Andrean Wibisono dikenal sebagai jurnalis paling perfeksionis, disiplin, dan menegangkan —menurut para rekan kerjanya. Hidupnya diatur oleh data dan struktur berita yang rapi.
Masalah hidup Andrean muncul setiap kali dia harus berurusan dengan Alena Maharani yang santai, spontan, percaya insting, dan entah bagaimana selalu selamat meski hobi sekali mepet deadline. Bagi Andrean, Alena adalah clickbait berjalan yang selalu santai menghadapi apapun, sedangkan bagi Alena, Andrean adalah robot jurnalistik yang siap mengingatkan Alena tentang kode etik jurnalistik dalam situasi apapun.
Ketika sebuah proyek liputan spesial memaksa mereka menjadi partner, bencana pun dimulai. Bagaimana kelanjutan kisah dua jurnalis yang saling bertolak belakang ini? Simak dalam Hotnews: I Love You
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laper Bikin Baper
"Sibuk banget keknya," komentar Rani saat Alena kembali ke meja kerjanya. Alena hanya tersenyum. Rani melirik ke arah Renald yang baru saja keluar dari ruang rapat lengkap dengan topi dan maskernya.
"Informan?" tanya Rani dengan nada berbisik. Alena mengangguk.
"Eh, lo udah tau kalo artikel lo yang kemarin di-takedown?" tanya Rani.
"Udah," jawab Alena singkat.
"Kira-kira ulah siapa?" tanya Rani penuh selidik. Alena hanya mengangkat kedua bahunya.
"Makan yuk! Laper gue belum sarapan," ajak Alena pada Rani.
"Aelah, Lenaaa... Baru jam sembilan, ngajakin makan. Lo pikir kantor punya bokap lo?" kata Rani lalu kembali ke meja kerjanya. Alena hanya meringis, lalu menyalakan komputernya.
"Ini," kata Andrean pada Alena tiba-tiba sambil meletakkan dua bungkus roti semir dan dua kotak susu di meja kerja Alena.
"Buat sarapan," lanjut Andrean lalu berjalan menuju meja kerjanya. Alena menatap Andrean tak percaya.
"Ehem... Cieee~ pagi-pagi udah sarapan perhatian dari si dia," goda Rani yang ternyata memperhatikan gerak-gerik Andrean.
"Iri yaaa?" kata Alena dengan nada meledek.
"Idih! Lo aja yang pacaran sama robot. Gue masih normal," kata Rani lalu kembali fokus bekerja.
Alena melirik roti semir dan susu kotak di atas mejanya lalu menatap ke arah meja kerja Andrean dimana si robot jurnalistik itu terlihat serius bekerja. Alena kembali menatap roti dan susu kotak lalu memutuskan untuk melahap roti.
'Jangan baper karena laper, Alena,'
***
"Gimana? Ada kemajuan?" tanya Roni pada Andrean saat keduanya makan siang di warung bakso langganan mereka, warung bakso Pak Haji Hasan.
"Kemajuan? Apanya?" tanya Andrean heran, pasalnya dia belum menceritakan apapun pada Roni tentang liputan investigasi hubungan antara PDX dan pemalsuan minyak goreng.
"Hubungan lo sama Alena," kata Roni. Andrean mengerutkan alisnya.
"Hubungan gue sama Alena? Kemajuan? Nggak paham gue," kata Andrean lalu sibuk menyendokkan bakso urat ke mulutnya. Roni terlihat malas.
"Oh! Ada," kata Andrean kemudian. Roni terlihat excited.
"Serius? Sampe tahap apa?" tanya Roni antusias.
"Sampe tahap dimana dia sering setuju sama usulan gue," kata Andrean lalu kembali sibuk memakan baksonya. Wajah Roni kembali terlihat malas.
"Pantes aja lo dibilang robot sama Alena. Bener-bener nggak berperasaan," kata Roni, menyesal mendengarkan jawaban Andrean. Andrean kembali mengerutkan kedua alisnya.
"Jangan terlalu make perasaan. Apalagi jurnalis. Kita harus liat semua secara objektif," kata Andrean.
"Serah lo," kata Roni sebal lalu menghabiskan mie ayam baksonya. Andrean menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Padahal jadi partner jurnalis cakep. Tapi lo keliatan biasa aja. Heran. Lo beneran manusia apa robot sih?" kata Roni.
"Jurnalis cakep?" tanya Andrean memastikan dia tak salah dengar. Roni mengangguk.
"Lo liat aja di kantor kita. Nggak ada yang bening kecuali Alena," kata Roni. Andrean berhenti menyendokkan baksonya.
"Lo suka sama Alena?" tanya Andrean tiba-tiba, membuat Roni tersedak kuah mie ayam.
"Hah?!"
