Yussallia Tsaverra Callisto selalu memimpikan kehidupan pernikahan yang indah di masa depan. Yussallia masih berharap bahwa kehidupan pernikahannya bersama Rionegro akan berjalan semulus yang ia harapkan, meskipun pernikahan mereka didasari oleh sebuah kesalahan satu malam yang mereka lakukan pada di masa lalu.
Rionegro Raymond Kalendra tidak pernah menyangka bahwa menolong seorang gadis yang terjebak dalam badai hujan akan berujung pada pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Rionegro tahu ia tak bisa menghindar dari kewajibannya untuk menikahi Yussallia, gadis yang pernah ia bantu, meskipun mereka memiliki seorang anak bersama akibat kesalahan satu malam yang mereka buat di masa lalu.
Dan dengan segala harapan dan keraguan yang menggantung di atas pernikahan mereka, apakah Yussallia mampu mewujudkan mimpinya tentang pernikahan yang bahagia? Atau akankah pernikahan itu berakhir dengan kegagalan, seperti yang ditakuti Rionegro?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
Yusallia berjalan kearah bengkel langganan keluarganya.
Bangunan itu tidak terlalu besar, tapi terlihat rapi dan terawat. Cat putih di dinding depannya sudah sedikit memudar di beberapa bagian, tanda bahwa tempat itu sudah berdiri cukup lama. Namun papan nama yang terpajang di atas pintu masih terlihat jelas, dengan logo sederhana yang sejak dulu selalu diingat Yusallia.
Tempat itu… terasa familiar.
Seperti bagian kecil dari rutinitas keluarga mereka sejak dulu.
Begitu turun dari mobil Bryan tadi, Yusallia langsung disambut oleh salah satu staf bengkel yang memang sudah mengenalnya cukup lama.
“Dok Yusa?” sapa pria paruh baya itu sambil tersenyum ramah.
Yusallia membalas senyum kecil. “Iya, Pak.”
“Mobilnya sudah selesai dari tadi siang sebenarnya,” lanjutnya.
Yusallia mengangguk pelan. “Iya, maaf kemarin sempat nggak angkat telpon.”
Pria itu tertawa kecil. “Nggak apa-apa, dok. Kami sempat hubungi nomor mas Damian juga akhirnya.”
Yusallia langsung teringat Damian yang mengingatkannya pagi tadi.
“Semalam saya ketiduran,” jawab Yusallia jujur.
“Wah, pasti capek sekali ya, dok,” kata pria itu ramah.
Yusallia hanya tersenyum tipis. Tidak menyangkal.
Pria itu lalu mengambil map kecil berisi catatan servis mobilnya.
“Kemarin masalahnya di bagian mesin yang sempat overheat. Ada selang pendingin yang sudah mulai aus, jadi kami ganti sekalian biar lebih aman.”
Yusallia mengangguk, mencoba memahami walaupun sebenarnya ia tidak terlalu mengerti detail teknisnya.
“Sekarang sudah aman ya, Pak?” Tanya Yusallia.
“Sudah, dok. Kami juga sudah cek bagian lain sekalian. Kondisinya bagus. Tinggal dipakai seperti biasa saja.” Jawab tukang bengkel tersebut.
Nada suara pria itu cukup meyakinkan.
Dan Yusallia memang selalu percaya dengan bengkel ini.
Keluarganya sudah lama menggunakan jasa mereka. Jarang sekali ada masalah setelah servis.
“Baik, Pak. Terima kasih ya.”
Pria itu mengangguk ramah. “Sama-sama, dok.”
Ia lalu memberikan kunci mobil.
Begitu kunci itu berpindah ke tangannya, ada perasaan lega kecil yang tidak terlalu ia sadari.
Satu urusan selesai. Hari ini akhirnya benar-benar mendekati akhir.
“Kalau nanti ada bunyi aneh atau terasa beda, langsung bawa lagi saja, dok,” tambah pria itu.
“Iya, Pak.”
“Semoga lancar terus ya mobilnya.”
“Terima kasih, Pak.” jawab Yusallia ringan.
