Kalian percaya Transmigrasi? Percaya Jiwa manusia bisa tertukar?
Jessie Cassandra, gadis cantik yang terkenal Queen Bullying di sekolah, tak ada yang berani padanya termasuk guru, dia benci orang miskin. Secara mendadak membuat jiwanya tertukar dengan gadis yang sering ia bully.
Raya Azzahra, Korban Bully. Gadis culun dan miskin yang beruntung mendapatkan beasiswa di sekolah ternama.
=-=-=
"Kembalikan tubuh gue, cupu!" Hardik Jessie.
"B-bagaimana caranya? Aku gak tau apa yang terjadi." Raya masih heran.
"Lo pasti main dukun. Lo mau rebut kehidupan gue yang sempurna ini." Tuduh Jessie.
=-=-=
Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana jiwa mereka bisa tertukar? Bagaimana mereka menjalani hari di tubuh yang berbeda? Lantas apakah jiwa mereka bisa kembali ke tubuh asli?
=-=-=
Penasaran? Ikuti kisahnya. Jangan lupa beri dukungan LIKE, COMMENT, VOTE dan FAVORIT.
LOVE YOU~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amha Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang sial
*
Sinar matahari pagi begitu menghangatkan, namun tidak terasa bagi Raya dan Pipit. Beberapa menit mereka mendorong motor bersama, peluh menetes di dahi mereka. Kesal bercampur lelah menyambut pagi yang menurut orang lain indah.
"Fiuh!" Entah sudah berapa kali Raya menghembuskan nafas kasar. Tak jarang pula dia mengucapkan berbagai kata mutiara khusus untuk motor bebek milik Pipit.
"Emang dasar motor rongsokan. Harusnya ni motor bukan di tumpangi, tapi di buang ke tempat sampah. Gak guna banget. Emang gak ada kendaraan lain yang lebih berguna apa?! Mobil gitu." Gerutunya tiada henti, terpaksa membantu Pipit mendorong motor meski tidak ikhlas.
"Yaudah sih Ray, lo gak bosen apa dari tadi nistain motor gue mulu. Lagian ini tuh motor satu satunya gue. Lo kan tau bokap gue cuma pegawai kantor biasa, meski dia punya mobil tapi buat dia kerja. Mobilnya juga masih nyicil." Balas Pipit memasang wajah pasrahnya.
Raya mendengus. Tidak ada yang bisa dilakukan selain terus mendorong motor itu menuju bengkel yang entah masih berapa jauh lagi. Sejak tadi Raya sudah meminta Pipit agar menghubungi orang bengkel agar lebih cepat, tapi tidak ada nomornya. Jika saja sekarang berada di tubuh aslinya, Raya pasti sudah menghubungi pengawal papahnya yang biasa ia suruh jika butuh sesuatu.
Pipit menoleh pada Raya, menatap intens dari atas sampai bawah dan menyadari sesuatu. Tadi saat di rumah Raya, Pipit terlalu fokus pada makanan "Gue baru nyadar, penampilan lo berubah jadi cantik."
"Gue emang cantik." Balas Raya sembari mengibaskan rambut panjangnya ke belakang.
"Nyesel gue puji lo." Pipit mendengus kesal "Tapi bener deh, kenapa lo bisa mendadak berubah gini? Lo lagi punya gebetan ya?" Lanjutnya tersenyum menggoda.
"Gebetan apa? Gue udah punya pacar." Cetus Raya tanpa sadar.
"Eh pacar? Lo punya pacar? Bukannya lo jones? Jomblo ngenes?" Pipit menghentikan dorongan motornya, menatap Raya penuh selidik. Ia sangat mengenal sahabatnya itu yang selalu sibuk dengan buku, tidak punya teman cowok. Yaa mungkin kecuali si Nathan karena dia sepupunya. Nathan juga beberapa kali mengajak temannya jika di dekat Raya. Tapi Pipit tahu, teman Nathan tidak sedekat itu dengan Raya. Jadi... Siapa cowok yang lagi di incer Raya? Atau jadi pacarnya? Kepala Pipit mendadak ingin meledak.
