Nadin Kirana tidak pernah menyangka hidupnya akan hancur dalam semalam. Ayahnya kabur membawa uang perusahaan, meninggalkan utang sebesar sepuluh miliar rupiah dan adiknya yang sedang kritis di rumah sakit. Dikejar oleh rentenir kejam dan diboikot dari semua pekerjaan, Nadin tersudut di ujung jurang.
Satu-satunya jalan keluar datang dari Gilang Mahendra—CEO dari Mahendra Corp, pria bertangan dingin yang dikenal tidak memiliki belas kasihan dalam bisnis maupun kehidupan pribadinya. Gilang bersedia melunasi seluruh utang Nadin dan membiayai pengobatan adiknya, namun dengan satu syarat mutlak: Nadin harus menandatangani kontrak untuk menjadi "miliknya" sepenuhnya selama tiga tahun.
Tidak ada cinta. Tidak ada janji pernikahan. Nadin hanya menjadi properti pribadi Gilang yang harus siap memuaskan pria itu kapan pun dan di mana pun dia inginkan, serta tinggal bersamanya di penthouse mewahnya bagaikan burung dalam sangkar emas.
Awalnya, hubungan mereka murni transaksional dan dipenuhi kebe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Mahkota Sang Nyonya dan Langit Kekuasaan
Suara deburan ombak yang menghantam dinding tebing karang terdengar lebih tenang pagi ini, menciptakan melodi alam yang mengalun lembut memasuki kamar utama vila. Sinar matahari pagi berwarna keemasan menembus dinding kaca raksasa, menghangatkan permukaan lantai kayu ulin dan seprai sutra putih yang menutupi ranjang besar di tengah ruangan.
Nadin Kirana mengerjap pelan, menyesuaikan pandangannya dengan cahaya pagi. Tubuhnya terasa luar biasa lelah, seolah setiap otot dan sendinya baru saja dipaksa bekerja melewati batas maksimal. Rasa pegal yang mendominasi pangkal paha dan punggungnya menjadi bukti nyata atas intensitas penyatuan mereka semalaman suntuk. Namun, anehnya, tidak ada sedikit pun rasa takut atau penyesalan yang tersisa di dalam dadanya. Yang ada hanyalah sebuah perasaan penuh dan utuh yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya.
Nadin mencoba mengubah posisinya, namun sebuah lengan kekar dan berat yang melingkar posesif di pinggangnya menahan pergerakan itu.
Gilang Mahendra berbaring menyamping tepat di belakangnya. Dada bidang pria itu menempel rapat pada punggung telanjang Nadin. Hembusan napas Gilang yang teratur menerpa lembut tengkuk Nadin, memberikan sensasi geli sekaligus nyaman. Nadin memutar tubuhnya perlahan di dalam pelukan itu, berhati hati agar tidak membangunkan sang penguasa yang sedang terlelap.
Kini mereka berhadapan. Nadin menatap wajah suaminya dari jarak yang sangat dekat. Dalam keadaan tidur, garis wajah Gilang yang biasanya selalu keras dan penuh ancaman terlihat jauh lebih damai. Rahangnya yang tegas sedikit mengendur, dan bulu mata pria itu yang tebal menciptakan bayangan tipis di bawah matanya. Nadin mengangkat tangan kirinya. Cincin berlian dan cincin emas putih di jari manisnya berkilau memantulkan cahaya matahari.
Dengan sangat lembut, Nadin menyentuh pipi Gilang menggunakan ujung jarinya. Dia menelusuri garis rahang pria itu, turun ke leher, dan berhenti tepat di atas dada kirinya yang berdetak konstan.
Tiba tiba, sebuah tangan besar menangkap pergelangan tangan Nadin dengan gerakan yang sangat cepat dan presisi. Mata hitam Gilang terbuka seketika. Tidak ada jejak kantuk di sana. Mata itu langsung menatap lurus ke dalam mata Nadin dengan ketajaman yang mematikan, sebelum akhirnya melembut saat menyadari siapa yang berada di dalam dekapannya.