Beberapa menit kemudian, setelah menyelesaikan administrasi singkat, Yusallia langsung pamit.
“Kalau begitu saya pulang dulu ya, Pak.”
“Hati-hati di jalan, dok.”
“Iya, terima kasih.”
Ia berjalan menuju mobilnya yang terparkir di sisi kanan bengkel.
Mobil itu terlihat sama seperti biasa. Tidak ada yang berbeda. Tapi entah kenapa… hari ini terasa sedikit berbeda. Mungkin karena banyak hal yang terjadi sejak kemarin.
Ia membuka pintu mobil, masuk, lalu duduk di kursi pengemudi. Tangannya memegang setir sebentar. Diam sejenak. Menghela napas pelan.
Hari ini panjang. Tapi tidak buruk.
Mesin mobil menyala dengan halus. Tidak ada suara aneh. Tidak ada getaran yang mengganggu. Sepertinya benar-benar sudah normal.
Ia mulai mengemudi keluar dari bengkel.
Lampu jalan mulai menyala satu per satu saat langit semakin gelap.
Lalu lintas sore tidak terlalu padat, tapi tetap ramai. Mobil-mobil melaju perlahan. Motor sesekali menyalip dari kiri dan kanan.
Radio mobil menyala pelan, mengisi keheningan dengan lagu yang tidak benar-benar ia perhatikan.
Pikirannya terasa… lebih ringan dibandingkan kemarin. Walaupun masih banyak hal yang belum jelas. Tentang keluarganya. Tentang pekerjaannya. Tentang pertemuan-pertemuan yang terasa terlalu kebetulan.
Tapi untuk saat ini… ia tidak ingin memikirkannya terlalu jauh. Ia hanya ingin pulang. Beristirahat. Dan mengakhiri hari ini dengan tenang.
—
Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil Yusallia memasuki halaman rumahnya.
Rumah besar itu terlihat lebih sepi dari biasanya. Lampu-lampu menyala hangat. Tidak banyak suara. Tidak ada ketegangan yang biasanya terasa bahkan sebelum ia masuk.
Ia memarkir mobilnya dengan rapi. Mematikan mesin. Lalu mengambil tasnya.
Begitu masuk ke dalam rumah, suasana langsung terasa hening dan tenang. Tidak ada suara yang menyapa indra pendengarnya. Hanya keheningan yang jarang ia rasakan di rumah ini.
Ia meletakkan tas di meja ruang tamu.
Baru saja ingin duduk sebentar, ponselnya kemudian bergetar.
Nama Bryan muncul di layar. Yusallia sedikit tersenyum.
Ia menjawab telpon itu. “Halo?”
Suara Bryan langsung terdengar di seberang sana.“Lo udah sampai?”
Yusallia duduk di sofa ruang tamu, menyandarkan punggungnya.“Udah.”
“Cepet juga.”
“Jalanan lumayan lancar,” jawab Yusallia santai.
Bryan terdengar menghela napas kecil, seolah lega.“Mobilnya aman?”
“Aman. Kata orang bengkelnya tadi cuma selang pendingin yang aus.”
“Oalah, pantes sempat mogok.” balas Bryan.
“Iya.”
“Sekarang udah normal?” tanya Bryan lagi.
“Udah.”
Bryan terdiam sebentar. Lalu bertanya ringan, “Capek?”
“Lumayan.”
“Kerjaan lagi banyak?” tanya Bryan.
“Biasa,” jawab Yusallia pelan.
Nada percakapan mereka santai dan ringan. Tidak ada tekanan. Hanya obrolan sederhana setelah lama tidak bertemu.
“Rumah sepi?” tanya Bryan lagi.
“Iya.”
“Tumben.”
“Orang tua lagi ke luar kota.” Jawab Yusallia.
“Ooo…”
Bryan seperti memahami sesuatu, tapi tidak bertanya lebih jauh.
“Yaudah, yang penting lo istirahat,” katanya.
“Iya.”
“Jangan kebanyakan begadang.” ingat Bryan.
Yusallia tertawa kecil. “Lo masih sama aja.”
“Apanya?” tanya Bryan mengernyitkan dahi tanpa dilihat Yusallia.
