Di dunia di mana kekuatan energi adalah segalanya, Zian lahir sebagai lelucon. Saluran energinya cacat total. Meski berstatus sebagai pewaris Keluarga Zian, semua orang di kota diam-diam memanggilnya "Tuan Muda Sampah".
Puncak kehinaannya terjadi di siang bolong. Tunangannya yang merupakan jenius dari Sekte Bintang Es datang membatalkan perjodohan secara sepihak. Saat Zian menolak harga diri keluarganya diinjak-injak, pengawal sang tunangan menghajarnya sampai nyaris mati, mematahkan tulang-tulangnya di depan tatapan meremehkan semua orang.
"Kodok bopeng tidak pantas memakan daging angsa," cibir mereka.
Namun, mereka tidak tahu bahwa darah Zian yang menetes di altar kuil malam itu justru membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur. Sebuah kekuatan kuno dari leluhur pertamanya: Warisan Tulang Asura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meninju Tengkorak Naga
Bai Chen menutup kipas lipatnya perlahan. Matanya menatap pemuda berpakaian compang-camping di sebelahnya dengan senyum tipis.
"Kau ini benar-benar tidak sabaran, Zian," tegur Bai Chen santai.
Dia kembali membuka kipasnya dengan satu jentikan nyaring.
"Tapi kebetulan aku juga benci melihat anjing pelacak dari Kuil Vexor menggonggong di depan kapalku. Silakan pukul sesukamu."
Mendengar nama Kuil Vexor, pria berjubah emas di atas kepala naga tulang itu langsung mendidih kemarahan. Wajahnya memerah menahan gengsi.
"Utusan Fraksi Langit! Kau berani melindungi buronan berdarah kotor ini?!" bentak pria emas itu sambil mengacungkan tombak petirnya.
"Namaku Vexor! Komandan Pemburu Asura! Serahkan dia atau kalian semua mati bersama kapal rongsokan ini!" raung pria itu.
Bai Chen hanya menguap bosan mendengar ancaman tersebut.
Zian tidak mau menunggu lebih lama lagi. Otot betisnya mengeras, memadatkan tenaga tolakan yang luar biasa berat ke lantai geladak.
BUM!
Papan kayu di bawah kaki Zian kembali hancur berkeping-keping. Pemuda berbaju hitam itu melesat membelah udara seperti peluru meriam, langsung menuju rahang naga tulang raksasa di seberang sana.
Melihat Zian nekat melompat ke arahnya tanpa sihir terbang, Vexor tertawa meremehkan.
"Tikus bodoh! Kau mengantar nyawamu sendiri!" ejek Vexor lantang.
Dia menancapkan tombaknya ke atas tengkorak naga itu.
"Hancurkan dia jadi abu!" perintah Vexor pada monster tunggangannya.
Rahang naga tulang itu terbuka lebar. Energi petir biru yang sangat mematikan berkumpul dengan cepat di dalam mulutnya, bergemuruh seperti ribuan badai yang menyatu.
WUSH!
Semburan petir raksasa melesat keluar, menelan seluruh tubuh Zian yang sedang melayang di udara. Cahaya biru itu begitu menyilaukan hingga para jenius di Kapal Penembus Awan harus menutup mata mereka.
"Dia pasti hangus!" teriak Pangeran Feng dari kejauhan, nada suaranya penuh kemenangan.
Tapi di dalam lautan petir tingkat Raja itu, Zian sama sekali tidak menjerit. Matanya tetap terbuka lebar, memancarkan sorot membunuh yang sangat dingin.
Sihir petir itu menyambar kulitnya, mencoba menembus daging dan membakar organ dalamnya. Namun, Tulang Asuranya merespons dengan cepat. Urat-urat di tubuh Zian memompa darah mendidih ke permukaan kulit, menciptakan lapisan pertahanan fisik murni yang tidak bisa ditembus oleh sihir elemen.
"Rasanya seperti digigit semut," gumam Zian datar di tengah sambaran petir.
Dia menembus badai petir itu dengan kecepatan penuh. Tiba-tiba, bayangan hitam Zian muncul tepat di depan mata naga tulang raksasa tersebut, sama sekali tidak terluka. Baju hitamnya memang robek di sana-sini, tapi ototnya berkilat semakin padat.
Mata Vexor melotot hampir keluar dari kelopaknya. Rahangnya jatuh melihat pemandangan mustahil itu.
"B-bagaimana mungkin?! Kau menahan petir murniku dengan kulit kosong?!" teriak Vexor panik.
Zian tidak menjawab pertanyaan bodoh itu. Dia memutar tubuhnya di udara, memusatkan seluruh daya hancur ke lengan kanannya yang baru saja berevolusi semalaman.
Urat di lengan kanan Zian menonjol tebal, berwarna merah gelap. Hawa panas menguar dari kepalan tangannya, mendistorsi udara di sekitarnya.
