"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."
Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Aroma maskulin dari parfum kayu cendana milik Garvi masih memenuhi udara di suite pribadi itu, bercampur dengan keharuman bunga mawar dari tubuh Sava. Di dalam ruangan yang hanya diterangi cahaya sore temaram yang menyelinap dari balik gorden, keheningan terasa begitu berat.
Garvi sudah berdiri di depan cermin besar, merapikan kemeja putihnya yang tadi sempat berantakan. Ia mengenakan kembali jas custom-made abu-abunya dengan gerakan yang sangat tenang, seolah badai gairah dan amarah yang baru saja terjadi hanyalah sebuah interupsi kecil di tengah jadwal bisnisnya.
Sementara itu, Sava masih berbaring di atas ranjang. Ia menarik selimut sutra berwarna emas hingga ke dada, menyandarkan tubuhnya pada headboard kayu jati yang dipahat halus. Rambut brunette curly-nya tersebar berantakan di atas bantal, dan matanya menatap kosong ke arah jendela.
Garvi berbalik, melangkah mendekat ke arah ranjang. Ia membungkuk, memberikan satu kecupan yang terasa hangat namun penuh klaim di kening Sava.
"Aku menunggumu di ruang konferensi sepuluh menit lagi, Miss Sava. Kamu harus menemaniku di sana untuk koordinasi divisi," ucap Garvi, suaranya kembali ke nada bariton yang berwibawa.
Sava meliriknya dengan tatapan sinis. "Menemani? Mr. Garvi, apakah Anda buta? Anda baru saja menghancurkan penampilanku. Bagaimana aku bisa menemui para kepala divisi dengan tubuh yang... penuh tanda seperti ini?"
Garvi tidak merasa bersalah. Sebaliknya, ia menyeringai, sebuah senyum kemenangan yang membuat paras rupawan bak dewa Yunani-nya terlihat semakin manipulatif.
"Kamu adalah COO Skyline Group yang paling cerdas, Sayang. Aku yakin kamu jauh lebih pintar dariku dalam menangani hal-hal kecil seperti ini," bisik Garvi. Ia mengerlingkan sebelah matanya dengan gaya Cassanova yang memabukkan, lalu berbalik menuju pintu.
"Aku akan memanggilkan Winata untuk membantumu. Jangan terlambat."
Klik. Pintu tertutup rapat, meninggalkan Sava dalam kemarahan yang membuncah.
Begitu Garvi pergi, Sava segera meraih ponselnya di nakas. Jemarinya yang masih sedikit gemetar mengetik pesan singkat untuk satu-satunya orang yang ia percayai di gedung ini.
Sava: Win, ke ruangan Mr. Garvi sekarang. Masuk lewat pintu rahasia. Bawakan pil KB-ku dari laci meja kerjaku. Sekarang.
Sava menyingkirkan selimutnya. Ia bangkit dengan sisa-sisa tenaga, melangkah menuju kamar mandi mewah di dalam suite itu. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Jejak kemerahan di leher dan tulang selangkanya tampak begitu kontras di atas kulit putihnya. Itu adalah stempel kepemilikan Garvi.
"Aku tidak akan membiarkanmu menang, Mas," bisik Sava pada dirinya sendiri.
Tak berapa lama, suara ketukan pelan terdengar dari pintu penghubung ruang kerja. Winata masuk dengan wajah cemas, membawa sebuah botol kecil dan segelas air mineral. Ia langsung menuju kamar mandi tempat Sava baru saja keluar dengan jubah mandi (bathrobe) sutra putih.
"Ini, Va. Kamu yakin?" tanya Winata pelan, menyodorkan pil kecil itu.
Tanpa ragu, Sava mengambil pil itu dan menelannya dalam sekali teguk. Air mineral itu terasa dingin di tenggorokannya, namun tidak sedingin hatinya saat ini.
"Aku tidak mungkin hamil anak Garvi, Win. Tidak sekarang, mungkin tidak akan pernah selama dia masih memandangi wanita lain dan menganggapku hanya sebagai properti yang bisa dia tandai kapan saja dia mau," ucap Sava tegas. Ada luka yang sangat dalam di balik nada bicaranya.
Winata mendesah prihatin. Ia mulai membantu Sava bersiap, mengambilkan setelan baju cadangan yang selalu tersimpan di lemari suite itu.
"Sava... sejujurnya, apa yang terjadi tadi? Kamu dan Mr. Garvi... sepertinya lebih dari sekadar perdebatan bisnis," tanya Winata sambil membantu merapikan rambut Sava.
"Aku bertemu Arkan di Le Jardin," jawab Sava pendek. "Dan Garvi mengamuk seolah-olah aku baru saja melakukan pengkhianatan negara."
