NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Di Wisma Lavender

Penjaga Hati Di Wisma Lavender

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Bad Boy / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:466
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Penjaga Hati di Wisma Lavender mengisahkan perjalanan Arka,mahasiswa tingkat akhir Teknik Informatika yang terhimpit masalah finansial setelah kontrakan lamanya digusur. Di tengah keputusasaan, ia menemukan iklan kos misterius dengan harga sangat murah dan fasilitas mewah, termasuk internet super cepat.

Namun, Arka terjebak dalam situasi yang tidak terduga setelah menandatangani kontrak dengan Oma Rosa, sang pemilik wisma yang eksentrik dan gemar bermain TikTok. Ternyata, Wisma Lavender adalah sebuah kos-kosan putri. Arka terpaksa menjadi satu-satunya laki-laki di sana dan harus mematuhi aturan ketat serta tugas tambahan yang diberikan oleh para penghuni wanita yang beragam karakternya, terutama Sari, sang ketua kos yang disiplin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Iklan di Tiang Listrik

Matahari Jakarta sore itu tidak punya belas

kasihan. Panasnya terasa seperti menembus jaket

almamater Arka yang sudah mulai memudar warnanya. Arka berdiri di trotoar, menatap tumpukan kardus berisi buku kuliah dan rice cooker tua di samping kakinya. Di depannya, sebuah bangunan kontrakan sedang dipasangi garis pembatas. Digusur. Kata yang lebih tajam dari sembilu bagi seorang mahasiswa tingkat akhir dengan saldo ATM yang lebih mirip nomor togel—dua digit terakhirnya pun menyedihkan.

"Maaf ya, Mas Arka. Pemilik tanahnya butuh

mendadak buat bikin ruko," ucap Pak RT dengan nada yang sebenarnya tulus, tapi tidak membantu membayar uang sewa tempat baru. Arka hanya mengangguk lesu. Dengan sisa uang 250 ribu di kantong—setelah dipotong biaya fotokopi skripsi yang direvisi dosen tanpa perasaan—dia tahu pilihannya terbatas antara tidur di bawah jembatan atau menjadi gelandangan elit di perpustakaan kampus.

Ia mulai berjalan menyusuri gang-gang sempit,

berharap ada keajaiban berupa papan pengumuman

"Terima Kos". Namun, rata-rata harga kos di daerah sini sudah naik gila-gilaan semenjak ada kafe kekinian yang buka di ujung jalan.

Hingga langkahnya terhenti di depan sebuah tiang

listrik yang miring ke kiri, seolah kelelahan menahan

beban kabel dan tumpukan stiker sedot WC. Di sana, tertempel selembar kertas HVS kuning mentereng yang tampak masih baru.

"KOS MURAH MERIAH: 200rb/bulan"

Arka mengucek matanya. Mungkin dia dehidrasi. Di

Jakarta, 200 ribu biasanya hanya dapat kamar seukuran liang lahat tanpa jendela, atau mungkin hanya biaya parkir sebulan. Ia membaca lanjutannya dengan seksama:

• Fasilitas: Makan (Pagi & Malam), Listrik, Air,

WiFi 1 Gbps.

• Syarat: Berani, Sabar, Punya KTP (Kalau ada).

• Alamat: Wisma Lavender, Jl. Melati Nomor 13.

"WiFi satu giga?" gumam Arka. "Ini yang pasang

iklan salah ketik atau emang lagi sedekah jariyah?"

Kecepatan internet segarang itu adalah impian setiap mahasiswa pejuang skripsi yang sering mengutuk sinyal kampus yang timbul tenggelam seperti harapan palsu gebetan. Tapi, kata "Berani" di kolom syarat itu sedikit mengusik batinnya. Apa maksudnya? Apakah rumahnya berhantu? Atau penghuninya pelihara buaya?

"Ah, masa bodoh," Arka meyakinkan dirinya sendiri.

"Daripada mati kepanasan di trotoar, mending mati

penasaran di kos murah."

Ia mencabut potongan kertas kecil berisi nomor

telepon di bagian bawah iklan tersebut. Dengan semangat sisa-sisa, ia memanggul kardusnya kembali. Wisma Lavender. Nama yang terdengar sangat estetik, tapi di saat yang sama, entah kenapa memberikan firasat yang menggelitik tengkuknya.

Arka tidak tahu bahwa keputusannya mencabut kertas itu adalah awal dari drama paling kacau sekaligus paling berwarna dalam hidupnya. Ia tidak tahu bahwa Wisma Lavender bukanlah sekadar kos-kosan, melainkan sebuah medan perang yang penuh dengan skincare, gosip, dan teriakan histeris setiap kali ada kecoa melintas.

Pukul lima sore, Arka sampai di depan sebuah

gerbang besi hitam yang tinggi dan berkarat. Di baliknya, berdiri sebuah rumah kolonial megah dengan pilar-pilar putih yang gagah. Sangat kontras dengan label "200 ribu" yang ia baca tadi.

"Salah alamat kali ya?" Arka memeriksa kembali

kertas di tangannya.Baru saja ia hendak berbalik, pintu jati besar di depan rumah itu terbuka dengan derit pelan. Seorang nenek dengan kacamata hitam besar dan rambut disanggul rapi—memegang ponsel yang sedang menampilkan aplikasi TikTok—muncul dari balik pintu.

"Nyari kos ya, Le?" tanya nenek itu dengan suara yang sangat energik untuk orang seusianya. Arka terpaku.

"Eh... iya, Oma. Ini benar Wisma Lavender yang harganya dua ratus ribu?"

Nenek itu tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi yang masih rapi. "Betul banget! Pas banget pasukannya lagi pada keluar. Sini masuk, sebelum Oma berubah pikiran."

Arka melangkah masuk ke dalam rumah yang

harumnya seperti perpaduan antara minyak kayu putih dan parfum mahal. Ia belum menyadari, bahwa di dalam sana, lima belas pasang sepatu wanita dengan berbagai model sudah berjajar rapi di rak tersembunyi, menunggu "korban" baru mereka untuk datang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!