"Kepalamu menghalangi jalanku, Kadal Tulang," bisik Zian dengan senyum iblis.
BUMMM!!!
Zian melayangkan satu pukulan lurus tepat ke tengah dahi naga raksasa itu. Ledakan sonik yang luar biasa dahsyat meledak dari titik benturan. Gelombang kejutnya menyapu awan sejauh puluhan kilometer ke segala arah.
KRAAAAK!
Tengkorak naga yang setebal dinding benteng itu retak seketika. Retakannya menjalar dengan sangat cepat ke seluruh bagian kepala. Sedetik kemudian, kepala naga raksasa itu hancur lebur menjadi serpihan debu tulang!
Ledakan pukulan Zian tidak berhenti di situ. Tekanan anginnya meluncur deras ke belakang, menghancurkan leher dan separuh tulang rusuk monster tersebut.
Naga raksasa itu hancur berantakan di udara, kehilangan inti sihirnya.
Vexor kehilangan pijakan. Tubuhnya terlempar liar ke angkasa. Wajah sang Komandan Pemburu Asura pucat pasi seperti mayat. Monster kebanggaannya yang berada di tingkat Raja menengah mati hanya dengan satu pukulan fisik!
"I-iblis! Kau iblis!" jerit Vexor ketakutan.
Namun sebagai petarung elit Benua Tengah, insting bertahan hidup Vexor sangat tajam. Dia menstabilkan tubuhnya di udara menggunakan sihir angin, lalu menggenggam tombak petirnya erat-erat.
"Mati kau!" aum Vexor putus asa.
Dia melesat ke arah Zian yang mulai kehilangan daya dorong lompatannya. Tombak petir itu menusuk lurus ke arah jantung Zian dengan kecepatan kilat.
Zian memiringkan dadanya dengan tenang. Ujung tombak mematikan itu meleset tipis melewati ketiaknya.
Tanpa membuang waktu satu milidetik pun, Zian mengangkat siku kanannya dan menghantamkannya keras-keras ke gagang tombak tersebut.
TRANG!
Tombak pusaka tingkat Raja itu patah menjadi dua bagian seolah hanya batang kayu kering.
"Senjatamu rongsokan," ejek Zian pelan tepat di depan wajah Vexor.
Sebelum Vexor sempat merespons, Zian memutar pinggangnya dan melayangkan tendangan telak ke dada pria berjubah emas itu.
BUM!
Tulang rusuk Vexor remuk seketika. Darah menyembur deras dari mulutnya. Tubuhnya melesat ke bawah seperti komet jatuh, menembus lautan awan dan menghilang dari pandangan.
Satu pukulan untuk menghancurkan naga, satu tendangan untuk menyingkirkan penunggangnya. Semuanya terjadi kurang dari sepuluh detik.
Zian menjadikan serpihan tulang naga terbesar yang melayang di dekatnya sebagai pijakan. Dia menekuk lututnya dan melompat santai kembali ke arah Kapal Penembus Awan.
Bruk.
Zian mendarat di geladak dengan suara langkah kaki yang berat. Dia menepuk-nepuk tangannya untuk membersihkan sisa debu tulang, lalu menatap kerumunan jenius yang mematung dengan rahang jatuh.
Suasana di geladak itu begitu hening hingga suara napas pun terdengar jelas.
Pangeran Feng mundur pelan-pelan sampai punggungnya menabrak dinding kabin. Matanya menatap Zian penuh teror, seakan melihat malaikat maut yang salah alamat. Dia tidak berani mengeluarkan satu suku kata pun lagi.
Di sudut geladak, pemuda berpedang raksasa bernama Jian tertawa pelan. Tawanya terdengar sangat antusias dan gila.
"Menarik sekali, Tikus Kecil," gumam Jian sambil menjilat bibirnya yang kering. Matanya tidak lepas dari lengan kanan Zian.
Bai Chen menggelengkan kepalanya pelan. Kipas peraknya menunjuk ke arah baju Zian yang hangus di beberapa bagian.
"Lenganmu berevolusi dengan sangat liar, Zian. Daya hancurmu baru saja naik satu tingkat lagi," puji Bai Chen santai.
Zian hanya mengedikkan bahu.
"Mereka yang terlalu rapuh," jawab Zian dingin.
Tiba-tiba, suara alarm darurat berbunyi memekakkan telinga dari arah ruang kemudi kapal. Lampu-lampu kristal di lorong berkedip-kedip merah.
"Gawat, Tuan Utusan!" teriak nakhoda kapal dari atas jembatan kemudi. Wajahnya dipenuhi keringat dingin.
"Ada apa?!" balas Bai Chen tegas.
"Sisa sambaran petir naga tadi mengenai susunan kristal inti di sayap kiri kapal! Mesin penggerak sihir kita mati total!" lapor nakhoda itu dengan suara bergetar.
Bai Chen mendecak kesal. Dia segera melihat ke sisi luar pagar geladak. Asap hitam pekat mengepul dari sayap kiri kapal.
