NovelToon NovelToon
Batas Obsesi Sang Konglomerat

Batas Obsesi Sang Konglomerat

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta Terlarang / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hazard111

Nadin Kirana tidak pernah menyangka hidupnya akan hancur dalam semalam. Ayahnya kabur membawa uang perusahaan, meninggalkan utang sebesar sepuluh miliar rupiah dan adiknya yang sedang kritis di rumah sakit. Dikejar oleh rentenir kejam dan diboikot dari semua pekerjaan, Nadin tersudut di ujung jurang.

Satu-satunya jalan keluar datang dari Gilang Mahendra—CEO dari Mahendra Corp, pria bertangan dingin yang dikenal tidak memiliki belas kasihan dalam bisnis maupun kehidupan pribadinya. Gilang bersedia melunasi seluruh utang Nadin dan membiayai pengobatan adiknya, namun dengan satu syarat mutlak: Nadin harus menandatangani kontrak untuk menjadi "miliknya" sepenuhnya selama tiga tahun.

Tidak ada cinta. Tidak ada janji pernikahan. Nadin hanya menjadi properti pribadi Gilang yang harus siap memuaskan pria itu kapan pun dan di mana pun dia inginkan, serta tinggal bersamanya di penthouse mewahnya bagaikan burung dalam sangkar emas.

Awalnya, hubungan mereka murni transaksional dan dipenuhi kebe

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Kepingan Masa Depan dan Sisi Lain Sang Iblis

Pagi itu, cuaca kota Jakarta terasa sedikit lebih sejuk dari biasanya. Sisa hujan semalam meninggalkan embun yang menempel di dinding kaca raksasa penthouse, menciptakan lapisan buram yang menyaring cahaya matahari menjadi lebih lembut.

Nadin menggeliat pelan di atas ranjang. Matanya masih setengah terpejam, namun indra penciumannya langsung disambut oleh aroma kopi hitam yang pekat berpadu dengan wangi parfum vetiver yang sangat familier. Nadin merentangkan tangannya ke sisi ranjang sebelah kiri, namun dia hanya menemukan seprai sutra yang sudah mendingin. Gilang sudah bangun.

Nadin membuka matanya sepenuhnya. Dia bangkit dan duduk bersandar pada kepala ranjang yang berlapis beludru. Pandangannya menyapu seluruh penjuru kamar utama yang luas itu. Pintu balkon yang biasanya tertutup rapat kini dibiarkan terbuka sedikit, membiarkan angin pagi yang segar berembus masuk.

Di luar sana, di teras balkon yang menghadap langsung ke deretan gedung pencakar langit, Gilang Mahendra sedang duduk di kursi santai. Pria itu hanya mengenakan celana panjang berbahan katun hitam dan kaus oblong berwarna abu-abu gelap. Di tangan kanannya terdapat secangkir kopi hitam, sementara tangan kirinya memegang sebuah tablet kerja. Kacamata baca berbingkai tipis bertengger di hidung mancungnya, memberikan kesan intelektual yang sangat memukau, sangat kontras dengan aura predator yang biasanya dia pancarkan.

Nadin menyingkap selimut tebalnya. Dia tidak repot-repot mencari gaun tidur. Dia hanya mengambil kemeja putih milik Gilang yang semalam dilempar ke lantai, memakainya asal-asalan hingga menutupi pertengahan pahanya, lalu mengancingkan tiga kancing di bagian tengah.

Nadin berjalan tanpa alas kaki melintasi lantai marmer yang dingin, melangkah keluar menuju balkon. Suara langkah kakinya yang pelan tertiup angin membuat Gilang mengalihkan pandangannya dari layar tablet.

Mata hitam Gilang langsung mengunci sosok istrinya. Pria itu meletakkan cangkir kopinya di atas meja bundar kecil, lalu melepaskan kacamata bacanya. Senyum tipis yang sangat posesif terukir di wajah tampan itu.

"Selamat pagi," sapa Gilang dengan suara bariton yang berat dan serak. Pria itu mengulurkan tangan kirinya, memberikan isyarat yang tidak terbantahkan agar Nadin mendekat.

"Selamat pagi," balas Nadin dengan senyum hangat. Dia melangkah maju dan tanpa ragu mendudukkan dirinya menyamping di atas pangkuan Gilang.

Lengan kokoh Gilang langsung melingkar erat di pinggang Nadin, menahan tubuh wanita itu agar duduk dengan nyaman di pangkuannya. Gilang menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher Nadin, menghirup dalam-dalam aroma sabun mandi dan wangi alami tubuh istrinya. Kecupan-kecupan ringan dan basah diberikan pria itu di sepanjang garis rahang Nadin, membuat Nadin sedikit menggeliat karena geli.

