Kwee Lan, seorang Sinseh Wanita yang kehilangan chi akibat sakit keras menemukan seorang pemuda pingsan di bukit Peng San.
Karena Sumpah Sinseh, ia wajib menolong pemuda itu. Walaupun resikonya dicap bo-li-mo(amoral), ia takkan mundur. Tapi, warga sudah nyaris membakarnya atas tuduhan berzinah.
-----------
Sebagian besar nama dan istilah menggunakan Dialek Hokkien, sebagian Mandarin. Untuk membangkitkan kembali era Silat Kho Ping Hoo dalam sentuhan Abad 21.
AI digunakan untuk asistensi bahasa dan budaya akibat penulis mengalami penghapusan budaya besar-besaran dan kehilangan cukup banyak warisan budaya walaupun dalam hati dan keseharian masih menerangkan nilai-nilainya.
---The Bwee Lan (Anggrek Indah dari Marga The), penulis--
nb. Bwee bisa bermakna indah, cantik (wanita), atau tampan (pria).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teknik Teratai Emas dan Lulur Penebus Dosa
Tan Eng tersenyum sinis di balik selimutnya. Pucuk dicinta ulam tiba, besok itu harinya sempurna buat bikin keributan: Iparnya libur, Kokonya libur, dan yang paling penting, Papanya juga libur. Kondisi perfect buat debat kusir dan menjatuhkan martabat si Sinseh mistis.
Begitu fajar menyingsing, Tan Eng bukannya masak air, malah membunyikan kentongan di depan aula.
TENG! TENG! TENG! Tanda dia mau cari perkara.
"Haiyah! Ada perkara apa lagi pagi-pagi begini? An-cua ooo?! " seru Go Bun Kiat keluar dengan sarung disampirkan di bahu, mukanya masih bengkak bangun tidur.
---
Di kamar pengantin, Go Beng Liong yang semalam habis "tempur" langsung kaget. Niat hati mau bangun pagi, buat lanjut sesi bonus raba-raba istri. Tapi, pas tangannya ngeraba ke samping...
"LOH? BOH-LANG?! " (Loh, nggak ada orangnya?!)
Seketika si Jenderal Naga melek total. Dia panik, takut istrinya kabur atau diculik musuh. Dia langsung lari ke ruang utama dengan baju yang kancingnya masih miring-miring.
---
Di ruang utama, keluarga sudah kumpul dengerin fitnah Tan Eng yang mengalir deras kayak banjir bandang. Tan Eng menuduh Kwee Lan sengaja menghambat pernikahannya karena cemburu soal Ah Niu.
Orasinya panas: dari tuduhan Cici sok kuasa, mau bikin dia gak laku, pingin nguasai dua laki-laki…
Lalu dia berhenti. Saat mau menunjuk Kwee Lan, yang ditunjuk ga ada. Cuma orang-orang ngantuk berwajah kumuh.
"Loh, Cici Lan-A di mana?" tanya Tan Eng celingukan. Yang lain menoleh ke Beng Liong. Dengan tatapan ngantuk dan introgatif.
"Nggak tahu. Bangun-bangun sudah boh-lang," jawab Beng Liong dengan muka linglung. Dia menguap lagi, mukanya masih mesum akibat adegan semalam.
Papa Go Bun Kiat langsung mendengus. "Dia itu nggak mau sok-sokan! Masalah nikah ini urusan besar. Tan Eng, kamu mau kejadian lama terulang? Mau diusir malam-malam lagi kayak dulu?!"
Tan Eng gemetar. Ingatan pahit itu muncul lagi.
Tapi sebelum dia sempat menjawab, tiba-tiba...
"HIAK-SI-GUA! " (Kagetin gue aja!) teriak semua orang hampir berbarengan.
Kwee Lan tiba-tiba sudah berdiri di tengah ruangan. Pas di belakang Tan Eng. Di tangannya ada mangkuk kayu bertutup berisi lulur harum.