Raya sendiri merutuki kebodohannya karena keceplosan bilang punya pacar. Padahal yng punya pacar itu Jiwa Jessie, bukan Raya.
"Pacaran sama buku, puas lo?" Ketus Raya menghilangkan kecurigaan Pipit.
Pipit langsung tertawa. Bisa bisanya dia hampir tertipu sahabatnya. Mana mengira beneran punya pacar lagi, rasanya tidak mungkin karena Raya yang terkenal super introvert.
Tin Tiin
Suara klakson motor begitu nyaring berhasil memekakkan telinga mereka berdua. Raya melotot tajam pada pengendara yang kini berhenti di sampingnya.
"Nathan. Gue kira siapa." Pipit berseru kesal.
Nathan hanya menyengir di balik helm full facenya "Masih pagi udah semangat banget nih olahraganya."
"Siapa juga yang olahraga, kita terpaksa." Cetus Pipit, sedangkan Raya hanya mendengus menahan kesal.
Nathan tentunya tahu apa yang terjadi, ia hanya suka menggodanya "Ngambek lagi tuh motor? Makanya, kalo punya motor tuh di rawat kayak anak sendiri. Jangan cuma mikirin seblak mulu."
"Penting perut gue kenyang." Pipit tak mau di salahkan.
Nathan memutar bola matanya malas, kini keningnya mengernyit saat menatap Raya. Ia merasa kenal sama wajah itu, tapi siapa tidak tahu. Kembali lagi menatap Pipit "Lo mungut siapa njir? Kok cantik?"
Mendengar kata 'Mungut' sontak saja mata Raya mendelik tajam bagai elang yang siap menerkam mangsa.
Pipit menyadari hawa tak enak dari Raya, segera berdehem pelan pada Nathan "Parah lo, sepupu sendiri gak kenal."
"Hah?" Pekik Nathan dengan nada tak percaya. Menelisik wajah Raya lebih intens, tak berkedip, memastikan dugaannya salah.
"Apa lo liat liat? Mau gue tonjok Ha?!" Sentak Raya mengangkat kepalan tangan di depan wajah Nathan.
Nathan terperangah, hampir saja terjungkal dari motor "Galak amat Ray. Masih pagi udah jadi sumala aja lo."
"Yak! Lo bilang apa?" Raya bersiap melayangkan bogeman pada Nathan.
Nathan langsung panik, sepupunya sudah di luar kendali. Biasanya hanya sekedar marah siapa saat ia goda, tapi kini langsung menjelma jadi singa betina. Mengerikan.
"Ahh semangat lanjut olahraganya. bye..." Seru Nathan bergegas melajukan motor pergi meninggalkan mereka berdua.
Pipit melongo, sedangkan Raya yang meneriaki dengan berbagai kata mutiara andalannya. "Haishh shib*l. Apa dia beneran sepupu gue?"
"Sayangnya iya. Dia emang suka ngajak gelut." Pipit terkekeh sejenak lalu menatapnya "Lo semenjak siuman jadi sering marah ya. Apa efek rasa sakitnya gitu? Mudah marah dan sering tantrum gak jelas."
Raya memilih tidak menanggapi. Kenyatannya semenjak siuman bukanlah yang menempati raga ini bukan Raya yang asli melainkan Jessie. Sosok yang dingin, suka membully, mudah marah dan sering tantrum berteriak jika terlalu kesal namun tidak bisa dilampiaskan dengan membully.
Tidak ada pilihan lagi, mereka kembali melanjutkan mendorong motor menuju bengkel terdekat. Kedatangan Nathan barusan sama sekali tidak membantu karena hanya memancing emosi. Tak lama, mereka menemukan bengkel motor.
Raya langsung duduk di bangku panjang, meluruskan kaki, mengatur nafas, lalu mengusap keringat di kening yang bercucuran. Sedangkan Pipit berbicara dengan tukang bengkel tentang kondisi motornya yang sekarat.
"Pasti jarang di servis. Ini turun mesin neng." Ujar tukang bengkel, raut wajah nampak prihatin setelah memeriksa motornya.
"Kalo turun ya naikin lagi aja om." Balas Pipit dengan polosnya.
