Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.
Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.
Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.
seorang dukun yang diminta untuk membantu nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Tawaran di Tengah Badai
Sisa hari itu di kantor terasa sangat ganjil bagi Colette. Suasana mencekam akibat hilangnya Linda dan kawan-kawannya berbaur dengan aura kedisplinan ekstrem yang dibawa oleh manajemen Sinclair Group. Para karyawan bekerja dengan suara yang nyaris berbisik, seolah-olah dinding kantor memiliki telinga yang siap melaporkan setiap kesalahan kecil mereka.
Colette sendiri merasa seperti sedang berjalan di atas awan. Ia tidak lagi mendengar sindiran pedas saat pergi ke pantry. Ia tidak lagi menemukan tumpukan dokumen tambahan yang sengaja diletakkan di mejanya menjelang jam pulang. Semuanya bersih secara misterius.
Saat jarum jam menunjukkan pukul lima sore, Colette mulai merapikan tasnya. Rambut panjangnya masih setia menutupi sebagian wajahnya, namun bahunya tidak lagi setegang pagi tadi.
"Colette?"
Colette mendongak sedikit. Luke berdiri di depan mejanya dengan senyum tipis yang ramah. Pria itu tampak sudah siap untuk pulang, dengan kunci mobil yang ia putar-putar pelan di jarinya. Luke memang selalu berbeda dari yang lain; di saat semua orang menjauhi Colette, Luke selalu ada di sana—membawakan kopi, membelanya secara halus, atau sekadar memberikan senyum penyemangat.
"Ya, Luke?" bisik Colette pelan.
"Hari ini benar-benar gila, bukan?" Luke bersandar di pinggiran meja Colette, mencoba menarik perhatian gadis itu dengan nada bicara yang santai. "Aku rasa kita semua butuh asupan makanan yang enak untuk menenangkan saraf. Bagaimana kalau kita makan malam bersama? Ada kedai pasta baru di dekat sini. Setelah itu, aku akan mengantarmu pulang sampai depan pintu."
Luke menatap Colette dengan binar penuh harap. Ia tahu Colette sering merasa risih dengan perhatian yang berlebihan, tapi ia tidak pernah menyerah. Ia ingin Colette tahu bahwa di kantor ini, masih ada satu orang yang tulus ingin melindunginya.
"Aku... aku tidak ingin merepotkanmu, Luke," ucap Colette ragu-ragu.
"Sama sekali tidak merepotkan. Anggap saja ini perayaan karena 'monster-monster' itu sudah tidak ada lagi di sini," Luke terkekeh, mencoba mencairkan suasana.
Colette menatap Luke sejenak. Ia melihat ketulusan di mata pria itu—binar yang sudah ada di sana bahkan sejak Linda dan kawan-kawannya masih merajalela menindasnya. Benar kata batinnya, apa salahnya sesekali menerima kebaikan Luke? Selama ini, Luke adalah satu-satunya manusia di kantor ini yang memperlakukannya seperti seorang manusia, bukan sebagai objek perundungan.
"Baiklah, Luke," bisik Colette dengan senyum tipis yang hampir tak terlihat di balik helaian rambutnya. "Tapi... hanya makan malam sebentar, ya?"
Wajah Luke seketika cerah. Senyumnya melebar hingga mencapai matanya. "Tentu! Sepakat. Ayo, aku parkir di lantai bawah. Kau tidak perlu khawatir tentang apapun malam ini."
Mereka berjalan beriringan menuju lift. Luke terus berceloteh ringan tentang menu pasta terbaik di restoran baru itu, berusaha mencairkan suasana agar Colette tidak merasa canggung. Colette mendengarkan sambil menunduk, sesekali mengangguk kecil. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada rasa gelisah yang tidak bisa ia jelaskan—seolah ada sepasang mata tajam yang terus mengikuti setiap langkahnya dari kejauhan.
Restoran L'Amour de Soie
Restoran itu sangat elegan, dengan penerangan temaram yang memberikan kesan privat. Luke memilih meja di sudut yang cukup tenang, tempat yang ia tahu akan membuat Colette merasa nyaman.
"Kau ingin pesan apa? Pastanya sangat terkenal di sini," tanya Luke sambil menyodorkan buku menu.
"Aku... aku ikut pilihanmu saja, Luke," jawab Colette pelan.
Saat pesanan mereka datang, suasana mulai mencair. Luke bercerita tentang hobi fotografinya, membuat Colette sesekali berani mengangkat wajahnya dan menatap Luke. Namun, di tengah tawa kecil Luke.
Di dalam kedai "Aroma Italia" yang bernuansa hangat, dua porsi Lasagna panggang yang masih mengepulkan aroma keju dan basil disajikan di meja mereka. Suasana yang tadinya canggung perlahan mencair berkat kepandaian Luke dalam membawa percakapan.
Luke bukan tipe pria yang mendominasi pembicaraan dengan kesombongan. Sebaliknya, ia bercerita tentang hal-hal konyol yang dialaminya saat pertama kali bekerja, tentang hobinya memotret kucing-kucing liar di jalanan, hingga pengalamannya tersesat di pasar malam.
"Kau tahu, Colette? Aku pernah mengira bos kita itu patung karena dia berdiri diam selama sepuluh menit di depan lobi. Aku hampir menaruh brosur di tangannya sebelum dia berkedip," tutur Luke dengan ekspresi wajah yang lucu.
Colette tak kuasa menahan tawa kecilnya.
Suara tawa yang halus dan jarang terdengar itu membuat Luke tertegun sejenak. Baginya, melihat Colette tersenyum hingga matanya sedikit menyipit adalah pencapaian terbesar hari ini. Colette merasa sedikit terhibur; beban di pundaknya akibat kejadian mengerikan dengan Linda dan aura mistis dari Caspian seolah terangkat sejenak.
"Terima kasih, Luke," bisik Colette setelah menyesap jus jeruknya. "Aku... aku tidak ingat kapan terakhir kali aku merasa sesantai ini."
Luke tersenyum tulus, tangannya bergerak di atas meja, hampir menyentuh jemari Colette namun ia menahannya agar gadis itu tetap merasa nyaman. "Kau berhak mendapatkannya, Colette. Jangan biarkan orang-orang di kantor atau siapapun membuatmu merasa kecil."
Malam itu, Colette benar-benar menikmati perhatian Luke. Pria itu tahu persis kapan harus melontarkan lelucon dan kapan harus memberikan ruang bagi Colette untuk sekadar mendengarkan musik latar. Untuk beberapa jam, Colette lupa bahwa ia adalah "Gadis Gagak" yang dikasihani. Ia merasa seperti gadis normal pada umumnya.