NovelToon NovelToon
GAMON

GAMON

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:444
Nilai: 5
Nama Author: Vianza

"Cintai aku sekali lagi."

(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)

---

"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Perbandingan

...GAMON...

...Bab 3: Perbandingan...

...POV Keana...

---

Hari ketiga dalam seminggu yang paling berat. Rabu. Jauh dari Senin, belum juga Jumat. Udara di kantor terasa pengap, atau mungkin cuma dadanya aja yang sesak.

Keana duduk di meja kerjanya. Layar komputer nyala, tapi matanya nggak fokus. Telinganya menangkap suara dari ruang sebelah—Andra lagi rapat dengan timnya. Sesekali terdengar tawanya. Tawa yang nggak ribut, tapi hangat. Yang bikin orang di sekitarnya ikut nyaman.

Ponsel bergetar. Bima.

Bima (09.12): "Sayang, udah makan? Jangan lupa bekalnya dimakan ya. Aku masak pake hati."

Keana baca. Lalu letakkan ponsel. Dibalas nanti aja. Atau nggak usah.

Dia buka laci meja. Bekal itu masih ada di dalam tas. Dari kemarin. Dari pagi. Nggak disentuh.

Dia tahu Bima bakal nanya nanti. "Bekalnya gimana? Enak?"

Dan dia harus jawab apa? Udah? Bohong. Belum? Nanti Bima sedih.

Jadi lebih gampang diemin aja.

---

Pukul 10.30 – Pantry

Keana lagi ngambil air. Sendirian. Matanya nanjak ke luar jendela—langit Jakarta yang kelabu.

"Melamun?"

Dia menoleh. Andra berdiri di pintu pantry, bawa gelas kosong.

"Ah, nggak. Capek aja."

Andra masuk. Isi air. Berdiri di sampingnya—nggak terlalu dekat, tapi cukup buat dia sadar kehadirannya.

"Lo kelihatan capek dari kemarin." Andra menyesap airnya. "Bukan capek fisik. Tapi capek hati."

Keana diam.

"Gue tahu itu. Gue juga pernah ngalamin." Andra tersenyum tipis. "Bedanya, dulu gue milih lari. Lo?"

Keana menatapnya. "Gue... nggak tahu."

"Makanya." Andra letakkan gelas. "Jangan dipikirin sendiri. Kalo butuh temen ngobrol, lo tahu di mana gue."

Dia keluar. Meninggalkan Keana dengan pikirannya sendiri.

---

Siang – Waktu Makan

Keana duduk di kantin bareng Maya. Maya lagi lahap makan ayam goreng. Keana cuma mainin nasi di piring.

"Kean, lo makan dong. Udah dari tadi cuma diaduk."

"Nggak laper."

Maya letakkan sendok. Tatap Keana tajam.

"Ini soal Bima? Atau soal cowok sebelah yang makin sering ngajak lo ngobrol?"

Keana kaget. "Lo tahu?"

"Semua orang tahu, Kean. Gue bukan buta." Maya menghela napas. "Tapi yang penting, lo tahu nggak? Bima di rumah, masak bekal buat lo, nunggu lo pulang. Dan lo di sini, mikirin cowok lain."

"Aku nggak mikirin Andra."

"Belum. Tapi mulai."

Keana diam. Karena Maya benar.

---

Sore – Di Dalam Ojek Online

Keana pulang sendiri. Bima udah nawarin jemput, tapi dia bilang "nggak usah, naik ojol aja".

Bima nurut. Selalu nurut.

Di boncengan ojek, angin sore menerpa. Jakarta macet seperti biasa. Lampu merah di mana-mana.

Ponsel bergetar. Bima.

Bima (17.45): "Sayang, udah di jalan? Aku masak tumis kangkung. Tadi liat sayurannya masih bagus."

Tumis kangkung. Masakan favoritnya. Bima selalu ingat.

Bima (17.46): "Laundry lo udah aku ambil. Tinggal di depan kost ya. Maaf masukin ke kamar nggak berani, takut lo marah."

Laundry. Bima ingat jadwal laundry-nya. Bima ingat hari apa dia biasa nyuci. Bima ingat—lebih dari dia ingat dirinya sendiri.

Keana baca. Satu per satu.

Dan tiba-tiba, tanpa sadar, dia bandingin.

Andra tadi bilang: "Kalo butuh temen ngobrol, lo tahu di mana gue."

