yang tajam menyambut indra penciuman Reyhan. Cahaya matahari pagi menyelinap lewat celah gorden, menusuk matanya yang perlahan terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit putih yang membosankan, dan yang kedua adalah Rendy yang sedang asyik menyantap bubur ayam di kursi samping tempat tidurnya.

"Oh, sudah bangun? Gue kira lo mau koma sampai musim depan biar bisa dapet asuransi lebih banyak," sindir Rendy tanpa rasa bersalah.

Reyhan berusaha duduk, namun langsung meringis saat merasakan perban di seluruh tubuhnya seolah menarik kulitnya. "Sial... pelan-pelan kalau bicara. Kepala gue rasanya kayak habis dijadikan bola sepak sama timnas."

"Lagian lo nekat banget jatuh bareng Adiwangsa," Kiara melangkah masuk membawa sebukit bunga segar. Wajahnya terlihat lebih tenang, meski matanya masih menyiratkan kelelahan yang dalam. "Tim penyelamat hampir menyerah karena reruntuhannya terlalu dalam, Rey."

Reyhan tersenyum tipis—senyum miring yang penuh rahasia. Ia meraih ponselnya yang memiliki layar retak seribu di atas meja nakas.

"Kalian tahu kenapa gue harus jatuh bareng dia?" tanya Reyhan sambil mengutak-atik ponselnya dengan jemari yang masih gemetar.

"Karena lo haus pujian?" tebak Rendy asal.

"Bukan," Reyhan memutar sebuah rekaman dari ponselnya. Isinya bukan suara manusia, melainkan suara gesekan logam riritmik dan kode-kode pendek. "Saat jatuh, gue sempet nempelin alat pelacak mikro di balik jam tangan mewahnya. Adiwangsa punya brankas rahasia di luar negeri yang nggak terdeteksi siapa pun. Kalau gue nggak jatuh bareng dia, gue nggak bakal punya celah buat masang alat itu tanpa dia sadari."

Rendy langsung tersedak buburnya. "Jadi... bahkan saat maut di depan mata, lo masih sempet-sempatnya kerja sampingan?"

"Namanya juga profesional," Reyhan menyandar, mencoba mencari posisi nyaman di antara kabel infus. "Dunia pikir gue cuma polisi yang jago ngeluh dan bikin lelucon garing. Itu satu-satunya cara biar Adiwangsa nggak waspada. Kalau gue kelihatan terlalu pintar, dia pasti sudah habisin gue sejak gue masih di akademi."

Kiara menggelengkan kepalanya, antara kesal dan kagum. "Jadi selama ini kamu main sandiwara 'nggak berguna' cuma buat momen ini?"

"Nggak sandiwara juga sih," sahut Reyhan menyeringai. "Gue emang nggak berguna kalau disuruh masak atau beresin kasur. Tapi kalau disuruh ngeruntuhin diktator yang hobi jahit lidah orang? Serahkan pada ahlinya."

Pintu kamar rawat terbuka. Seorang perwira tinggi masuk dan memberikan hormat pada Reyhan—pemandangan yang sangat langka bagi seorang detektif yang biasanya dianggap pemberontak.

"Inspektur Reyhan, tim khusus sudah mengamankan brankas tersebut. Semua bukti 'Penenun' sudah lengkap. Anda resmi dipromosikan."

Reyhan hanya menguap lebar. "Promosi? Boleh minta naik gaji aja nggak, Pak? Biaya laundry tuxedo kemarin mahal banget, saya nggak mau rugi."

Setelah perwira itu keluar, suasana kembali hening. Kiara menatap Reyhan dengan pandangan menyelidik. "Rey, jujur. Sejak kapan kamu pasang alat itu? Kamu pingsan di rubanah, kan?"

Reyhan tertawa kecil, suara tawa yang penuh kemenangan. Ia menarik laci meja nakas dan mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk kancing baju yang sudah hancur.

"Gue nggak pingsan secepat itu, Kiara," bisik Reyhan. "Ingat pas gue piting dia dan gue borgol ke pipa? Di saat itulah gue tukar jam tangannya dengan replika yang sudah gue pasangi pelacak. Gue udah nyiapin replika itu di saku sejak kita masih di gudang percetakan Rendy."

Rendy berhenti mengunyah. "Jadi... tuxedo mahal itu sengaja lo desain buat bawa jam tangan palsu?"

"Tepat. Adiwangsa terlalu sibuk dengan naskahnya sendiri sampai dia nggak sadar kalau gue sudah mengganti propertinya." Reyhan kemudian mengeluarkan secarik kertas kusam dari bawah bantalnya—daftar nama pejabat yang menjadi 'koleksi' ayahnya.

"Ini alasan utama gue harus jatuh bareng dia," Reyhan menunjukkan kertas itu dengan mata berkilat. "Kalau dia ditangkap di atas, dia punya waktu buat musnahin ini. Tapi di bawah reruntuhan, di tengah debu dan panik, dia nggak sadar kalau putranya yang 'sekarat' ini sedang merogoh kantongnya."

Kiara menghela napas panjang. "Kamu benar-benar detektif paling brengsek yang pernah aku kenal, Reyhan."

"Terima kasih pujiannya, Tuan Putri," sahut Reyhan santai. "Sekarang, Rendy... habisin bubur lo. Begitu gue keluar dari sini, gue mau lele goreng yang paling enak di kota ini. Gue muak sama makanan rumah sakit yang rasanya kayak kertas jilid."

Di luar, beberapa mobil hitam tanpa pelat nomor mulai bergerak menjauh dari rumah sakit, menandakan bahwa sisa-sisa pengikut Adiwangsa sedang panik karena rahasia mereka kini berada di tangan orang yang paling tidak mereka harapkan: Reyhan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!