Di Benua Dao Yin, Kekaisaran Yin berdiri di tengah empat kekuatan besar yang menyimpan ambisi pengkhianatan.
Saat perang pecah dan kekaisaran runtuh, Chen Long—pangeran Utara berdarah naga dan keturunan kesatria kuno—kehilangan segalanya.
Diburu manusia, iblis, dan akhirnya langit itu sendiri, Chen Long menapaki jalur kultivasi terlarang Yin–Yang, sebuah kekuatan yang tak diakui surga. Bersama Putri Yin Sunxin, pewaris darah murni Dewi Bulan, ia membangun kembali tatanan dunia dari reruntuhan, menantang iblis, menghancurkan para pengkhianat, dan menghadapi hukuman alam dewa.
Ketika Yin dan Yang bertabrakan dalam satu tubuh, lahirlah seorang anomali—
penguasa baru yang akan menentukan apakah dunia layak diselamatkan,
atau harus dihancurkan demi keseimbangan sejati.
(Update setiap hari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 TEKANAN YANG DIRESMIKAN
Penyelidikan tidak berhenti.
Ia hanya berubah bentuk.
Hari pertama setelah pembatasan gerak, Chen Long masih bisa berlatih di halaman dalam paviliun. Hari kedua, area itu ditutup dengan alasan perbaikan formasi. Hari ketiga, ia diminta menggunakan ruang latihan kecil di dalam bangunan, tanpa senjata tajam.
Tidak ada larangan tertulis.
Tidak ada cap penyelidikan.
Namun setiap perubahan dicatat.
Chen Long menyadari satu hal sejak awal:
tekanan ini dirancang agar terlihat wajar.
Pagi itu, seorang pejabat administrasi datang membawa papan jadwal baru. Ia membungkuk sopan, meninggalkan dokumen, lalu pergi tanpa banyak bicara.
Chen Long membaca isinya perlahan.
Waktu latihan dipotong setengah.
Waktu diskusi dibatasi.
Kunjungan ke distrik luar akhirnya ditunda tanpa tanggal.
“Ini bukan pengamanan,” kata Chen Hao ketika melihat jadwal itu.
“Ini pembiasaan.”
“Mereka ingin aku terbiasa diam,” jawab Chen Long.
Chen Hao tidak menyangkal.
Menjelang siang, panggilan dari Dewan Militer Kekaisaran datang. Kali ini, dua pengawal istana ikut mengantar. Bukan untuk menekan tetapi hanya untuk memastikan arah langkah.
Aula Dewan Militer lebih sederhana dari aula politik. Tidak banyak hiasan. Dindingnya polos. Namun aura disiplin di ruangan itu terasa lebih berat.
Tiga orang sudah menunggu.
Perwira tua yang duduk di tengah membuka pembicaraan tanpa basa-basi.
“Kami menerima kesaksian baru,” katanya.
“Bukan laporan. Kesaksian.”
Ia menggeser sebuah batu rekam.
Di dalamnya terlihat seorang prajurit logistik. Wajahnya tegang. Suaranya bergetar.
“Aku menerima perintah tambahan,” kata prajurit itu.
“Katanya… dari pihak Utara.”
Rekaman berhenti.
“Apakah kau mengenal prajurit ini?” tanya perwira itu.
“Tidak,” jawab Chen Long.
“Dan aku tidak pernah memberi perintah lisan.”
Perwira itu mengangguk.
“Dia juga tidak menyebut namamu,” katanya.
“Hanya menyebut ‘perintah dari Pangeran’.”
Chen Long menatap batu rekam itu lama.
“Di istana ini,” katanya akhirnya,
“ada lebih dari satu pangeran.”
Tidak ada yang langsung menanggapi.
Salah satu pejabat mencatat sesuatu. Yang lain menatap meja.
“Kami tidak menyimpulkan apa pun,” kata perwira tua.
“Namun kami harus bertindak.”
Ia menggeser dokumen kedua.
“Mulai hari ini,” katanya,
“setiap rekomendasi keamanan darimu harus melalui dua dewan."
"Dan setiap komunikasi dengan wilayah Utara akan dicatat.”
Chen Long membaca dokumen itu.