"Kamu bangun terlalu pagi hari ini," gumam Nadin sambil menyisir rambut hitam suaminya yang sedikit berantakan menggunakan jemarinya. "Apakah ada masalah di kantor?"

"Tidak ada masalah yang berarti," jawab Gilang, menghentikan kecupannya dan mendongak untuk menatap mata Nadin. "Dimas hanya melaporkan bahwa proses akuisisi aset tanah di pesisir utara sudah selesai. Tanah itu sekarang sepenuhnya menjadi milik Mahendra Corp. Kita bisa mulai merencanakan pembangunan pelabuhan logistik bulan depan."

Nadin mengangguk paham. Setelah kejatuhan Wirawan Group, Gilang bergerak dengan kecepatan yang sangat mengerikan untuk menguasai setiap titik strategis yang ditinggalkan oleh musuhnya. Ambisi pria ini seolah tidak memiliki batas.

"Aku sudah mengatur jadwal kita hari ini," lanjut Gilang. Pria itu mengusap punggung Nadin dengan gerakan naik turun yang sangat menenangkan. "Kita akan mengunjungi Arya siang nanti. Aku menyuruh salah satu koki dari restoran hotel kita untuk memasakkan makanan khusus yang aman untuk ginjal barunya, dan makanan itu akan dikirim langsung ke apartemennya."

Mendengar nama adiknya disebut dengan penuh perhatian, dada Nadin terasa hangat. Di balik sikap otoriternya yang luar biasa kejam di dunia bisnis, Gilang selalu memastikan bahwa Nadin dan Arya mendapatkan perlindungan serta fasilitas terbaik yang ada di dunia ini. Pria ini mengatur segalanya, dari hal terbesar hingga hal yang paling mikroskopis.

"Terima kasih, Gilang," ucap Nadin tulus. "Arya pasti sangat senang. Dia terus bertanya kapan kita akan mampir. Dia bilang dia merindukan masakan rumahan, meskipun aku tahu dia sebenarnya merindukan sesi bermain catur denganmu."

Gilang mendengus pelan, sebuah tawa yang sangat maskulin dan jarang terdengar. "Adikmu itu sangat cerdas. Dia memiliki potensi analitis yang bagus. Sayang sekali jika otaknya hanya digunakan untuk memikirkan pelajaran sekolah menengah. Aku berencana memasukkannya ke dalam program pelatihan khusus di divisi analis Mahendra Corp saat libur musim panas nanti."

"Dia baru berumur lima belas tahun, Gilang," protes Nadin sambil tertawa pelan, memukul dada bidang suaminya dengan ringan. "Biarkan dia menikmati masa remajanya. Jangan mengubah adikku menjadi robot pekerja sepertimu."

"Aku bukan robot pekerja," bantah Gilang dengan nada suara yang tiba-tiba merendah, menatap Nadin dengan gairah yang mulai menyala di matanya. Tangan pria itu menyusup ke balik kemeja putih yang dipakai Nadin, mengusap pinggang wanita itu dari dalam. "Aku adalah suami yang sangat menuntut. Dan aku rasa aku perlu membuktikannya padamu sekarang juga sebelum kita bersiap-siap."

Nadin terkesiap pelan saat sentuhan panas Gilang menyapu kulitnya, namun dia tidak menolak sama sekali. Di bawah langit pagi Jakarta, di atas balkon yang tinggi menjulang, Nadin membiarkan dirinya kembali tenggelam dalam dominasi pria yang sangat dicintainya itu.

Tepat pukul satu siang, mobil Maybach hitam yang dikemudikan oleh Dimas memasuki pelataran parkir sebuah kompleks apartemen super mewah di kawasan selatan Jakarta. Tempat ini adalah rumah baru Arya yang disiapkan oleh Gilang. Sistem keamanannya sangat ketat, membutuhkan tiga kali pemindaian identitas sebelum bisa mengakses lift utama.

Nadin dan Gilang keluar dari mobil. Dua orang pengawal berjas hitam segera mengekor di belakang mereka.

Setibanya di lantai dua puluh, pintu apartemen dibuka oleh seorang wanita paruh baya yang merupakan perawat sekaligus pengurus rumah tangga yang ditugaskan khusus untuk menjaga Arya.

"Selamat siang, Tuan Mahendra, Nyonya Mahendra," sapa wanita itu sambil membungkuk hormat. "Tuan Arya sedang berada di ruang keluarga."

