“Aku akan bantu ungkap perselingkuhan suamimu, tapi setelah itu, ceraikan dia dan menikahlah denganku.”
Sekar tak pernah menyangka kalimat itu keluar dari mulut adik iparnya, Langit Angkasa. Lima bulan menikah dengan Rakaditya Wiratama, ia tengah hamil dan merasa rumah tangganya baik-baik saja. Sampai noda samar di kemeja suaminya dan transfer puluhan juta rupiah ke rekening-rekening asing membuka satu per satu kebohongan yang selama ini tersembunyi.
Sekar harus memilih: bertahan dalam luka, atau menyetujui ide gila yang bisa menghancurkan semuanya.
Dan ketika balas dendam berubah menjadi pernikahan, siapa yang sebenarnya akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hashifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Noda yang Tak Terlihat
Sekar tersenyum lebar, berdiri di depan gedung utama PT Wiratama Digital Solusindo. Ia melangkah ringan menuju lobi, tangannya menggenggam tali tas dengan hangat.
“Siang, Mbak. Mas Raka ada di tempat, kan?” tanyanya ramah pada resepsionis.
Resepsionis itu sedikit tergagap melihat Sekar di hadapannya.
“Bu, itu … sebenarnya—”
“Pak Raka sedang ada rapat, Bu,” tukas rekannya cepat. “Baru sekitar lima belas menit yang lalu,” lanjutnya sambil tersenyum.
Sekar mengangguk paham. “Saya tunggu di ruangannya saja, Mbak. Terima kasih, ya.”
Tanpa menunggu jawaban, Sekar melangkah menuju lift, menekan tombol, lalu masuk saat pintu terbuka. Dua resepsionis yang tadi ia sapa hanya saling menatap saat Sekar menghilang di balik lorong.
“Jangan ikut campur urusan Bos." Salah satunya berbisik menegur.
Di dalam lift, Sekar mengusap perutnya perlahan. Senyumnya kembali mengembang.
“Kita kasih kejutan buat Papa, ya, Nak ...,” bisiknya lirih.
Ia memang tidak memberi tahu Raka bahwa ia akan datang. Ia yakin suaminya pasti terkejut. Apalagi dengan hasil USG yang baru saja ia dapat dari rumah sakit. Ia sungguh tidak sabar untuk memberitahukan kabar gembira itu.
Begitu membuka pintu, ia melihat sosok pria berjas abu gelap berdiri membelakanginya tidak jauh dari sofa ruang direktur. Pria itu tengah memilih salah satu buku dari perpustakaan mini. Postur tinggi, bahu tegap, potongan rambut rapi. Jas itu bahkan sama persis seperti yang Raka pakai pagi tadi.
Tanpa ragu, Sekar mempercepat langkah, senyumnya semakin lebar
“Mas …," sapanya dengan mesra.
Ia memeluk pria itu dari belakang. Hangat. Kokoh. Tapi anehnya, tubuh itu justru membeku. Sekar baru menyadari sesuatu saat pria itu menoleh perlahan.
Bukan Raka. Sepasang mata teduh menatapnya datar, sedikit terkejut, tapi tidak berlebihan.
Sekar refleks melepas pelukannya. Wajahnya memanas. Bukan hanya karena lancang telah memeluk pria yang bukan suaminya, tapi juga karena pria itu adalah Langit Angkasa —adik iparnya yang selalu membuatnya segan dengan semua sikap dinginnya.
“Astaghfirullah ... Maaf Mas, aku kira—”
“Raka,” potong Langit tenang. “Setelah hampir setahun, kamu masih belum bisa mengenali suami kamu sendiri? Masih saja salah orang.”
Sekar memberengut. “Ya, maaf. Ya, kan, postur kalian sama persis, apalagi dari belakang. Lagian, Mas Langit ngapain di sini?”
Pria itu menaikkan alisnya. “Kenapa? Setahuku ini masih kantor milik almarhum Papa. Jadi aku masih berhak ke sini, kan? Kamu keberatan?”
Sekar menggeleng. Langit memang selalu seperti ini. Kaku dan dingin, bahkan cenderung ketus. Adik Raka yang hanya terpaut satu tahun itu jarang sekali tersenyum membuat siapa pun yang ada di dekatnya merasa segan.
“Ya, nggak juga. Maaf, Mas tadi nggak sengaja. Habisnya kalian mirip."
Sekar mendesah pelan, ia merapikan hijabnya yang sedikit berantakan. Sementara Langit hanya mendengkus kecil mendengarnya.
“Mas Raka di mana?”
“Meeting,” jawab Langit singkat. “Sejak tadi.”
Pria itu duduk lalu kembali sibuk dengan buku yang tadi ia ambil.
“Dengan klien?”
Langit mengangguk. “Iya.”
Sekar menghembuskan napas panjang. Ia duduk di ujung sofa, berlawanan dengan Langit. Sesekali ia melirik ke arah pintu berharap suaminya segera kembali.
15 menit berlalu. Sekar mulai memainkan jari-jemarinya dengan bosan. Senyumnya perlahan memudar. Wanita itu menghembuskan napas panjang. Ia mengirim pesan singkat pada Raka.
[Mas, rapatnya masih lama? Aku di kantor.]
Tapi pesan itu tak kunjung di balas.
