Di panggung, Laras adalah doa yang dipanjatkan lewat gerak tubuh. Setiap jengkal gerak Laras adalah perpaduan antara kesucian tradisi dan kelembutan yang menghanyutkan. Ia adalah bidadari yang dikagumi banyak mata, namun hatinya tetap tulus, tak tersentuh oleh gemerlap dunia yang fana.Di dunianya, Elang adalah hukum yang tak terbantahkan.Sebagai pemilik nightclub terbesar di ibu kota, Elang terbiasa dengan kegelapan, dentum musik yang memekakkan, dan kepatuhan mutlak. Baginya, hidup adalah tentang kendali. Ia dingin, tegas, dan tak pernah membiarkan apa pun lepas dari genggamannya.Dua dunia yang tak seharusnya bersinggungan itu bertabrakan saat Elang melihat Laras menari. Bagi orang lain, Laras adalah sebuah pertunjukan seni. Namun bagi Elang, Laras adalah kepemilikan.Elang tidak hanya ingin melihat Laras menari; ia ingin mengurung sang penari dalam dunianya yang gelap. Ia ingin menjadi satu-satunya pria yang menyaksikan setiap lekuk gemulai dan kerlingan mata Laras yang mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jeratan Halus
Lampu di apartemen mewah itu telah diredupkan hingga hanya menyisakan pendar keemasan yang remang-remang, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding marmer. Suasana setelah kepergian Maya masih menyisakan ketegangan yang pekat, namun Elang Dirgantara telah memutuskan bagaimana malam ini harus berakhir. Ia duduk di kursi kulit besarnya, kaki panjangnya bersilang, sementara tangannya menggenggam gelas kristal berisi cairan amber yang memantulkan cahaya.
"Menarilah, Laras," suara Elang rendah, hampir seperti perintah purba. "Tunjukkan padaku bahwa tarianmu di gudang tadi tidak ada apa-apanya dibanding apa yang bisa kau berikan padaku di sini."
Laras berdiri di tengah ruangan. Sisa air mata masih mengering di pipinya, namun harga dirinya sebagai seorang penari mulai mengambil alih. Ia masih mengenakan kain sutra merah tipis dari lokasi syuting tadi—pakaian yang menurut Elang terlalu terbuka untuk dilihat pria lain, namun sangat sempurna untuk dinikmatinya sendiri.
Laras mulai bergerak. Tanpa musik, hanya diiringi suara napasnya sendiri dan denting es di dalam gelas Elang.
*
Laras tidak lagi menari dengan kesedihan. Kali ini, ia menari dengan keberanian yang muncul dari rasa pasrah. Ia meliukkan tubuhnya, membiarkan kain sutra itu memeluk lekuk tubuhnya dengan provokatif. Ia melakukan gerakan sekar suwun, namun dengan sentuhan kontemporer yang jauh lebih berani. Jemarinya melentik di udara, seolah sedang membelai helai-helai imajiner yang menghubungkannya dengan Elang.
Setiap putaran yang dilakukan Laras membuat ujung kain merah itu menyapu lantai dengan suara desis halus. Ia mendekat ke arah Elang, lalu menjauh lagi, memberikan tatapan yang sayu namun menantang. Pinggulnya bergerak dengan ritme yang lambat dan menghanyutkan, sebuah gerakan yang biasanya ia simpan untuk ekspresi seni yang paling dalam, kini ia tunjukkan sebagai bentuk penyerahan diri pada sang pemilik malam.
Elang tidak bergerak. Ia hanya memperhatikan dengan mata yang menggelap. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyuman tipis yang sangat langka. Ia terbuai. Ia menikmati bagaimana bidadarinya berusaha "menghukumnya" kembali dengan keindahan yang menyiksa. Elang tahu Laras sedang mencoba menunjukkan kekuatannya melalui kelembutan, dan Elang sangat menyukai permainan itu.
Laras semakin berani. Ia mendekat hingga jarak di antara mereka hanya tersisa satu langkah. Aroma keringat tipis yang bercampur dengan parfum melati dari kulit Laras menyerang indra penciuman Elang. Laras merendahkan tubuhnya, melakukan gerakan mendhak tepat di depan lutut Elang, menatap pria itu dari bawah dengan bulu mata yang lentur.
*
Elang tidak membuang waktu lagi. Sebelum Laras sempat melakukan gerakan menjauh, tangan Elang yang besar dan kuat melesat, menggenggam kedua pergelangan tangan Laras dengan sekali tangkap.
"Cukup permainannya, Laras," bisik Elang.
Dengan satu tarikan yang tegas namun tidak menyakitkan, Elang menarik tubuh ramping Laras hingga terduduk di atas pangkuannya. Laras terpekik kecil, jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa dadanya akan meledak. Ia bisa merasakan kerasnya otot paha Elang di bawah tubuhnya dan aroma maskulin yang begitu mendominasi dari kemeja hitam pria itu.
