NovelToon NovelToon
Selamat Tinggal Orang Yg Kusayang

Selamat Tinggal Orang Yg Kusayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Dunia Masa Depan
Popularitas:800
Nilai: 5
Nama Author: Arsih Mom

"Bukan berarti apa yang dekat dengan kita adalah yang terbaik, bisa jadi kebaikan itu ada jauh dari kita ataupun tidak terlihat"
Aku pergi karena sangat menyayangi kalian, suatu saat nanti jika masih ada kesempatan aku akan menjemput kalian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arsih Mom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kerjasama yang baik

Setelah pertemuan antara Tio dan Rosa hari itu, mereka terlihat terlibat dalam sebuah kerjasama. Kadang kala Tio menyempatkan diri menjemput Antoni pulang sekolah untuk menggantikan tugas Rosa selama kakak nya Dio ada tugas sendiri dari Anita. 

Hampir setiap siang disela-sela jam kerjanya Tio mengantar Antoni sampai rumah. Bahkan Dia juga kadang mengajak Antoni untuk mampir makan sebelum tiba di rumah. 

{Tio hari ini aku harus merepotkan mu lagi untuk menjemput Antoni dan mengantarnya ke Yayasan, karena Dia harus mengambil beberapa dokumen pengganti yang sudah bisa diterbitkan lagi}

"Siap, janda muda ku! Haaaa....!"

Percakapan mereka yang sering lewat telepon itu tidak membuat hubungan ataupun kerjasama menjadi terhambat. 

Sesuai permintaan Rosa, Tio meminta ijin pada Santana untuk keluar sebentar. Dia langsung menuju ke sekolah Antoni dan membawanya ke Yayasan tempat dulu mereka diungsikan. 

Begitu sampai di Yayasan mereka disambut dengan petugas bagian kelengkapan administrasi. 

"Tunggu sebentar Bapak, biar kami ambilkan dulu dokumennya."

Sambil menunggu petugas mengambilkan dokumen untuk Antoni, tiba-tiba terpikirkan di kepala Tio untuk mencari tahu tentang keluarga Antoni. 

"Antoni, apa Om boleh tahu di mana sekarang Ibu kamu?"

Dengan polosnya Antoni menceritakan pada Tio kalau ibunya Haya pergi bekerja. Wajah Tio menjadi terlihat bingung. 

(Kok... ?? bukannya kemarin Rosa bilang kalau..., ahh... mungkin memang anak ini sengaja tidak diberi tahu yang sesungguhnya. Tapi ada apa sebenarnya cerita dibalik ini semua?)"

Karena merasa tidak ada hasilnya mencari informasi dari Antoni, Tio memutuskan untuk tidak melanjutkan rencananya. 

Menunggu selama 15 menit, petugas pun memanggil nama Antoni untuk datang ke loket mengambil dokumen-dokumennya. 

Rasa ingin tahu Tio terlihat dari cara nya memandang amplop coklat berisi dokumen penting tentang keluarga Antoni. Dalam perjalanan pulang di mobil Tio sesekali melemparkan pandangannya pada amplop coklat itu. Dan sepertinya Antoni sadar akan sikap nya. 

"Om... apa mau lihat isi di dalamnya?"

'GLEK..!" Tio sangat terkejut mendengar pertanyaan Antoni. Dia menutupi kegugupannya dengan berpura-pura untuk tetap tenang. 

"O.. Oh.. Om mana mungkin melakukan hal itu, dokumen-dokumen itu kan merupakan privasi kalian. So... sangat tidak sopan kalau Om ikut melihatnya!" (Huh... sial, anak ini memang terbilang cerdas dan sangat peka) 

"Ooo... ya sudah kalau Om tidak mau melihatnya, tapi..... "

'CIIITT... ' Tio tiba-tiba menginjak rem mobil dan membuat Antoni ikut kaget. 

"Om... ada apa , kenapa tiba-tiba rem mendadak seperti ini!?"

(Aduhhhh.... kenapa aku ini, tidak... apa ini moment yang tepat untuk melakukan nya lebih jauh lagi)"Heem.. Om tadi sempat melihat seekor kucing yang lewat tiba-tiba.... hem... ya kucing, kucing lewat tanpa bilang dulu. Hee... maaf ya, Om akan lebih berhati-hati lagi."

