Suaminya berkhianat, anaknya di tukar dan dihabisii. Selama lima tahun dia merawat anak suami dan selingkuhannya yang bahkan tinggal satu atap dengannya berkedok sebagai pengasuh.
Bahkan dirinya diracuni oleh pelayan kepercayaannya. Ratih, berakhir begitu tragis. Dia pikir dia adalah wanita paling malang di dunia.
Namun nasib berkata lain. Ketika dia membuka mata, dia berada tepat dimana dia akan melahirkan.
Saat itu Ratih bersumpah, dia akan membalas suaminya yang brengsekk itu. Dia akan mengambil bunga dari setiap perbuatan suami dan semua yang telah menyakitinya dan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Kebenaran Terungkap
Deg
"Ini...." Ratih menjeda ucapannya, dia masih berusaha untuk mencerna semua perkataan dokter dan hasil laporan di tangannya.
"Kemungkinan, Naufal memang bukan darah daging nyonya"
Ratih mengetahui kebenaran itu langsung dari dokter di depannya, juga dari selembar hasil laboratorium yang tampak biasa, namun menghantam perasaannya tanpa ampun.
Saat dokter menyebutkan golongan darah Naufal, Ratih sempat tersenyum kecil, yakin tak ada yang aneh. Tapi senyum itu membeku ketika dokter melanjutkan dengan menyebutkan golongan darahnya sendiri dan golongan darah suaminya. Angkanya tidak saling bertemu. Tidak beririsan.
Wajah Ratih langsung berubah. Matanya melebar, alisnya terangkat tinggi, napasnya tertahan sesaat sebelum terlepas cepat dan dangkal. Tangannya yang tadi menggenggam tas perlahan melemah, jemarinya gemetar. Ada jeda hening yang berat, seolah ruangan itu tiba-tiba kehilangan udara.
"Dok…" suaranya serak, nyaris berbisik. "Apa… apa mungkin ada kesalahan? Maksud saya… apa mungkin anak saya, golongan darahnya seperti itu, walau saya dan suami saya berbeda?" tanyanya yang masih berusaha untuk mengambil sedikit saja kemungkinan.
Ratih sudah merawat anaknya itu selama lima tahun, dia menyayangi Naufal dan tak pernah terbesit sedikitpun bahwa anak itu bukan anaknya. Dia melahirkannya saat itu, di rumah sakit ini juga. Ratih sangat kebingungan.
Dokter menatap Ratih dengan hati-hati, ekspresinya tenang namun serius. Ia tidak langsung menjawab, seakan memberi waktu pada Ratih untuk bersiap.
"Begini, nyonya Ratih," ujar dokter pelan, "golongan darah diturunkan secara genetik. Ada pola-pola yang memungkinkan dan ada yang secara medis tidak mungkin terjadi." jelas dokter itu.
Dokter lalu menjelaskan dengan bahasa sederhana. Jika kedua orang tua memiliki golongan darah tertentu. Misalnya A dan O, atau A dan B maka hanya ada beberapa kemungkinan golongan darah anak yang bisa muncul. Kombinasi itu sudah pasti, tidak bisa melompat ke golongan yang sama sekali tidak membawa gen dari salah satu orang tua.
Ratih sebenarnya juga cukup mengetahui pelajaran biologi yang saat dia pelajari ketika dia masih SMA itu. Tapi, terlalu sulit baginya untuk menerima bahwa Naufal bukanlah anak kandungnya.
"Dalam kasus Ibu dan suami," lanjutnya, "semua kemungkinan sudah kami hitung. Dan… golongan darah Naufal tidak termasuk dalam kemungkinan tersebut. Artinya, secara ilmu genetika, itu tidak bisa terjadi. Naufal, bukan anak kandung Nyonya, itu yang jelas!" dokter kembali menegaskan pernyataannya dan juga pernyataan yang ada di dalam kertas laporan hasil laboratorium itu.
Ratih menggeleng pelan, bibirnya bergetar. "Jadi… tidak ada kemungkinan lain, Dok? Tidak ada keajaiban medis?" Ratih masih sangat berharap.
Dokter menarik napas kecil sebelum menjawab jujur.
"Untuk hal ini, tidak. Ini bukan soal jarang atau kecil kemungkinannya. Ini soal tidak mungkin, nyonya!"
Kata itu jatuh pelan, tapi menghancurkan. Ratih menunduk, dadanya sesak. Dunia yang selama ini ia yakini utuh, retak hanya oleh satu fakta sederhana, darah yang mengalir di tubuh anak yang ia pikir telah ia lahirkan, rawat, dan cintai sepenuh hidupnya, bukan darahnya. Lalu darah siapa?
Dengan langkah gontai, Ratih keluar dari ruangan dokter yang memang menangani Naufal yang mengalami sakit demam berdarah. Sudah tiga hari Naufal di rawat di rumah sakit ini. Dan Ratih, datang ke tempat dokter itu karena memang ingin mengambil hasil tes laboratorium.
Tapi, apa yang didapatkan justru menghancurkan hati dan perasaannya. Air matanya mengalir, dia benar-benar bingung.
"Mas Fandi, aku harus mengatakan semua ini pada mas Fandi!"
Ratih meraih ponsel dari dalam tasnya, niatnya adalah untuk menghubungi suaminya. Namun, suaminya mengatakan kalau dia sudah berada di rumah sakit. Sudah ada di ruangan Naufal.
