NovelToon NovelToon
Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: AkeilanaTZ

Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi yang berbeda

Aku terbangun karena cahaya.

Bukan cahaya yang menyilaukan, melainkan cahaya lembut yang masuk dari jendela besar di sisi kamar.

Sinar matahari pagi menembus tirai tipis dan jatuh di lantai kayu villa, membentuk garis-garis hangat yang bergerak perlahan mengikuti angin.

Untuk beberapa detik aku hanya berbaring diam.

Tubuhku terasa hangat di balik selimut tebal.

Udara pegunungan masih dingin, tetapi kehangatan yang kurasakan membuatku tidak ingin bergerak terlalu cepat.

Lalu aku menyadari sesuatu.

Ada sesuatu yang berbeda.

Sesuatu yang sangat sederhana, tetapi cukup membuat jantungku berdetak sedikit lebih cepat.

Ada lengan yang melingkari pinggangku.

Aku menoleh perlahan.

Ashar masih tertidur di sampingku.

Wajahnya terlihat sangat tenang.

Rambutnya sedikit berantakan, mungkin karena semalam terlalu banyak bergerak dalam kegugupan dan tawa kecil yang tak terhitung.

Aku menatapnya cukup lama.

Dan untuk pertama kalinya sejak kami menikah…

aku benar-benar merasakan sesuatu yang berbeda.

Bukan sekadar status suami istri.

Bukan sekadar pasangan yang tinggal di rumah yang sama.

Tetapi dua orang yang akhirnya melewati sesuatu bersama.

Sesederhana itu.

Namun rasanya besar sekali.

Aku tersenyum kecil.

Ashar biasanya bangun lebih dulu dariku.

Ia selalu disiplin.

Tetapi pagi ini ia masih tertidur.

Dan entah kenapa melihatnya begitu membuat hatiku terasa lembut.

Aku mencoba bergerak sedikit.

Sayangnya…

lengan Ashar di pinggangku justru mengencang.

Aku terdiam.

“Ashar…” bisikku pelan.

Tidak ada jawaban.

Aku mencoba bergerak lagi.

Kali ini ia menggumam pelan.

“Hmm…”

Aku menahan tawa.

“Bangun.”

Matanya terbuka perlahan.

Butuh beberapa detik sebelum ia benar-benar sadar.

Ketika akhirnya ia menatapku, ekspresi wajahnya berubah sangat cepat.

Awalnya bingung.

Lalu sadar.

Lalu—

sangat malu.

Ia langsung melepaskan tangannya dari pinggangku seperti seseorang yang baru menyentuh sesuatu yang terlalu panas.

“Maaf!” katanya cepat.

Aku tertawa kecil.

“Kenapa minta maaf?”

“Aku… aku tidak sengaja.”

“Kamu memeluk istrimu sendiri.”

“Ya tapi—”

Ia berhenti bicara.

Wajahnya memerah.

Aku menatapnya dengan senyum yang sulit kutahan.

“Ashar.”

“Iya?”

“Selamat pagi.”

Ia terlihat semakin canggung.

“Selamat pagi…”

Beberapa detik kami hanya saling menatap.

Lalu tiba-tiba kami berdua tertawa.

Tertawa karena tidak tahu harus berkata apa.

Ashar duduk di tepi ranjang sambil mengacak rambutnya.

Aku masih bersandar di bantal sambil menatapnya.

Ia terlihat seperti seseorang yang baru saja melewati sesuatu yang besar dan masih mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi.

“Aku masih sedikit tidak percaya,” katanya pelan.

“Apa?”

“Bahwa… kita berhasil.”

Aku tidak bisa menahan senyum.

“Kenapa terdengar seperti kamu baru lulus ujian nasional?”

Ia tertawa kecil.

“Rasanya memang seperti itu.”

Ia menoleh ke arahku.

“Nilainya berapa?”

Aku berpura-pura berpikir serius.

“Lumayan.”

“Lumayan?”

“Mungkin… B+.”

Ia menghela napas lega.

“Syukurlah bukan remedial.”

Aku menutup wajah dengan bantal karena tertawa.

Ashar benar-benar tidak berubah dalam satu hal.

Ia tetap pria yang terlalu jujur.

Beberapa menit kemudian kami mencoba bangun dari ranjang.

Dan di sinilah kecanggungan baru dimulai.

Ashar berdiri lebih dulu.

Lalu menoleh ke arahku dengan ekspresi yang sangat serius.

“Kamu baik-baik saja?”

“Iya.”

“Tidak pusing?”

“Tidak.”

“Tidak sakit?”

“Ashar.”

“Iya?”

“Kalau kamu tanya lagi aku akan lempar bantal.”

Ia langsung mengangkat tangan menyerah.

“Baik.”

Aku turun dari ranjang perlahan.

Ashar langsung mendekat seolah siap menangkapku kalau aku tiba-tiba jatuh.

Aku menatapnya heran.

“Aku tidak akan pingsan.”

“Aku hanya memastikan.”

Aku menggeleng sambil tertawa kecil.

“Ashar…”

“Iya?”

“Kamu terlalu khawatir.”

Ia menggaruk belakang lehernya.

“Mungkin.”

Lalu ia berkata dengan sangat serius:

“Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja.”

Kalimat itu membuatku diam beberapa detik.

Ada sesuatu dalam nada suaranya yang berbeda.

Lebih tegas.

Lebih yakin.

Lebih… protektif dari sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!