Nadin melangkah masuk lebih dulu. Dia melihat Arya sedang duduk di sofa ruang keluarga yang luas, sibuk merakit sebuah model miniatur kapal layar dari kayu. Anak laki-laki itu mengenakan kaus putih lengan pendek dan celana panjang santai. Wajahnya terlihat sangat segar, pipinya mulai berisi, dan tidak ada lagi jejak pucat pasi seperti saat dia terbaring di rumah sakit berbulan-bulan yang lalu.

"Kak Nadin!" seru Arya dengan wajah berbinar saat melihat kedatangan kakaknya. Anak itu segera meletakkan miniatur kapalnya dan berdiri untuk memeluk Nadin.

Nadin membalas pelukan adiknya dengan sangat erat. Rasa syukur yang tidak terhingga selalu memenuhi hatinya setiap kali melihat Arya berdiri sehat seperti ini. Semua rasa sakit, semua hinaan, dan semua pengorbanannya di masa lalu terasa sangat sepadan.

Arya melepaskan pelukannya, lalu menoleh ke arah Gilang yang berdiri di belakang Nadin dengan sikap tenang dan berwibawa. Arya menundukkan kepalanya sedikit.

"Selamat siang, Kak Gilang. Terima kasih sudah datang," sapa Arya. Anak laki-laki itu sudah terbiasa memanggil Gilang dengan sebutan kakak ipar, meskipun awalnya dia sangat ketakutan melihat aura mematikan yang dipancarkan oleh pria tersebut.

Gilang mengangguk pelan. "Bagaimana kabarmu hari ini, Arya? Apakah dokter jaga sudah memeriksa tekanan darahmu pagi ini?"

"Sudah, Kak. Semuanya normal. Dokter bilang aku sudah bisa mulai berolahraga ringan minggu depan," jawab Arya dengan antusias.

Mereka bertiga kemudian duduk di ruang makan. Pelayan segera menyiapkan hidangan makan siang yang telah dikirim khusus dari hotel. Suasana makan siang itu terasa sangat hangat. Nadin tidak henti-hentinya tersenyum melihat interaksi antara Gilang dan Arya. Gilang memang tidak pernah banyak bicara, pria itu jarang tersenyum, namun cara Gilang mendengarkan cerita Arya tentang sekolahnya dan memberikan tanggapan yang logis menunjukkan bahwa Gilang benar-benar peduli.

Setelah makan siang selesai, Gilang dan Arya berpindah ke ruang tengah. Sebuah papan catur dari kayu eboni dan gading sudah disiapkan di sana. Mereka memulai permainan yang sangat serius. Arya sangat mahir bermain catur, namun menghadapi Gilang yang memiliki otak seorang ahli strategi perang bisnis tentu saja adalah sebuah tantangan yang sangat berat.

Nadin duduk di sofa terpisah, menyesap teh chamomile hangat sambil mengawasi dua pria terpenting dalam hidupnya itu.

"Kau salah memajukan pion di lajur kanan, Arya," ucap Gilang datar sambil memindahkan kuda hitamnya, mengancam menteri putih milik Arya. "Kau terlalu fokus menyerang raja lawanku, sampai kau mengabaikan pertahananmu sendiri. Dalam bisnis dan kehidupan, pertahanan yang memiliki celah sekecil apa pun akan menjadi titik hancurmu."

Arya mengerutkan kening, menatap papan catur itu dengan serius. "Tapi kalau aku tidak menyerang, Kak Gilang akan terus menekan posisiku sampai aku kehabisan ruang gerak."

"Maka kau harus memancingku untuk membuat kesalahan," balas Gilang dengan tatapan tajam. "Biarkan musuhmu berpikir bahwa mereka sedang mengendalikan permainan. Berikan mereka ilusi kemenangan sementara, lalu serang balik saat mereka sedang lengah. Itu adalah kunci untuk membalikkan keadaan."

Nadin tersenyum mendengar wejangan suaminya itu. Gilang secara tidak langsung sedang mengajarkan filosofi bertahan hidup yang sangat keras kepada adiknya.

Tiga jam berlalu dengan sangat cepat. Permainan catur itu dimenangkan oleh Gilang pada babak pertama, namun Arya berhasil memaksakan hasil imbang pada babak kedua yang membuat Gilang menaikkan sebelah alisnya karena terkesan.

Menjelang sore hari, Nadin dan Gilang berpamitan. Arya memeluk kakaknya kembali, lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Gilang. Gilang menjabat tangan anak itu dengan kuat, memberikan tepukan pelan di bahu Arya sebelum mereka melangkah keluar.

Perjalanan kembali ke penthouse terasa sangat damai. Matahari mulai terbenam di ufuk barat, menciptakan semburat warna jingga dan merah yang mewarnai langit Jakarta.