“Ngatur-ngatur.”
Bryan ikut tertawa pelan. “Udah kebiasaan.”
Beberapa detik hening. Tapi bukan hening yang canggung. Tapi lebih seperti… nyaman.
“Thanks ya tadi,” kata Yusallia akhirnya.
Bryan menjawab santai, “Santai aja.”
“Lumayan nggak perlu pesen taxi.” canda Yusallia.
“Lumayan gue bisa ketemu lo lebih lama.” kata Bryan tersenyum kecil tanpa bisa dilihat Yusallia.
Kalimat itu diucapkan ringan.
Tapi cukup membuat Yusallia diam sebentar.
“Hm,” jawabnya pelan.
Bryan seperti sadar ia terlalu jujur, lalu cepat menambahkan,“Maksudnya… sekalian catch up.”
“Iya, gue tau,” jawab Yusallia kecil.
Bryan tertawa pelan.
“Yaudah, gue nggak ganggu lama-lama. Lo pasti capek.” kata Bryan mecoba mengakhiri percakapan.
“Iya, mau mandi terus istirahat.” kata Yusallia.
“Oke.”
“Good night duluan ya,” kata Yusallia.
“Good night, Yusa.” balas Bryan, dan kemudian menutup telpon.
Telpon berakhir.
Yusallia menurunkan ponselnya pelan.
Baru saja ia ingin berdiri, langkah kaki pelan terdengar dari arah dapur.
Yusallia menoleh.
Yasvera muncul dari arah sana, memegang gelas air.
Rambut panjangnya tergerai rapi, wajahnya masih terlihat segar walaupun sudah malam.
Mereka berhenti beberapa langkah dari satu sama lain. Sedikit canggung. Sedikit berjarak.
“Kakak baru pulang?” tanya Yasvera ringan.
“Iya.”
“Kerja sampai sore hari ini?” tanya Yasvera lagi.
“Iya.”
Yasvera mengangguk kecil, lalu meminum airnya.
“Mobil kakak sudah selesai diperbaiki?” tanya Yasvera kembali.
“Sudah.”
“Syukurlah.” balas Yaave6
Nada suaranya terdengar sopan. Tidak dingin. Tapi juga tidak terlalu hangat. Percakapan yang sekadar seperlunya.
“Kakak capek?” tanya Yasvera lagi.
“Lumayan.”
Yasvera mengangguk dan berkata “Hati-hati ya jangan terlalu diforsir.”
“Iya.”
Hening sebentar. Tidak ada topik lain. Tidak ada usaha memperpanjang percakapan.
Hubungan mereka memang seperti itu. Tidak buruk. Tapi tidak dekat.
“Aku ke kamar dulu,” kata Yusallia akhirnya.
Yasvera mengangguk kecil. “Istirahat yang cukup, kak.”
“Iya.”
Percakapan selesai. Sesederhana itu.
Yusallia berjalan menuju kamarnya di lantai atas. Langkahnya pelan.
Tubuhnya mulai terasa lelah sekarang, setelah semua kesibukan hari ini benar-benar selesai.
Begitu sampai di kamar, ia langsung menutup pintu. Meletakkan tas di meja. Dan menghela napas panjang.
Akhirnya sepi dan tenang kembali menyapanya.
Ia mengambil pakaian ganti, lalu masuk ke kamar mandi.
Air hangat mengalir pelan, membantu meredakan lelah yang sejak pagi menempel di tubuhnya.
Hari ini panjang. Banyak hal terjadi. Pertemuan yang tidak direncanakan. Percakapan yang tidak disangka. Perasaan-perasaan kecil yang tidak ia mengerti sepenuhnya.
Tapi untuk sekarang, ia tidak ingin memikirkannya.
Setelah selesai mandi, ia mengenakan pakaian tidur yang nyaman.
Lampu kamar diredupkan.bIa naik ke tempat tidur. Menarik selimut pelan. Dan sebelum benar-benar memejamkan mata, satu pikiran kecil terlintas.
Hari ini, terasa berbeda. Dan entah kenapa, ia tidak merasa keberatan jika besok, sedikit berbeda lagi.