Tian Yuofan tumbuh dalam kehidupan yang tidak pernah mudah. Sejak usia delapan tahun, ia sudah harus belajar bertahan sendiri, merawat ibunya yang kehilangan kewarasannya akibat trauma masa lalu. Ia bahkan tidak bisa menyentuhnya, takut memicu trauma ibunya.
Tanpa keluarga yang utuh, tanpa teman, Yuofan menjalani hari-harinya sendirian di dunia yang tidak memberi banyak ruang bagi orang lemah. Ia belajar memahami lingkungan, membaca keadaan, dan bertahan dengan caranya sendiri.
Namun suatu hari, sebuah kejadian yang awalnya tampak seperti kesialan justru membawanya pada sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya—sebuah pertemuan yang perlahan mengubah arah hidupnya.
Dari sana, perjalanan yang tak pernah ia pikirkan pun benar-benar dimulai…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KuntilTraanak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1—Kejar-kejaran
Di antara perbukitan yang bergelombang dan hutan lebat yang mengitari dari segala arah, berdirilah sebuah desa kecil. Asap tipis mengepul dari cerobong rumah, suara alu menumbuk padi terdengar teratur, dan anak-anak berlarian di jalan tanah tanpa rasa khawatir. Kehidupan di sana berjalan tenang, seolah dunia luar tak pernah menyentuhnya.
Namun ketenangan itu tidak sepenuhnya utuh. Di sisi lain desa, dekat pasar yang biasanya ramai oleh tawar-menawar dan canda ringan, suasana berubah tegang. Keranjang-keranjang dagangan terbalik, kain-kain bergoyang tertiup angin, dan orang-orang menoleh dengan wajah terkejut.
Seorang anak laki-laki berlari sekuat tenaga.
Usianya tak lebih dari delapan tahun. Tubuhnya kecil, napasnya tersengal, namun kakinya terus bergerak tanpa henti. Dari belakang, suara teriakan orang dewasa mengejarnya—berat, keras, dan penuh kemarahan. Rambut anak itu pendek dan hitam, terlihat lepek dan kusut akibat keringat yang bercucuran. Wajahnya sebenarnya terbilang teratur, garis-garisnya halus dan bersih seperti anak pada umumnya. Namun ada sesuatu yang membuat siapa pun yang melihatnya tak bisa berpaling begitu saja.
Bola mata kanannya berwarna kuning, tajam dan mencolok di bawah cahaya matahari. Sementara mata kirinya tertutup warna putih pucat, seolah tak lagi memantulkan cahaya. Kulit di sekitarnya pun menyisakan bekas luka bakar yang kasar dan tidak rata, kontras dengan sisi wajahnya yang lain.
Setiap kali ia menoleh ke belakang, ekspresinya tak menunjukkan ketakutan tetapi malah rasa kesal.
Beberapa saat yang lalu, sebelum kejadian kejar-kejaran terjadi. Anak itu tengah berdiri depan sebuah stand pedagang yang menjual belikan daging dan kulit hewan buas. Di tangan kirinya terdapat beberapa kulit hewan yang telah ia kuliti, sedangkan di tangan kanannya terdapat daging yang telah di potong-potong lalu di ikat menggunkan daun pandan.
“Kali ini buruan ku cukup besar,” ucap anak itu penuh percaya diri. “Daging dan kulit ini adalah milik hewan buas tingkat 2, yaitu beruang api!” Ia meletakan barang bawaannya di meja yang ada pada stand tersebut.
Pria dengan apron berwarna coklat terlihat terkejut. “Ah, yang benar saja bocah?!” pria itu memeriksa daging dan kulit dihadapannya.
“Ayolah paman, sejak kapan aku berbohong. Aku sudah menjadi langganan mu selama 7 bulan disini.” ujarnya seraya menepuk dada dengan bangga.
Pria itu terlihat mengangguk, ia telah memeriksa daging tersebut dan dapat dipastikan bahwa daging itu adalah asli. Ia kemudian merogoh saku yang ada pada apron itu, lalu memberikan sekantung uang yang berisikan banyak koin-koin perak.
“Nah, ini harga yang bisa aku berikan.” Pria itu tersenyum senang karena telah mendapatkan daging dengan kualitas tinggi. Begitupun dengan anak itu, yang juga terlihat senang karena mendapat hasil yang cukup banyak. Ia pun tak sabar untuk membelikan cemilan sebagai buah tangan untuk ibunya.
Namun saat anak itu hendak balik badan, ia ditabrak oleh seorang bocah laki-laki lain yang kemudian mereka pun terjatuh bersamaan. Anak yang menabraknya terlihat seusia dengannya, ia terlihat memiliki sebuah tahi lalat di mata sebelah kanannya dan itu nampak sangat khas. Anak itu kemudian mengambil kantung miliknya yang terjatuh, setelahnya ia lanjut berlari. Sedangkan anak laki-laki yang memiliki kebutaan disalah satu matanya hanya mendengus kesal, ia juga mengambil kantung uangnya yang terjatuh.
