NovelToon NovelToon
Dua Hati Mencintai

Dua Hati Mencintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romantis
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Agustin Hariyani

Cinta tidak pernah salah.
Yang salah… hanya waktunya.
Zara mencintai Kenzy dengan cara yang tenang.
Seperti rumah yang selalu menunggu untuk ditinggali.
Seperti doa yang diucapkan pelan setiap malam.
Ia tidak pernah menuntut masa lalu Kenzy.
Ia hanya ingin menjadi masa depan yang dipilihnya.
Namun takdir tidak pernah sesederhana itu.
Karena sebelum Zara… ada Eve.
Perempuan yang pernah menjadi dunia Kenzy.
Yang mencintainya ketika hidup belum dipenuhi luka.
Yang menggenggam tangannya sebelum badai menghancurkan segalanya.
Eve tidak pergi karena tidak mencintai.
Ia pergi karena mencintai terlalu dalam.
Dan ketika ia kembali,
Ia tidak datang untuk merebut.
Ia hanya datang dengan hati yang belum selesai.
Kenzy berdiri di antara dua perempuan yang sama-sama mencintainya dengan cara yang berbeda.
Satu adalah masa lalu yang penuh pengorbanan.
Satu adalah masa kini yang penuh ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 7

Pagi itu Zara sudah berkeliling seharian.

Map lamaran di tangan.

Kakinya mulai pegal.

Senyum tetap dipasang.

“Maaf, kami sedang tidak membuka lowongan.”

“Maaf, pengalaman minimal dua tahun.”

“Maaf, kami akan hubungi lagi.”

Yang tidak pernah benar-benar menghubungi.

Menjelang siang, Zara duduk sebentar di halte. Ia membuka botol minum dan menghela napas panjang.

“Nggak apa-apa, Zara. Ditolak bukan berarti jelek. Cuma belum jodoh sama HRD-nya.”ia menguatkan dirinya sendiri.

Ia berdiri lagi.

Masuk satu gedung lagi.

Keluar lagi dengan senyum sopan.

Sore harinya, langkahnya otomatis menuju taman.

Kakek Jo sudah duduk di bangku biasa.

Kali ini membawa kacang rebus.

Zara langsung duduk lemas di sampingnya.

“Kakek, aku mau pensiun aja deh.”

“Kamu belum mulai, masa’ pensiun.” Sambil makan kacang rebus

“Makanya itu. Belum mulai udah capek.”

Jonathan menatapnya, lalu menyerahkan kacang rebus.

“Dapat berapa penolakan hari ini?”

Zara menghitung pakai jari.

“Satu… dua… lima… tujuh. Banyak.”

“Bagus.”

Zara melotot. “Bagus apanya?”

“Artinya kamu berusaha.”

Zara mengunyah kacang dengan dramatis.

“Kalau mencoba tapi gagal terus itu namanya apa?”

“Proses.”

“Kalau prosesnya lama?”

“Belum waktunya.”

Zara menoleh tajam. “Kakek ini motivator LinkedIn ya?”

Jonathan hampir tertawa.

“Kamu tidak terlihat sedih.”

Zara mengangkat bahu. “Sedih mah ada kek…Tapi kalau saya nangis di depan HRD kan nggak mungkin juga diterima, yang ada malah di usir.”

“Jadi kamu tertawa untuk menutupi?”

Zara berhenti mengunyah.

Ia menatap langit yang mulai oranye.

“Kadang ya, Kek… tertawa itu cuma plester. Lukanya tetap ada.”

Jonathan terdiam.

Kalimat itu ringan, tapi dalam.

Zara tiba-tiba menyenggol lengannya.

“Eh tapi jangan mellow gitu dong kek, nanti saya ikutan nangis, kan malu”

“Kamu sering malu.”

“Karena sering salah.”

Jonathan tersenyum tipis.

“Ada kejadian memalukan lagi?”

Zara langsung menutup wajahnya, teringat saat ia salah kirim bunga pada kenzy.

“Jangan bahas.”

“Ceritakan.”

