NovelToon NovelToon
The Future With My Grumpy Neighbor

The Future With My Grumpy Neighbor

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Time Travel / Menikah dengan Musuhku / Enemy to Lovers / Slice of Life
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

"Jangan dekat-dekat cowok lain, Cebol. Kau itu tanggung jawabku!"
Bagi Anvaya Dinakara, Narev Elvaro adalah tetangga raksasa setinggi 192 cm yang paling menyebalkan. Narev selalu mengawasi Vaya, melarangnya berteman dengan pria lain dengan alasan "menjaga titipan orang tua".
Namun, satu insiden di malam kelulusan melempar mereka sepuluh tahun ke masa depan. Vaya terbangun bukan di kamarnya, melainkan di pelukan Narev dewasa yang sangat memujanya. Lebih gila lagi, ada seorang bayi cantik bernama Miciella Aracelli yang memanggil mereka "Mama" dan "Papa".
Terjebak dalam pernikahan masa depan yang manis, mampukah mereka kembali ke masa lalu saat status mereka masih "musuh bebuyutan"? Atau justru Narev akan melakukan segala cara agar masa depan itu menjadi nyata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Kartu Mati dan Amarah Raksasa

[​POV: Vaya]

​Aku melangkah masuk ke dalam kafe yang cukup sepi, tempat Rian sudah menungguku di sudut ruangan. Di luar, aku tahu Narev sedang mencengkeram kemudi mobilnya dengan urat-urat tangan yang menonjol, menungguku dengan sisa-sisa kesabaran yang tipis.

​Begitu aku duduk, Rian langsung menyunggingkan senyum kemenangan. Dia mengeluarkan sebuah map cokelat tua yang tampak kusam.

​"Aku tahu kau akan datang, Vaya. Kau tidak akan bisa mengabaikan ini," Rian menyodorkan map itu. "Buka. Lihatlah bagaimana suamimu tercinta menyuap dokter rumah sakit untuk memalsukan rekam medis ayahmu sepuluh tahun lalu, hanya agar ayahmu terlihat tidak kompeten secara mental dan Narev bisa mengambil alih kekuasaan perusahaan secara paksa."

​Aku menatap map itu, lalu beralih menatap mata Rian yang penuh kebencian. Tanpa membukanya, aku mendorong map itu kembali ke arahnya.

​"Aku tidak peduli, Rian," kataku dingin.

​Rian tertegun. Senyumnya luntur. "Apa? Kau tidak dengar? Dia memanipulasi kesehatan ayahmu! Dia monster yang lebih buruk dari yang kau bayangkan!"

​"Aku sudah bilang padamu," aku menegakkan punggung, menatapnya dengan tatapan yang paling tajam. "Seberapa buruk pun masa lalu Narev, seberapa hitam pun caranya memilikiku, aku tetap memilihnya. Karena di balik semua kegilaannya, dia adalah pria yang selalu ada untukku. Dia tidak pernah bermuka dua sepertimu. Dia mengaku dia monster, sementara kau... kau berpura-pura menjadi pahlawan padahal kau hanya parasit yang haus harta."

​Rian menggebrak meja, wajahnya memerah padam. "Kau gila, Vaya! Kau menderita Stockholm Syndrome!"

​"Mungkin," jawabku tenang. "Tapi aku tidak akan pernah pergi darinya. Jangan pernah muncul lagi, Rian. Karena jika kau melakukannya, aku sendiri yang akan menghancurkanmu."

​Aku berdiri dan berbalik untuk pergi. Aku merasa lega, seolah beban berat baru saja terangkat dari bahuku. Namun, saat aku baru saja melangkah menuju pintu keluar yang agak gelap di lorong kafe, sebuah tangan kasar tiba-tiba membekap mulutku dari belakang.

​"Mmph—!"

​Aroma kloroform yang menyengat langsung menusuk hidungku. Pandanganku mengabur seketika. Hal terakhir yang kudengar adalah bisikan sinis Rian di telingaku.

​"Jika aku tidak bisa memilikimu, maka Narev juga tidak boleh. Aku akan membawamu ke tempat yang tidak akan pernah dia temukan."

​Kesadaranku hilang. Tubuhku lemas dan jatuh ke dalam pelukannya.

...****************...

[​POV: Narev]

​Tiga puluh menit sudah berlalu. Jarum jam di pergelangan tanganku terasa seperti detak bom waktu. Mataku tidak lepas dari pintu kafe itu.

​Sesuatu yang salah sedang terjadi.

​Suara batin Mici tiba-tiba bergema di kepalaku, begitu keras hingga telingaku berdenging.

​“PAPA! PAPA CEPAT! MAMA BAHAYA! OM JAHAT BAWA MAMA LEWAT PINTU BELAKANG! MAMA TIDUR... MAMA NGGAK BANGUN!”

​"BRENGSEK!" teriakku.

