Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.
Sejak saat itu, dunia Arga berubah.
Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.
Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.
Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Simfoni Baja dan Dendam
Kota Jakarta tidak pernah benar-benar tidur, namun pagi ini, ia tampak sekarat. Langit di atas ibu kota tertutup awan mendung berwarna kelabu gelap yang menggantung rendah, seolah-olah langit sendiri sedang menahan beban dari segala dosa yang telah terjadi di bawahnya. Hujan turun perlahan, bukan sebagai air yang menyucikan, melainkan sebagai cairan perih yang meninggalkan bercak putih pada beton dan memudarkan warna besi—hujan asam yang menjadi saksi bisu dari industri yang tak terkendali.
Di sela-sela lorong sempit pasar tradisional yang belum sepenuhnya terbangun, Arga berjalan dengan langkah yang diseret. Bros bunga melati milik Sari kini berada di dalam genggamannya, diselipkan rapat ke dalam saku jaketnya yang robek dan berlumur debu. Bros itu bukan sekadar perhiasan murah; bagi Arga, itu adalah kompas emosional satu-satunya yang tersisa di dunia yang mulai terasa seperti labirin mimpi buruk.
“Jangan membuang energi untuk mencari jejak kaki di atas aspal yang sudah basah oleh hujan, Inang,” suara Macan Kencana di kepalanya berdesis, lebih tajam dan dingin daripada embusan angin laut. “Mereka yang menculik gadis itu bukan manusia biasa. Mereka adalah entitas yang tidak meninggalkan jejak fisik berupa sidik jari atau alas kaki. Yang mereka tinggalkan adalah residu energi—energi yang berbau busuk, seperti bau besi berkarat yang bercampur dengan belerang.”
Arga berhenti di depan sebuah genangan air besar di tengah jalan. Ia memejamkan mata, membiarkan inderanya meluas, menyapu radius kilometer di sekitarnya. Ia tidak lagi mencari dengan mata fisik, melainkan dengan resonansi Mustika di dadanya. Ia mencoba menyelaraskan detak jantungnya yang ritmenya kini tidak lagi konstan dengan frekuensi dunia di sekitarnya.
Tiba-tiba, ia merasakannya. Sebuah tarikan halus, seperti benang tipis yang tidak terlihat namun memiliki tegangan tinggi, membentang dari bros melati di sakunya menuju ke arah tenggara—ke arah kawasan industri tua di pinggiran kota yang sudah lama ditinggalkan oleh para investor karena tanahnya yang dianggap beracun.
"Ke sana," gumam Arga. Suaranya datar, namun penuh dengan keyakinan yang mematikan.
Saat ia mulai melangkah, gerimis tipis berubah menjadi guyuran hujan yang lebih lebat. Air yang jatuh dari langit terasa perih di kulitnya, namun Arga tidak meringis. Ia membiarkan hujan asam itu membilas darah-darah kering yang menempel di tubuhnya sejak pertarungan di menara Wijaya.
Namun, kedamaian semu itu tidak berlangsung lama. Saat ia melewati sebuah tikungan tajam di dekat stasiun kereta api tua yang sudah mati, ia merasakan sensasi tidak enak di tengkuknya. Ada sesuatu yang mengawasinya. Bukan satu orang, melainkan banyak. Matanya yang keemasan berkilat, memindai kegelapan di balik tumpukan peti kemas yang sudah berkarat.
“Ada enam di depan. Tiga di atap gedung tua di sisi kiri. Mereka bukan pengawal bayaran rendahan seperti milik keluarga Wijaya. Mereka adalah 'Pengejar'. Kelompok bayangan yang ditugaskan untuk memulihkan aset yang melarikan diri atau memusnahkan ancaman sebelum menyebar,” Macan Kencana memperingatkan.
Arga tidak berhenti. Ia justru mempercepat langkahnya, seolah-olah ia memancing musuh-musuhnya untuk keluar dari persembunyian. Saat ia sampai di tengah area terbuka—sebuah lapangan beton yang dipenuhi rumput liar—sebuah tembakan sunyi (silenced shot) memecah kesunyian.
Wush!
Peluru itu melesat tepat di samping telinganya, menyambar udara dengan kecepatan yang membuat telinga Arga berdenging. Tanpa menoleh, Arga memutar tubuhnya dengan refleks yang melampaui batas kecepatan manusia. Ia menyambar sepotong besi dari rongsokan di dekatnya dan melemparkannya ke arah atap. Sebuah jeritan tertahan terdengar dari atas—satu musuh tumbang seketika sebelum sempat melepaskan peluru kedua.
