NovelToon NovelToon
GERBANG COSMIC

GERBANG COSMIC

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Sistem / Time Travel
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: EsyTamp

akhir zaman tiba, gerbang dimensi terbuka dan monster menghancurkan dunia, Rey kembali ke waktu sebelum gerbang pertama terbuka dan memiliki kekuatan baru untuk menghadapi zaman Akhir. Dia diberi kesempatan kedua untuk hidupnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsyTamp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2- Persiapan Sebelum Akhir

Pagi itu, sinar matahari menembus jendela rumah Rey, menerangi ruangan yang terasa begitu asing sekaligus akrab baginya. Ia duduk di tepi sofa sambil menatap kedua tangannya sendiri.

Semua yang terjadi kemarin masih terasa seperti mimpi: kematian Sila, kiamat, lalu kebangkitannya kembali ke masa sebelum semuanya terjadi.

Rey menghela napas panjang.

“Kesempatan kedua…” gumamnya pelan.

Ia bangkit dan berjalan menuju titik di udara tempat ruang dimensi itu muncul sebelumnya. Begitu disentuh, sebuah pintu transparan terbuka, memperlihatkan dunia lain yang tenang dan luas. Padang rumput hijau membentang sejauh mata memandang, sungai jernih mengalir dengan suara gemericik yang menenangkan, dan udara segar memenuhi paru-parunya.

Rey melangkah masuk.

“Di sinilah aku harus mempersiapkan semuanya,” ucapnya lirih.

Ia mendekati sungai dan meminum airnya. Rasanya segar, jauh berbeda dari air asin hasil penyaringan yang ia minum saat kiamat. Tubuhnya terasa lebih ringan, seolah kelelahan yang tersisa di dalam dirinya perlahan menghilang.

Tring…

Sebuah layar transparan muncul di hadapannya.

Daya Tahan: +10 poin

“Jadi berada di sini saja sudah bisa memperkuat tubuhku,” gumam Rey. “Kalau begitu, ruang dimensi ini bukan hanya tempat penyimpanan, tapi juga tempat latihan.”

Ia mulai memikirkan rencananya dengan serius. Pengalaman lima tahun hidup di dunia kiamat memberinya pengetahuan yang tidak dimiliki siapa pun saat ini.

Langkah pertama: persediaan makanan.

Rey kembali ke dunia nyata dan membuka kulkas rumahnya. Semua bahan makanan yang ada ia kumpulkan: beras, telur, ikan, sayuran, dan daging olahan. Satu per satu, ia memasukkannya ke dalam ruang dimensi. Di dalam dunia itu, makanan tersimpan rapi seolah berada di gudang tak terlihat.

“Ini masih jauh dari cukup,” katanya. “Aku harus menimbun sebanyak mungkin.”

Ia mengambil tas besar dan bersiap pergi ke supermarket. Sebelum keluar rumah, ia memandang foto orang tuanya yang tergantung di dinding.

“Ayah, Ibu… kali ini aku akan melindungi Sila. Aku janji.”

Perjalanan ke supermarket terasa aneh. Dunia masih terlihat normal: orang-orang berjalan santai, kendaraan lalu lalang, dan tidak ada tanda-tanda kehancuran. Namun Rey tahu, semua ini hanya ketenangan sebelum badai.

Di seberang jalan, ia melihat dua perempuan berdiri sambil mengobrol. Salah satunya langsung dikenali Rey: Sisca.

“Eh, Sis, itu kan Rey, cowok yang dua tahun ini ngejar kamu,” ujar temannya sambil menunjuk.

Sisca melirik sekilas.

“Biarkan saja. Aku cuma tertarik sama asuransi jiwa orang tuanya. Kalau tabungannya habis, dia sudah tidak berguna lagi.”

Rey memandangnya lama, tetapi ekspresinya tetap tenang. Dulu, setiap bertemu dengannya jantungku berdegup kencang dan apapun kulakuan padanya. Namun sekarang, setelah merasakan kiamat dan kematian, perasaan seperti itu tidak berarti apa-apa baginya.

Ia masuk ke supermarket dan mulai membeli persediaan besar-besaran: beras, mie instan, makanan kaleng, daging beku, dan air minum kemasan. Troli penuh hingga hampir tak bisa didorong.

Kasir menatapnya heran.

“Mau buka warung, Mas?”

Rey tersenyum tipis. “Kurang lebih begitu.”

