NovelToon NovelToon
Kesempatan Kedua Untuk Menikahimu

Kesempatan Kedua Untuk Menikahimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Time Travel / Aliansi Pernikahan / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Pada kehidupan sebelumnya Ashilla dipaksa menikah dengan seorang pria yang dikabarkan kejam dan diduga sadis namun secara tegas Ashilla melawan keinginan ayahnya itu sehingga ia malah dibebankan hutang yang sangat besar karna sudah dibesarkan oleh keluarga Clinton namun tidak membalas budi.

Bertahun-tahun kemudian saat ia hendak membayar hutang tersebut, ibu tirinya datang dan memaksanya untuk menanggung kesalahan atas putrinya yang menabrak seseorang saat mengendarai mobil dengan ugal-ugalan.

Saat itulah kehidupannya hancur, untungnya waktu kembali berputar pada hari dimana semua tragedi tersebut belum terjadi dan kali ini Ashilla bertekad untuk menikahi pria tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 - Teman Masa Kecil Ken

Setibanya di rumah sakit, Ashilla membawa Aprikot untuk pemeriksaan lanjutan.

Karena mereka berdua sama-sama menarik perhatian, banyak orang menoleh ke arah mereka—terutama pada Ashilla, yang berpenampilan mencolok dan tidak memiliki aura dingin seperti Ken.

Wajah Ken semakin muram melihat tatapan-tatapan itu. Begitu pemeriksaan selesai, ia segera membawa Ashilla dan Aprikot keluar.

Ashilla mengira Ken tidak menyukai suasana rumah sakit. Ia menyerahkan Aprikot padanya dan memintanya mengelus kucing itu agar lebih tenang.

Cara ini ternyata sangat efektif.

Setelah beberapa kali membelai bulu Aprikot, ekspresi Ken membaik drastis. Ia melirik jam.

“Cari tempat makan?”

Ashilla berpikir sejenak, lalu mengangguk.

Selain belum puas bermain dengan Aprikot, tinggal bersama Ken terasa jauh lebih nyaman dibanding kembali ke rumah keluarga Clinton.

Lagipula, Harlan pasti senang melihat mereka bersama—itu akan memperkuat citra “hubungan harmonis” yang kelak menjadi bagian dari hadiah besar untuknya.

Lokasi makan dipilih oleh Ken. Karena banyak restoran tidak mengizinkan hewan peliharaan, ia membawa Ashilla ke restoran pribadi langganannya.

Tempat itu sering dikunjungi kalangan atas, sehingga bertemu kenalan adalah hal biasa.

Kali ini, mereka bertemu Selena dan seorang pria asing berambut pirang bermata biru.

Pria asing itu tampak ramah dan fasih berbahasa Mandarin, dengan kepribadian yang jauh lebih ekspresif dibanding Ken.

“Hei! Tak kusangka bertemu kalian di sini!” serunya antusias.

Ken hanya menjawab datar, “Kebetulan.”

Namun pria itu tetap bersemangat. Saat matanya tertuju pada Ashilla, ia berseru,

“Wow! Cantik sekali!”

Ia langsung mengulurkan tangan.

“Halo, aku Jonathan Scarlett. Senang bertemu denganmu.”

Ashilla sedikit canggung, tetapi tetap menjabat tangannya.

“Halo, aku Ashilla.”

“Nama yang indah,” puji Jonathan, menatapnya tanpa ragu.

Ia lalu melirik Ken dan tertawa.

“Pantas saja kemarin kau bilang sibuk. Kalau aku bersamamu, aku juga akan menolak semua pekerjaan.”

Wajah Ken langsung menggelap.

Ashilla merasa malu, sementara Jonathan tampak sama sekali tidak menyadarinya.

Selena hendak menyela untuk mencairkan suasana, tetapi suara Ken lebih dulu terdengar dingin,

“Ashilla adalah tunanganku. Kami akan menikah bulan depan. Sebagai rekan bisnis, lebih pantas bagimu memanggilnya Nyonya Adam.”

Ketiganya terdiam sejenak.

Selena akhirnya tertawa kecil untuk memecah keheningan.

Meski Ken tampak tidak senang, mereka tetap makan siang bersama.

Dari obrolan itu, Ashilla mengetahui bahwa Jonathan adalah mitra keluarga Adam. Ken akan bekerja sama dengan Perusahaan MS dalam pengembangan ladang gas serpih di London, dan Jonathan datang untuk memeriksa teknologi serta peralatan mereka.

Namun, meskipun mereka makan bersama, topik kerja sama hampir tidak dibahas. Awalnya Ashilla sempat bertanya-tanya apakah hal itu disebabkan oleh keberadaannya sebagai orang luar. Akan tetapi, setelah beberapa waktu, ia menyadari bahwa penyebabnya jauh lebih sederhana—Jonathan memang tidak tertarik membicarakan bisnis.

Begitu mengetahui bahwa Ken dan Ashilla akan menikah bulan depan, Jonathan justru menunjukkan ketertarikan besar pada kehidupan pribadi mereka. Ia bertanya tanpa henti dan bahkan menyatakan niatnya untuk tinggal di Tiongkok hingga bulan depan demi menghadiri pernikahan itu.

Ia lalu memuji makanan di Tiongkok yang menurutnya lezat, serta orang-orangnya yang cantik, sambil berkata bahwa negara ini jauh lebih sesuai dengan selera estetikanya dibanding London.

