Pernah sesekali terlintas untuk pergi dari dunia ini selamanya. Mengakhiri takdir yang telah digariskan, yang terkesan tak adil. Karena sudah terlalu lelah dengan semuanya. Akan tetapi hati kecilnya kerap berkata, 'Jangan...!!'
Hingga suatu ketika dia benar-benar tak ingin melawan lagi. Bahkan untuk protes saja tak bisa dia lakukan lagi. Karena menurutnya itu tidak akan mengubah apapun pada kehidupannya...
Karena ketidakadilan sudah terlanjur mendarahdaging dalam dirinya...
Menjalani semuanya, apapun itu. Hingga tiba waktunya. Itulah keputusan terakhirnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Tak Ada Artinya
Yumna menatap rumah itu dari balik pintu mobil. Rumah itu semakin menjauh, seiring laju mobil yang dikemudikan oleh Niko. Rumah yang menjadi tempat dia tumbuh dan berproses hingga dewasa. Rumah yang di setiap sudutnya menjadi panggung pertunjukkan bagi Nasya dan dirinya. Dan dinding-dinding rumah itu, adalah saksi bisu atas segala ketidakadilan dan kesakitan yang dia alami.
Dan lagi, Yumna tak mampu menahan air matanya. Padahal dia bertekad tidak akan terlihat cengeng dan menyedihkan lagi. Tapi apa daya. Semua yang dia alami begitu menyakitkan. Elbara yang peka, lagi-lagi menyodorkan tisu pada Yumna.
"Berhenti!" Elbara memberi perintah pada Niko.
Niko menatap tuannya dari kaca yang menggantung di depannya. Kemudian Elbara memberi kode agar dia turun dari mobil. Niko paham. Dia pun mengurangi kecepatannya, lalu menepi. Kemudian keluar begitu saja tanpa pamit pada Elbara dan Yumna.
"Menangislah. Jangan ditahan." ujar Elbara dengan lembut.
Padahal Yumna baru saja akan bertanya, kenapa mobilnya berhenti dan Niko keluar. Tapi setelah mendengar ucapan Elbara, Yumna mengerti kenapa Niko melakukannya. Bukannya menjadi malu karena ucapan Elbara. Tangis Yumna justru semakin tak terkontrol. Dia terus menggerang sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Tangisan itu terdengar sangat menyedihkan di telinga Elbara. Membuatnya tergerak untuk meraih tangan Yumna, dan menurunkannya dari wajahnya yang sudah merah dan penuh jejak air mata. Dengan gerakan lembut, Elbara mengusap air mata yang tertinggal di wajah Yumna dengan tisu. Lalu menggenggam erat tangan Yumna.
"Semua sudah terjadi. Dan semua itu sudah ada yang mengaturnya. Bukan karena kebetulan semata. Endingnya tergantung bagaimana kita menyikapinya." tutur Elbara.
"Kedepannya hidupmu akan tetap berlanjut. Dengan berbagai pilihan yang harus kamu tentukan sendiri. Yang perlu diingat hanya satu. Jangan sampai jatuh ke lubang yang sama." begitu ujar Elbara menasihati Yumna.
"Tangannya begitu hangat. Aku merasa lebih tenang, seperti saat Bu Kartika memperlakukanku dengan lembut." batin Yumna.
Perlahan Yumna menarik tangannya dari genggaman Elbara. Dia mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
"Pilihan saya hanya menjauh dari mereka. Dan saya sudah tidak peduli lagi dengan jalan hidup saya kedepannya. Saya hanya anak sebatang kara. Yang bisa saya pilih hanya itu. Karena saya sadar, saya bukan siapa-siapa." gumamnya.
"Kamu calon istri Elbara. Calon nyonya di keluarga Wiranata. Status kamu jelas. Kamu tak layak merendahkan diri seperti ini. Hargailah dirimu sendiri." balas Elbara.
"Selama bertahun-tahun kamu diam. Demi menghargai manusia-manusia tak tahu diri itu. Kalau kamu bisa melakukannya untuk mereka. Kenapa tidak melakukannya juga untuk dirimu sendiri...?" katanya.
Yumna berpaling, menatap Elbara sebentar. Hanya sebentar. Kemudian dia memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong. Seolah tak ada semangat hidup lagi.