"Kau bangun lebih awal dari dugaanku," suara bariton Gilang terdengar sangat serak dan berat karena baru bangun tidur. Pria itu menarik tangan Nadin, membawa telapak tangan wanita itu ke bibirnya, dan memberikan satu kecupan panjang di sana.
"Saya sudah terbiasa bangun pagi, Gilang," jawab Nadin pelan. Dia membiarkan tangannya berada di dalam genggaman pria itu.
Gilang mengerutkan kening sedikit. Pria itu menggeser tubuhnya lebih dekat, mengurung Nadin sepenuhnya di bawah bayang bayangnya. Tatapan mata Gilang berubah menjadi sangat serius dan menuntut.
"Hentikan panggilan formal itu, Nadin," perintah Gilang mutlak. Jari jari pria itu menyusuri lengan Nadin hingga ke bahu. "Kau bukan lagi asistenku, konsultan peliharaanku, atau jaminan utangku. Kau adalah istriku. Mulai pagi ini, aku tidak ingin lagi mendengar kata saya dan Anda keluar dari bibirmu saat kita sedang berbicara berdua. Gunakan kata aku dan kamu."
Nadin menelan ludah. Perubahan kecil pada kata ganti itu terdengar sederhana, namun bagi Nadin, itu adalah sebuah lompatan psikologis yang sangat besar. Menggunakan kata aku dan kamu berarti meruntuhkan tembok terakhir yang memisahkan status mereka. Itu berarti mereka kini berdiri di tanah yang sama.
"Baiklah," ucap Nadin pelan. Dia menarik napas panjang, menatap mata hitam kelam suaminya, dan mencoba mengulangi kalimatnya. "Aku sudah terbiasa bangun pagi, Gilang. Apakah kamu tidur nyenyak?"
Mendengar kata ganti itu diucapkan dengan suara Nadin yang lembut, sudut bibir Gilang tertarik membentuk senyuman yang sangat puas dan posesif. Pria itu menundukkan kepalanya, meraup bibir Nadin dengan ciuman selamat pagi yang panjang, dalam, dan penuh rasa lapar yang seolah tidak pernah terpuaskan.
"Aku tidak tidur sama sekali," bisik Gilang di sela sela ciuman mereka, menghentikan gerakannya sejenak untuk menatap Nadin. "Aku menghabiskan sisa malam dengan menatapmu tertidur. Memastikan bahwa kau benar benar ada di sini, di ranjangku, terikat padaku dengan cara yang tidak akan pernah bisa kau lepaskan."
Pengakuan yang sangat obsesif itu membuat dada Nadin berdesir panas. Dia mengusap dada bidang Gilang, membalas tatapan pria itu dengan keberanian yang baru. "Aku tidak akan lari ke mana mana. Aku milikmu."
Pagi itu dihabiskan dengan ritme yang sangat lambat dan intim. Mereka akhirnya beranjak dari ranjang menjelang pukul sembilan. Gilang menolak kehadiran pelayan di dalam vila utama. Pria itu sendiri yang menyeduh kopi hitam pekat di dapur bersih yang mewah, sementara Nadin duduk di kursi konter marmer dengan hanya mengenakan kemeja putih kebesaran milik Gilang yang panjangnya hanya menutupi setengah pahanya.
Gilang meletakkan secangkir kopi panas di depan Nadin, lalu pria itu berjalan ke ruang kerja kecil di sudut vila. Saat Gilang kembali, dia membawa sebuah tabung hitam panjang yang sangat familier bagi Nadin. Itu adalah tabung penyimpanan kertas cetak biru.
Gilang meletakkan tabung itu di atas konter dapur, tepat di sebelah cangkir kopi Nadin.
"Buka itu," perintah Gilang santai. Pria itu bersandar pada meja dapur, melipat kedua tangannya di depan dada, dan menatap Nadin dengan penuh antisipasi.
Nadin mengerutkan kening bingung. Dia meletakkan cangkir kopinya, menarik tutup tabung hitam tersebut, dan mengeluarkan sebuah gulungan kertas kalkir berukuran sangat besar. Dia membentangkan kertas itu di atas meja marmer.
