Nayra Agata Kennedy, ia merupakan putri bungsu dari Lukas Kennedy, Nayra memliki saudari kembar bernama Nayla (Nayla lahir 45 menit lebih dulu), lahir dengan membawa duka. Ibunya meninggal dunia karena pendarahan hebat setelah berjuang melahirkannya, membuat Nayra dibenci ayah dan ketiga kakak laki-lakinya selama 21 tahun. Hanya Nayla yang selalu peduli padanya.
Takdir berubah saat Nayra bertemu seorang miliarder tampan. Dipersunting olehnya, hidup Nayra berubah drastis, dari yang dulu diabaikan, kini ia dimanjakan layaknya putri raja oleh suaminya yang penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa idayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Gadis Murahan!
"Kenapa?" tanya Sean, matanya menyipit memperhatikan Nayra yang terpaku di ambang pintu, Nayra tampak ragu untuk melangkah masuk.
"Masuk saja. Keluargaku bukan penjahat," ucap Sean, berusaha menenangkan meski nada bicaranya terdengar agak kasar,
"Keluarga Anda?" Nayra bertanya pelan, matanya menyapu lampion-lampion yang bergantung anggun dan teras rumah yang megah. Rumah mewah keluarga Samir ini dipenuhi pernak-pernik khas Tiongkok yang begitu kental, membuatnya tertegun dan bertanya-tanya.
"Mama ku orang Cina, beliau Cina mualaf. Di rumah ini, hanya Kakak, kakak ipar, dan kedua keponakanku yang memeluk agama Buddha," jelas Sean seolah mampu membaca pikiran Nayra yang sedang bertanya-tanya soal perbedaan agama.
"Kau menunggu keluarga ku keluar menggelar karpet merah untuk menyambut kedatanganmu?" tanya Sean terkesan sinis sembari menoleh ke arah Nayra. Karena Ia sudah melangkah lebih dulu namun Nayra masih berdiri mematung, di tempat dan tidak mengikuti nya
"Ahh, maaf!" Nayra tersentak, buru-buru mempercepat langkahnya menyusul Sean masuk ke dalam rumah yang megah itu.
"Sean? Kau sudah datang? Mana calon menantu Mama?" seru Melati dengan antusiasme yang meluap saat melihat putranya kembali. Sayangnya, Sean berjalan di depan sendirian, sementara Nayra masih tertinggal beberapa langkah di belakangnya.
"Nayra?!"
Sebuah seruan kaget terdengar. Seorang pria berusia sekitar dua puluh tiga tahun berdiri mendadak dari duduknya, matanya terbelalak tak percaya saat melihat sosok yang perlahan muncul di belakang Sean. Wintoro, ayah Sean, menyipitkan mata, melirik tajam ke arah pemuda itu dengan ekspresi yang jelas tidak suka.
"Kak Ken?" gumam Nayra, keningnya berkerut dalam kebingungan menatap pria yang memanggil namanya itu.
"Kau sudah kenal keponakanku?" tanya Sean, menatap Nayra yang kini sudah berdiri sejajar di sampingnya.
"Dia senior ku di kampus," jawab Nayra pelan, membuat Sean mengangguk paham.
"Sini sayang, ayok duduk sama Mama," ucap Melati ramah, langsung menggandeng tangan Nayra dengan hangat.
"Salam kenal, Tante," ucap Nayra sopan. Ia buru-buru menyalami tangan Melati, bahkan mencium punggung tangan wanita itu dengan penuh hormat. Gestur sederhana itu seketika membuat hati Melati terasa hangat dan tersentuh.
"Ini Papa Sean," ucap Melati, melepaskan genggaman tangannya. Nayra pun menyalami Wintoro dengan sopan santun yang sama.
"Ini Kak Nata, kakak perempuan Sean," lanjut Melati, menunjuk pada seorang wanita yang tak lagi muda namun masih memancarkan pesona cantik dan gaya yang modis.
"Ini Bang Rocky, suaminya Kak Nata. Lalu ini Ken dan Amel, anak mereka," jelas Melati sambil memperkenalkan satu per satu anggota keluarga yang ada. Nayra menyambut mereka dengan senyum yang terus mengembang di pipinya, menyalami setiap orang dengan sopan.
"Sini duduk, nak," ucap Wintoro dengan nada yang jauh lebih ramah kali ini. Sementara itu, Sean sudah lebih dulu duduk di sofa, Sean sibuk memainkan ponselnya seolah kejadian di sekitarnya tak terlalu penting baginya.
"Ken? Mau kemana?" tanya Nata kaget saat melihat putranya tiba-tiba berdiri dan berjalan pergi dengan wajah masam penuh kekesalan.
"Keluar," jawab Ken singkat, dingin, tanpa menoleh sedikit pun.
"Ken!" seru Sean mencoba menghentikan, namun panggilannya sama sekali tak di hiraukan. Pemuda itu terus melangkah menjauh.
"Biarkan saja! Dia sudah dewasa, bukan anak-anak lagi! Sudah kuliah S2 tapi kelakuannya masih kayak anak kecil!" celetuk Wintoro dengan nada sinis yang tajam.