"Sejak tahu asal usul saya. Saya merasa hidup ini sudah tak ada artinya lagi." ujar Yumna.
"Berarti atau tidaknya, bukan kamu yang menilai." begitu balasan dari Elbara.
Semua kalimat yang diucapkan oleh Elbara sarat akan makna. Hingga mampu menyentil sebagian hati Yumna. Namun keputusasaan yang dialami Yumna saat ini, jauh lebih kuat dalam menekan dirinya.
___
Beberapa hari setelahnya. Yumna ditemani oleh tantenya, mendatangi sebuah butik milik desainer ternama kenalan Bu Kartika. Elbara sudah berada di sana lebih awal, begitu pula dengan Bu Kartika.
"Yumna...?!!" seru seseorang memanggil nama Yumna.
Yumna sangat mengenal pemilik suara itu. Bu Kinan.
Bu Kinan yang sedang bersama temannya, langsung menghampirinya. Begitu pula dengan temannya.
"Apa kabar, sayang...?" sapa Bu Kinan setelah memeluk Yumna.
"Baik, Tante." balas Yumna.
"Siapa, jeng...?" tanya teman dari Bu Kinan.
"Ini Yumna. Yang saya ceritakan sama kamu." jawab Bu Kinan.
"Ah, jadi ini yang kamu bilang menantu idaman itu...?!" serunya. "Saya jadi iri sama kamu, jeng Kinan..." katanya kemudian.
"Maaf, mbak Kinan. Sepertinya ada salah paham." sahut Sasa.
"Salah apa, Sa?" balas Bu Kinan.
"Tante, maaf." kali ini Yumna yang bicara. "Saya sudah tidak ada hubungan lagi dengan Damar." ujarnya sangat jujur.
"Apa...?!!" Bu Kinan terkejut.
Bu Kinan pada awalnya tak percaya kalau anaknya putus dengan Yumna. Dia tetap pada keyakinannya, bahwa Damar dan Yumna sudah ditakdirkan bersama. Tidak akan semudah itu untuk mengakhiri hubungan mereka.
"Yumna benar, mbak." sahut Sasa membenarkan.
"Yumna, Sasa. Akhirnya kalian datang juga."
Semua menoleh ke arah yang sama. Bu Kartika berdiri di sana dengan senyuman terbaiknya. Lalu dia berjalan ke arah kerumunan itu.
"Bu, maaf kami terlambat." kata Yumna.
"Kenapa masih panggil, Bu. Panggil mama." ujar Bu Kartika.
"Apapun yang melatarbelakangi pernikahan kalian. Saya akan berusaha memberikan yang terbaik buat kamu, Yumna. Sampai kamu benar-benar merasa nyaman berada dalam keluarga kami." batin Bu Kartika.
Hati Sasa menghangat setiap kali melihat interaksi Bu Kartika dan Yumna. Setidaknya setelah Yumna menikah, ada Bu Kartika yang tulus menyayanginya. Lain halnya dengan Bu Kinan merasa tidak suka dengan apa yang baru saja dia dengar. Baginya, hanya dia yang boleh dipanggil mama oleh Yumna.
"Yumna, Tante akan bantu bicara baik-baik dengan Damar. Pasti ada salah paham di sini." kata Bu Kinan.
"Tidak ada salah paham, tan. Semua sudah jelas. Kami sudah memilih untuk menjalani hidup masing-masing." tutur Yumna. "Dan ini..." Yumna masih ragu menyebut Bu Kartika dengan sebutan mama.
"Saya Kartika, mertua Yumna." dia mengulurkan tangannya pada Bu Kinan.
"Yumna..." gumam Bu Kinan.
"Benar, Tante. Saya akan segera menikah." sekali lagi Yumna menegaskan, agar Bu Kinan bisa menerima kenyataan yang terjadi pada hubungannya dan Damar.
Bu Kinan berlalu pergi dengan membawa rasa sedih dan kecewa yang sangat besar. Temannya mengejar, bahkan dia juga tidak permisi pada Yumna dan yang lainnya.
Setelahnya, mereka segera menuju ruangan yang sudah di siapkan. Ada Elbara dan Niko juga di dalam sana.
