NovelToon NovelToon
The Instant Obsession

The Instant Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Damian Nicholas memiliki segalanya-kekuasaan, harta yang tak habis tujuh turunan, dan masa depan yang sudah diatur rapi oleh orang tuanya.

Termasuk sebuah perjodohan dengan putri dari relasi bisnis keluarganya demi memperluas kekaisaran mereka. Namun bagi Damian, cinta bukan tentang angka di saldo rekening, melainkan tentang getaran yang ia rasakan pada pandangan pertama.

Getaran itu ia temukan pada Liora Selene, seorang gadis sederhana yang ia temui secara tidak sengaja. Di mata Damian, Selene adalah sosok tulus yang tidak silau akan hartanya. Ia jatuh cinta pada kesederhanaan Selene, tanpa tahu bahwa di balik pakaian lusuh itu, Selene menyimpan rahasia besar.

Selene sebenarnya adalah putri dari keluarga terpandang yang sedang mencoba melarikan diri dari jeratan ekspektasi dunia kelas atas dengan berpura-pura menjadi rakyat jelata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Strategi Sang Predator

Pukul menunjukkan tepat 08:30. Sinar matahari pagi menembus kaca-kaca gedung Nicholas Group, namun tidak ada yang lebih berkilau dan tajam daripada tatapan mata Damian pagi itu. Ia berdiri di depan cermin besar di ruangannya, merapikan letak jam tangan Patek Philippe yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

Jas abu-abu gelap yang ia kenakan hari ini memberikan kesan lebih formal, namun tetap memancarkan aura dominasi yang tak terbantahkan. Damian kembali ke mode "mesin bisnis" yang sempurna.

Pintu kayu jati ruangannya terbuka. Asisten pribadinya, yang tampak jauh lebih sigap setelah insiden kemarin, masuk dengan membawa tablet berisi ringkasan profil klien yang akan mereka temui.

"Tuan Nicholas, kendaraan sudah siap di lobi. Pertemuan dengan jajaran direktur Vargoz Corp akan dimulai pukul sembilan tepat di hotel Grand Hyatt," lapor sang asisten dengan nada bicara yang cepat dan efisien.

Damian tidak menjawab. Ia hanya mengangguk tipis, menyambar tas kulitnya, dan melangkah keluar. Setiap langkah kakinya di lorong kantor menciptakan irama yang tegas, seolah-olah ia sedang menabuh genderang perang.

"Apa mereka sudah menyetujui poin akuisisi yang aku ajukan semalam?" tanya Damian sambil terus berjalan menuju lift, suaranya berat dan dingin.

"Mereka masih sedikit keberatan dengan persentase pembagian saham di sektor energi, Tuan. Mereka merasa tawaran Anda terlalu... agresif."

Damian menyeringai tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Agresif? Mereka belum melihat apa-apa. Jika mereka ingin bermain aman, mereka seharusnya pergi ke panti asuhan, bukan ke meja negosiasiku."

Lift berdenting, membawa mereka turun dengan kecepatan tinggi. Di dalam ruang sempit yang dilapisi cermin itu, bayangan Damian tampak sangat mengintimidasi. Meskipun pikirannya terfokus pada angka dan strategi, jauh di lubuk hatinya, ada satu sudut yang tetap dihuni oleh bayangan Selene.

"Pastikan semua dokumen hukum sudah siap di tempat," perintah Damian saat mereka melintasi lobi.

Ia sempat melirik ke arah trotoar tempat keributan kemarin terjadi. Area itu sudah bersih, seolah-olah tidak pernah ada darah atau air mata di sana. Begitulah dunia Damian; yang lemah akan tersingkir dan terlupakan dalam hitungan jam.

"Ayo berangkat," ucap Damian sambil masuk ke dalam kursi belakang mobil Rolls-Royce yang sudah menunggunya. "Aku ingin pertemuan ini selesai sebelum makan siang. Aku punya urusan lain yang jauh lebih penting untuk dilacak."

Ketegangan di dalam Rolls-Royce pagi itu begitu pekat hingga oksigen seolah menipis. Sang sopir mencengkeram kemudi dengan buku jari yang memutih, matanya tak berani melirik kaca spion tengah sama sekali. Ia fokus menatap jalanan, berusaha tidak melakukan pengereman mendadak yang bisa memicu amarah tuannya.

Di sampingnya, sang asisten duduk kaku dengan tablet di pangkuan yang gemetar. Ia bisa merasakan hawa dingin yang memancar dari kursi belakang—sebuah aura predator yang sudah sangat lama tidak ia rasakan sekuat ini.

Padahal, beberapa bulan terakhir ini, asisten itu sempat merasa lega. Ia sempat melihat sisi Damian yang sedikit lebih "manusiawi"—pria itu sesekali tampak melamun dengan senyum tipis, atau setidaknya tidak langsung memecat orang karena kesalahan bicara yang sepele. Asisten itu mengira bosnya sudah mulai melunak, mungkin karena pengaruh proyek panti asuhan atau seseorang di sana.

Namun pagi ini, harapan itu musnah. Damian yang duduk di belakangnya adalah Damian yang lama—bahkan jauh lebih berbahaya.

"Kenapa mobil ini melambat?" suara Damian memecah keheningan. Rendah, serak, dan penuh ancaman.

"M-maaf, Tuan Nicholas. Ada sedikit kemacetan di depan karena perbaikan jalan," jawab sang sopir dengan suara yang hampir tidak keluar.

Damian mendecih, suara yang terdengar seperti gesekan pisau di atas logam. "Aku membayar pajak untuk jalan yang lancar, bukan untuk melihat punggung mobil orang lain. Cari jalan tikus. Jika kita terlambat satu menit saja, kau bisa mencari pekerjaan sebagai pengantar makanan besok pagi."

"B-baik, Tuan!" Sang sopir segera memutar kemudi dengan nekat ke jalur alternatif.

Asisten itu memberanikan diri menoleh sedikit, hendak mengonfirmasi jadwal. Namun, ia langsung menyesal. Ia melihat Damian sedang menatap lurus ke jendela dengan rahang yang mengeras permanen. Tangan pria itu meremas kain sutra tipis yang ada di genggamannya—begitu kuat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol.

Siapa pun yang membuat Tuan Nicholas kembali menjadi monster seperti ini, mereka benar-benar sudah membangunkan iblis yang salah, batin sang revan ngeri.

1
Leny Enick
ditunggu selajutnya 💪semngat thor
YuWie
ada2 aja tingkah org kaya tuh ya..nyamar segala..adakah di dunia nyata..hmmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!