"Pah!" tegur Melati lembut, namun matanya menatap sang suami dengan peringatan yang jelas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam itu, langit tampak mendung seakan merasakan ketegangan yang akan segera terjadi. Nick meminta izin pada kakaknya, Nagara. Ia berencana ingin mengajak Arimbi, gadis yang sudah enam tahun ini mengisi hatinya untuk menonton di bioskop megah di pusat perbelanjaan jantung kota.
Nagara mengizinkan dengan tulus. Malam ini, ia memilih menetap di rumah bersama Nayla. Biasanya, Nayla dan Nayra memang lebih suka menghabiskan akhir pekan dengan ketenangan di rumah daripada berkelana tanpa arah. Namun, malam ini Nayra sedang pergi bersama calon suaminya, setelah mendapatkan restu Nagara sore tadi. Sean, yang berencana memperkenalkan Nayla pada keluarganya, tampaknya belum juga pulang.
sedangkan Nathan, ia memang kerap menghabiskan malam Minggu di salah satu restoran nya, karena restoran miliknya selalu dipadati pengunjung saat weekend. Sebagai pria sukses di usia muda, Nathan tidak pernah bersantai di rumah dan menyerahkan segalanya pada bawahan. Ia selalu turun langsung ke lapangan, memastikan setiap tamu merasa dilayani dengan sempurna, ia selalu mengutamkan kenyamanan pengunjung restoran yang ia bangun dengan keringat dan air mata.
"Jadi, mall ini juga milik keluargamu, sayang?" tanya gadis cantik yang berjalan di samping Nick. Gaya berpakaiannya sederhana namun memancarkan aura elegan yang tak terbantahkan. Gaun mini berwarna biru membingkai tubuhnya, dihiasi riasan wajah yang tipis namun memukau. Di tangannya tergenggam tas kecil berwarna biru muda dari merek ternama, harganya mencapai ratusan juta. dan sepasang sepatu putih bermerek yang melengkapi penampilannya. Dari cara ia berpakaian saja, sudah jelas terlihat bahwa ia bukan gadis sembarangan. ia adalah putri dari orang-orang yang memiliki kekuatan dan pengaruh besar di kota ini.
"Hanya bangunannya saja, sayang. Papa mewariskannya untuk Nayla," jawab Nick dengan nada datar.
"Wow, berarti Nayla sudah kaya raya di usia muda, dong. Lihatlah berapa ratus pedagang di sini, dan mereka semua membayar sewa untuknya. Tidak boleh tidak, aku harus jadi kakak ipar favoritnya supaya selalu ditraktir baju dan tas bermerek!" seru Arimbi, matanya berbinar kagum memandang sekeliling. Keceriaannya yang menular membuat bibir Nick otomatis terangkat membentuk senyum.
"Itu sudah rezekinya," jawab Nick lagi, lembut.
"Restoran Nathan ada di seberang sana, lho. Mau mampir dulu sebelum pulang?" tanya Nick, jemarinya menggenggam erat tangan kekasihnya.
"Emangnya nggak apa-apa?" Arimbi tampak ragu, matanya menyiratkan ketidakpastian.
"Tentu saja tidak apa-apa. Sekarang waktunya kau kenal saudara-saudaraku. Bukankah selama ini kau selalu meminta kepastian? Aku akan mengenalkanmu pada mereka dulu, baru setelah itu kita bicarakan tanggal pernikahan," ucap Nick disela tawa kecilnya. Mendengar itu, senyum lebar langsung mekar di wajah Arimbi.
"Kamu manis banget sih! Ayo langsung ke penghulu saja, sayang!" canda Arimbi sambil bergelayut manja di lengan Nick. Nick hanya tersenyum, pasal nya ia sudah terbiasa dengan celotehan kekasihnya yang kadang terdengar sangat lucu bagi nya.
Tiba-tiba...
"Kak!"
Sebuah pekikan memecah keheningan malam. Nick dan Arimbi menoleh. Di kejauhan, sekitar lima puluh meter dari mereka, Nathan berdiri mematung. Tatapannya tajam, menusuk, seolah membawa kilatan petir. Langkah kakinya berat namun penuh amarah, mendekat dengan aura yang mencekam. Nick dan Arimbi pun melangkah mendekat, perlahan, merasakan ketegangan yang mulai mengudara.
Begitu jarak mereka hanya beberapa jengkal...
"Hey gadis murahan!"
Teriakan Nathan meledak. Tangan kekarnya mendorong keras tubuh Arimbi.
"Hey!" seru Arimbi, tubuhnya limbung tak berdaya, hampir terjatuh jika Nick tidak sigap menahannya.
"Athan!" Nick mendorong tubuh adiknya dengan kasar, matanya menyala marah.
"Kakak... kau mendorongku demi dia? Demi gadis murahan ini?" seru Nathan, matanya memerah menahan emosi yang meluap-luap. Nafasnya memburu, naik turun, seolah ada api yang membakar dadanya. Nick dan Arimbi saling bertukar pandang, bingung menghadapi ledakan emosi yang tak terduga ini.