Ia tidak menolak.
Ia tidak membantah.
“Baik,” katanya singkat.
Keputusan itu menyebar lebih cepat dari yang ia duga.
Di sore hari, beberapa wajah di koridor berubah. Senyum menjadi lebih singkat. Sapaan menjadi lebih resmi.
Bukan permusuhan.
Namun jarak mulai terbentuk.
Sore menjelang malam, Yin Sunxin menemuinya di taman dalam. Tidak ada pengawal. Tidak ada pelayan.
“Mereka mulai mengikatmu perlahan,” katanya.
“Mereka ingin melihat sampai sejauh mana aku akan menahan diri,” jawab Chen Long.
“Dan jika kau tidak bergerak?” tanya Sunxin.
“Mereka akan mengira aku aman,” kata Chen Long.
“Lalu mereka akan berani lebih jauh.”
Sunxin memandang kolam di hadapan mereka. Permukaannya tenang, memantulkan cahaya senja.
“Fraksi Tengah tidak suka ketidakpastian,” katanya.
“Jika kau terus diam, mereka akan menciptakan alasan.”
Chen Long mengangguk.
“Itu yang kutunggu.”
Sunxin menoleh.
“Kau sadar risikonya?” tanyanya.
“Ya,” jawab Chen Long.
“Jika mereka melangkah terlalu jauh, aku tidak akan punya banyak ruang untuk mundur.”
Sunxin terdiam sejenak.
“Aku tidak akan menghentikan mereka,” katanya akhirnya.
“Tapi aku akan melihat dengan jelas siapa yang mendorong.”
Malam turun.
Chen Long kembali ke paviliunnya. Di mejanya, jadwal baru tergeletak, penuh tanda persetujuan dan cap kecil.
Ia menatapnya lama.
Langkahnya kini lebih sempit.
Waktunya lebih terukur.
Namun tekanan seperti ini hanya bekerja pada orang yang takut salah langkah.
Dan Chen Long tahu bahwa jika ia terus menahan diri, bukan ia yang akan retak lebih dulu.
Langit ibu kota masih tertutup awan kelabu ketika sidang lanjutan dibuka di Aula Pengawasan Dalam. Aula itu tidak besar, tetapi tekanannya terasa menyesakkan. Pilar batu hitam berdiri seperti penonton bisu, sementara para pejabat duduk berlapis-lapis, sebagian menunggu, sebagian mengamati, dan sebagian berharap segalanya berjalan sesuai rencana mereka.
Chen Long berdiri di tengah aula, punggung tegak, wajah tenang. Namun hanya dia yang tahu betapa tajam setiap tatapan yang mengarah padanya.
Di sisi kanan, para pejabat dari Fraksi Timur duduk rapat. Di sisi kiri, Fraksi Barat tampak lebih longgar, tetapi mata mereka justru lebih aktif, mencatat setiap perubahan kecil.
Pengawas Dewan Dalam adalah seorang pria tua bermata sempit bernama Xu Jingshu dia mengangkat tangannya sedikit.
“Bawa saksi kedua.”
Pintu samping aula terbuka. Seorang pria kurus melangkah masuk dengan langkah ragu. Pakaiannya sederhana, terlalu sederhana untuk seseorang yang katanya menjadi saksi kunci dalam insiden jalur utama.
Chen Long mengenal wajah itu.
Bukan dari pertemuan langsung, melainkan dari laporan. Pria itu adalah Li Qun, pengemudi kereta suplai yang mengaku melihat Chen Long “lalai” saat serangan umpan terjadi.
Li Qun menunduk dalam-dalam, berlutut, dan menyentuhkan dahinya ke lantai.
“Sebutkan apa yang kau lihat,” kata Xu Jingshu datar.
Li Qun membuka mulutnya. Suaranya keluar, tetapi tidak sekuat sebelumnya.
“Saya… saya melihat Jenderal Chen Long berada di garis depan. Saat serangan terjadi, beliau… beliau tidak segera memberi perintah mundur.”
Beberapa pejabat Fraksi Timur mengangguk pelan, seolah itu sudah cukup.
Namun Chen Long memperhatikan sesuatu yang lain.
Tangan Li Qun gemetar.