Ia membayar dengan tabungan yang tersisa, lalu membawa semua barang ke rumah. Setelah itu, ia memindahkannya ke ruang dimensi. Persediaan di dalam dunia itu bertambah banyak, tersusun rapi seperti gudang besar.

Setelah selesai, Rey duduk di atas rumput di ruang dimensi, menatap sungai yang mengalir.

“Persediaan dasar sudah aman. Sekarang tinggal melatih kekuatan.”

Ia berdiri dan mengaktifkan kemampuan tamengnya. Sebuah lapisan transparan muncul di sekeliling tubuhnya. Ia mencoba memukul tameng itu sendiri, lalu melempar batu kecil ke arahnya.

“Masih lemah,” gumamnya. “Kalau diserang monster kelas menengah, tameng ini pasti langsung hancur.”

Rey mengulangi latihan berkali-kali. Setiap kali tamengnya pecah, ia memanggilnya lagi. Tubuhnya terasa panas dan napasnya memburu, tapi ia tidak berhenti.

“Aku tidak boleh lemah lagi,” katanya sambil mengingat tubuh Sila yang tak bernyawa di masa depan. “Aku tidak boleh gagal.”

Sore hari, Rey kembali ke dunia nyata untuk membeli beberapa perlengkapan tambahan: pisau, senter, obat-obatan, dan pakaian tebal.

Saat keluar dari supermarket, seseorang memanggil namanya.

“Rey!”

Ia menoleh. Sisca berdiri di hadapannya dengan kedua tangan di pinggang.

“Kenapa nggak datang waktu aku ajak?” tanyanya dengan nada kesal.

Rey menatapnya sebentar, lalu menghela napas.

“Sis… aku ada urusan penting. Aku tidak bisa ikut.”

Sisca mendengus.

“Memangnya kamu tidak peduli lagi denganku, ya?”

Rey tersenyum tipis.

“Aku sedang sangat sibuk akhir-akhir ini.”

Sisca terdiam sejenak, seolah tidak menyangka jawaban itu. Wajahnya berubah kesal.

“Kamu aneh sekarang,” katanya dingin. “Dulu kamu selalu langsung datang kalau aku panggil.”

Rey tidak menjawab. Ia hanya mengangguk singkat dan melangkah pergi.

Sisca menatap punggung Rey yang menjauh, lalu berbalik pada temannya.

“Ada apa dengannya? Dulu dia bahkan rela menjilat sepatuku,” gumamnya dengan nada kesal.

Rey tidak peduli lagi dengan percakapan itu. Di dalam pikirannya, hanya ada satu hal: persiapan.

Malam itu, ia kembali ke ruang dimensi dan menata semua barang yang telah dikumpulkan. Persediaan makanan tersusun rapi di satu sisi, peralatan bertahan hidup di sisi lain.

“Dengan ini, setidaknya kami tidak akan kelaparan seperti sebelumnya,” katanya pada dirinya sendiri.

Ia duduk di tepi sungai dan memandang langit di dunia dimensi yang berwarna kebiruan.

“Besok aku harus mulai melatih tubuhku lebih keras. Aku juga harus mencari cara untuk membangkitkan kekuatan tempur… bukan hanya bertahan.”

Rey mengepalkan tangannya.

“Monster… bunker… superhuman… kali ini aku tidak akan hanya bersembunyi. Aku akan menjadi cukup kuat untuk melindungi Sila.”

Di luar sana, dunia masih tampak normal. Namun jauh di suatu tempat yang tak terlihat, retakan kecil mulai muncul di langit—tanda awal dari kiamat yang perlahan mendekat.

Rey tidak mengetahuinya. Ia hanya tahu satu hal: waktu terus berjalan, dan setiap hari yang terbuang adalah kesempatan yang hilang.

Rey telah memanfaatkan ruang dimensi untuk mengumpulkan persediaan dan memulai latihan. Pertemuannya dengan Sisca menunjukkan bahwa dunia lama masih mengikatnya, tetapi tekadnya kini telah berubah.

Sementara itu, ancaman kiamat perlahan bergerak mendekat, menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan segalanya.

1
Mahlubin Ali
itu itu aja dialognya🤣🤣🤣. Bab lalu sama bab sekarang dialog hampir sama. novel aneh
EsyTamp: thanks bang koreksi ny, akan lebih sy perhatikan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!