"Hey anomali jadi-jadian! Apa maksudmu? Gadis murahan seperti aku? apa yang kau maksud?" Arimbi menatap Nathan sinis, harga dirinya terangkat.
"Aku calon kakak iparmu, tahu! Sini sungkem dulu! Emang kau enggak bisa lihat aura cewek mahal ku, ya?" cibir Arimbi sambil merapikan rambutnya yang sebenarnya tak sedikit pun berantakan, gerakan nya sengaja ia lakukan untuk menantang Nathan.
"Apa maksudmu, Athan? Siapa yang kau sebut gadis murahan?" tanya Nick, sorot matanya tak kalah tajam dari adiknya.
"Dia pacarku, Kak! Dan dengan beraninya dia jalan sama Kakak tepat di depan mataku!" seru Nathan, suaranya pecah. Pernyataan itu membuat Nick dan Arimbi kembali saling tatap dalam kebingungan yang mendalam.
"Sayang, sumpah aku nggak kenal dia! Sayang..." rengek Arimbi, menarik lengan Nick yang kini tampak bingung mencoba mencerna semua kata-kata yang terlontar.
"Sayang, aku berani bersumpah aku nggak kenal dia. Kalau aku bohong, aku rela dia mati!" seru Arimbi, menunjuk Nathan dengan sembarangan.
"Kau yang bohong, aku yang harus mati?" Nathan melotot, tangannya terangkat hendak mendaratkan pukulan pada wajah Arimbi.
"Sayang! Dia adikku!" seru Nick, cepat menahan lengan Nathan yang sudah tampak seperti orang kesetanan karena amarah.
"Siapapun dia, aku nggak peduli, sayang. Aku nggak kenal dia aja enggak. Mana mungkin aku pacaran sama Dia!" desis Arimbi, menatap Nathan dengan tatapan meremehkan.
"Kau kira aku tidak bisa mengenalimu, Arumi? Hanya karena sekarang kau memakai barang-barang bermerek pemberian Kakakku, kau jadi lupa padaku?" tanya Nathan disela tawa sinisnya yang menyakitkan. Tatapannya penuh penghinaan.
"Athan, sepertinya ini ada kesalahpahaman. Kakak dan Arimbi sudah enam tahun bersama. Mana mungkin dia selingkuh," ucap Nick berusaha menenangkan situasi. Namun, kata-kata itu justru menjadi garpu tala yang memetik nada sakit di hati Nathan. Di sekitar mereka, orang-orang mulai berhenti, menonton. Pengakuan Nick membuat Nathan merasa hancur berkeping-keping. Bagaimana mungkin gadis yang beberapa bulan ini ia cintai, gadis yang ia pacari, adalah kekasih kakaknya sendiri? Bahkan mereka sudah menjalin hubungan selama enam tahun?
"Gila ya lo? Jangan-jangan lo pengagum rahasia gue ya? Sedih deh, cintanya nggak kesampaian," cibir Arimbi, justru mengejek di tengah situasi yang semakin panas.
"Kak, jangan bodoh, Kak! Dia ini gadis licik! Dia sengaja mempermainkan kita berdua!" seru Nathan, kembali mengangkat tangannya, namun lagi-lagi Nick menghalanginya.
"Tolong ya, jangan dipelintir!" seru Arimbi dengan ekspresi jijik yang dibuat-buat namun terlihat konyol.
"Dasar rendahan! Kau bilang kau akan setia... aku mencintaimu dengan tulus, sayang! Tapi ini balasanmu? Ku kira aku jahat karena sudah memaksamu melakukan hubungan badan... aku kira aku tidak tahu diri karena sudah merenggut kesucianmu... Hanya karena aku takut kau tinggalkan, aku akui, sayang... aku memang salah. Tidak seharusnya aku meminta bukti kesetiaanmu dengan cara itu. Tapi... tapi kenapa kau menduakan aku? Kenapa kau menyakitiku seperti ini? Apa yang tidak kuberikan untukmu? Kemewahan? Waktu? Diriku sendiri? Semua yang aku punya sudah kuberikan padamu. Tapi kenapa?"
Nathan berteriak, suaranya parau menahan isak tangis yang hampir meledak. Air mata akhirnya jatuh juga, membasahi pipinya yang memerah karena emosi. Nick hanya diam, terpaku melihat sisi rapuh adiknya yang jarang terlihat. Sementara itu, Arimbi tampak santai, menggelengkan kepala ke arah Nick seolah menyangkal semua tuduhan itu. Sesekali ia mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V, isyarat bahwa ia bersumpah tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan Nathan.
"Yang waras ya! Aku masih perawan ting-ting!" seru Arimbi, dan PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Nathan. Arimbi kesal karena mereka kini menjadi tontonan umum.
"Kalian selesaikan saja urusan kalian!" seru Nick, suaranya dingin dan penuh kekecewaan. Ia berbalik, memilih menjauh, meninggalkan dua orang yang kini saling berhadapan.
"Sayang! Ini fitnah! Sumpah sayang! Aku nggak pernah melakukan apa yang adikmu tuduhkan!" seru Arimbi, bergegas menyusul langkah Nick yang tampak benar-benar hancur oleh keraguan.