Setibanya di penthouse, Gilang langsung menuju kamar mandi utama untuk membersihkan diri, sementara Nadin duduk di sofa ruang tengah, memeriksa beberapa pesan di ponselnya terkait proyek pulau pribadi mereka.

Setengah jam kemudian, Gilang keluar dari kamar utama. Pria itu sudah mandi dan kini hanya mengenakan celana panjang kain berwarna hitam pekat, tanpa memakai atasan. Handuk putih kecil tersampir di lehernya, mengusap sisa air di rambutnya. Gilang berjalan menuju meja bar, menuangkan dua gelas kecil minuman keras berusia puluhan tahun, lalu berjalan menghampiri Nadin.

Gilang meletakkan satu gelas di atas meja di depan Nadin, lalu dia duduk di sebelah istrinya. Pria itu menyandarkan punggungnya ke sofa, merentangkan lengan kirinya di sandaran sofa tepat di belakang bahu Nadin.

"Adikmu tumbuh menjadi anak yang sangat tangguh," puji Gilang pelan, menyesap minumannya. "Dia memiliki mental petarung. Suatu saat nanti, dia akan menjadi sekutu yang sangat berharga untuk perusahaan kita."

Nadin meletakkan ponselnya, menoleh menatap suaminya. "Aku hanya ingin dia bahagia, Gilang. Aku tidak memaksanya untuk masuk ke dunia bisnis jika dia tidak menginginkannya."

Gilang terdiam sejenak. Pria itu memutar gelas kristal di tangannya, memperhatikan cairan berwarna keemasan di dalamnya. Suasana di ruang tengah itu mendadak menjadi sangat hening dan intens. Ada sesuatu yang berbeda di mata Gilang malam ini. Sebuah tembok tebal yang biasanya menutupi perasaannya seolah perlahan mulai retak.

"Aku juga ingin kau bahagia, Nadin," ucap Gilang. Suara pria itu terdengar sangat parau, seakan kata-kata itu sangat sulit untuk dikeluarkan dari tenggorokannya.

Nadin sedikit terkejut. Dia menggeser duduknya, memutar tubuhnya agar bisa menatap Gilang sepenuhnya. "Aku bahagia, Gilang. Sangat bahagia. Mengapa kamu tiba-tiba berbicara seperti ini?"

Gilang meletakkan gelasnya di atas meja. Pria itu menunduk, menatap kedua tangannya yang saling bertaut. Untuk pertama kalinya sejak Nadin mengenalnya, Gilang Mahendra terlihat ragu-ragu.

"Karena aku tahu bahwa caraku mencintaimu bukanlah cara yang normal," ungkap Gilang akhirnya. Pria itu mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam mata Nadin dengan kejujuran yang telanjang dan sangat menyakitkan. "Aku mengurungmu. Aku memaksamu menandatangani kontrak itu. Aku menggunakan kelemahanmu untuk mengikatmu. Aku memonopoli setiap waktumu dan tidak membiarkan pria lain menatapmu barang sedetik pun."

Nadin terdiam. Dia mendengarkan pengakuan suaminya dengan dada yang berdesir kencang.

"Aku lahir di dunia di mana tidak ada satu orang pun yang benar-benar peduli padaku," lanjut Gilang, membuka masa lalunya yang kelam untuk pertama kalinya. Nada suaranya sangat dingin, namun matanya memancarkan luka yang sudah berakar sangat dalam. "Ayahku adalah seorang tiran yang hanya peduli pada kekuasaan. Ibuku pergi meninggalkanku saat aku masih berumur tujuh tahun karena dia tidak tahan hidup dengan ayahku. Sejak kecil, aku diajarkan bahwa tidak ada yang namanya cinta sejati. Yang ada hanyalah transaksi, kepemilikan, dan pengkhianatan."

Gilang mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Nadin dengan sangat lembut. Jempol pria itu mengusap tulang pipi Nadin dengan gerakan memuja.

"Aku tumbuh dengan melihat segala sesuatu dirampas dariku jika aku tidak memegangnya dengan kuat," bisik Gilang, suaranya kini bergetar samar. "Itulah sebabnya aku menjadi monster. Aku menghancurkan semua lawanku sebelum mereka bisa menyentuhku. Dan ketika aku melihatmu malam itu di rumah sakit, dengan tatapan matamu yang begitu berani dan penuh perlawanan, aku tahu aku harus memilikimu."

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Nadin. Dia meletakkan tangannya di atas tangan Gilang yang berada di pipinya.