“Jadi gini kek…aku salah kirim bunga ke kantor orang super serius. Aku ngeyel pula. Ternyata salah penerima. Mau buang muka ke mana coba?”

“Lalu?”

“Dia kesel tapi kayak nahan ketawa gitu. Sombong banget. Tapi… ya ganteng sih.”

Jonathan menahan reaksi.

“Namanya siapa?”

“Ken.”

Jonathan berhenti mengupas kacang.

“Ken siapa?”

“Nggak tahu, aku lupa… Yang jelas mukanya kayak kalau marah bisa bikin karyawan resign massal.” Zara tertawa

Jonathan hampir tersedak.

“Lalu kamu mau melamar ke mana lagi?”

Zara menghela napas.

“Nggak tahu kek… Yang penting gajinya lumayan. Biar bisa bantu cicil utang toko.”

Jonathan mengangguk pelan.

Di dalam hatinya, ada sesuatu yang mengencang.

Gadis ini lelah. Ia tahu.

Langkahnya tadi sedikit lebih berat.

Matanya sedikit lebih redup.

Tapi tetap saja bisa bercanda.

“Manusia memang aneh.

Kadang tertawa hanya untuk menyamarkan sayatan luka di dalam jiwa.

Waseeekkk”, batin Jonathan pelan, mengikuti gaya bicara Zara.

Ia merogoh tas kecil di sampingnya.

Mengeluarkan koran yang sudah dilipat.

“Saya tadi pagi tidak sengaja melihat lowongan ini,” katanya santai.

Zara langsung merapat.

“Apa tuh?”

Jonathan membuka halaman yang sudah diberi tanda.

Sebuah iklan kecil.

Dibutuhkan: Assistant Pribadi.

Kualifikasi: cekatan, komunikatif, mampu bekerja di bawah tekanan.

Kirim lamaran via Email.

Alamat perusahaan tertera jelas.

Zara membaca keras-keras.

“Assistant pribadi… wah. Pasti gajinya lumayan ini kek.”

“Tapi aku hanya lulusan D3 dan nggak punya pengalaman Assistant Pribadi kek, hanya punya pengalaman merangkai bunga.”

Jonathan mengangguk. “Coba saja.”

Zara menyipitkan mata.

“Kakek baca koran lowongan kerja sejak kapan?”

“Saya suka membaca.”

“Hmm… jangan-jangan Kakek agen rahasia ya?”

Jonathan tersenyum samar. “Rahasia.”

“Oke…Nanti aku akan kirim lamaran lewat email!”

“Do’akan ya kek…semoga rezeki ku dan bisa diterima kerja.”

Lalu ia melihat Alamat itu lagi

Dan terdiam sejenak.

“Eh ini kayak… familiar.”

Jonathan pura-pura tidak tahu.

“Familiar bagaimana?”

“Kayak pernah ke gedung ini. Tapi lupa.”

Jonathan mengangguk pelan. “Sudah Coba saja.”

Zara menatapnya penuh semangat lagi.

“Kalau aku diterima, nanti gaji pertama, aku traktir Kakek mie ayam di depan taman.”

“Saya maunya Bakso.”

“Boleh. Tapi jangan lupa bawa dompet ya.”

“Kan kamu yang mau traktir, kamu yang jangan lupa bawa dompet.”

Mereka tertawa berdua, seperti tanpa beban

Sudah lama sekali ia tidak merasa sesederhana ini.

Melihat seorang gadis muda bangkit lagi hanya karena sepotong harapan kecil.

“Zara.”

“Iya?”

“Kamu akan baik-baik saja.”

Zara tersenyum.

“Kita lihat aja nanti. Kalau hasilnya nggak baik, ya kita ketawain lagi.”

Angin sore meniup rambutnya pelan.

Ia tidak tahu bahwa alamat di tangannya bukan kebetulan.

Dan Jonathan tahu betul,

dunia cucunya dan gadis ini akan bertabrakan.

Kali ini bukan karena bunga salah kirim.

Tapi karena takdir yang… sengaja ia arahkan sedikit.

1
Azahra Wicaksono
🤣🤣😄
Retno Isusiloningtyas
jodoh Ken ore nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!