​Aku langsung keluar dari mobil, memberi isyarat pada Hendra dan sepuluh anak buahku yang sudah bersiaga di mobil lain. Kami tidak lagi peduli dengan penyamaran.

​"Kepung pintu belakang! Tutup semua akses keluar jalan ini!" perintahku dengan suara menggelegar.

​Aku berlari menuju pintu belakang kafe. Di sana, aku melihat Rian sedang menyeret tubuh Vaya yang pingsan menuju sebuah mobil van hitam. Amarah yang selama ini kucoba jinakkan meledak seketika. Monster dalam diriku bangkit, namun kali ini bukan untuk menyakiti Vaya, melainkan untuk mencabik-cabik siapa pun yang berani menyentuhnya.

​"RIAN!!!" raungku.

​Rian menoleh dengan wajah pucat pasi. Dia mencoba memasukkan Vaya ke dalam mobil dengan terburu-buru, namun Hendra sudah lebih dulu mengunci pergerakannya dari sisi lain.

​Aku menerjang maju seperti banteng liar. Satu pukulan mentah menghantam rahang Rian hingga dia tersungkur di aspal. Aku tidak berhenti di situ. Aku mencengkeram kerah bajunya, mengangkatnya dengan satu tangan.

​"Kau menyentuhnya..." bisikku dengan suara yang sangat rendah dan mematikan. "Kau berani menyentuh milikku dengan tangan kotormu?"

​"Narev... tunggu... aku bisa jelaskan—"

​Pukulan kedua mendarat di perutnya, membuatnya terbatuk darah. Aku ingin menghabisinya saat itu juga, namun aku melihat Vaya yang masih tak sadarkan diri di kursi mobil.

​Aku melepaskan Rian seperti membuang sampah. "Hendra, urus pria ini. Pastikan dia tidak akan pernah melihat matahari lagi tanpa jeruji besi di depannya. Serahkan semua bukti penguntitan dan penculikannya ke polisi."

​Aku segera meraih tubuh Vaya, menggendongnya dengan sangat hati-hati, seolah dia adalah berlian yang paling rapuh di dunia. Aku mencium keningnya yang dingin, air mataku menetes di pipinya.

​"Maafkan aku, Sayang... aku terlambat sedikit saja. Tapi aku bersumpah, setelah ini, tidak akan ada satu pun bayangan yang berani mendekatimu."

​Aku membawanya masuk ke mobilku, mendekapnya erat sepanjang perjalanan pulang, sementara anak buahku membersihkan sisa-sisa kekacauan yang dibuat oleh Rian. Hari ini, kartu as Rian menjadi kartu matinya sendiri.

...****************...

1
Lis Lis
labil ......
G konsisten sma omongannya si vaya
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭 mungkin vaya galau kak...
total 1 replies
Lis Lis
AQ jga G tau spa yg harus aku prcya vaya😭😭😭
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak sudah mampir 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Sulas Lis
huaaaaa huaaa 😭😭😭
ko pendek kali babnya panjangin dikit dong kaaaa
Ariska Kamisa: terimakasih kak udah mampir... 🙏🙏🙏 terimakasih atas sarannya... 🙏🙏🙏
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍👍
awesome moment
bingung mo.kasih comment. tll sedikit dan...agak lama. smp hmp lupa. maapkeun
awesome moment
vaya sgt memuakkan. oon g abis2. wanita tu mending dicintai. aman. ogeb dipiara. ragu digedhein. vaya EGOIS!!!
Ariska Kamisa: sabar kak... kita doakan naren bisa meluluhkan Vaya yaa
total 1 replies
awesome moment
vaya n g slese2 ragunya. jd pengin getok palanya
Nadira ST
Kamu seharusnya bersyukur dicintai naren secara ugal2an diluaran Sana banyak istri tidak seberuntung dirimu vaya,ak aja sebagai perempuan sampai iri ,cinta naren kepadamu
Ariska Kamisa: semoga vaya segera dapat hidayah yaa 🤭
terimakasih sudah mampir kK🙏
total 1 replies
awesome moment
di cerita kakak tu, woman leadnya dicintai ugal2an sm man leadnya. 😉👍
Ariska Kamisa: karena itu adalah impian semua wanita ga sih...🤭
total 1 replies
awesome moment
malah terhura dgn cibat narev yg sedunia raya buat vaya. pegang kuat cinta narev, vaya..jgn smp lepas. tar nyesel smp pindah alam lho
Ariska Kamisa: terimakasih kakak🙏🙏
total 1 replies
awesome moment
vaya, syukuri dan terima..dicintai dijadikan pusat dunia tu aman lho.
awesome moment
smg vaya membalas cinta nares dgn sm besar
Ariska Kamisa: Terimakasih kak 🙏
total 1 replies
Nadira ST
lanjut thor💪💪💪💪💪💪
Ariska Kamisa: Terimakasih kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!