Mata Nadin melebar seketika saat melihat isi cetak biru tersebut. Itu adalah peta topografi lengkap dari pulau pribadi tempat mereka berada saat ini. Gambar itu menunjukkan kontur tanah, garis pantai, tebing karang, dan beberapa zona vegetasi alami yang masih belum tersentuh pembangunan. Di sudut bawah kertas itu, terdapat sebuah stempel resmi dari kementerian yang menyatakan bahwa hak guna bangunan pulau ini telah dialihkan sepenuhnya atas nama Nadin Kirana Mahendra.
"Gilang? Apa maksudnya ini?" Nadin mendongak menatap suaminya dengan rasa tidak percaya. Jantungnya mulai berdebar kencang.
"Proyek Menara Selatan akan segera memasuki tahap konstruksi pertengahan bulan depan. Tugas konsultasimu di sana hampir selesai," jelas Gilang dengan nada suara yang tenang namun penuh wibawa. Pria itu melangkah mendekati Nadin, berdiri di samping istrinya, dan menunjuk ke arah sisi selatan pulau di peta tersebut. "Aku tidak suka melihatmu menghabiskan waktu luang dengan berdiam diri di penthouse. Otak brilianmu harus terus bekerja. Aku ingin kau mendesain ulang seluruh kawasan pulau ini."
Nadin terdiam kaku. Mendesain ulang sebuah pulau pribadi bukanlah proyek sembarangan. Ini adalah mega proyek yang biasanya hanya dipercayakan kepada firma arsitektur berskala internasional dengan jam terbang puluhan tahun.
"Mendesain ulang menjadi apa?" tanya Nadin dengan suara bergetar karena antusiasme yang mulai meledak di dalam dadanya.
"Menjadi apa pun yang kau mau," jawab Gilang mutlak. Pria itu menangkup rahang Nadin, memaksa wanita itu menoleh dan menatap matanya. "Kau ingin membangun vila peristirahatan mewah? Kau ingin membangun resor privat bawah laut? Atau kau ingin membangun taman botani raksasa? Lakukan sesukamu. Anggarannya tidak terbatas. Ini adalah proyek pertamamu di bawah nama firma arsitektur milikmu sendiri yang surat izinnya sudah diurus oleh Dimas minggu lalu."
Nadin menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air mata haru menggenang di pelupuk matanya. Gilang tidak hanya memberikannya kekayaan atau status sosial. Pria ini mengembalikan mimpi terbesarnya yang dulu sempat hancur karena utang ayahnya. Gilang memberikannya kebebasan untuk berkarya, memberikannya sayap untuk terbang tinggi.
Namun, kalimat Gilang selanjutnya kembali menarik Nadin pada realita kelam yang mengikat mereka.
"Aku memberimu sayap untuk terbang setinggi mungkin, Nadin," bisik Gilang di dekat telinga istrinya, suaranya terdengar sangat rendah dan posesif. Tangan pria itu turun mencengkeram pinggang Nadin dengan kuat. "Tapi kau harus selalu ingat. Sejauh apa pun kau terbang, kau hanya diizinkan untuk terbang di langitku. Semua ciptaanmu, semua karyamu, dan dirimu sendiri, hanya akan berada di bawah naunganku."
Sisi dominan pria itu tidak pernah pudar. Gilang mengabulkan mimpi Nadin, namun dengan syarat bahwa Nadin akan terus berada di dalam genggamannya. Dan bagi Nadin saat ini, syarat itu bukanlah sebuah penjara, melainkan sebuah bentuk perlindungan paling kokoh yang pernah dia miliki.
"Aku mengerti," bisik Nadin. Dia berjinjit dan mencium rahang keras pria itu dengan penuh rasa syukur. "Aku akan membangun tempat yang paling indah di dunia ini, hanya untuk kita berdua."
