Ervana yang lahir dari keluarga Moses merasa hidupnya berubah setelah kehadiran anak angkat keluarganya yang begitu disayang semua anggota keluarganya. Orang tuanya dan kakak laki-lakinya lalu memperlakukan Renita, adik angkatnya dengan penuh kasih sayang. Ia diasingkan, semua hal yang menjadi miliknya kini direbut perlahan oleh Renita Moses. Air mata dan kesakitan itu membuatnya nyaris gila. Ervana kalah dan memilih mengakhiri hidupnya dengan cara yang tak biasa, bunuh diri. Namun, jiwanya yang terperangkap dalam kegelapan sepertinya masih enggan untuk meninggalkan dunia penuh dosa ini. Ervana lalu kembali dengan versi baru yang membuat keluarganya tercengang.
"Aku kembali hanya untuk memberi pelajaran pada mereka bahwa aku tidak pantas diperlakukan seburuk ini". Persis ketika ia membuka matanya, kehidupan baru menyambutnya. Ervana lalu hidup menurut kepercayaannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26. Kebenaran ini terlalu menyiksaku
Kabar kematian itu akhirnya sampai ke telinga Morgan Aston. Rumah sakit kota Zera adalah salah satu rumah sakit yang bergerak di bawah anak perusahaan milik keluarga Aston. Untuk mendapatkan kabar seperti ini tentu saja bukan hal yang sulit bagi seorang Morgan. Pria itu menggenggam erat ponsel di genggamannya. Rasa tak nyaman dan kehilangan kini menguasainya. Seumur hidupnya, Morgan Aston tidak pernah merasa takut kehilangan. Ia lahir dari keluarga bahagia yang bergelimang harta.
"Kau kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya soal Ervana lalu segera kirim padaku. Aku tidak ingin kau bergerak lamban kali ini". Tut, panggilannya kemudian dimatikan sepihak bahkan sebelum lawan bicaranya mengucapkan sepenggal kalimat.
"Ada apa sebenarnya?" Ucap pria itu dengan suara bergetar. Kabar menyedihkan itu memukulnya dengan telak. Pria berkuasa itu melonggarkan dasinya yang mencekik lehernya seharian.
"Kenapa, Kak?" Clara Aston yang melihat wajah sendu kakaknya tak bisa menyembunyikan raut penasarannya.
"Ini soal Ervana".
"Kenapa? Kakak berhasil mengumpulkan informasi tentangnya? Di mana dia sekarang? Aku ingin bertemu dengannya". Kalimat beruntun itu terdengar terlalu terburu-buru dan sarat akan rasa rindu yang menggunung. Sudah enam bulan lamanya Clara tidak bertemu dengan sahabat baiknya itu, tentu saja ia khawatir.
"Ervana meninggal dunia". PRANGG, gelas berisi air dingin yang dipegang oleh Clara jatuh membentur lantai lalu hancur, membentuk pecahan yang mungkin akan menjadi penyebab luka jika diinjak.
"A-apa maksudmu, Kak". Suara gadis itu terdengar bergetar. Kepanikan dan rasa takut menguasainya dalam sekejap. Tubuhnya bergetar hebat dan nyaris limbung jika saja kakaknya tak segera menahan.
"Ini mungkin menyakitimu tapi faktanya memang seperti itu". Morgan memalingkan wajahnya ke sembarang arah, tak ingin melihat kesedihan di wajah sang adik.
"Aku tidak bisa mempercayainya". Gadis itu berbisik lirih. Ya Tuhan, berita mengejutkan ini sungguh menyiksanya. Ervana adalah sahabat satu-satunya yang ia miliki. Kehilangan gadis itu seperti kehilangan separuh nyawanya.
"Tenanglah, Clara-".
"Bagaimana mungkin aku bisa tenang? Ervana adalah sahabatku satu-satunya. Orang yang selalu berada di barisan paling depan ketika aku dihina. Vana selalu memelukku dengan sangat erat ketika aku bersedih. Ya Tuhan, sahabat macam apa aku? Aku bahkan tidak ada di sampingnya ketika ia mungkin membutuhkanku". Seorang pelayan rumah Aston mendekat lalu membersihkan pecahan gelas tadi. Clara melangkah dengan hati-hati lalu mendudukkan tubuhnya di sofa empuk ruangan itu.
"Ada apa sebenarnya?" Pertanyaan itu terdengar memilukan di telinga Morgan Aston. Seumur hidupnya ia belum pernah melihat adiknya sekacau ini.
"Dia selalu menyimpan segala kegundahannya dan pernah membaginya denganku. Ini sedikit tidak adil bagiku tapi Vana adalah gadis yang tertutup ak- aku ya Tuhan". Clara menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sedetik kemudian, isakan lirih mulai lolos dari bibir mungilnya.
"Aku ingin menjumpainya untuk terakhir kalinya. Bisakah kakak menemaniku?"