"Katakan, kamu mau gaun seperti apa?" tanya Bu Kartika.
"Terserah Bu Kartika saja." jawab Yumna.
"Mama, panggil mama!" katanya kembali mengingatkan Yumna untuk mengubah panggilan terhadapnya.
"Yumna biasanya sangat excited ketika membahas soal beginian. Tapi sekarang dia justru jadi pendiam. Tak mau mengutarakan apapun lagi. Keluarga itu memang keterlaluan. Mereka benar-benar kurang ajar...!!" batin Sasa.
"Maaf, apa saya diizinkan memberi masukan? Biar bagaimanapun saya dan Yumna sangat dekat. Saya tahu betul seleranya." Sasa mencoba mencairkan ketegangan.
"Tentu saja..." sahut Bu Kartika dengan senang hati.
Yumna hanya mengikuti langkah tantenya dan Bu Kartika, dengan ekspresi yang biasa saja. Sesekali tersenyum tipis, ketika dia diajak bicara. Gaun putih yang simpel, tak terlalu banyak pernak-pernik, menjadi pilihan Sasa. Dia sangat yakin, Yumna menyukainya.
Sayangnya, cerita itu tak lagi sama. Jika itu dulu, jauh sebelum Yumna tersakiti dan sebelum dia mengetahui siapa dirinya. Dia pasti akan mempersiapkan segalanya sebaik mungkin. Siapapun itu pasti ingin menikah dengan orang yang paling dicintai. Tapi sekarang, dia akan menikah dengan Elbara yang belum lama dia kenal. Dan tanpa adanya rasa di dalamnya.
"Mbak, bantu pakai yang ini ya." begitu kata Sasa.
"Baik. Mari nona..." seorang pegawai mengajak Yumna menuju ruang ganti.
Saat Yumna pergi ke ruang ganti bersama pegawai di sana, Elbara memanfaatkan kesempatan itu untuk bicara dengan Sasa.
"Tante Sasa, boleh saya bertanya." Elbara meminta izin.
"Apa?" balasnya singkat.
Biar bagaimanapun dia masih menaruh curiga pada Elbara yang tiba-tiba mengajak Yumna menikah.
"Ini sedikit pribadi, maaf sebelumnya. Tapi ini berhubungan dengan Yumna juga." katanya.
"Katakan!" titahnya.
"Tante dulu pernah punya anak, iya?"
Deg...!!
"Ka..., kamu..., tahu...?!" Sasa tiba-tiba gugup.
"Iya. Saya tahu. Tante tolong bantu saya. Ini demi Yumna."
"Maksud kamu apa? Bantuan apa yang bisa saya berikan? Ada kaitan apa sama mendiang anak saya?!"
"Elbara. Kenapa menanyakan hal yang begitu pribadi?!" akhirnya Bu Kartika menegur anaknya, setelah sejak tadi memilih diam.
Elbara menarik nafas sebelum mengutarakan maksudnya.
"Saya merasa Tante dan Yumna ada kemiripan. Mungkin Tante adalah ibu kandung Yumna." kata Elbara.
"Apa...?!!" sahut Bu Kartika dan Sasa bersamaan.
"Tante cukup kasih tahu dimana tempat Tante melahirkan. Sisanya orang-orang saya yang akan bekerja." ujar Elbara.
"Tidak mungkin, Bara. Putri saya sudah meninggal." balas Sasa.
Sasa ingat betul hari itu. Setelah sadar pasca melahirkan, dia tidak bisa menemui putrinya lagi. Bayi Sasa divonis terjangkit virus menular, dan dia meninggal beberapa menit setelah dilahirkan. Dan sesuai prosedur, bayi itu harus segera dimakamkan agar tidak menularkan virus pada yang lain. Demi dirinya, orang tuanya membuat pemakaman pribadi di pekarangan belakang rumahnya. Agar dia lebih dekat bersama mendiang putrinya.
Setelah mengingat hal itu, Sasa menyebutkan nama sebuah rumah sakit. Dia juga memberikan kartu identitas dan kartu pasien pada Elbara. Meskipun dia yakin, hal itu tidak mungkin. Tapi entah mengapa, dia merasa perlu melakukan semua yang dikatakan oleh Elbara.
......................