Tetapi ketika ia sedang membersihkan pakaiannya yang kotor oleh tanah, kumpulan pria dengan pakaian serba hitam meneriakinya sebagai pencuri. Ia awalnya tak merasa teriakan itu tertuju padanya, namun tatapan mereka jelas-jelas mengarah padanya. Ia pun berusaha menyangkalnya, tetapi pria itu berlari semakin dekat dengan pedang yang diangkat tinggi-tinggi. Hal tersebut membuatnya terpaksa berlari menjauh dari sana.
Dan itulah yang terjadi sebelumnya. Kembali kesaat ini, anak itu terlihat masih dikejar oleh orang-orang berpakaian hitam. Ia terus menghindar dengan memasuki gang-gang sempit, tetapi orang-orang itu tak menyerah mereka terus mengikutinya kemanapun ia pergi.
“Hei, hei, berhenti menghakimi orang. Aku tak mencuri apapun!” teriak bocah itu yang tak digubris sama sekali.
“Huh! Manusia-manusia brengsek, selalu saja begini.” gumamnya seraya melompat kesalah satu rumah di sana.
Ia kemudian berlari di atas atap rumah, sedangkan orang yang mengajar masih terus mengikutinya. Akhirnya karena tak ada jalan lain, ia memasuki hutan tempatnya tinggal. Karena sudah tahu medan disana, ia memiliki ide yang menurutnya cukup untuk membuat orang-orang itu berhenti mengejarnya.
Ia terus berlari hingga memasuki hutan cukup dalam, bahkan lebih jauh dari gua tempatnya tinggal. Ia lalu berbelok tajam menuju rawa di tengah hutan, tempat yang jarang dilewati oleh hewan buas maupun manusia. Karena tanahnya yang lunak dan pohon-pohonnya tumbuh rapat dengan akar mencuat seperti jebakan alami.
Kaki kecilnya menghantam lumpur tanpa ragu. Begitu mencapai deretan pohon tumbang yang melintang di atas genangan, ia tidak melambat. Tangannya mencengkeram batang pertama, tubuhnya terangkat ringan, lalu ia melompat ke batang berikutnya. Gerakannya cepat dan terukur, seolah ia sudah berkali-kali melintasi jalur itu. Lumpur dan air keruh terciprat di bawahnya, tetapi tubuhnya hampir tak tersentuh.
Di belakangnya, para pria yang mengejar mulai kehilangan ritme. Sepatu mereka terperosok, langkah mereka terhambat oleh akar dan genangan. Batang-batang pohon yang tadi tampak seperti pijakan kini berubah menjadi penghalang bagi tubuh-tubuh yang lebih besar dan berat.
Salah satu dari mereka mengumpat keras, karena kesal dan tak ingin kehilangan jarak lebih jauh, beberapa pria itu berhenti dan mengambil keputusan nekat. Kilatan baja terangkat ke udara, lalu melesat ke arah bocah itu.
Anak itu mendengar desingan tipis membelah angin. Tanpa menoleh sepenuhnya, ia memiringkan tubuhnya di atas batang pohon, membiarkan benda tajam itu melintas di sampingnya dan terbenam di kayu dengan suara menghentak. Ia melompat lagi sebelum keseimbangannya hilang, mendarat dengan ringan di batang terakhir.
Satu langkah lagi, dan ia sudah melewati batas rawa. Ia tidak berhenti untuk melihat apakah mereka masih mengejar atau tidak. “Dasar orang tua payah!” ejek anak itu mendapati bahwa mereka semua kesulitan dirasa. Ia kemudian memukul bokongnya kearah para pria berbaju hitam itu sebagai tanda ejekannya.
“Ugh! Awas saja kau bocah tengik!” salah satu diantaranya terlihat geram, ia kemudian menggunakan energi qi nya hingga meledak dan membuat air serta lumpur pada rawa itu terpecah. Dari pecahan itu terciptalah sebuah jalan yang memudahkan mereka untuk melewati rawa.
“Sial!” anak itu kembali berlari menjauh dari sana dengan para pria berbaju hitam yang kembali mengejarnya. Mereka terlihat semakin gesit karena kini mereka tak meremehkan bocah itu. Mereka menggunakan energi qi pada tubuhnya agar memperkuat langkah kakinya.
“HEI! Itu namanya licik!” teriak anak itu, suaranya melengking antara marah dan terkejut, melihat para pria itu kini berada tepat di belakangnya. Langkah mereka berat, napas mereka kasar, dan jarak di antara mereka hanya tinggal beberapa jengkal.