Satu minggu kemudian, masa bulan madu yang terisolasi itu harus berakhir. Roda kerajaan bisnis Mahendra Corp tidak bisa ditinggalkan terlalu lama. Mereka berdua harus kembali ke Jakarta dan menghadapi dunia nyata.
Perjalanan kembali menggunakan helikopter pribadi terasa sangat cepat. Setibanya di landasan helikopter di atap gedung Mahendra Corp, Dimas dan belasan petugas keamanan elit sudah berdiri berbaris menyambut kedatangan sang penguasa beserta ratunya.
Nadin melangkah turun dari helikopter. Penampilannya hari ini tidak lagi terlihat seperti asisten atau konsultan biasa. Dia mengenakan setelan celana panjang berpotongan lebar dan jas blazer berwarna putih gading yang sangat elegan. Di balik blazer itu, dia mengenakan kamisol sutra berwarna hitam. Rambut panjangnya disanggul rapi ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya yang dihiasi oleh kalung berlian raksasa. Cincin pernikahan di jari manisnya berkilauan tertimpa sinar matahari siang.
Jika dulu Nadin selalu berjalan selangkah di belakang Gilang, hari ini pria itu tidak membiarkannya. Gilang meraih tangan Nadin, menautkan jari jari mereka dengan sangat erat, dan membimbing Nadin untuk berjalan tepat di sisinya, sejajar dengan langkahnya.
Begitu mereka masuk ke dalam lift kaca dan turun menuju lantai enam puluh, seluruh aktivitas di lantai direksi itu seakan membeku. Para karyawan, manajer, dan direktur yang sedang berlalu lalang segera menghentikan langkah mereka. Mereka menepi ke pinggir lorong dan menundukkan kepala dengan sangat dalam.
"Selamat datang kembali, Tuan Mahendra. Selamat datang, Nyonya Mahendra," sapa para karyawan serentak dengan nada yang dipenuhi oleh rasa hormat dan ketakutan yang luar biasa.
Mendengar sebutan Nyonya Mahendra diucapkan secara langsung oleh puluhan orang, dada Nadin bergemuruh hebat. Gelar itu memiliki beban yang sangat berat. Dia bukan lagi Nadin Kirana yang sedang berjuang melunasi utang. Dia adalah separuh dari kekuatan Gilang Mahendra.
Gilang tidak menjawab sapaan mereka. Pria itu terus berjalan dengan wajah datar dan dingin, membawa Nadin masuk ke dalam ruang kerja CEO.
Ruangan itu masih sama seperti saat Nadin meninggalkannya. Meja gambar miliknya masih berada di sudut ruangan, namun kali ini ada sebuah tambahan baru. Tepat di seberang meja kerja eboni raksasa milik Gilang, terdapat sebuah meja kerja baru yang tidak kalah mewahnya, terbuat dari kayu mahoni dengan plakat nama berwarna emas bertuliskan Nyonya Nadin Mahendra. Gilang telah menyiapkan tempat yang setara untuknya di dalam ruangan ini.
"Kita tidak punya banyak waktu untuk bersantai," ucap Gilang sambil melepaskan jasnya. Pria itu kembali pada mode kerjanya yang brutal. "Dimas, kumpulkan semua kontraktor asing yang bekerja sama untuk proyek Menara Selatan. Aku ingin mereka berkumpul di ruang rapat utama dalam waktu lima belas menit."
"Baik, Tuan Mahendra," jawab Dimas sebelum bergegas keluar ruangan.
Gilang menoleh ke arah Nadin. "Ada beberapa pemasok baja dari Eropa yang mencoba menaikkan harga material secara sepihak selama kita tidak ada. Mereka memanfaatkan situasi transisi kebangkrutan Wirawan Group untuk memeras kita. Ini saatnya kau menunjukkan kepada mereka siapa yang sebenarnya mengendalikan proyek ini."
Nadin tersenyum tipis. Mata bulatnya memancarkan kilau ketajaman yang berbahaya. "Dengan senang hati."