Bima bilang: "Laundry udah aku ambil. Tumis kangkung udah mateng."

Andra nawarin cerita. Bima ngasih sesuatu.

Dua-duanya baik. Tapi kenapa... kenapa yang satu terasa berat, yang satu terasa ringan?

Dia nggak tahu jawabannya.

Atau mungkin dia tahu, tapi nggak mau ngaku.

---

Malam – Kost Keana

Pukul 20.00. Keana baru sampai. Capek. Tapi bukan capek badan.

Di depan pintu, ada plastik laundry. Rapi. Terlipat. Diatasnya ada kertas kecil.

"Baju kesukaan lo—yang pink—aku pisahin. Biar nggak luntur. Love you."

Keana pegang kertas itu. Kecil. Tapi berat.

Dia buka pintu. Masuk. Lampu nyalakan. Tiduran di kasur.

Ponsel. Buka chat.

Andra nggak chat. Bima udah kirim 4 pesan.

Bima (19.00): "Udah sampai?"

Bima (19.15): "Sayang?"

Bima (19.30): "Maaf ganggu terus. Aku cuma khawatir."

Bima (19.47): "Udah makan? Tumis kangkungnya tak taruh di meja dapur lo. Daun pisang tutup biar anget."

Keana baca. Dan dia nggak tahu kenapa, tiba-tiba dia ngerasa... lega.

Bukan lega karena Bima perhatian. Tapi lega karena Bima nggak berubah. Masih sama. Masih predictable. Masih bisa ditebak.

Dan di situ masalahnya.

Karena predictability itu, dulu bikin dia nyaman. Sekarang bikin dia... mati rasa.

---

Dia bangun. Ke dapur. Buka pintu.

Tumis kangkung itu ada. Masih anget. Daun pisang di atasnya. Sendok dan piring udah disiapin.

Dia ambil piring. Ambil nasi. Ambil tumis.

Makan. Sendirian.

Rasanya enak. Bima emang jago masak. Tapi di tengah kunyahan, dia berhenti.

Kenapa aku makan ini, tapi hati nggak hangat?

Kenapa aku di sini, tapi rasanya udah pergi?

---

Pukul 22.00. Ponsel bergetar.

Bima: "Sayang, udah makan?"

Keana tatap layar. Pesan itu. Lagi. Pertanyaan yang sama. Ribuan kali diulang.

Dan tiba-tiba, dia muak.

Bukan sama Bima. Tapi sama dirinya sendiri. Karena dia tahu, Bima nggak salah. Bima baik. Bima sempurna.

Tapi kenapa... kenapa dia justru ingin lari dari kesempurnaan itu?

Keana: "Udah."

Bima: "Enak?"

Keana berhenti. Jari di atas keyboard.

Dia bisa jawab "enak". Itu jujur. Tapi kenapa rasanya berat?

Atau dia bisa jawab "biasa aja". Itu juga jujur. Tapi nanti Bima sedih.

Akhirnya dia ngetik:

Keana: "Iya."

Iya. Lagi. Kata favoritnya belakangan ini.

Bima: "Syukurlah. Istirahat yang cukup ya. Love you."

Love you.

Dua kata yang malam ini terasa seperti... belenggu.

---

Keana letakkan ponsel. Matikan lampu. Gelap.

Tapi di gelap itu, dia nggak tidur. Dia cuma... ada.

Dan di kost sebelah, di tempat yang berbeda, Bima juga nggak tidur.

Dia tahu. Dia tahu ada yang salah. Tapi dia nggak tahu harus nanya gimana. Karena setiap kali nanya, jawabannya cuma "iya". Dingin. Pendek. Nggak ada cerita. Nggak ada "kangen". Nggak ada "sayang".

Dia cuma bisa nunggu.

Nunggu Keana pulang—meskipun udah di kost.

Nunggu Keana balas—meskipun udah dibaca.

Nunggu Keana bilang "aku masih di sini"—meskipun dia udah mulai ngerasa, Keana udah pergi dari jauh-jauh hari.

---

Bersambung ke Bab 4: Pisah

---

Preview Bab 4:

Besok, Keana akan ambil keputusan. Bukan keputusan yang gampang. Tapi keputusan yang udah lama dia pendam.

Bima masih nggak tahu. Masih masak. Masih nunggu. Masih percaya.

Tapi di angkringan itu, di tempat pertama mereka bertemu, semuanya akan berakhir.

Bab 4: Pisah—segera!

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!