Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.
Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.
Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Semifinal – Seol vs Ryu Cheonmyeong (Bagian 2)
Cahaya ungu memenuhi arena seperti matahari kedua yang lahir di tengah lembah.
Seol melesat maju dengan kecepatan yang tidak mungkin bagi tubuh manusia. Di dalam dadanya, lautan qi bergelora, didorong oleh kekuatan yang bukan miliknya—kekuatan Gu, rubah berekor delapan yang telah mengorbankan satu ekor lagi untuknya. Setiap langkah terasa seperti melayang, setiap gerakan terasa seperti mimpi. Ia melihat dunia dengan cara yang berbeda—bukan dengan mata, tetapi dengan qi-nya. Ia bisa merasakan setiap aliran qi di arena, setiap detak jantung penonton, setiap getaran ketakutan di tubuh Cheonmyeong.
Cheonmyeong mundur. Untuk pertama kalinya dalam pertarungan ini, ia mundur lebih dari satu langkah. Matanya yang merah gelap melebar, mencoba memahami apa yang terjadi. Cahaya ungu itu—ia belum pernah melihatnya sebelumnya. Bukan qi biasa. Bukan teknik yang diajarkan di sekte mana pun. Ini adalah sesuatu yang lebih tua, lebih dalam, lebih liar.
“Apa… apa yang kau lakukan?” suaranya kehilangan nada percaya diri yang selama ini ia jaga.
Seol tidak menjawab. Pedang di tangannya berdesis, dan tujuh bayangan muncul di sekelilingnya—bukan bayangan biasa. Bayangan ini bercahaya ungu, dan mereka hidup. Mereka bergerak dengan kehendak sendiri, menyerang dari berbagai arah, memaksa Cheonmyeong untuk menghadapi delapan lawan sekaligus.
Cheonmyeong menangkis, menghindar, tetapi bayangan-bayangan itu terlalu cepat. Dua bayangan mengenai lengannya, tiga mengenai dadanya, dan kali ini, teknik Pelindung Darahnya tidak cukup. Qi ungu menembus pertahanan qi iblisnya, meninggalkan bekas luka bakar di kulitnya yang pucat.
Ia menjerit. Bukan jeritan sakit, tetapi jeritan tidak percaya. Dia terluka. Setelah bertahun-tahun mengorbankan darah, setelah ritual-ritual yang menghancurkan kemanusiaannya, setelah menjadi salah satu algojo paling ditakuti di Kultus Darah, ia terluka oleh sampah yang dulu ia injak.
“Tidak mungkin!” teriaknya. Ia mengumpulkan seluruh qi iblisnya, membentuk bola hitam kemerahan yang lebih besar dari sebelumnya—Qi Penghancur Jiwa. Bola itu berdenyut dengan kekuatan yang membuat lantai batu di sekitarnya retak-retak, membuat udara bergetar, membuat penonton di tribun depan merasakan tekanan yang menyesakkan.
Cheonmyeong melempar bola itu dengan sekuat tenaga.
Seol tidak menghindar. Ia berdiri di tempatnya, pedang diangkat, dan di ujung pedangnya, cahaya ungu berkumpul menjadi titik kecil yang berdenyut—sangat kecil, hampir tidak terlihat, tetapi padat, sangat padat, seperti bintang neutron yang jatuh ke bumi.
Ia menusuk.
Titik ungu itu bertemu dengan bola hitam.
Untuk sesaat, tidak ada yang terjadi. Kedua kekuatan itu saling mendorong, saling menekan, menciptakan gelombang kejut yang membuat seluruh arena bergetar. Penonton di tribun depan terjatuh dari kursi mereka. Beberapa pilar penyangga tribun retak. Dan di tengah-tengah itu semua, Seol dan Cheonmyeong berdiri diam, tidak bergerak, hanya mata mereka yang berbicara.
Cheonmyeong melihat mata Seol. Mata yang dulu penuh ketakutan, yang dulu selalu tertunduk, yang dulu tidak berani menatapnya. Sekarang, mata itu menatap lurus ke dalam dirinya. Tidak ada rasa takut. Tidak ada keraguan. Hanya tekad yang murni, yang tidak bisa dihancurkan oleh teknik iblis mana pun.
Dan kemudian, bola hitam itu pecah.
Cahaya ungu menembusnya seperti panah menembus kabut, melesat lurus ke arah Cheonmyeong. Ia tidak sempat menghindar. Cahaya itu mengenai dadanya, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ryu Cheonmyeong merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan.
Kekalahan.
