Nirmala Dizan tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan ujian yang begitu besar dan tak terduga. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan kemudian ia harus menghadapi kekejaman dunia bisnis yang penuh intrik sendirian. Di saat dirinya putus asa terbitlah sebuah asa, pertemuan dengan Aleandra Nurdin seorang mahasiswa yang mampu mengubah hidup Nirmala yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelamatan Dramatis
Ia perlahan membuka topinya, membiarkan rambut putihnya yang acak-acakan tertiup angin. Di balik kepulan asap yang mulai menipis, matanya menangkap sosok Nirmala yang tampak kecil di balik jendela kaca lantai atas.
"Mmph... Hmph... Hahahaha!"
Tawa Rini pecah, menyatu dengan suara sirine yang tak kunjung berhenti. Ia tertawa hingga tubuhnya melengkung ke belakang, menarik perhatian beberapa pejalan kaki yang ketakutan, namun ia tidak peduli. Baginya, dunia saat ini hanyalah panggung sandiwara di mana ia adalah sutradaranya.
Ia meraba lehernya, seolah-olah selendang sutra hitamnya yang legendaris masih ada di sana. Meski kain itu sudah hilang, rasa haus akan kekuasaan masih melilit lehernya dengan kencang.
"Kau pikir kau sudah menang karena aku dipenjara?" desis Rini, menyeringai hingga deretan giginya yang kuning terlihat mengerikan. "Kau salah, Nirmala. Penjara itu hanyalah rahim tempat aku melahirkan dendam yang lebih sempurna."
Ia melangkah maju, mendekati pembatas jalan, menatap gedung Dizan Holding seolah-olah ia sedang menatap mangsa yang siap disembelih.
"Dendamku abadi, Keponakanku sayang," bisiknya dengan nada yang sangat tenang namun mengandung ancaman maut. "Aku akan membakar setiap kenangan tentang ayahmu. Aku akan menghancurkan setiap orang yang kau cintai. Dan pada akhirnya, aku akan berdiri di atas abu gedung ini, tertawa melihat kau memohon kematian padaku."
Rini meludah ke arah jalanan, lalu berbalik dan menghilang di balik kerumunan orang yang panik. Ia bergerak seperti bayangan, licin dan tak teraba, meninggalkan jejak ketakutan yang akan menghantui Nirmala sepanjang malam.
****
Di lobi yang kini bersimbah air dari sistem sprinkler, Aleandra Nurdin tiba dengan napas terengah-engah. Ia baru saja mendapatkan kabar dari berita daring dan langsung memacu motornya secepat kilat. Ia melihat petugas medis mulai mengevakuasi korban luka ringan yang terinjak-injak.
"Nirmala! Di mana Nirmala?!" teriak Ale pada petugas keamanan.
"Dia di atas, Tuan! Lift dimatikan, dia terjebak di lantai eksekutif!"
Ale menatap tangga darurat dengan mata penuh amarah. Ia tahu, Rini telah kembali. Dan kali ini, perang tidak akan berakhir dengan jeruji besi rumah sakit jiwa. Kali ini, salah satu dari mereka harus benar-benar binasa agar yang lain bisa tenang.
Di kantornya yang sunyi di atas sana, Nirmala hanya bisa berdiri mematung, mendengarkan gema sirine yang seolah menjadi lagu pengantar tidur bagi iblis yang baru saja bangkit dari tidurnya.
****
Udara di lantai eksekutif Dizan Holding tak lagi beraroma kemewahan. Oksigen yang tadinya bersih kini telah terkontaminasi oleh partikel abu kelabu yang merayap masuk melalui celah pintu dan sistem ventilasi yang malfungsi. Nirmala Dizan berdiri di tengah ruangannya, terbatuk-batuk kecil dengan sapu tangan yang ia tekan kuat ke hidung. Rasa takut yang sempat ia kubur kini bangkit kembali, lebih mencekam daripada sebelumnya.
"Nona! Keluar!" suara teriakan itu sayup-sayup terdengar dari arah koridor.
Nirmala membuka pintu jati besarnya. Di sana, di tengah remang lampu darurat yang berkedip merah, Aleandra Nurdin muncul bagaikan malaikat maut yang baru saja bertarung dengan neraka. Wajah Ale coreng-moreng oleh jelaga, napasnya memburu, dan kaosnya basah oleh keringat dan air dari sistem sprinkler.
"Ale!" Nirmala menghambur ke pelukan pemuda itu, mengabaikan segala protokol kewibawaan direktur utama. Tubuhnya gemetar hebat.