"Dari tadi bahas Alena mulu. Kalo lo suka, buruan tembak. Keburu diambil orang," kata Andrean pada Roni dengan datar. Roni melongo menatap Andrean yang sibuk menghabiskan kuah bakso uratnya.
Sementara itu, di warung sebelah, Alena sibuk menyantap gado-gado kesukaannya ditemani Rani dengan pecel ekstra pedasnya.
"Kemajuan sih kalo Andrean sampe ngasih makanan ke lo. Tandanya dia perhatian," kata Rani tiba-tiba.
"Please deh Ran. Kenapa lo demen banget bahas si robot pas kita makan?" tanya Alena gemas.
"Trus? Lo suruh bahas apa? Kerjaan? Politik? Atau kenaikan harga pangan?" tanya Rani tak kalah gemas.
"Heran deh gue sama lo. Baru berapa hari kerja sama Andrean, udah ketularan robotik," komentar Rani.
"Sial lo!"
"Lagian ni ya, kalo gue perhatiin, akhir-akhir ini kalian udah nggak pernah debat idealisme macem kandidat capres. Itu juga kemajuan," kata Rani.
"Serah lo, Ran," kata Alena malas membahas tentang Andrean.
"Eh, tapi, gue pernah denger kalo ada jurnalis majalah fashion yang pernah nembak Andrean," kata Rani lalu kembali menikmati pecel pesanannya. Alena seketika menoleh ke arah Rani.
"Jurnalis majalah fashion bisa suka sama si robot?" tanya Alena tak percaya. Rani mengangguk sambil sibuk mengunyah pecel di mulutnya.
"Sulit dipercaya," kata Alena.
"Tapi ditolak. Padahal cantik parah," kata Rani.
"Emang lo tau? Bukannya lo cuma denger aja?" tanya Alena.
"Katanya sih," jawab Rani sembari sibuk makan pecel. Alena memutar bola matanya malas lalu kembali menikmati gado-gadonya.
"Jangan-jangan dia gay," celetuk Rani tiba-tiba membuat Alena tersedak mendengarnya.
"Ati-ati, Lena," kata Rani sambil menepuk-nepuk punggung Alena pelan.
"Lo juga ngomong aneh-aneh pas makan," kata Alena lalu meminum es tehnya.
"Nggak perlu sekaget itu juga kalik. Jaman sekarang kek gitu udah biasa. Reaksi lo berlebihan," kata Rani lalu kembali memakan pecelnya.
"Biasa? Gila ya lo! Itu penyakit, jangan lo bilang biasa. Parah lo," kata Alena.
"Iya, iya. Sorry," kata Rani.
Alena kembali menyantap gado-gadonya. Alena dan Rani makan dalam diam. Tak lama keduanya sudah keluar dari warung Bu Darmi dan hendak kembali ke kantor saat keduanya melihat Andrean dan Roni keluar dari warung bakso sebelah.
Andrean dan Alena saling tatap sejenak. Rani dan Roni melakukan hal yang sama, hanya bedanya keduanya saling melempar senyum. Andrean berjalan mendekat ke arah Alena.
"Jam delapan, di cafe yang kemarin. Ada yang mau gue bahas," kata Andrean lalu berlalu diikuti Roni yang melayangkan lambaian kecil pada Rani.
"Ehem. Pake bilang ada yang mau dibahas. Bilang aja ngajakin ngedate," kata Roni setelah dia dan Andrean sudah berada agak jauh dari Alena dan Rani.
"Gue emang mau bahas sesuatu sama dia," kata Andrean datar.
"Bahas masa depan?" goda Roni. Andrean mengangguk. Roni terlihat excited.
"Masa depan liputan kita," kata Andrean kemudian membuat wajah excited Roni berubah menjadi wajah malas.
Sedangakan di belakang mereka, Alena dan Rani berjalan perlahan. Rani terlihat senyam-senyum sumringah.
"Kenapa lo? Abis jadian sama Roni?" tanya Alena penuh selidik.
"Hah? Enggaak," kata Rani sambil menahan senyumannya agar tidak terlalu lebar.
"Keliatan bo'ongnya," kata Alena.
"Beneran. Enggak, Lena," kata Rani.
"Enggak apa belum?"
"Ehe~ belum,"
"Dasar!"
"Eh, btw, si robot ngajakin jalan tuh. Ehem..." goda Rani.
"Palingan masalah liputan," kata Alena.
"Masalah liputan ngapain di cafe? Di ruang rapat kan bisa?" tanya Rani heran.
"Ya terserah dia lah. Kok lo yang repot," kata Alena.
"Cie~ belain,"
"Lama-lama mulut lo gue lakban," kata Alena gemas. Rani hanya meringis. Alena menatap punggung Andrean yang berjalan tegap tak jauh darinya.
'Dia mau bahas apa? Soal PDX? Atau...'
***
ceritanya menarik, selalu dinanti.
🥰❤