"Sio Moi, ini lulur buat kamu. Cici sudah denger semua," kata Kwee Lan lembut, tapi tatapannya menusuk.
"Ci... Cici tadi di mana?" tanya Tan Eng gagap.
"Di plafon, bikin lulur," jawab Kwee Lan santai sambil menunjuk lubang plafon yang terbuka lebar di langit-langit aula. “Cici pilih ruang plafon biar bisa bikin lulur sekalian ngawasi kerja kuli kita. Lu kira ga ada yang perlu disiapin apa ya?”, jawabnya dingin menyerahkan lulur lalu bersiap menuju bawah plafon.
Tan Eng menerima mangkuk lulur itu dengan tangan gemetar. Dia malu luar biasa, sampai-sampai mau taruh muka di bawah ubin.
Anehnya, di bawah lubang berpintu terbuka itu sama sekali nggak ada tangga atau kursi.
"Naik gimana, Lan-A? Kan nggak ada tangga?" Beng Liong melongo.
"Pakai teknik Kim Lian Sian Sut (Teratai Emas), Dik. Itu bagian dari Bu Ki Sut," jawab Kwee Lan tenang.
---
Tan Eng seketika sesak hati.
Dia ingat kejadian Siat Sin yang menghancurkan hidupnya dulu. Dan sekarang, sosok Sinseh sakti yang dulu dia damba-dambakan buat menyembuhkan lukanya, malah dia fitnah sendiri cuma gara-gara urusan sepele.
Dia sadar dan ketakutan setengah mati. Takut kalau Ah Niu berubah pikiran gara-gara ulahnya, dan takut kalau Sinseh gaib ini bakal ninggalin dia tanpa obat.
Dia sungkan, apalagi dia tahu dulu Kwee Lan dan Ah Niu punya relasi khusus. Gak taunya, Ah Niu cinta pada pandangan pertama dengannya. Awalnya dia nolak. Tapi, Ah Niu membuatnya yakin. Dia juga dapat info dari pembantu. Memang keluarga si Tan Gu, alias Ah Niu, memang banyak kasus begitu.
Dia tahu juga, kalau Kokonya terjebak intrik pangeran yang sudah dihukum. Berhari-hari dia berdoa supaya Koko satu-satunya itu hidup lagi. Thien seolah menjawab doanya sebanyak-banyaknya lewat Cici iparnya itu. Gangguan bulanannya pun sembuh. Saat ke kota bulan lalu. Karena diundang ke perkawinan putri, ia dan mamanya mencoba memeriksa diri dan bener: mereka sembuh total. Padahal sudah dibawa ke banyak Sinseh. Termasuk Sinseh Laki-laki yang aman dan kokonya yang Sinseh Militer. Sampai Sinseh yang periksa dia ngemis dekrit buat belajar ke Kwee Lan di perguruan kesehatan desa dengan iming-iming obat hamil manjur ke istri-istrinya pangeran-pangeran.
Pas Tan Eng berlutut dan bersujud minta maaf, dia nggak ngerasain hawa marah sedikit pun dari Kwee Lan. Tapi justru itu yang bikin dia "Cin-Sian" (seram/ngeri).
Wajah iparnya itu makin misterius, auranya makin berwibawa, seolah-olah Kwee Lan bukan lagi sekadar manusia biasa, tapi dewi yang sedang menyamar jadi menantu di keluarga Go.
Mendadak sinseh itu merangsek naik ke pintu plafon.
Semua orang cuma bisa melongo. Ngapain lagi terbang begitu sepagi ini?
[BERSAMBUNG]
Catatan:
An-cua ooo? 按怎哦 Ada apa? Kenapa?
Boh-lang 無人 Tidak ada orang
Hiak-si-gua 嚇死我 Kaget setengah mati
Kim Lian Sian Sut 金蓮仙術 Teknik (bisa diartikan jurus) Teratai Emas
Siat Sin 失身 Bejat, asusila
Cin-Sian 真仙 Seram/ngeri karena aura mistis
Cin-cai 精彩 Terserah, gampangan