Ashilla merasa sedikit malu saat disebut sebagai bagian dari “kecantikan” yang dipuji, tetapi Jonathan terus berceloteh tanpa henti. Meski wajah Ken tampak semakin tidak senang, suasana meja makan tetap tidak membosankan.

Jonathan juga memuji Aprikot dan beberapa kali mencoba mengelus anak kucing itu, tetapi selalu dihentikan oleh Ken.

Melihat Ken bersikap begitu protektif terhadap seekor kucing membuat Selena terkejut sampai-sampai ia menambah satu mangkuk nasi lagi.

Seperti Selena, ia juga terkesan dengan tingkat kebersihan Ken dan benar-benar tidak menyangka bahwa Ken bisa menyukai sesuatu yang mudah merontokkan bulu.

Karena Ken sebelumnya tidak pernah menunjukkan ketertarikan khusus pada kucing atau anjing, Selena tanpa sadar mengaitkan perhatian berlebih itu dengan Ashilla.

Mengingat Ken baru saja secara terbuka mengatakan bahwa ia akan segera menikahi Ashilla, Selena merasa Ken tidak lagi memandang Ashilla sekadar sebagai pasangan pernikahan untuk meredam desakan keluarga.

Sebagai teman masa kecil Ken selama lebih dari sepuluh tahun, Selena dengan mudah menangkap perubahan ekspresi Ken setiap kali Jonathan menatap Ashilla dengan mata berbinar. Wajah Ken langsung menggelap. Karena itu, Selena secara diam-diam menaikkan “tingkat perhatian” terhadap Ashilla dalam benaknya.

Namun di saat yang sama, teringat adik laki-lakinya yang diam-diam menanyakan pernikahan Ken, Selena merasa dirinya juga harus kembali berpijak pada kenyataan.

Setelah makan, Jonathan kembali membuat ulah. Ia mengajak Ken dan Ashilla mencari hiburan sore bersama, tetapi Ken menolaknya tanpa ragu.

Jonathan sama sekali tidak tersinggung. Ia malah tertawa dan berkata,

“Ah, hampir lupa. Kau pasti sudah merencanakan kencan berdua dengan Ashilla hari ini. Kalau begitu aku tidak akan mengganggu. Kita main bareng lain kali saja.”

Ken hendak menolak lagi, tetapi Jonathan menambahkan dengan nada bercanda,

“Kalau aku punya pacar secantik ini, aku pasti akan mengajaknya keluar dan memamerkannya ke semua temanku.”

Kata-kata penolakan Ken langsung tersangkut di tenggorokannya.

Bukan karena ia setuju dengan gagasan memamerkan pasangan—baginya, itu menjijikkan. Seolah pasangan bukan seseorang yang disayangi, melainkan barang pembanding.

Namun ucapan Jonathan justru memberinya ide lain.

Ia memang ingin membawa Ashilla bertemu teman-temannya, tetapi bukan untuk memamerkan penampilannya. Melainkan untuk memamerkan… kepemilikan?

Begitu kesimpulan samar itu muncul di benaknya, Ken langsung terkejut oleh pikirannya sendiri. Ia melirik Ashilla yang sedang membelai Aprikot dengan lembut.

Pemandangan itu memang enak dipandang, tetapi jantungnya tidak berdebar lebih cepat. Tidak ada reaksi berlebihan. Ia pun menghela napas lega, memutuskan bahwa semua itu hanyalah ilusi.

Lagipula, pernikahan mereka bersifat istimewa. Secara tegas, mereka lebih mirip pasangan dalam hubungan pernikahan yang sah. Jika ia sampai merasa memiliki Ashilla sepenuhnya, itu jelas sudah kelewat batas.

Setelah berpikir singkat, Ken memberikan jawaban samar,

“Kita lihat nanti.”

Jonathan tidak mempermasalahkannya. Saat berpisah, ia menepuk pundak Ken sambil mengabaikan aura dingin yang terpancar.

“Semoga kencanmu menyenangkan!” katanya sambil mengedipkan mata.

Ashilla terkejut. Bukankah kabarnya Ken membenci kontak fisik dengan orang lain? Namun ia tidak bereaksi berlebihan—wajahnya hanya sedikit lebih dingin dari biasanya.

Ashilla pun tidak lagi merasa takut pada ekspresi dingin Ken. Ia mulai berpikir bahwa rumor tentang Ken memang banyak dilebih-lebihkan.

Terutama jika mengingat bagaimana Ken “memberi pelajaran” pada Aprikot dengan sikap kekanak-kanakan. Dalam hati, Ashilla bertekad untuk tidak terlalu mempercayai rumor di masa depan.

Ken sendiri tidak tahu bahwa setelah Ashilla menyadari kepribadiannya tidak sedingin kabar yang beredar, ia juga mulai meremehkan kebiasaan Ken tentang kebersihan dan penolakannya terhadap kontak fisik.

Alasan Ken tidak bereaksi terhadap Jonathan yang menepuk pundaknya adalah, pertama, karena tidak ada kontak kulit langsung, dan kedua, karena Jonathan adalah mitra kerja yang profesional.

Ia memang membenci kontak fisik, tetapi jika diperlukan, ia tetap akan berjabat tangan dengan orang lain.

1
Rossy Annabelle
ooh bahagianha hatiku 🥳melihat penderitaan orang lain/Facepalm/
Rossy Annabelle
next,,klo bs Doble up deh 😁tiap hari /Chuckle/
Rossy Annabelle: oke lah,, ditunggu karya lainnya mungkin.semngt 💪😁
total 2 replies
Rossy Annabelle
ditunggu next-nya😁
Lynn_: Ok kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!