"Eh?" Wajah tukang bengkel itu sulit di artikan. Entah bagaimana dia bisa menjelaskan tentang kondisi motor pada cewek yang taunya hanya seblak.
"Udah belum? Lama banget." Raya sudah berseru, sesekali melirik Pipit sambil memijat ringan kakinya. Ia melirik jam yang tertera di handphone "Kita bisa telat."
Pipit selesai bicara pada tukang bengkel, memutuskan agar motornya di tinggal disana. Dia segera menghampiri Raya "Motornya rusak parah, jadi terpaksa menginap disini."
"What?!" Raya berdiri berkacak pinggang "Terus kita berangkatnya gimana? Ini masih jauh, lo mau kita telat? Terus di hukum guru BK ha?"
Pipit menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia pun tidak menyangka akan ada drama di pagi hari "Kita nunggu angkot aja."
"Ogah." Ketus Raya, kemudian ia mengotak atik handphone miliknya.
"Kalo gak mau naik angkot, terus kita ke sekolah pake apa Ray? Ngesot gitu?"
"Lo aja sana, gue enggak." Raya mendengus.
Pipit menghela nafas dalam, menghadapi Raya sekarang jauh lebih susah daripada dulu Padahal biasanya ia yang selalu menang debat sama Raya, sekarang justru kebalikannya.
"Yaudah, kita lanjut jalan kaki. Mudah mudahan aja ada teman sekolah yang ngasih tumpangan, atau angkot aja deh." Pipit mengajaknya lagi, tapi Raya menolak "Ray--..."
Ucapan Pipit menggantung saat melihat sebuah mobil putih berhenti di hadapan mereka, supir itu membuka kaca jendela mobil "Apa anda yang memesan?"
Raya berdehem sambil mengangguk. Melirik Pipit "Kita naik taxi."
"Taxi?" Pipit menatapnya terkejut, ia berkata pelan "Jangan Ray, mahal. Mending naik angkot aja. Kalo angkot kan paling cuma lima ribu, tapi taxi... Bisa sampe ratusan ribu."
Raya memutar bola matanya jengah "Gue yang bayar."
"Tapi--..."
"Kalo lo gak mau yaudah, gue gak mau naik angkot apalagi jalan kaki." Ketus Raya, melangkah mendekat lalu membuka pintu mobil. "Beneran gak mau?"
Pipit masih diam, ragu. Menatap Raya berharap ada pilihan tapi tidak ada.
"Gak mau?" Raya kembali bertanya, akhirnya Pipit mengalah. Dia masuk ke mobil lebih dulu baru di susul Raya "Jalan pak." Titahnya setelah menutup pintu.
Taxi itu melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota. "Lebih cepat pak, kita hampir terlambat."
"Baik." Supir itu menambah kecepatan, menyelip beberapa pengendara yang ada di depannya.
Raya menyibukkan diri dengan handphone, sedangkan Pipit menatap keluar jendela menikmati pemandangan kota.
Sementara di sisi lain, Jessie a.k.a Raya yang asli baru saja sampai di sekolah dengan diantar supir pribadi.
Jessie keluar dari mobil memancarkan aura yang mempesona. Supir pun pergi dan akan menjemput nanti pas pulang. Jessie menatap sekeliling, ia merasakan hawa yang berbeda. Banyak siswa yang menatapnya ngeri, namun tak bisa di pungkiri jika semua siswa terpesona sama kecantikannya.
Jika yang menempati raga itu Jessie yang asli, dia pasti bersikap acuh. Namun kini jiwa Raya yang menempati, dia sangat risih di tatap seperti itu. Tidak terbiasa.
"Morning bestie." Sapa seseorang langsung merangkulnya dari belakang.
Jessie menoleh mendapati tiga siswi yang tak lain sahabat dari pemilik raga asli, mereka juga siswi yang beberapa kali membulinya. Sontak saja Jessie terperangah, spontan menghindar dari rangkulannya.
Dira mengernyit bingung, begitupun Kiara dan Selly "Lo napa dah? Kayak liat hantu."
"Kalian hantunya." Ucap Jessie spontan.
"What?!" Pekik mereka bertiga.
...----------------...