Kapal Penembus Awan mulai bergetar hebat. Posisi kapal perlahan miring ke kiri, kehilangan daya angkatnya di udara.
"Kita akan jatuh?!" jerit salah satu jenius wanita dengan histeris. Kepanikan langsung meledak di antara para penumpang.
Mereka berlarian tanpa arah, saling bertabrakan dan menjerit ketakutan. Ketinggian ini cukup untuk membuat tulang tingkat Jenderal sekalipun remuk menjadi bubur jika menghantam tanah tanpa sihir pelindung.
"Semuanya pegangan keras-keras!" perintah Bai Chen menggelegar ke seluruh kapal. Suaranya mengandung energi penekan yang membuat para jenius langsung tiarap dan berpegangan pada tiang terdekat.
Bai Chen segera merapal segel sihir dengan kedua tangannya. Lingkaran cahaya perak raksasa membungkus seluruh badan kapal, berusaha memperlambat kecepatan jatuh mereka.
Zian tetap berdiri tegak di tempatnya. Kakinya memaku kuat ke papan geladak. Matanya menatap tajam ke arah daratan Benua Tengah yang semakin cepat mendekat di bawah sana.
Lautan awan terbelah saat kapal raksasa itu menukik tajam.
Pemandangan daratan Benua Tengah yang keras dan buas kini terpampang nyata di depan mata Zian. Tidak ada kota megah di bawah mereka, melainkan dataran tandus berbatu merah yang dipenuhi retakan ngarai raksasa.
"Pendaratan darurat!" teriak sang nakhoda untuk terakhir kalinya.
BUMMMMMM!!!
Kapal Penembus Awan menghantam daratan tandus itu dengan sangat keras. Debu pasir merah meledak tinggi menutupi langit. Gelombang kejut dari benturan itu meratakan bukit-bukit batu di sekitarnya.
Badan kapal meluncur deras merobek tanah ratusan meter ke depan, menghancurkan pepohonan kering dan membelah tanah berbatu sebelum akhirnya berhenti dengan suara decitan logam yang ngilu.
Suasana mendadak hening. Hanya terdengar suara kayu yang terbakar dan reruntuhan batu yang berjatuhan.
Asap tebal menutupi seluruh pandangan.
Zian mengusap debu dari wajahnya perlahan. Dia merentangkan otot lehernya yang sedikit kaku akibat benturan barusan. Tidak ada satu pun luka di tubuhnya.
Pemuda itu melangkah santai menuju pagar kapal yang sudah hancur, menatap daratan baru tempatnya berpijak.
Gravitasi di daratan ini sepuluh kali lebih berat daripada benua kecil asalnya. Udara di sekitarnya terasa sangat liar, dipenuhi oleh sisa-sisa niat membunuh purba yang membuat orang biasa sesak napas.
Tapi bagi Tulang Asura di tubuh Zian, tempat ini terasa seperti taman bermain.
Zian menarik napas dalam-dalam, menyerap udara buas Benua Tengah ke dalam paru-parunya. Senyum kepuasan mengembang di wajahnya.
Namun, sebelum dia sempat turun dari kapal, ratusan bayangan hitam tiba-tiba muncul dari balik tebing-tebing ngarai di sekeliling mereka.
Mereka bergerak sangat cepat, mengepung bangkai Kapal Penembus Awan dari segala arah. Semuanya memegang senjata tajam yang berlumuran darah kering. Aura kultivasi mereka memancar liar, rata-rata berada di tingkat Jenderal ke atas.
Ini bukan prajurit sekte. Ini adalah gerombolan bandit gurun Benua Tengah yang terkenal paling ganas.
Seorang pria bertubuh raksasa dengan banyak bekas luka sayatan melangkah maju membelah barisan bandit itu. Dia membawa kapak raksasa di pundaknya dan tersenyum buas menatap kapal yang hancur.
"Hari ini kita beruntung besar, Saudara-saudara!" teriak pemimpin bandit itu dengan suara kasar. "Ada kapal berisi jenius manja yang jatuh ke wilayah kita! Tangkap semua perempuannya, bunuh yang laki-laki, dan ambil semua hartanya!"
Sorak-sorai liar langsung meledak dari ratusan bandit itu. Mereka mulai merangsek maju bagai kawanan serigala yang kelaparan.
Zian menatap ratusan bandit ganas itu dari atas sisa geladak kapal. Tidak ada rasa takut di wajahnya. Matanya justru memancarkan kilat antusiasme yang sangat gelap.
Dia mengepalkan kedua tangannya hingga berbunyi gemeretak nyaring.
"Selamat datang di dunia nyata, Zian," bisik Zian pada dirinya sendiri. Senyum iblisnya terkembang sempurna.
Dia melangkah maju, siap menjadikan ratusan bandit tingkat Jenderal itu sebagai pemanasan peregangan otot paginya.
cuma tinju asal ajaaa