NovelToon NovelToon
Abiyan; TUAN MUDA Terbuang

Abiyan; TUAN MUDA Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Kebangkitan pecundang / Persahabatan / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: Moms TZ

Hidup bergelimang harta, tetapi tanpa kasih sayang seorang ibu, membuat Abiyan tumbuh menjadi sosok pemuda yang keras kepala dan pembangkang. Suatu hari dia melakukan kesalahan fatal dengan terlibat balapan liar yang mengakibatkan dirinya tertangkap polisi.

Akibat perbuatannya, Bastian sang ayah murka dan Abiyan harus menerima hukuman terberat: dia terbuang dari rumah yang selama ini menjadi istananya. Tanpa kemewahan, tanpa perlindungan, Abiyan terpaksa harus menghadapi dunia yang keras dan penuh tantangan seorang diri.

Mampukah Abiyan sang tuan muda yang terbuang, bertahan hidup dan belajar menjadi pribadi yang bertanggungjawab? Atau justru dia akan semakin terpuruk dalam kesengsaraan?

Ikuti kisahnya hanya di sini:

"Abiyan, Tuan Muda Terbuang" karya Moms TZ, bukan yang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Bebas

Pagi itu, langkah kaki diikuti suara pintu besi yang berderit menggema membuat suasana yang tadinya sunyi menjadi sedikit berisik.

"Bangun! Bangun! Cepat baris di depan pintu!" seorang petugas polisi berteriak dengan suara serak.

Abiyan dan Martin untuk membuka mata mereka. Aldo dan Benny yang berada di samping Abiyan ikut terbangun. Demikian halnya dengan yang lain. Mereka bangkit dari lantai yang dingin dan keras meski terasa enggan. Beberapa masih mengantuk, sementara yang lain tampak lesu dan putus asa. Abiyan dan Martin saling melirik dengan tatapan sinis. Permusuhan di antara mereka masih belum mereda.

"Cepetan! Jangan lama-lama!" petugas itu kembali berteriak.

Para tahanan bergegas menuju pintu sel dan berbaris dengan tidak teratur. Petugas polisi itu memeriksa satu per satu, memastikan tidak ada yang menyembunyikan barang-barang terlarang.

Selesai memeriksa semua tahanan, petugas polisi itu berdiri di hadapan mereka dan mulai memberikan pengarahan. Nada suaranya tidak lagi membentak, tetapi lebih tenang dan serius.

"Kalian semua ini masih muda." Petugas polisi itu memulai. "Saya tahu, mungkin kalian merasa hebat dan keren dengan melakukan balapan liar. Tapi coba pikirkan baik-baik, apa yang kalian dapatkan dari itu semua? Cuma kesenangan sesaat yang bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain."

Abiyan dan Martin, serta para tahanan lainnya, terdiam mendengarkan dengan seksama.

"Saya tidak tahu apa alasan kalian melakukan ini," lanjut petugas itu. "Mungkin karena ikut-ikutan teman atau mungkin ingin mencari perhatian karena adanya masalah yang sedang kalian hadapi. Tapi yang jelas, balapan liar bukanlah solusi yang tepat."

"Kalian semua punya potensi untuk menjadi orang yang sukses dan berguna bagi masyarakat. Jangan sia-siakan masa muda kalian dengan melakukan hal-hal yang bodoh dan melanggar hukum," petugas itu menambahkan.

"Pikirkan keluarga kalian, orang tua kalian yang sudah susah payah membesarkan kalian. Apa kalian nggak kasihan sama mereka?" Pertanyaan itu membungkam mereka semua.

"Hari ini kalian akan diinterogasi lagi. Jawab semua pertanyaan dengan jujur, dan jadikan ini sebagai pelajaran yang berharga," petugas itu mengakhiri pengarahannya. Dia berharap kata-katanya bisa sedikit menyentuh hati mereka dan mulai merenungkan apa yabg telah mereka lakukan.

Para tahanan keluar dari sel dengan langkah pelan dan kepala tertunduk. Abiyan dan Martin saling berpandangan. Aura permusuhan masih kentara dari wajah mereka.

Selanjutnya mereka digiring menuju ruang makan kecil untuk mengambil jatah sarapan mereka. Abiyan dan Martin berdiri di ujung antrean, menjaga jarak satu sama lain. Mereka mengambil nampan dengan enggan lalu mencari tempat untuk duduk.