"Jangan ke lift, Nona. Itu jebakan maut kalau listrik mati total. Kita lewat tangga darurat!" Ale merangkul bahu Nirmala, menuntunnya menuju pintu besi tebal di ujung lorong.
****
Saat pintu tangga darurat dibuka, pemandangan di hadapan mereka jauh lebih buruk. Kepulan asap hitam membubung naik dari bawah dengan kecepatan yang mengerikan, menciptakan lorong gelap yang menyesakkan dada. Jarak pandang hanya tinggal satu meter.
"Uhuk! Ale... terlalu tebal," Nirmala terhuyung. Paru-parunya mulai protes, rasa perih menjalar dari tenggorokan hingga ke ulu hati.
"Tetap rendah, Nona! Merangkak kalau perlu!" Ale melepaskan jaket luarannya, membasahinya dengan sisa air botol yang ia bawa, lalu melingkarkannya ke wajah Nirmala. "Pegang tangan gue. Jangan lepas. Kalau lo lepas, kita kehilangan satu sama lain di kegelapan ini."
Mereka menuruni anak tangga demi anak tangga dalam keheningan yang hanya dipecahkan oleh suara sirine yang menggila dan deru napas yang sesak. Di lantai 15, suhu udara mulai meningkat. Nirmala merasa kakinya seperti jeli, namun genggaman tangan Ale yang kasar dan kuat menjadi satu-satunya penyambung nyawanya.
"Gue nggak akan biarkan dia menyentuh lo lagi, Nirmala. Gue sumpah," bisik Ale di sela napasnya yang berat.
Di setiap lantai yang mereka lewati, suara pintu digedor dan teriakan karyawan yang terjebak terdengar memilukan. Namun Ale tahu, tugas utamanya adalah mengeluarkan sang pewaris. Dengan sisa tenaga, ia memapah Nirmala melewati lantai lobi yang kini bersimbah air dan puing-puing kaca, menembus kabut asap terakhir menuju udara terbuka.
****
Begitu mereka keluar dari pintu lobi, pemandangan luar biasa menyambut mereka. Halaman gedung Dizan Holding telah berubah menjadi zona merah. Belasan mobil pemadam kebakaran menyemprotkan air, ambulans berderet dengan lampu biru yang berputar-putar, dan garis polisi kuning membentang membatasi kerumunan media dan warga yang menonton.
Petugas medis segera berlari mendekat saat melihat Ale memapah Nirmala yang nyaris pingsan.
"Beri jalan! Korban sesak napas!" teriak seorang paramedis.
Nirmala dibaringkan di atas brankar. Oksigen murni segera diberikan melalui masker plastik. Ia menatap ke arah gedungnya yang menjulang, melihat asap hitam yang keluar dari celah-celah jendela. Di antara kerumunan itu, ia mencari-cari sosok mantel abu-abu, namun ia tidak menemukan apa pun.
"Anda harus ke rumah sakit sekarang, Nona Dizan. Ada indikasi iritasi saluran pernapasan yang serius," ucap dokter jaga.
Ale menggenggam tangan Nirmala sebelum brankar itu dimasukkan ke dalam ambulans. "Gue ikut. Gue nggak akan biarkan lo sendirian."
Rumah Sakit Medika tampak tenang saat ambulans yang membawa Nirmala tiba. Namun, ketenangan itu adalah ilusi yang mematikan. Di balik pilar beton gedung parkir rumah sakit, Rini Susilowati mengamati dengan senyum miring yang mengerikan. Ia telah berganti pakaian—kini mengenakan jas putih panjang milik seorang perawat yang ia lumpuhkan di toilet tadi.
Di tangannya, ia menjinjing sebuah tas medis yang isinya bukan obat-obatan, melainkan empat tabung gas asap kimia hasil jarahannya.
"Rumah sakit adalah tempat untuk mati, bukan untuk sembuh, Nirmala," desis Rini. Ia menarik selendang imajinernya, melakukan gerakan seolah sedang mencekik udara.
Di dalam ruang observasi IGD, Nirmala mulai merasa lebih baik. Ale duduk di sampingnya, meski perawat berkali-kali memintanya untuk membersihkan luka-lukanya sendiri.
"Ale, pergilah bersihkan dirimu. Aku sudah aman di sini. Ada polisi di depan pintu," ucap Nirmala lembut di balik masker oksigennya.
"Gue nggak percaya pada siapa pun kecuali diri gue sendiri hari ini," sahut Ale tajam.