Laras tidak memberontak. Ketulusan hatinya yang sudah telanjur terikat pada sosok posesif ini membuatnya justru merasa aman dalam cengkeraman tersebut. Ia perlahan melingkarkan lengannya di leher Elang, menyembunyikan wajahnya di pundak pria itu sejenak untuk menenangkan gemuruh di dadanya, mengatur nafasnya yang mulai tidak bisa dia kendalikan.
Elang melepaskan gelasnya ke meja samping tanpa mengalihkan pandangan. Ia membenamkan wajahnya di leher jenjang Laras, menghirup aroma tubuh wanita itu seolah-olah itu adalah oksigen terakhir di dunia.
"Kamu wangi sekali..." gumam Elang, suaranya parau oleh hasrat yang membuncah.
Perlahan, Elang mulai menciumi leher Laras. Mulai dari bawah telinga, turun ke bahunya yang terbuka, hingga ke tulang selangka. Setiap kecupan Elang terasa seperti segel kepemilikan yang panas. Laras memejamkan mata, kepalanya terkulai ke belakang, memberikan akses lebih luas bagi Elang untuk menjelajahi kulitnya.
Laras menikmati setiap sentuhan itu. Rasa takut yang tadi ia rasakan saat diinterogasi kini menguap, digantikan oleh gelombang panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia merasakan tangan Elang merayap di pinggangnya, memeluknya semakin erat seolah ingin menyatukan tubuh mereka menjadi satu.
"Jangan pernah berpikir untuk menari untuk orang lain lagi, Laras," bisik Elang di sela-sela ciumannya. "Aku bisa menjadi sangat kejam jika ada yang mencoba menyentuh apa yang menjadi milikku."
Laras mengangguk lemah, tangannya semakin erat memeluk leher Elang. Ia merasa dirinya benar-benar telah tenggelam dalam samudera posesifitas Elang, dan anehnya, ia tidak ingin diselamatkan.
*
Suasana di ruangan itu semakin memanas. Napas mereka saling memburu, menciptakan harmoni yang intim di tengah keheningan malam. Elang terus menciumi leher dan bahu Laras, sesekali memberikan gigitan kecil yang membuat Laras mendesah pelan.
Namun, di tengah kemelut gairah yang sedang memuncak itu, Laras mendadak terdiam. Tubuhnya yang tadinya rileks dalam dekapan Elang tiba-tiba menjadi kaku. Ia merasakan sesuatu yang sangat asing di bawah sana, tepat di titik di mana tubuhnya bersentuhan dengan paha Elang.
Laras mengernyitkan dahi. Kepolosannya sebagai gadis yang belum pernah bersentuhan sejauh ini dengan pria membuatnya merasa bingung sekaligus penasaran.
"Tuan..." panggil Laras lirih.
Elang tidak berhenti, ia masih sibuk memberikan ciuman-ciuman kecil di sepanjang rahang Laras. "Hmm?"
Laras mencoba bergerak sedikit untuk memastikan apa yang ia rasakan. "Tuan Elang... ada sesuatu yang mengganjal di antara paha Tuan."
Pertanyaan polos itu seketika membuat gerakan Elang terhenti total.
Elang menjauhkan wajahnya, menatap Laras yang menatapnya dengan wajah bingung tanpa dosa. Elang tertegun sejenak, menatap mata Laras yang begitu jernih, lalu ia menyadari betapa polosnya wanita yang ada di pangkuannya ini.
Hasrat yang tadi meledak-ledak di dalam diri Elang seolah tertahan oleh kepolosan telak dari Laras. Elang menatap wajah Laras yang kemerahan, lalu sebuah tawa rendah yang serak keluar dari tenggorokannya—bukan tawa mengejek, melainkan tawa yang penuh dengan rasa gemas dan frustrasi yang bercampur jadi satu.
"Laras..." Elang mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan aliran darahnya yang sedang bergejolak hebat. Ia menyandarkan dahinya di dahi Laras, menatap mata wanita itu dengan tatapan yang sangat dalam. Tangannya masih melingkar erat di pinggang ramping Laras.
"Itu adalah reaksi seorang pria saat dia berada sangat dekat dengan wanita yang sangat dia inginkan," bisik Elang dengan suara yang sangat berat, berusaha menahan apa yang seharusnya ditahan. "Dan jika kamu terus bergerak seperti itu, hal 'mengganjal' itu akan membuatmu tidak bisa tidur semalaman."
Wajah Laras seketika berubah menjadi merah padam saat ia mulai menyadari apa maksud perkataan Elang. Ia terdiam seribu bahasa, baru menyadari betapa berbahayanya posisi mereka saat ini.