"Nggak nafsu gue makan makanan kayak gini," gumam Martin sambil mengaduk-aduk nasi di nampannya.

Abiyan tidak menjawab. Dia menatap makanannya dengan tatapan kosong. Pikirannya masih dipenuhi dengan pertanyaan tentang siapa yang mungkin menjebak mereka dan bagaimana cara keluar dari situasi ini.

Selesai sarapan, para tahanan diperintahkan untuk membersihkan sel. Abiyan dan Martin terpaksa bekerja sama membersihkan lantai yang kotor dan berdebu. Setiap kali mereka berpapasan, tatapan tajam dan kata-kata sinis selalu terlontar.

"Nggak usah sok rajin deh, gue tahu loe cuma pura-pura," kata Abiyan sambil menyapu lantai dengan kasar.

"Apa loe bilang?" Martin membalas dengan nada marah. "Gue emang nggak suka kerja, tapi gue nggak kayak loe yang cuma bisa nyalahin orang lain."

"Sudah, Bi, jangan memancing keributan. Memang loe nggak pengin cepat keluar dari sini?" Benny melerai mereka.

Abiyan terdiam mencerna kata-kata temannya. "Benny benar. Jika ingin cepat keluar dari sini setidaknya harus berkelakuan baik," batinnya.

Dia melanjutkan pekerjaan dalam diam. Suasana tegang dan tidak nyaman terus menyelimuti sel tahanan pagi itu yang terasa begitu panjang serta membosankan. Mereka berharap segera keluar dari tempat yang mengerikan itu.

Martin mendengus kesal, meski tetap melanjutkan pekerjaannya. Dia mengepalkan tangannya erat-erat, wajahnya mengeras dengan emosi meluap. "Aah... Si*l! Gue harus segera keluar dari tempat ini. Jangan sampai bokap gue tahu kalau gue ada di sini," batinnya.

.

.

.

Pagi itu, Bastian tiba di kantor, namun pikirannya masih terpaku pada pertengkarannya dengan Abiyan semalam. Putranya itu semakin menjauh, membuatnya merasa kehilangan kendali. Kesibukannya memimpin perusahaan membuatnya tak punya waktu untuk dekat dengan Abiyan. Dia hanya menuntut putranya untuk terus belajar agar bisa menggantikannya kelak, tetapi Abiyan justru memberontak dan berlaku semaunya. Bastian merasa kecewa dan kehilangan harapan.

Ketukan pintu membuyarkan lamunan Bastian. Tara, asistennya, masuk dengan wajah tegang.

"Selamat pagi, Tuan," sapanya seraya membungkukkan sedikit badannya.

"Selamat pagi," jawab Bastian heran. "Ada apa?" Dia mengerutkan keningnya tajam seolah memiliki firasat buruk.

"Maaf, Tuan. Ini... tentang Tuan Muda Abiyan," kata Tara ragu.

"Baru saja polisi memberitahu bahwa Tuan Muda bersama teman-temannya ditahan di kantor polisi sejak semalam. Mereka tertangkap saat sedang melakukan balapan liar dengan anggota geng motor," lanjutnya sambil menundukkan kepalanya.

Bastian terdiam, ekspresi wajahnya mendadak berubah dingin. Dia berusaha mengendalikan diri agar tidak meledak dengan amarah.

"Biarkan saja...." Bastian berkata dengan suara rendah, hampir berbisik. "...biarkan dia merasakan akibat dari perbuatannya."

Tara terkejut mendengar jawaban Bastian. "Tapi, Tuan... bagaimana jika berita ini sampai ke publik? Reputasi perusahaan bisa tercoreng," ujarnya khawatir.

Bastian menghela napas panjang. "Aku tahu itu. Tapi aku tidak akan mentolerir tindakan Abiyan kali ini. Dia harus belajar bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri."

"Lalu, apa yang harus saya lakukan, Tuan?" tanya Tara.

"Cari tahu semua detail tentang kasus ini," perintah Bastian. "Siapa saja yang terlibat, apa saja tuntutan yang diajukan, dan berapa biaya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah ini."

"Baik, Tuan," jawab Tara patuh.

"Tapi ingat, jangan lakukan apapun tanpa perintah saya," tegas Bastian. "Saya ingin melihat bagaimana Abiyan akan menghadapi masalah ini sendirian."