[Ada apa? aku sudah berada di ruangan rawat Naufal, kamu sudah ambil hasil laboratoriumnya?]
"Sudah mas, tapi..."
"Nyonya Ratih, dokter Gunawan memanggil anda ke ruangannya!" kata pada seorang perawat yang datang buru-buru menghampirinya.
"Mas, sebentar. Aku akan menemui dokter dulu!"
Ratih mematikan ponselnya. Dia segera pergi kembali ke ruangan yang tadi baru saja dia tinggalkan. Tapi, begitu dia mau masuk, perawat itu keluar lagi.
"Maaf nyonya, ternyata aku salah. Bukan nyonya Ratih Auliani, tapi Ratih Aisyah. Maafkan saya" kata perawat itu yang ternyata salah.
Ratih mengangguk perlahan. Dia juga tidak mempermasalahkan hal itu.
Ratih pun kembali berjalan dengan cepat ke ruangan Naufal.
Tangannya baru akan memegang handel pintu, ketika dia mendengar suara tangis yang sangat familiar.
"Hiks... mas, bagaimana aku tidak khawatir. Anak kita sudah tiga hari berada di rumah sakit dan aku tidak boleh menjenguk?"
Deg
'Anak kita?'
Ratih melihat kembali ke arah kertas di tangannya. Tangannya meremass kertas itu dengan sendirinya.
"Kenapa kamu bicara seperti itu, kalau Ratih dengar bisa berantakan semuanya!"
Deg
"Kan kamu yang bilang dokter memanggilnya lagi. Tidak mungkin dia akan kembali cepat. Aku mau pastikan Naufal baik-baik saja, baru aku pulang!"
"Cepatlah! jangan membuat masalah. Jangan sampai semua usaha kita selama lima tahun ini sia-sia. Tinggal sedikit lagi, batas waktu deposito Ratih berakhir. Dia akan punya banyak uang, setelah kita dapatkan uangnya. Kita tidak perlu lagi...!"
Brakk
Ratih membuka pintu dengan keras. Dia sungguh tidak tahan lagi. Air matanya sudah bercucuran di wajahnya.
"Ratih!"
Fandi sangat terkejut. Sarah juga langsung memeluk Naufal.
"Brengsekk kamu mas! teganya kamu membohongi aku selama ini!" pekik Ratih yang langsung memukul dada dan lengan Fandi tanpa henti.
"Ratih... Ratih, kamu salah paham! dengarkan dulu penjelasanku!"
Bahkan pria itu masih mengelak. Pria itu masih berusaha menahan Ratih, dan mencoba menjelaskan, sudah pasti yang dia jelaskan adalah kebohongan.
Tangis Ratih pecah, hatinya hancur. Jiwanya meronta. Suami yang dia percayai yang dia cintai selama 5 tahun, kenapa bisa seperti itu? kenapa bisa mengkhianatinya seperti itu?
"Aku mendengarnya sendiri! apa lagi yang mau kamu coba jelaskan!" pekik Ratih.
Wanita itu sudah sampai pada batasnya. Dia menjerit, dia bahkan tidak perduli lagi dia berada di rumah sakit. Dia hanya ingin memaki Fandi, berapa jahatnya suaminya itu padanya.
"Mulai sekarang! aku tidak ingin melihat kalian lagi. Jangan sampai aku melihat kalian bertiga, muncul di hadapan ku!" teriaknya yang langsung memilih berlari keluar dari ruangan itu.
Dia tidak sanggup, dia sama sekali tidak sanggup berada di sana. Nafasnya tercekat, melihat tiga orang yang selama ini telah membohonginya dengan begitu lihai selama lima tahun, mungkin lebih itu sungguh membagi dada Ratih mau meledakk.
"Mas, bagaimana ini?" tanya Sarah panik.
Tangan dan rahang Fandi terlihat mengepal dan mengeras. Dia tahu, kalau dia mengejar Ratih saat ini. Dia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.
'Aku harus menyingkirkannya' batin Fandi.
***
Bersambung...
Khawatir jika kelamaan di rumah itu, keburu bau bangkai..
Dan Fandi pun sudah di cerai..
Kini kehidupan mereka sudah tercerai berai..
Kira² apa selanjutnya yg terjadi..?
Yuk ahh.. Bab berikutnya kita baca lagi.. 🏃♀️🏃♀️😁
Ternyata Ratih sudah mengetahui semuanya..
Dan apa yang terjadi..? Terkejut dong pastinya.. 🤭
Apa lagi Bi Erma, sudah tak mampu lagi berkata untuk menolak fakta..
Karena Ratih punya CCTV yg tersembunyi, dan tak di ketahui oleh mereka bertiga..
Lalu, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya..?
Yuk.. Mari kita baca bab selanjutnya.. 🏃♀️🏃♀️🏃♀️
Harta melimpah..
Ternyata hasil korupsi..
Kasih nafkah anak istri pake uang haram, parah dahh.. 🤦🏻♀️
Kau kira kebusukan bisa kau tutupi selamanya..?
Kau kira kebenaran tak akan menemukan jalannya..?
Mungkin saja kau terbebas saat ini, tapi lihat saja nanti, tunggu saja waktu nya tiba..
Kau akan berada di tempat mu yg seharusnya, yaitu penjara.. 😏