Sinopsis Novel – Kelas Penyihir IX B
Rifky adalah seorang anak manusia biasa yang tiba-tiba terjebak di dunia sihir dan masuk ke sebuah sekolah misterius bernama Sekolah Sihir IX B. Di sana ia bertemu dengan Wida, seorang penyihir baik hati yang kemudian menjadi sahabatnya. Bersama Zahira, Oliv, Deni, Rais, Gofirr, dan teman-teman lainnya, Rifky mulai menjalani kehidupan baru penuh keajaiban, latihan sihir, dan petualangan yang tak terduga.
Namun kehidupan di sekolah itu tidak selalu aman. Tiga murid berbahaya, Mila, Diva, dan Eva, diam-diam merencanakan sesuatu yang gelap. Ketika Rifky tanpa sengaja menyentuh sebuah kristal sihir kuno, kekuatan misterius bangkit di dalam dirinya. Kekuatan itu membuat banyak orang terkejut, bahkan kepala sekolah sihir, Nenek Misel.
Kini Rifky harus belajar mengendalikan kekuatan yang tidak ia mengerti, sambil menghadapi ujian sihir, rahasia masa lalu, dan ancaman dari musuh yang ingin merebut kekuatannya. Petualangan, persahabatan, dan misteri besar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifky Hemuto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12-Ujian Sihir Berbahaya
Pagi hari di Sekolah Sihir terasa berbeda dari biasanya.
Langit tampak mendung, dan angin berhembus pelan melewati halaman sekolah yang luas. Burung-burung sihir beterbangan di atas menara-menara sekolah, sementara para murid berjalan menuju kelas mereka masing-masing.
Namun bagi murid kelas IX B, hari itu terasa sangat menegangkan.
Malam sebelumnya masih terus teringat di pikiran mereka.
Tentang kotak sihir terlarang.
Tentang kristal kuno.
Dan terutama tentang Rifky.
Di dalam kelas IX B, para murid sudah duduk di tempat masing-masing.
Amira sedang membaca buku sihir kecil.
Elsi dan Nirmala berbicara pelan di belakang kelas.
Finel menulis sesuatu di meja.
Erina terlihat gugup.
Sementara itu Candra berjalan mondar-mandir di depan kelas.
“Aku masih tidak percaya,” katanya.
Brayen bertanya, “Tidak percaya apa?”
Candra menunjuk Rifky.
“Dia manusia tapi bisa sihir!”
Beberapa murid langsung menoleh ke arah Rifky.
Rifky yang duduk di samping Wida hanya tersenyum canggung.
“Aku juga tidak mengerti…”
Wida menepuk bahunya pelan.
“Kita akan mencari tahu.”
Gofirr yang duduk di depan mereka berkata serius,
“Kalau kristal itu benar-benar artefak kuno, berarti kekuatannya tidak main-main.”
Deni menambahkan,
“Dan itu bisa berbahaya kalau tidak dikendalikan.”
Velop yang biasanya selalu menangis hari itu hanya diam sambil memegang buku.
Ia tiba-tiba berkata pelan,
“Semoga… tidak ada yang terluka lagi.”
Semua orang terdiam sebentar.
---
## Guru Baru Datang
Tiba-tiba pintu kelas terbuka.
*CREAAKK…*
Seorang pria tinggi masuk ke dalam kelas dengan jubah biru tua.
Semua murid langsung duduk tegap.
“Selamat pagi,” katanya.
“Pagi…” jawab para murid.
Pria itu menulis di papan.
**PROFESOR ARKANO**
Candra berbisik pada Gofirr.
“Namanya keren.”
Profesor Arkano menatap seluruh kelas dengan serius.
“Hari ini kita tidak akan belajar teori.”
Beberapa murid terlihat senang.
Namun Arkano melanjutkan,
“Hari ini kita akan melakukan **ujian sihir praktik**.”
Semua murid langsung kaget.
“APA?!”
Erina hampir menjatuhkan bukunya.
Deni bertanya,
“Ujian sekarang?”
Profesor Arkano mengangguk.
“Benar.”
Ia berjalan perlahan di depan kelas.
“Ujian ini untuk mengukur kemampuan kalian sebelum ujian akhir tahun.”
Zahira bertanya,
“Ujiannya seperti apa?”
Profesor Arkano tersenyum sedikit.
“Kalian akan memasuki **Arena Sihir**.”
---
## Arena Sihir
Tak lama kemudian seluruh murid IX B berjalan menuju arena latihan.
Arena itu berada di belakang sekolah.