Ia terpental ke belakang, tubuhnya berguling di lantai batu, meninggalkan jejak darah di setiap tempat ia menyentuh. Jubah merah gelapnya robek, kulitnya terbakar, dan di dalam dadanya, qi iblis yang selama ini menjadi sumber kekuatannya mulai kacau, mulai melawan, mulai menghancurkannya dari dalam.
Ia berusaha bangkit. Tapi kakinya tidak kuat. Ia jatuh berlutut, darah mengalir dari hidung dan mulutnya, dan di matanya, cahaya merah mulai memudar, digantikan oleh sesuatu yang sudah lama tidak ia lihat.
Ketakutan.
Seol berdiri di depannya, pedang masih di tangan, cahaya ungu masih menyala di sekelilingnya. Ia bisa mengakhiri ini sekarang. Satu tebasan, dan semua penderitaan yang ia alami selama bertahun-tahun akan terbalas. Satu tebasan, dan Cheonmyeong tidak akan pernah menyakitinya lagi.
Ia mengangkat pedangnya.
“Seol…” suara Cheonmyeong keluar parau, tidak lagi seperti suara monster. “Seol, aku…”
Seol menatapnya. Di bawah cahaya merah yang memudar, di balik luka-luka dan darah, ia melihat wajah yang dulu ia kenal. Wajah sepupunya. Wajah anak laki-laki yang dulu berlari bersamanya di ladang, yang dulu tertawa sebelum ambisi dan kebencian meracuni hatinya.
Tangannya gemetar.
“Seol,” bisik Gu di kepalanya, lemah, nyaris tidak terdengar. “Lakukan. Jika kau membiarkannya hidup, ia akan kembali. Ia tidak akan pernah berhenti.”
Seol tahu Gu benar. Tapi ia tidak bisa. Ia tidak bisa membunuh seseorang yang berlutut di depannya, tidak berdaya, memanggil namanya dengan suara yang mengingatkannya pada masa kecil yang telah lama hilang.
Ia menurunkan pedangnya.
“Kau kalah,” katanya. “Menyerahlah.”
Cheonmyeong menatapnya. Di matanya, ada sesuatu yang tidak bisa Seol baca. Bukan rasa terima kasih. Bukan kelegaan. Tapi ada sesuatu—sesuatu yang mirip dengan… rasa hormat?
“Kau… kau benar-benar berubah,” bisik Cheonmyeong. “Aku tidak mengira…”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Karena pada saat itu, kabut hitam turun dari langit.
---
Penyelamatan
Kabut itu datang tanpa peringatan. Hitam pekat, tebal, dan beracun. Ia menyelimuti arena dalam sekejap, menutupi matahari, menutupi tribun, menutupi semua orang. Seol mendengar teriakan-teriakan dari penonton, suara panik, suara benturan, tetapi ia tidak bisa melihat apa pun.
Di dalam kabut itu, ia merasakan kehadiran lain. Bukan satu—beberapa. Mereka bergerak cepat, terkoordinasi, dan qi mereka—qi yang sama dengan Cheonmyeong, qi iblis yang dingin dan gelap.
Kultus Darah.
“Seol!” suara Baek Yoon dari kejauhan. “Lindungi dirimu!”
Seol mengangkat pedangnya, mencoba menembus kabut dengan cahaya ungunya. Tapi kekuatan Gu mulai memudar. Luka di bahunya berdenyut, dan di dalam dadanya, lautan qi mulai surut, kembali menjadi sungai, kembali menjadi genangan.
“Maaf…” bisik Gu, suaranya semakin lemah. “Aku tidak bisa… lebih lama lagi…”
Cahaya ungu padam.
Seol jatuh berlutut. Kelelahan yang tertahan selama ini akhirnya menghantamnya seperti gelombang. Tubuhnya terasa kosong, qi-nya habis, dan di sakunya, Batu Giwa terasa dingin—dingin seperti batu mati.
Ia berusaha bangkit. Tapi kabut itu semakin tebal, dan dari dalam kabut, ia mendengar suara Cheonmyeong.
“Bawa aku pergi.”
“Tuan, orang itu—”
“Bawa aku! Sekarang!”
Seol tidak bisa melihat apa yang terjadi. Yang ia dengar hanyalah suara langkah kaki yang menjauh, suara jubah yang berkibar, dan kemudian—keheningan.
Kabut mulai mencair. Perlahan, seperti mimpi buruk yang berakhir, kegelapan surut, meninggalkan arena yang hancur. Lantai batu retak-retak, pilar-pilar penyangga tribun ambruk, dan di tengah-tengahnya, Cheonmyeong tidak ada lagi.
Hanya darah. Dan jejak kaki yang menjauh ke timur.
