Sinopsis: Singa yang Menunduk pada Mawar
Habib Ghibran Fahreza Al-Husayn adalah sosok "Singa" yang dingin dan kaku, hingga sebuah tragedi merenggut nyawa adiknya, Azlan, tepat sebelum hari pernikahan. Terikat janji dan kehormatan, Ghibran terpaksa melangkah maju menggantikan posisi adiknya untuk menikahi Syarifah Aira, wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya. Di bawah atap Pesantren Al-Husayn, Ghibran harus belajar menundukkan egonya demi memenangkan hati Aira, hingga ia memutuskan mengganti nama pesantrennya menjadi Salsabila sebagai bentuk pengabdian cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warisan yang terpaksa
Hening di ruang tengah kediaman Al-Husayn terasa mencekam. Permintaan Habib Fauzan bukan sekadar saran, itu adalah titah yang tak terbantahkan. Ghibran mengepalkan tinjunya di bawah meja kayu jati. Baginya, pernikahan adalah ikatan suci berdasarkan kesiapan, bukan sekadar tambal sulam untuk menutupi nama baik keluarga.
"Baba, ini bukan zaman Siti Nurbaya," suara Ghibran rendah, namun tajam. "Aira mencintai Azlan. Aku tidak bisa mengambil posisi itu begitu saja seolah-olah Azlan adalah barang yang bisa digantikan."
Habib Fauzan menatap putra sulungnya dengan tenang. "Ini bukan soal menggantikan posisi di hati, Ghibran. Ini soal tanggung jawab. Undangan sudah tersebar ke para kiai sepuh di Jawa dan luar negeri. Jika pernikahan ini batal total tanpa alasan yang masuk akal bagi publik, fitnah akan menyerang Aira dan pesantren kita. Kamu tahu bagaimana lidah manusia bisa lebih tajam dari pedang."
Syarifah Intan, yang matanya masih sembab, menyentuh lengan Ghibran. "Ghib, tolong Umi. Aira sudah kehilangan segalanya. Jangan biarkan dia kehilangan harga dirinya juga karena desas-desus yang tidak benar."
Di balik pintu, Aira Salsabila menyandarkan tubuhnya ke dinding. Air matanya sudah kering, digantikan oleh rasa hampa yang amat sangat. Menikah dengan Ghibran? Pria yang bahkan jarang menyapanya saat ia berkunjung ke pesantren? Pria yang selalu menatapnya seolah ia adalah gangguan bagi ketenangan adiknya?
Aira masuk ke dalam ruangan dengan langkah gontai. Semua mata tertuju padanya.
"Saya setuju," suara Aira pelan, hampir menyerupai bisikan. "Demi menjaga nama baik Baba dan Umi, saya akan menikah dengan Kak Ghibran. Tapi jangan harap saya bisa menjadi istri yang sempurna."
Ghibran menoleh tajam. "Kamu sadar apa yang kamu katakan, Aira?"
"Sadar sesadar-sadarnya," balas Aira dengan tatapan kosong yang menusuk. "Toh, hidup saya sudah mati bersama Azlan. Menikahi Kakak atau siapa pun, rasanya akan tetap sama saja."
Kantor Unit Bisnis Al-Husayn, 09:00 WIB.
Keesokan harinya, suasana di kantor terasa sangat aneh. Azka, yang biasanya penuh canda, kini bolak-balik di depan meja Ghibran dengan wajah gelisah. Ia memegang sebuah map cokelat yang tampak kusut.
"Ghib, gue harus bilang sesuatu," ujar Azka. "Tentang Azlan."
Ghibran tidak mendongak dari berkas laporan keuangan. "Kalau soal medis, kita sudah tahu semua. Dia menyembunyikan sakitnya. Selesai."
"Bukan cuma itu!" Azka mencondongkan tubuhnya. "Abrisam dan Haziq... mereka aneh sejak pemakaman. Kemarin gue lihat mereka berdua di parkiran rumah sakit bicara dengan seorang wanita. Wanita itu menangis histeris. Dan yang lebih aneh, dia memakai kalung yang sama persis dengan desain yang pernah dibuat Aira untuk kado ulang tahun Azlan."