Tempatnya sangat luas, seperti stadion batu besar dengan lingkaran sihir di tengahnya.
Di sekeliling arena terdapat kursi batu tempat murid menonton.
Profesor Arkano berdiri di tengah arena.
“Setiap murid akan masuk satu per satu.”
Ia menjelaskan aturan ujian.
“Kalian harus melawan **makhluk sihir yang akan muncul dari lingkaran ini**.”
Beberapa murid langsung terlihat takut.
Nirmala bertanya pelan,
“Makhluk sihir…?”
Arkano mengangguk.
“Tidak terlalu berbahaya.”
Candra berbisik,
“Itu biasanya berarti sangat berbahaya.”
Wida tertawa kecil.
---
## Murid Pertama
“Amira,” panggil Profesor Arkano.
Amira masuk ke tengah arena.
Lingkaran sihir di lantai mulai bersinar.
Tiba-tiba muncul seekor **serigala bayangan**.
Makhluk itu menggeram.
Amira terlihat gugup.
Namun ia mengangkat tongkat sihirnya.
“**Lumina Spark!**”
Cahaya terang mengenai serigala itu.
Makhluk itu menghilang menjadi asap.
Semua murid bertepuk tangan.
“Bagus,” kata Arkano.
---
## Giliran Demi Giliran
Elsi melawan burung api kecil.
Nirmala menghadapi tanaman sihir yang bergerak.
Finel melawan batu hidup.
Beberapa murid berhasil dengan cepat.
Beberapa kesulitan.
Ketika giliran Candra datang—
Makhluk yang muncul adalah **katak raksasa**.
Candra menatapnya.
Katak itu menatap balik.
Candra berkata santai,
“Eh… kita bisa damai tidak?”
Katak itu melompat menyerangnya.
“AAAA!”
Semua murid tertawa saat Candra berlari keliling arena.
Akhirnya Zahira membantu dengan mantra dari luar.
Profesor Arkano hanya menggeleng sambil menulis sesuatu di buku catatan.
---
## Giliran Rais
“Rais.”
Rais masuk ke arena.
Makhluk yang muncul adalah **golem batu besar**.
Rais tersenyum.
Tubuhnya langsung membesar.
“Sekarang kita lihat siapa yang lebih kuat!”
Ia menghantam golem itu dengan satu pukulan keras.
*BOOOM!*
Golem batu itu langsung pecah.
Semua murid bersorak.
“KEREN!” teriak Brayen.
---
## Giliran Rifky
Akhirnya Profesor Arkano memanggil nama terakhir.
“Rifky.”
Arena tiba-tiba menjadi sunyi.
Semua murid menatapnya.
Rifky berjalan perlahan ke tengah arena.
Ia masih merasa aneh dengan kekuatan kristal di tubuhnya.
Lingkaran sihir di lantai mulai bersinar.
Namun tiba-tiba—
Cahayanya menjadi **lebih kuat dari sebelumnya**.
Profesor Arkano terlihat heran.
“Hmm… aneh.”
Dari lingkaran itu muncul makhluk besar.
Seekor **naga bayangan kecil**.
Semua murid langsung panik.
“Apa?!”
“Itu terlalu kuat!”
Profesor Arkano juga terlihat terkejut.
Makhluk itu menggeram keras.
Rifky mundur satu langkah.
“Aku… tidak tahu mantra apa yang harus kupakai…”
Namun tiba-tiba kristal di tangannya bersinar.
Energi biru keluar dari tubuhnya.
Tangannya terangkat sendiri.
Dan tanpa ia sadari, Rifky mengucapkan satu kata.
“**AERION.**”
Angin besar muncul di arena.
Naga bayangan itu tersapu oleh pusaran angin.
*BOOOOSH!*
Makhluk itu menghilang dalam sekejap.
Arena menjadi sunyi.
Semua murid menatap Rifky dengan tak percaya.
Profesor Arkano juga terdiam beberapa detik.
Lalu ia berkata pelan,
“Menarik…”
Namun di kejauhan—
Di atas menara sekolah—
**Mila, Diva, dan Eva** sedang mengamati arena.
Mila tersenyum tipis.
“Lihat itu.”
Diva berkata pelan,
“Kekuatan kristal mulai bangun.”
Eva tertawa kecil.
“Permainan ini akan semakin seru.”
Mila menatap Rifky dari kejauhan.
“Dan cepat atau lambat…”
Ia melanjutkan dengan suara dingin,
“Kita akan mengambil kekuatan itu.”
---