Seol berlutut di tengah arena, pedang terjatuh di sampingnya, tubuhnya gemetar kelelahan. Ia menatap tempat di mana Cheonmyeong berlutut tadi, tempat di mana ia memutuskan untuk tidak membunuh, dan di mana ia kehilangan kesempatan untuk mengakhiri semuanya.
“Pemenang: Ryu Seol!” suara wasit bergema di tengah kekacauan. Tapi tidak ada yang bersorak. Tidak ada yang bertepuk tangan. Semua orang masih terkejut dengan serangan kabut hitam itu.
Seol tidak mendengar. Ia hanya berlutut di sana, memandang ke timur, ke arah di mana Cheonmyeong pergi.
Ia lolos. Setelah semua itu, ia lolos.
---
Setelah Pertandingan – Di Ruang Penyembuhan
Seol terbaring di tempat tidur darurat yang didirikan di belakang arena. Luka di bahunya sudah dibersihkan dan dijahit, dan petugas medis memberinya ramuan untuk memulihkan qi-nya yang habis. Tapi tidak ada ramuan yang bisa menyembuhkan perasaan hampa di dadanya.
Ia menang. Ia mengalahkan Cheonmyeong. Tapi ia tidak merasa puas. Cheonmyeong lolos. Kultus Darah datang dan mengambilnya tepat di depan matanya. Dan ia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Seol.”
Ia menoleh. Baek Ho berdiri di samping tempat tidurnya, wajahnya penuh kekhawatiran. Di belakangnya, Yoon Jae dan beberapa murid lain dari Sekte Pedang Surgawi juga hadir, wajah-wajah mereka lega tetapi juga cemas.
“Kau baik-baik saja?” tanya Baek Ho.
“Aku…” Seol berhenti. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
“Kau menang,” kata Baek Ho. “Itu yang penting. Cheonmyeong akan dihakimi lain kali. Tapi hari ini, kau menang.”
Seol tidak menjawab. Ia hanya menatap langit-langit tenda, memikirkan Gu yang kini tertidur lagi, mungkin untuk waktu yang sangat lama. Memikirkan Cheonmyeong yang lolos. Memikirkan bahwa semua ini belum selesai.
“Ryu Seol.”
Suara itu berat, dalam, dan familiar. Seol mengangkat kepalanya.
Baek Yoon berdiri di pintu tenda, wajahnya serius. Di belakangnya, dua tetua sekte lainnya berdiri dengan ekspresi yang sama.
“Sabeom-nim,” kata Seol, berusaha duduk.
“Jangan bergerak.” Baek Yoon mendekat, berdiri di samping tempat tidurnya. Matanya yang tajam menatap Seol dengan intensitas yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
“Ada yang harus kau ketahui,” katanya. “Serangan tadi bukan hanya untuk menyelamatkan Cheonmyeong.”
Seol mengerutkan kening. “Apa maksud Sabeom-nim?”
Baek Yoon melirik ke arah Baek Ho dan yang lain. Mereka mengerti isyarat itu dan keluar dari tenda, meninggalkan Seol sendirian dengan Baek Yoon dan dua tetua.
Setelah tenda kosong, Baek Yoon duduk di kursi kayu di samping tempat tidur Seol. Wajahnya yang biasanya keras kini terlihat lebih tua, lebih lelah.
“Kami memeriksa sisa-sisa kabut hitam itu,” katanya. “Dan kami menemukan sesuatu. Kabut itu tidak hanya membawa Cheonmyeong. Ia juga mencari sesuatu.”
Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya—sebuah batu kecil, hitam, mengkilap. Batu itu mirip dengan Batu Giwa, tetapi lebih kecil, dan tidak berdenyut.
“Ini adalah pelacak qi,” kata Baek Yoon. “Benda ini digunakan oleh Kultus Darah untuk mendeteksi qi yang tidak biasa. Dan di arena tadi, benda ini aktif. Sangat aktif.”
Ia menatap Seol lurus ke mata.
“Mereka mencari sesuatu, Seol. Atau seseorang. Seseorang dengan qi yang tidak biasa. Qi yang bukan berasal dari teknik manusia biasa. Qi yang…” Ia berhenti sejenak. “Qi yang mirip dengan yang kau gunakan di akhir pertarungan tadi.”
Seol merasakan darahnya membeku. Ia meraih sakunya secara refleks, merasakan Batu Giwa yang dingin di balik kain.
Baek Yoon melihat gerakan itu. Matanya menyipit, tetapi ia tidak berkata apa-apa.