Xu Jingshu tidak langsung menanggapi. Ia hanya bertanya ringan, “Di jam berapa serangan itu terjadi?”
Li Qun terdiam sesaat. “Sekitar… sekitar tengah hari.”
“Jam berapa tepatnya?”
“Entah… mungkin jam keempat setelah matahari naik.”
Suara itu ragu.
Seorang pejabat Fraksi Barat, Zhao Wen, melangkah maju selangkah. Nada suaranya sopan, bahkan terkesan tidak berbahaya.
“Li Qun, kereta suplai berada di barisan belakang, benar?”
“Benar.”
“Jarakmu dengan posisi Jenderal Chen Long?”
Li Qun menelan ludah. “Sekitar… dua ratus langkah.”
Beberapa kepala mulai saling menoleh.
Zhao Wen tersenyum tipis. “Dua ratus langkah, dalam kondisi kabut dan asap, kau bisa melihat ekspresi dan tindakan seseorang di garis depan?”
Li Qun membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi.
“Sa… saya melihat bendera komando tidak bergerak.”
Itu jawaban yang sudah disiapkan.
Namun Chen Long akhirnya berbicara. Suaranya tenang, tidak keras, tetapi cukup jelas.
“Bendera komando saat itu rusak sebelum serangan utama,” katanya. “Aku memberi perintah lewat sinyal suara dan kurir. Hal itu tercatat dalam laporan pasukan ketiga.”
Aula menjadi lebih sunyi.
Xu Jingshu menoleh ke seorang pencatat Dewan Dalam. “Apakah laporan itu ada?”
Pencatat itu membuka gulungan, memeriksa cepat, lalu mengangguk. “Ada, Pengawas. Laporan tertulis dan cap unit masih lengkap.”
Wajah beberapa pejabat Fraksi Timur menegang.
Zhao Wen tidak menyerang lebih jauh. Ia hanya melanjutkan dengan satu pertanyaan kecil.
“Li Qun, siapa yang pertama kali memintamu bersaksi?”
Li Qun terdiam terlalu lama.
Xu Jingshu menatapnya tajam. “Jawab.”
“Kepala… kepala pengawas jalur suplai,” jawab Li Qun akhirnya.
“Namanya?”
“Sun… Sun Liang.”
"Sun Liang.?!!"
Nama itu membuat beberapa pejabat saling berpandangan cepat. Sun Liang dikenal sebagai orang Fraksi Timur, tetapi bukan tokoh besar—hanya pion.
Xu Jingshu mengetuk tongkatnya ke lantai sekali.
“Cukup.”
Li Qun ditarik mundur. Keringat mengalir di pelipisnya saat ia dibawa keluar aula.
Sidang belum selesai, tetapi suasananya sudah berubah.
Chen Long merasakan tekanan di bahunya sedikit bergeser. Bukan hilang, tetapi arah tekanannya berubah.
Fraksi Timur jelas tidak puas.
Saat saksi ketiga dipanggil, situasinya makin rapuh.
Saksi itu, seorang prajurit penjaga gerbang luar, memberikan kesaksian yang nyaris sama seperti laporan resmi. Tidak ada tuduhan langsung, tidak ada kelalaian mencolok.
Fraksi Timur mulai gelisah.
Mereka terlalu cepat menekan.
Dan kini, detail kecil mulai bocor.
Ketika sidang diskors sementara, para pejabat berkerumun dalam kelompok kecil. Bisikan terdengar di mana-mana.
Chen Long berdiri sendirian, tetapi ia tahu setidaknya untuk hari ini fraksi yang ingin menjatuhkannya telah hampir salah langkah.
Di sudut aula, Yin Sunxin mengamati dari balik tirai tipis. Wajahnya tetap tenang, tetapi matanya menyempit sedikit.
“Masih terlalu dini,” gumamnya pelan.
Ia tahu satu hal pasti.
Jika tekanan ini diteruskan tanpa kehati-hatian, bukan Chen Long yang jatuh lebih dulu—melainkan tangan yang mencoba menariknya turun.
Dan permainan istana baru saja memasuki tahap yang lebih berbahaya.
...BERSAMBUNG...
...****************...