Pena Ghibran berhenti bergerak. Ia teringat pesan singkat dari Azlan sebelum meninggal. Jangan pernah buka laci di bawah tempat tidurku.
"Zka, cari tahu siapa wanita itu. Jangan sampai Baba atau keluarga Aira tahu," perintah Ghibran. "Dan satu lagi, siapkan berkas pernikahan. Besok akad tetap berjalan."
Azka mendesah panjang. "Ghib, lo beneran mau jadi 'ban serep' buat adik lo sendiri? Lo itu dingin, kaku kayak kanebo kering. Aira itu lembut, puitis, sensitif. Lo berdua kalau disatuin bakal meledak, atau malah membeku."
"Tutup mulutmu dan kerjakan tugasmu, Azka."
Hari Akad Nikah.
Tidak ada musik rebana yang meriah. Tidak ada tawa yang terdengar dari ruang rias. Aira duduk di depan cermin, menatap bayangannya sendiri yang mengenakan kebaya putih bersih. Di lehernya, ia masih memakai liontin kecil pemberian Azlan—sebuah cincin yang dirangkai menjadi kalung.
Bunda Aminah masuk dengan wajah penuh haru. "Aira, ikhlaskan Azlan. Ghibran adalah pria yang baik, meski dia sulit dimengerti. Dia akan menjagamu."
"Menjaga atau memenjara, Bun?" tanya Aira getir.
Di masjid pesantren, prosesi akad berlangsung singkat namun khidmat. Ghibran mengucapkan ijab kabul dengan satu tarikan napas, suaranya mantap dan tegas, sangat berbeda dengan suara Azlan yang biasanya lembut dan beralun. Saat ia menyentuh kening Aira untuk mendoakan setelah akad, Aira sedikit tersentak. Tangan Ghibran terasa hangat, namun tatapannya tetap sedingin es.
Setelah acara yang sangat tertutup itu selesai, mereka dibawa ke kamar pengantin yang seharusnya dihuni oleh Azlan dan Aira. Wangi bunga melati yang seharusnya menggairahkan, kini justru terasa menyesakkan bagi Aira karena mengingatkannya pada bunga di atas pusara Azlan.
"Kamu bisa tidur di ranjang," ujar Ghibran sambil melepas jasnya dan meletakkannya di kursi kerja. "Aku akan tidur di sofa."
Aira terdiam sebentar, lalu bertanya, "Kenapa Kakak mau melakukan ini? Kakak bahkan tidak menyukaiku."
Ghibran berbalik, menatap Aira yang masih dengan riasan lengkapnya. "Karena Azlan memintaku menjagamu. Dan karena aku tidak punya pilihan lain selain patuh pada Baba."
Ghibran kemudian melangkah menuju tempat tidur, bukan untuk beristirahat, melainkan untuk melirik bagian bawah tempat tidur tersebut. Ia teringat pesan adiknya. Saat Aira masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, Ghibran berlutut dan meraba bagian bawah ranjang.
Ada sebuah laci tersembunyi yang terkunci dengan kode digital.
Ghibran mencoba memasukkan tanggal lahir Azlan. Salah. Ia mencoba tanggal lahir Aira. Salah. Ia mencoba tanggal pernikahan mereka hari ini. Tetap salah.
Tepat saat itu, ponsel Azlan yang kini berada di tangan Ghibran berbunyi. Ada sebuah notifikasi dari sebuah aplikasi pengiriman pesan terenkripsi. Pesan itu berbunyi:
"Azlan, kenapa kamu tidak datang? Bayinya terus menangis memanggilmu. Aku tidak peduli kamu menikah dengan wanita pilihan orang tuamu, tapi tolong jangan abaikan darah dagingmu sendiri."
Jantung Ghibran seolah berhenti berdetak. Ia menatap ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. Aira sedang di sana, menangis meratapi kematian pria yang dianggapnya suci, sementara di tangannya kini ada bukti yang bisa menghancurkan segala martabat keluarga Al-Husayn dalam sekejap.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
jngan Bilang yaa punya Anak Di Luar Nikah 🤣😂😂