Sementara itu, di balik ruang rapat yang tertutup, Raka tengah mengatur napasnya yang belum sepenuhnya stabil. Ia duduk bersandar di sofa. Kancing bajunya ia biarkan terbuka. Di sampingnya, seorang wanita merapikan pakaiannya tanpa banyak bicara. Ia mengoleskan perona merah di bibir, membuat penampilannya semakin terlihat menawan.
Wanita itu melirik sekilas ke arah ponsel milik Raka, lalu mendadak masam saat mendapati pesan dari Sekar.
“Istri manja kamu udah nunggu, tuh, di ruangan,” celetuknya dengan nada datar. Tangannya yang lentik mengibaskan rambut dan merapikannya sedikit.
Raka menegakkan tubuh, lalu tersenyum tipis. Ia menarik wanita itu mendekat dengan lengan kekarnya hingga kembali terhempas ke pelukannya.
“Cemburu?” bisiknya tepat di telinga Anita.
Wanita itu— Anita—hanya mendengkus. Ia berbalik dan kembali duduk di pangkuan Raka.
“Sampai kapan kita harus begini, Mas?” rajuknya sambil merapikan kancing baju Raka.
Lelaki itu tak langsung menjawab, ia hanya mengecup bibir Anita sekilas.
“Kamu sudah tahu jawabannya, Anita. Untuk apa kamu tanyakan lagi? Yang penting kamu tahu kalau aku butuh kamu. Kita saling membutuhkan, jadi buat apa kamu menuntut lebih?”
Pria itu menyentuh dagu Anita. “Kamu tahu aku akan selalu jatuh sama kamu, jadi nggak perlu menuntut apa pun lagi dariku.”
Anita tersenyum, ia mengalungkan tangannya di leher Raka.
"Istri kamu itu benar-benar sangat bodoh," ucap wanita itu mengejek.
Raka terkekeh lalu menggelengkan kepala.
“Dia nggak bodoh, tapi dia polos dan suci. Karena itu, cocok dan sempurna aku jadikan sebagai istri. Sementara kamu ...." Ia menarik tubuh wanita itu kemudian memeluknya. “Kamu itu candu, dan kamu tahu itu, kan?“ bisiknya di telinga Anita.
Mereka berdua terkikik pelan. Ciuman singkat kembali Raka bubuhkan di bibir perempuan itu.
“Sudah, rapikan baju kamu. Nanti kalau kelamaan dia bisa curiga.” Anita bangkit dari pangkuan Raka.
Pria itu berdiri, merapikan pakaian dan jas kerjanya, lalu menyemprotkan parfum dari laci mejanya. Ia tidak ingin istrinya menangkap hal yang mungkin mencurigakan.
Beberapa saat kemudian, pintu ruang rapat terbuka. Keduanya keluar dengan ekspresi profesional, membicarakan pekerjaan seolah tak terjadi apa pun sebelumnya di dalam sana.
Anita membungkukkan kepala sedikit sebelum pergi. Baru setelah itu Raka masuk ke ruang direktur.
Wajahnya berubah. Bukan hanya karena melihat Sekar, tapi ada adiknya yang juga telah menunggu di sana.
“Sekar?”
Langkahnya sedikit tergesa mendekat. “Sayang, kok, kamu nggak bilang mau ke kantor?” Sapaan lembutnya terdengar.
Langit diam, mengamati tanpa suara. Tatapannya tajam, menangkap detail kecil yang luput dari orang lain—kemeja yang sedikit kusut dan noda samar di balik jas.
Raka yang menyadarinya cepat-cepat mengancingkan jas tanpa Sekar tahu.
Sekar berdiri dan tersenyum lebar. “Surprise!”
Ia memeluk suaminya dengan gayanya yang manja. Sekilas ia mencium aroma parfum yang berbeda dari biasanya, tetapi segera menepis pikirannya sendiri.
“Harusnya kamu bilang kalau mau datang. Aku bisa tunda rapatnya. Kamu nunggu lama?” tanya Raka sambil mengelus kepala istrinya itu.
Sekar menggeleng.
“Aku sengaja mau kasih kejutan, Mas. Pas aku datang, ada Mas Langit juga di sini. Rapatnya udah selesai?
Raka mengangguk, lalu menoleh pada adiknya. “Kamu sudah lama? Ada perlu apa?”
Langit menutup bukunya perlahan.
“Lumayan. Ada yang mau aku sampaikan. Tapi sepertinya istrimu punya kabar yang lebih penting. Dari tadi dia mondar-mandir seperti cacing kepanasan.”
Sekar menoleh dan mendelik kesal. 'Dasar mulut cabai,' umpatnya dalam hati.
Sementara sudut bibir Langit terangkat meskipun terlihat samar.
“Ada apa, Sayang?” tanya Raka menuntun istrinya untuk duduk.
Sekar tak langsung menjawab. Ia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop. Ia menyerahkannya pada Raka dengan senyum yang tak bisa ia sembunyikan.
Raka membukanya perlahan. Begitu melihat hasil USG di dalamnya, wajahnya berubah.
“Kamu … hamil?”
gile nih ulet bulu ya kali bikin rusuh dipengajian 4 bulan an
bang Langit kau dimana ih lagi sibuk ama mahasiswa mu kah😂
ap mungkin foto Kaina Raka🙄
ish kebiasan si othor😂