Antoni yang semakin hari semakin bertambah usia dan berubah dewasa karena keadaan, tahu kalau memang dari awal Tio mendekati Rosa dan Dia karena ada maksud yang lebih penting lagi dari pada kisah asmaranya dengan Rosa. Antoni hanya menganggukkan kepalanya saja , agar Tio juga tidak menaruh curiga padanya. 

Selesai Dia mengantarkan Antoni ke rumah, Tio bergegas kembali ke kantor. Dengan panik dan terburu-buru Dia menginjak gas dengan kecepatan tinggi setelah melihat notif di ponselnya berisi banyak panggilan tak terjawab dari Santana. 

Setiba nya di kantor sambil berlari Dia menuju lantai atas untuk menemui Santana. Dengan nafas ngos-ngosan Dia masuk ke ruang kerja Santana. Tidak pernah terbayangkan olehnya kalau Santana sudah siap menyambutnya dengan wajah killer nya. 

"Ma... Maaf Tuan, saya terlambat, saya tadi begitu ngantuk dan saya.... "

"Cukup Tio! Hentikan kebohonganmu padaku selama ini!"

Wajah Tio menciut saat Santana menghujani beberapa makian dan pertanyaan. Sikapnya yang menunjukan rasa takut itu dan tidak mau mengeluarkan satu katapun membuat Santana semakin geram. 

Santana berharap dengan marahnya Dia pada Tio, membuat asistennya itu akan menceritakan apa yang sebenarnya Dia lakukan selama ini. Tapi ternyata harapan itu pupus saat Tio tetap dengan pendiriannya untuk diam sebelum mendapatkan kejelasan dan bukti-bukti yang pasti. 

"Baik Tio kalau kamu memang sudah tidak berguna lagi buat ku di sini, besok pulanglah dan kembali ke asalmu!"

Sontak Tio mengangkat kepalanya yang sedari tadi hanya terlihat tertunduk di depan Santana. 

"Tidak Tuan... tidak! Saya tidak akan meninggalkan Tuan di sini sendiri dalam keadaan seperti ini, beri saya waktu Tuan untuk menemukan kebenarannya!"

"Kebenaran?... Kebenaran tentang apa yang kamu cari? Apa kamu bersekongkol dengan Anita untuk melenyapkan kabar maupun informasi tentang anak dan istriku?!"

"Bu.. Bukan Tuan, bukan itu... justru sebaliknya."

Suara Tio yang terdengar semakin lirih sepertinya bisa merubah keputusan Santana. Sambil mendekatinya, Tio mendapatkan kesempatan kembali dari Tuannya untuk melanjutkan apa pun rencananya. Tapi tidak semudah itu Santana memberikan kemudahan untuk Tio. Tetap saja Dia mengajukan persyaratan padanya. 

"Baik, aku beri kamu waktu 1 bulan untuk menemukan kebenaran itu dan jika kamu tidak bisa , jangan salahkan aku mengembalikan kamu pada Tuan Tua di Eropa sana!"

"Si.. Siap Tuan, akan saya lakukan!"

Tio keluar dari ruang kerja Santana dengan tubuh yang lemas. Dia berjalan menuju ruang kerja nya tanpa menghiraukan siapapun yang menyapanya. 

Hanya bisa terdiam dan menundukkan kepala sambil memijat keningnya Dia mencari cara bagaimana bisa menemukan kabar istri dan anak Santana dalam waktu dekat. 

Hampir 1 jam Dia membuang waktu untuk mencari-cari cara akhirnya Dia teringat dengan ucapan Antoni tadi. 

(Oh.. Astaga kenapa tidak kepikiran dari tadi, bukannya Tuan Santana ingin mencari kebenaran tentang Haya, pasti di dokumen itu ada identitas tentang keluarga mereka, ya... aku akan ke rumah Antoni nanti malam) "HUH....!"

Akhirnya Tio bisa sedikit bernafas lega dengan rencananya nanti. Dia kembali disibukkan dengan pekerjaannya yang berjibun karena sudah Dia tinggalkan beberapa jam lamanya. 

Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat, Tio baru sadar kalau Dia sudah lupa dengan makan dan tugasnya mengantar Santana kembali ke hotel. 

"Astaga... yang benar saja, sekarang sudah jam 19.30 (pasti aku akan kena marah Tuan lagi, aku harus cepat-cepat ke ruangannya) 

Sambil berlari kecil Dia menuju ruang kerja Santana. Saat kedua tangannya akan membuka pintu, tiba-tiba security datang menghampiri. 