“Aku tidak tahu apa yang kau bawa, Seol,” katanya pelan. “Dan aku tidak perlu tahu. Tapi yang perlu kau tahu adalah ini: Kultus Darah menginginkannya. Mereka datang ke turnamen ini bukan hanya untuk Cheonmyeong. Mereka datang untuk mencari sesuatu. Dan setelah pertarungan tadi, mereka tahu di mana harus mencari.”
Seol menggenggam Batu Giwa erat-erat.
“Apa yang harus kulakukan?” tanyanya.
Baek Yoon berdiri. “Kau harus berhati-hati. Kultus Darah tidak akan berhenti. Mereka akan mencoba lagi. Mungkin di turnamen. Mungkin setelahnya. Tapi mereka akan datang.” Ia menatap Seol dengan mata yang tidak bisa dibaca. “Kau punya sesuatu yang mereka inginkan. Jangan biarkan mereka mendapatkannya.”
Ia berbalik dan berjalan keluar dari tenda, diikuti oleh dua tetua lainnya.
Seol berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit tenda yang terbuat dari kain tebal. Di tangannya, Batu Giwa terasa dingin—dingin seperti batu mati, tanpa denyut, tanpa kehidupan.
“Gu,” bisiknya. “Apa yang harus kulakukan?”
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang pekat.
Ia memejamkan mata. Kelelahan yang tertahan akhirnya merayap masuk, membawanya ke alam mimpi yang gelap dan sunyi.
---
Di Markas Rahasia Kultus Darah – Malam yang Sama
Cheonmyeong terbaring di atas ranjang batu, tubuhnya terbungkus perban yang sudah berlumuran darah. Di sekelilingnya, tabib-tabib Kultus Darah bekerja dengan cepat, menyalurkan qi iblis ke dalam tubuhnya untuk menstabilkan lukanya.
Di sudut ruangan, seorang pria berdiri dengan tangan di belakang punggung. Jubahnya hitam pekat, dengan sulur-sulur merah di kerah dan ujung lengan. Wajahnya tertutup topeng putih polos, tidak ada lubang mata, tidak ada lubang mulut—hanya permukaan putih yang halus dan mengerikan.
“Dia lolos,” suara pria itu keluar dari balik topeng, datar, tanpa emosi. “Dia mengalahkanmu. Dengan kekuatan yang tidak berasal dari dirinya sendiri.”
Cheonmyeong menggertakkan gigi. “Aku tahu. Ada sesuatu di dalam dirinya. Sesuatu yang memberinya kekuatan. Qi ungu itu… aku belum pernah merasakannya sebelumnya.”
“Tapi aku pernah.”
Cheonmyeong menoleh. Pria bertopeng itu berjalan mendekat, langkahnya tidak bersuara.
“Qi ungu itu adalah qi dari rubah berekor sembilan. Makhluk iblis kuno yang telah hilang selama ribuan tahun. Konon, ia terperangkap dalam sebuah batu hitam, menunggu seseorang yang layak untuk membebaskannya.” Ia berhenti di samping ranjang Cheonmyeong. “Dan sekarang, batu itu ada di tangan Ryu Seol.”
Cheonmyeong mengepalkan tangannya. “Kau… kau tahu tentang itu?”
“Aku tahu banyak hal, Ryu Cheonmyeong. Termasuk bahwa batu itu adalah kunci untuk membuka kekuatan sejati Kultus Darah. Jika kita bisa mendapatkannya…” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tapi senyum di balik topeng itu bisa dirasakan.
Cheonmyeong menggigit bibirnya. Di dalam dadanya, kebencian dan rasa malu bercampur menjadi satu. Ia dikalahkan. Oleh sampah yang dulu ia injak. Dan sekarang, orang itu memiliki sesuatu yang bahkan Kultus Darah inginkan.
“Apa yang harus kulakukan?” tanyanya.
Pria bertopeng itu menoleh ke arahnya. Meski tidak ada mata yang terlihat, Cheonmyeong merasakan tatapan itu menembus topeng, menembus kulitnya, menembus jiwanya.
“Sembuhkan lukamu. Latih lagi. Dan lain kali…” Ia berjalan ke pintu, berhenti sejenak. “Jangan kalah.”
Ia keluar, meninggalkan Cheonmyeong sendirian di ruangan yang sunyi.
Cheonmyeong menatap langit-langit batu yang gelap. Di dalam dadanya, qi iblis bergerak, mengalir, mengisi setiap celah yang kosong. Ia akan menjadi lebih kuat. Ia akan membalas. Dan lain kali, ia tidak akan memberi Seol kesempatan untuk menang.
“Tunggu saja, sepupu kecil,” bisiknya. “Ini belum berakhir.”
---