"Aku takut, Nadin," pengakuan itu akhirnya keluar dari bibir sang manusia es, sebuah kalimat yang tidak akan pernah diucapkan oleh Gilang Mahendra kepada siapa pun di dunia ini selain istrinya. "Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku memiliki sesuatu yang sangat berharga yang tidak bisa aku beli dengan uang. Kau adalah satu-satunya hal di dunia ini yang membuatku merasa takut. Aku takut jika suatu hari nanti kau menyadari bahwa aku hanyalah seorang monster yang egois, dan kau memutuskan untuk pergi meninggalkanku."

Mendengar kejujuran yang sangat menghancurkan hati itu, pertahanan Nadin benar-benar runtuh. Air mata jatuh membasahi pipinya. Dia menyadari bahwa di balik semua sikap arogan, posesif, dan kekejaman suaminya, terdapat seorang pria yang sangat kesepian, pria yang mati-matian berusaha melindungi satu-satunya cahaya dalam hidupnya dengan cara-cara yang gelap.

Nadin memajukan tubuhnya. Dia mengalungkan kedua lengannya di leher Gilang, memeluk pria itu dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher suaminya.

"Aku tidak akan pernah pergi, Gilang," bisik Nadin di antara isak tangis pelannya. Nadin meremas bahu lebar pria itu. "Aku tahu siapa dirimu. Aku tahu semua kekejaman dan sisi gelapmu. Dan aku mencintai setiap bagian dari dirimu, bahkan monster yang ada di dalam dirimu sekalipun. Kau bukan lagi monster yang sendirian. Kau adalah suamiku."

Gilang memejamkan matanya rapat-rapat saat mendengar kata-kata penebusan itu. Pria itu membalas pelukan Nadin dengan kekuatan yang nyaris meremukkan tulang, seolah dia ingin menyatukan tubuh mereka menjadi satu. Beban berat yang selama bertahun-tahun menghimpit dada Gilang, rasa takut akan kehilangan yang selalu memakannya dari dalam, perlahan menguap lenyap diusir oleh kehangatan pelukan wanita di pelukannya ini.

Gilang menarik wajahnya mundur sedikit, menangkup wajah Nadin dengan kedua tangannya, dan meraup bibir wanita itu dengan ciuman yang sangat dalam dan penuh emosi. Tidak ada dominasi brutal seperti biasanya. Ciuman malam ini adalah sebuah pemujaan yang murni, sebuah penyatuan jiwa dari dua orang yang sama-sama pernah hancur oleh kerasnya dunia, dan kini menemukan keselamatan di dalam diri satu sama lain.

Di dalam penthouse yang menjadi saksi bisu dari seluruh perjalanan mereka, dari sebuah perjanjian utang yang penuh kebencian hingga menjadi ikatan cinta yang tidak terpisahkan, Nadin dan Gilang menyegel kepingan masa depan mereka. Mereka berdua tahu bahwa badai mungkin masih akan datang di masa depan, musuh-musuh baru mungkin akan bermunculan, namun selama mereka berdiri berdampingan, tidak ada satu kekuatan pun di dunia ini yang mampu meruntuhkan kerajaan yang telah mereka bangun bersama.

1
Blu Lovfres
alur yg sangat pendek
novel yg sangat bagus,tpi terasa buntuh dn kurang memuaskan, secara di putus di singkat alurnya,
Blu Lovfres
sekarang tidak ada,kebodohan nandin lgi
Blu Lovfres
nadin o'on 😂😂
Blu Lovfres
ini alurnya lebih seru lgi 💪💪💪💪
Mia Camelia
cerita nya bagus sekali thor, tapi sayang episode nya terlalu pendek, jadi kurang detail ceritaiin tokoh2 nya. kalo bisa bikin lanjutan nya dong thor👍🥰😄
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
aku juga terseret tanpa sadar membaca sampe end dan aku suka alur plotnya.. mudah dfahami tapi kata²nya tersusun cantik. bisa bikin org feel in luv berkali²😍
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
5 ☕️ thor💪💪
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
karya yang hebat.. keren thor
Eka Islamiyatul Khaya
luar biasa karyanya
Eka Islamiyatul Khaya
sumpah Thor karyamu luar biasa, aku merasa terseret dalam setiap alurnya, aku juga ingin memiliki lelaki seperti mahendra😍😍😍🤭
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
tersepit diantara nyawa adiknya, dia sendiri dan ayahnya.. apa benar gilang itu punca kehancuran keluarga nadin? dan sebastian itu tulus menyelamat atau ada udang dbalik bakwan.. takuttt.. jangan salah pilih nadin😭..
Ida Aja
lah mana lanjutannya
juwita
serba salah di posisi nadin. tp klo di nikahi gpp. ini mah hny di jadikan budak nafsu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!