Tara mengangguk. "Saya mengerti, Tuan. Akan saya laksanakan."

Setelah Tara keluar dari ruangan. Bastian kembali bersandar di kursinya, memejamkan mata. Rasa kecewa dan amarah masih berkecamuk dalam dirinya. Dia berharap, kejadian ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi putranya, agar bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan bertanggung jawab.

.

.

.

Setelah beberapa hari mendekam di sel tahanan, akhirnya Abiyan beserta teman-temannya dibebaskan. Pihak kepolisian memberikan keringanan hukuman, sebab mereka berusaha berkelakuan baik, mengikuti semua aturan yang ada, dan menunjukkan penyesalan atas perbuatannya.

Abiyan keluar dari kantor polisi dengan wajah lesu dan rambut kusut. Di depan gerbang, Tara sudah menunggunya..

"Tuan Muda," sapa Tara dengan nada hormat. "Mari ikut saya."

Abiyan masuk ke dalam mobil. Selama perjalanan, suasana di dalam mobil terasa hening dan canggung. Abiyan merasa tidak enak untuk berbicara, sementara Tara hanya fokus mengemudi.

Namun, Abiyan mulai merasa curiga ketika Tara mengambil jalan yang tidak biasa. "Tara, kita mau ke mana? Ini bukan jalan menuju rumah," tanyanya.

"Maaf, Tuan Muda," jawab Tara tanpa menoleh. "Saya diperintahkan Tuan Bastian untuk membawa Anda ke suatu tempat."

"Ke mana?" Abiyan semakin penasaran dan khawatir.

Tara tidak menjawab. Ia terus melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, menjauhi kota.

Beberapa jam kemudian, mobil berhenti di tengah jalan. Di kanan kiri jalan terbentang padang luas dengan rumput ilalang yang bergoyang tertiup angin. Tempat itu begitu sunyi dan sepi, hanya desiran angin yang terdengar.

"Kita sudah sampai, Tuan Muda," kata Tara turun dari mobil dan membuka pintu untuk Abiyan.

"Sampai di mana? Ini tempat apa?" tanya Abiyan dengan nada bingung dan sedikit takut.

"Maaf, Tuan Muda. Saya hanya menjalankan perintah," jawab Tara. "Tuan Bastian ingin Anda belajar mandiri dan bertanggung jawab. Mulai sekarang, Anda harus bisa mengurus diri sendiri."

"Maksudnya...?"

1
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
itu karena Lo aslinya bego🤣
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
ngarang aja lo
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
keok dia. makanya jgn curang
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
tuh yg ditunggu² udah datang😄
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
ortu egois. kalau mau nikah lagi seharusnya cari laki² yg juga mau menerima putrimu
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
nungguin Abiyan ya🤭
Aditya hp/ bunda Lia
anak tiri emak durjana nya Naraya ....
Aditya hp/ bunda Lia: pasti 😂😂
total 2 replies
Cindy
lanjut
vj'z tri
waduh kalau Abi d tolak cewek terus apa kabar kalian 🤣🤣🤣🤣🤣
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: ya udah terima nasib🤭
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
emang kemjamu semula bagaimana? bentuk kodok atau kadal? di cci kan biar bersih, 🤧
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 3 replies
Esther
siapa dia
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: entahlah🤭
total 1 replies
ora
Mamanya, kah/CoolGuy/
Terus pemuda itu anak tirinya. Nggak punya sopan santun banget ....
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: mungkin🤭
total 1 replies
ora
Haduhhh. Perkara kemeja aja jadi ngehina orang😒😒
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lha iyo
total 1 replies
Patrick Khan
wahhh anak manja kyk nya itu😒
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: masa????
total 1 replies
Tiara Bella
siapa lg nh perempuan ibunya kah.....
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: mungkin🤭
total 1 replies
Esther
Aku juga cinta kamu Abiyan.....kata Naraya🤭
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤭😍🫶🫰😂
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
pertanyaanmu terjawab setelah membuka tas bekalnya.
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nar Sih
ungkapan cinta keluar juga ,pasti nara menerima cinta mu abyan ,tpi kmu mesti sabar nunggu hinga nara sdh lahiran
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: huumm
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
Waaw, ... Biyan 👍
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 😍😍😍😍😍
total 1 replies
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
sudah kuduga. ayo Biyan, tunjukkan kalau kamu tdk bisa dipandang remeh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!