Enam pria berpakaian serba hitam muncul dari balik bayangan kontainer. Mereka tidak menggunakan senjata api konvensional. Di tangan mereka, melayang senjata berenergi biru yang mendesis, membelah tetesan hujan asam dengan uap yang mengepul panas.
"Serahkan Mustika itu, Arga," ujar pemimpin kelompok itu, suaranya terdengar mekanis, seolah-olah dia berbicara melalui modulasi audio yang tersembunyi di balik topengnya. "Serahkan entitas di dalam dadamu kepada kami, dan kau mungkin akan mendapatkan informasi tentang gadis itu sebelum dia dijadikan subjek eksperimen."
Arga tertawa kecil—suara tawa yang mengandung kegetiran dan amarah yang terpendam. "Kalian bicara tentang Mustika seolah itu adalah milik kalian. Kalian bahkan tidak tahu siapa yang kalian ajak bicara saat ini."
Sebelum pemimpin itu sempat memberi perintah, Arga menghilang. Ia bergerak bukan seperti manusia, melainkan seperti kilatan petir yang membelah kegelapan malam. Ia menerjang kelompok itu dengan brutal. Satu pukulan tangan kosongnya mendarat di dada pengawal pertama, membuat pelindung energi biru musuh itu pecah berkeping-keping seperti kaca yang dihantam palu.
Arga tidak lagi menahan diri; ia menggunakan aura emasnya untuk menciptakan gelombang kejut yang membuat para Pengejar terlempar seperti daun kering yang ditiup badai. Namun, saat ia memukul salah satu musuh, ia merasakan sesuatu yang aneh. Setiap kali tinjunya beradu dengan armor musuh, ia merasakan fragmen memori yang kembali masuk ke otaknya seperti kepingan puzzle yang dipaksakan masuk.
Sebuah ruangan putih yang steril... seseorang dengan jubah hitam yang memegang buku tua dengan sampul kulit manusia... suara seorang pria tua yang memanggilnya dengan sebutan 'Pewaris'...
Arga tersentak saat salah satu serangan musuh mengenai bahunya. Rasa sakit itu justru memicu lebih banyak ingatan. Bukan dendam, ini adalah warisan. Mustika ini bukan kutukan, ini adalah kunci untuk sesuatu yang lebih besar.
Arga menghentikan gerakannya. Ia membiarkan satu musuh mendekatinya, lalu ia mencengkeram wajah musuh itu dengan satu tangan, memegangnya dengan kekuatan yang membuat struktur kepala pria itu berderit.
"Katakan pada tuanmu..." desis Arga, wajahnya berada hanya beberapa inci dari topeng musuh, matanya bersinar emas terang, "aku tidak akan datang sebagai umpan. Aku akan datang sebagai Pewaris. Dan aku akan membakar setiap tempat yang berani menyentuh milikku."
Dengan satu sentakan, Arga melepaskan auranya, mengirimkan gelombang energi yang melumpuhkan sistem saraf musuh-musuhnya seketika. Mereka terkapar di tanah, tubuh mereka kejang-kejang tanpa bisa melakukan perlawanan lebih lanjut.
Arga berdiri di tengah kepungan musuh yang tak berdaya. Ia menatap ke arah utara, ke arah pabrik tua yang ditunjuk oleh intuisi Mustikanya. Ia tahu, di sana bukan hanya tempat Sari disekap. Di sana adalah tempat di mana rahasia kelahirannya dikubur, tempat di mana takdirnya yang sebenarnya menanti.
Sambil melangkah menembus hujan yang makin lebat, Arga menyadari satu hal yang fundamental: dendam pada keluarga Wijaya hanyalah bab pendahuluan dari buku besar yang sedang ia tulis dengan darahnya sendiri.
Ia harus cepat. Bau melati dari bros itu mulai memudar, tertutup oleh aroma sulfur dan bahan kimia dari pabrik di kejauhan. Arga berlari, melompati rintangan, dan menghilang ke dalam kabut Jakarta yang makin kelam, siap untuk menghadapi apa pun yang menunggu di balik pintu gerbang rahasia itu.
Di dalam pikirannya, Macan Kencana mendengkur puas. “Pewaris... kata itu terasa enak di lidah, bukan? Mari kita lihat apakah mereka siap menerima kenyataan yang akan kau bawa ke depan pintu mereka.”