Lima belas menit kemudian, Gilang dan Nadin melangkah masuk ke dalam ruang rapat utama. Ruangan itu sudah dipenuhi oleh sekitar belasan pria warga negara asing yang memakai setelan jas mahal. Mereka adalah para direktur perusahaan pemasok material konstruksi dari berbagai negara di Eropa.
Melihat Gilang masuk didampingi oleh seorang wanita muda yang cantik, beberapa pria asing itu saling berpandangan dengan tatapan meremehkan. Mereka berasumsi bahwa Gilang hanya membawa istri barunya sebagai pajangan pemanis ruangan.
Gilang duduk di kursi utamanya, membiarkan Nadin berdiri di dekat layar proyektor. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi, bersedekap dada, dan sama sekali tidak mengucapkan kata pembuka. Gilang membiarkan Nadin mengambil alih seluruh panggung.
"Selamat siang, Tuan tuan," buka Nadin dalam bahasa Inggris yang sangat fasih dan beraksen sempurna. Suaranya terdengar dingin dan sangat profesional. "Saya Nadin Mahendra. Kepala Konsultan Arsitek sekaligus pengawas anggaran untuk seluruh proyek struktural Mahendra Corp."
Seorang pria asing bertubuh besar dengan rambut pirang yang mulai menipis, bernama Tuan Smith dari perusahaan baja Jerman, berdeham pelan. Dia memajukan tubuhnya dan menatap Nadin dengan senyum merendahkan.
"Selamat siang, Nyonya Mahendra," ucap Tuan Smith dengan nada arogan. "Kami menghormati status baru Anda, namun kami berada di sini untuk mendiskusikan masalah teknis dan negosiasi harga baja berkualitas tinggi. Saya khawatir hal ini mungkin terlalu rumit. Mungkin lebih baik jika kami berdiskusi langsung dengan suami Anda atau tim insinyur teknis."
Udara di dalam ruang rapat itu mendadak menjadi sangat beku. Gilang menatap Tuan Smith dengan mata menyipit yang memancarkan peringatan kematian, namun Gilang tetap diam. Pria itu ingin melihat bagaimana ratunya akan mencabik cabik kesombongan pria asing tersebut.
Nadin tidak terlihat tersinggung sama sekali. Dia justru tersenyum, sebuah senyuman yang sangat dingin dan mematikan. Nadin menekan tombol di tabletnya, dan layar proyektor di belakangnya langsung menampilkan grafik tegangan baja dan tabel perbandingan harga internasional.
"Kerumitan adalah spesialisasi saya, Tuan Smith," balas Nadin dengan nada suara yang sangat tenang namun menusuk. "Mari kita bicara tentang baja berkualitas tinggi yang Anda sebutkan. Anda mengajukan kenaikan harga sebesar lima belas persen untuk baja tulangan seri tujuh. Anda mengklaim bahwa baja ini memiliki tingkat daya regang tertinggi untuk menahan beban angin di lantai lima puluh ke atas."
Nadin berjalan mendekati meja rapat, menatap langsung ke arah mata Tuan Smith tanpa berkedip.
"Namun, Anda sepertinya lupa bahwa desain struktur saya telah menambahkan kisi kisi aerodinamis yang memecah beban angin hingga empat puluh persen," lanjut Nadin, membombardir pria asing itu dengan fakta teknis yang tidak terbantahkan. "Penggunaan baja seri tujuh Anda menjadi sangat berlebihan dan tidak efisien. Berdasarkan perhitungan beban statis, kami hanya membutuhkan baja seri lima yang harganya jauh lebih murah. Anda sengaja memanipulasi spesifikasi teknis untuk menipu sistem anggaran kami di saat fokus perusahaan sedang terpecah bulan lalu."
Wajah Tuan Smith langsung memucat pasi. Pria asing itu membuka mulutnya untuk membantah, namun Nadin tidak memberikannya kesempatan sedikit pun.
"Mahendra Corp membatalkan seluruh kontrak pembelian baja dari perusahaan Anda hari ini juga," vonis Nadin tanpa belas kasihan. Keputusannya bersifat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. "Kami akan mengalihkan tender ini kepada perusahaan pesaing Anda di Jepang yang menawarkan harga jauh lebih masuk akal dengan kualitas yang sesuai kebutuhan. Silakan tinggalkan ruangan ini, Tuan Smith."