"Tentu saja! Jenazahnya masih berada di rumah sakit". Morgan lalu membuka jasnya lalu melemparnya dengan asal. Ia bahkan tidak punya pikiran untuk mengganti pakaiannya lagi.
"Kak, apakah ini bukan mimpi? Kebenaran ini terlalu menyiksaku". Kepala Clara terkulai lemah.
"Kematian itu hal yang paling pasti, Clara. Ini memang menyakitimu tapi kau tidak bisa melawan takdir". Morgan mengelus rambut panjang adiknya dengan sayang. Gadis berkacamata yang kerap merepotkannya ini seperti tidak punya tenaga untuk sekadar bangkit dan berganti pakaian. Mereka baru saja pulang dari kantor beberapa menit yang lalu.
***
"Sampai kapan kita menyembunyikannya dari media? Wah, ayah bahkan masih memikirkan nama baik bahkan di hari kematian putrimu". Lucas tersenyum kecut, sedikit tak percaya dengan keangkuhan pria yang ia panggil ayah itu.
"Lucas, jangan gegabah! Reputasi keluarga kita akan hancur jika media mengendus kabar ini. Sedikit sekali yang tau jika Ervana adalah bagian keluarga kita. Bisa kau bayangkan sebesar apa penghinaan yang akan kita terima?".
"Ini semua karena ayah dan ibu! Kenapa identitas Ervana harus ditutup-tutupi? Dia putri kandung ayah tapi diperlakukan seperti seekor binatang. Aku tidak habis pikir dengan semua ini. Huh, dibesarkan oleh orang tua seperti kalian membuatku nyaris lupa bagaimana caranya berpikir jernih. Ayah dan ibu terlalu egois!".
"Lucas, haruskan kau menyalahkan semua orang karena kematian gadis bodoh itu? Kau pikir aku yang menghabisinya? Takdirnya memang seperti ini. Caramu menatapku seolah-olah aku seorang pembunuh. Jangan lupa, Lucas kau sendiri yang menyetujui saran Renita". Wajah Efendi memerah karena amarah yang susah payah ia tahan.
"Jika bukan karena Renita, keluarga kita masih diremehkan, Lucas. Kau harusnya berterima kasih kepada gadis itu, bukan menyalahkannya lalu membandingkannya dengan Ervana yang bahkan sudah mati. Cih, mati karena minum racun bodoh sekali". Kemarahan yang menguasainya membuat pria itu mengucapkan kalimat menyakitkan dan tak manusiawi.
"Ayah". Lucas menatap pria itu dengan tatapan tak percaya, bagaimana mungkin seorang ayah tega berkata demikian di hari kematian putrinya?
"kenapa, Lucas? Kau tidak terima? Apa yang ayah ucapkan adalah sebuah kebenaran. Kau menyalahkan ayah karena gadis yang telah mati. Lupakan Ervana lalu fokuslah pada Renita. Dia adalah adikmu satu-satunya, pahlawan keluarga Moses yang selalu membanggakan. Keluarga Moses berhutang banyak hal pada gadis itu". Efendi meninggalkan putranya yang masih mencerna semua ucapan tak masuk akal yang keluar dari ayahnya. Koridor rumah sakit itu terlihat lengang. Semua orang seperti enggan berlalu- lalang, menyisakan ruang sunyi yang menyesakkan dada.
"Ya Tuhan, aku memang kakak yang sangat buruk". Pertengkaran dengan ayahnya seperti memberinya sebuah kesimpulan, nama Ervana tidak pernah terpatri di dada ayahnya. Pria itu lebih memilih membela orang lain daripada darah dagingnya sendiri. Pria itu memijit pelipisnya, berusaha menghalau rasa sakit yang menjalarinya. Apa yang harus ia lakukan setelah ini? Nama baik keluarganya tengah dipertaruhkan. Jika kabar kematian ini menyebar luas ke seluruh penjuru kota, semua orang pasti siap menjatuhkan mereka.
"Penguburan paling sederhana mungkin bisa menjadi jalan keluar. Vana, maafkan aku tapi aku tidak punya pilihan lain". Sebuah rencana bodoh terlintas di kepalanya. Besok pagi, adiknya harus segera dikuburkan tanpa upacara besar-besaran. Media tak perlu tau jika putri satu-satunya keluarga Moses telah meninggal. Sampai kapanpun, orang-orang hanya perlu tau jika Renita adalah putri satu-satunya keluarga Moses.
Selain keluarga Baskara, hanya keluarga Aston yang mengetahui tentang status Ervana, namun baik keluarga Baskara maupun Aston memilih bungkam ketika keluarga Moses hanya memperkenalkan Renita sebagai putri satu-satunya.
"Ini sudah menjadi keputusanku". Lucas melangkah dengan gerakan terukur, rencana yang terlintas di kepalanya seperti memberinya kekuatan baru. Besok pagi, nama Ervana akan hilang seiring dengan tumpukan tanah basah yang menimbun tubuh kakunya