"Pak Tio mencari Pak Bos?"

"Iya, sekarang sudah saatnya jam pulang Pak Santana."

"Si Bos sudah pulang dari tadi, dan kantor sudah sepi tinggal Pak Tio saja."

Memang benar apa yang dikatakan security, kantor sudah terlihat sepi. 

(Payah... Payah... benar-benar payah) 

Saat Tio mengambil ponsel dalam saku dan ingin menghubungi Santana, ponselnya sudah berbunyi lebih dulu. Kedua bola matanya hampir copot saat melihat nama Bos yang muncul di panggilan masuk. Gerakan tangan yang pelan karena rasa takut, Dia menekan tombol hijau sambil gemetar. 

"Ha.. halo Tuan, maaf saya.... "

{Kenapa, kamu tidak akan bilang kalau ketiduran bukan? Tidak usah khawatir, aku tahu kamu sangat sibuk tadi, makanya aku pulang dengan taxi. Ya sudah kamu lanjut kerja saja, aku telepon cuma mau bilang kalau aku sudah sampai hotel}

Terkejut dengan sikap dan perhatian Tuannya, Tio dengan cepat ingin mengucapkan Terima kasih. Tapi apa daya, Santana begitu selesai dengan ucapannya, Dia langsung menutup panggilannya dan alhasil Tio tidak sempat mengucapkan Terima kasih padanya. 

(Huh... ya sudah lah mumpung mood Tuan Santana lagi bagus dan kerjaan ku sudah selesai, mending aku ke rumah Antoni) 

Berbeda dengan siang tadi saat Tio masuk ke kantor, malam itu Tio keluar kantor dengan hati lebih tenang dan senyum yang terpancar. 

Sampai di rumah kontrakan Rosa, Tio memarkirkan mobilnya di luar pintu gerbang. Dia berjalan perlahan dan mengetuk pintu dengan pelan. 

Antoni yang baru saja selesai dengan belajarnya dan akan bersiap untuk tidur, mendengar lirih suara ketukan pintu dari luar. 

(Siapa yang datang malam-malam begini?) 

Sebelum Dia membuka pintu, Antoni mengintip siapa yang datang dari celah jendela. Melihat yang berdiri di teras adalah Tio, Antoni segera membukakan pintu. 

"Om kenapa malam-malam begini datang ke rumah, bukannya tante Rosa pulang besok?"

"Antoni, boleh Om masuk gak?"

Antoni membuka pintu lebih lebar dan mempersilakan Tio masuk dan duduk. 

"Aku buatkan minum dulu ya Om."

"Tidak usah Ant, Om hanya ingin.... "

Tio meminta Antoni duduk di dekatnya dan menceritakan tujuannya datang malam itu. 

Setelah Tio menceritakan semua pada Antoni, gantian Dia mengajukan permintaan pada Tio. 

"Baik Om, aku akan kasih lihat dokumen itu cuma ada syaratnya."

Sama sekali tidak terfikir kan oleh Tio kalau Antoni juga punya rencana dan keberanian yang tidak semua anak seusia nya bisa melakukan itu. 

"Apa syaratnya?"

Antoni masuk ke kamar untuk mengambil dokumen yang di minta Tio, sambil menyerahkan dokumen itu, Dia menyampaikan apa yang menjadi persyaratan untuk Tio. 

"Maksud kamu, Indro ayah kamu masih hidup dan Ibu kamu..... "

"Ya benar Om, memang ada kesepakatan antara mereka dengan Bunda ku. Aku tahu resikonya kalau saja Bunda tidak dapat mengembalikan uang perawatan Ayah. Maka dari itu aku ingin Om membantuku mencari kakak perempuan ku yang bernama Nur."

Sambil melihat dokumen-dokumen itu Tio berusaha meyakinkan Antoni kalau Dia akan membantunya sampai menemukan kakak perempuannya. 

"Baik lah Ant, ini aku tinggalkan nomor Om, jika ada info terkait kakak mu tolong hubungi Om dan kalau kamu masih menyimpan barang atau sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk tolong hubungi Om juga."

Sebelum Tio pulang karena sudah larut malam, Dia mendokumentasikan dokumen-dokumen itu melalui kamera ponselnya. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!