Keheningan yang luar biasa mencekam menyelimuti ruang rapat tersebut. Para pemasok asing lainnya menelan ludah mereka dengan sangat kasar. Mereka menyadari bahwa wanita muda di hadapan mereka ini bukanlah pajangan. Nadin adalah seorang arsitek jenius yang memiliki wewenang penuh untuk menghancurkan bisnis triliunan rupiah mereka hanya dengan satu jentikan jari. Kesombongan mereka hancur rata dengan tanah.
Tuan Smith berdiri dengan tangan gemetar, membereskan dokumennya dengan wajah memerah menahan malu dan amarah, lalu berjalan cepat keluar dari ruangan. Tidak ada satu pun yang berani membelanya.
Nadin mengalihkan pandangannya ke arah sisa pemasok asing di ruangan itu. "Ada yang ingin mengajukan revisi harga lagi sebelum kita melanjutkan rapat?"
Seluruh pria di ruangan itu serentak menggelengkan kepala. Mereka segera membuka dokumen penawaran harga awal yang paling jujur, tidak berani lagi bermain main dengan Mahendra Corp.
Di kursi utamanya, Gilang Mahendra mengawasi seluruh pertunjukan itu dengan dada yang bergemuruh hebat oleh rasa bangga dan gairah yang sangat kelam. Melihat istrinya berdiri di sana, menggunakan kecerdasan dan statusnya untuk menghancurkan ego pria pria arogan itu, adalah pemandangan paling memabukkan yang pernah dilihat Gilang seumur hidupnya. Istrinya tidak membutuhkan perlindungan fisik di dalam ruangan ini, karena wanita itu sendiri yang telah menjelma menjadi senjata yang paling mematikan.
Satu jam kemudian, setelah rapat selesai dan para pemasok asing itu keluar dengan wajah tertunduk, pintu ganda ruang rapat ditutup rapat rapat oleh Dimas dari luar.
Kini hanya tersisa Nadin dan Gilang di dalam ruangan yang luas itu.
Nadin menarik napas panjang, menormalkan detak jantungnya setelah ketegangan adrenalin tadi. Dia memutar tubuhnya untuk menghadap Gilang. Suaminya itu sudah berdiri, berjalan perlahan mendekatinya dengan langkah seorang pemangsa yang siap menerkam.
"Kau membunuh mereka tanpa ampun, Nadin," geram Gilang dengan suara yang sangat rendah dan berat. Pria itu mengikis jarak di antara mereka, mengunci tubuh Nadin di ujung meja rapat yang besar.
"Mereka mencoba merampok uang perusahaan kita, Gilang. Saya hanya memastikan mereka tahu tempat mereka," balas Nadin dengan napas yang mulai tersengal saat Gilang menyusuri lekuk tubuhnya dari balik blazer putih gading yang dia kenakan.
"Perusahaan kita," ulang Gilang, menikmati setiap suku kata dari pengakuan tersebut. Pria itu menangkap rahang Nadin, mengangkat wajah istrinya hingga pandangan mereka bertemu di udara. Mata hitam Gilang menyala oleh obsesi yang semakin gila. "Aku benar benar sangat mencintai sisi kejammu ini, Nyonya Mahendra. Kau membuatku semakin kehilangan kewarasanku setiap harinya."
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Gilang menabrakkan bibirnya ke bibir Nadin dengan intensitas yang membutakan. Di atas meja rapat kayu jati tempat mereka baru saja menjatuhkan vonis miliaran rupiah, mereka kembali merayakan kekuasaan mutlak yang kini mereka pegang bersama. Sebuah kekuasaan yang dibangun di atas bayang bayang masa lalu yang kelam, disatukan oleh gairah yang tidak terpadamkan, dan disegel selamanya oleh takdir yang tidak akan pernah berani diusik oleh siapa pun di dunia ini.