Winata terhenti, lalu tertawa kecil yang membuat Sava mengernyit. "Garvi itu cinta mati padamu, Va. Hanya saja, harga dirinya setinggi gedung ini dan egonya sebesar Medan. Dia tidak tahu cara mengekspresikan ketakutannya kehilanganmu selain dengan bersikap posesif seperti tadi."
Sava tertawa hambar, sebuah tawa yang sarat akan sarkasme. "Cinta mati? Tidak, Win. Itu bukan cinta. Itu obsesi. Dia hanya tidak suka mainannya disentuh atau dilirik oleh orang lain. Baginya, aku adalah piala yang harus dia simpan di lemari kaca."
Sava kemudian memilih sebuah blus sutra berwarna biru gelap dengan model leher tinggi (high-neck) yang memiliki detail tali panjang. Ia mengikat tali itu membentuk simpul pita yang elegan di lehernya, menutupi seluruh jejak kemerahan yang ditinggalkan Garvi dengan sempurna. Ia memoles wajahnya dengan riasan yang lebih tegas, menutupi pucat di pipinya dengan blush-on tipis.
"Sempurna," gumam Winata melihat transformasi sahabatnya. "Dari wanita yang rapuh di ranjang, kembali menjadi COO yang mematikan dalam waktu lima belas menit."
"Ini adalah perisai pelindungku, Win. Mari kita selesaikan rapat ini," ajak Sava, suaranya kini kembali dingin dan profesional.
**
Ruang Konferensi Utama SK Group. Pukul 16.05 WIB.
Pintu ganda ruang konferensi yang terbuat dari kayu mahoni berukir terbuka lebar. Di dalam, suasana sangat hening. Seluruh kepala divisi dari pemasaran hingga operasional sudah duduk rapi, menunggu dengan buku catatan dan laptop yang terbuka.
Di ujung meja, Garvi Darwin duduk dengan gaya angkuh. Ia sedang memutar-mutar pulpen emas di jemarinya, tampak bosan hingga pintu itu terbuka.
Sava melangkah masuk dengan Winata di sampingnya. Setiap mata di ruangan itu seketika tertuju padanya. Meskipun mereka sudah terbiasa melihat kecantikan Sava, sore ini sang COO tampak memiliki aura yang berbeda—lebih tajam, lebih dingin, dan entah mengapa, lebih mempesona.
Sava tidak memandang Garvi. Ia langsung menuju kursinya yang berada di sebelah kanan kursi CEO.
"Maaf saya terlambat, ada beberapa kendala operasional yang harus diselesaikan terlebih dahulu," ucap Sava tanpa nada permintaan maaf yang tulus. Suaranya bergema di ruangan yang luas itu, menciptakan getaran profesionalisme yang kaku.
Garvi menatap Sava dari sudut matanya. Ia memperhatikan blus leher tinggi yang dipakai istrinya. Sebuah seringai tipis muncul di bibirnya. Ia tahu persis apa yang disembunyikan di balik sutra biru itu. Ia merasa puas karena dialah alasan mengapa kain itu harus ada di sana.
"Tidak masalah, Miss Sava. Kehadiran Anda sangat penting untuk memulai koordinasi ini," sahut Garvi formal, meskipun matanya berkilat menggoda, sebuah pesan rahasia yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua.
Sava membuka iPad-nya, mengabaikan tatapan Garvi yang membakar kulitnya. "Bisa kita mulai laporannya dari Divisi Pemasaran? Saya ingin tahu sejauh mana perkembangan kampanye untuk proyek Ring Road setelah kunjungan Mr. Garvi dari China."
Rapat pun dimulai. Di depan belasan saksi yang tidak tahu apa-apa, sepasang suami istri itu saling melempar argumen tajam mengenai angka dan strategi bisnis. Mereka terlihat seperti rival yang saling menghormati, namun di bawah meja, tensi yang mereka bangun jauh lebih rumit dari sekadar masalah profit perusahaan.
Di sela-sela rapat, Garvi sengaja menggeser berkasnya hingga menyentuh tangan Sava. Sava dengan cepat menarik tangannya, memberikan tatapan peringatan yang paling tajam.
"Mr. Garvi, tolong fokus pada grafik di depan Anda," ucap Sava tegas.
Beberapa kepala divisi saling berpandangan, merasa tegang dengan interaksi kedua atasan mereka. Mereka berpikir bahwa Mr. Garvi dan Miss Sava mungkin sedang tidak akur karena masalah pekerjaan. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa di balik syal biru itu, ada tanda klaim yang masih berdenyut, dan di dalam tas Sava, tersimpan rahasia pahit tentang penolakan terhadap garis keturunan sang CEO.
***