Luka.
Adalah kata yang membuat perasaan carut marut, tak terlukiskan.
Setiap insan pasti pernah merasakannya atau bahkan masih memilikinya. Entah hanya sekadar di kulit, atau bahkan di bagian terdalam dari jiwa.
Layaknya Bagas.Terpendam jauh, tak kasat mata.
Luka adalah bukti.
Bukti kelemahan raga, keruhnya jiwa. Bukti kalau dirinya hanyalah makhluk fana yang sedang dijahili takdir.
Akal dan hati yang tumpang tindih. Tak mudah untuk dipahami. Menenun jejak penuh liku dan terjal. Dalam manis-pahitnya sebuah perjalanan hidup.
Bukan cerita dongeng, namun hanyalah cerita manusia biasa yang terluka.
*Update setiap hari kecuali Senin dan Rabu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baginda Bram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyusup
Tepukan dan eluan terdengar riuh setelah penampilan kelas 11 B berakhir. Seruan teriuh yang didapatkan di antara para penampil lain.
Bagaikan pertanda kalau penampilan mereka berhasil merenggut hati para penonton. Meski ada beberapa hal yang belum maksimal, Linda cukup puas dengan hasilnya.
Jika seorang Linda—yang biasanya cerewet jika menyangkut soal akting—tidak komplain dengan penampilan mereka, bisa dipastikan kalau kemenangan sudah melambaikan tangan di hadapan mereka.
Bagas juga ikut merasa lega. Meski penampilannya tidak bisa disebut bagus, namun tidak juga bisa disebut sebagai aib masa mudanya.
Mereka pun menunggu pengumuman dengan sabar tanpa ada rasa was-was sedikit pun sembari menyaksikan penampilan lain yang tersisa.
Tibalah pada ujung acara, di mana pengumuman pemenang akan diberikan.
Linda tidak gusar. Malah ia sibuk memperbaiki riasan yang telah luntur di makan waktu; bersiap di belakang panggung agar ketika nama kelasnya disebut, ia bisa langsung naik mewakili kelasnya.
"Baik, kami sebagai juri telah menemukan juaranya."
Linda memajukan langkahnya agar lebih dekat lagi.
Sementara kelas lain tak ada yang melakukan seperti yang ia lakukan. Mereka merasa kalah telak. Hanya dengan melihat penampilan kelas 11-B, harapan untuk menang seketika pupus.
"Pemenangnya adalah... kelas 11-D! Perwakilannya silakan naik ke panggung!"
Seisi sekolahan tercengang. Linda tersenyum getir. Ia merasa 11-D bukanlah nama kelasnya.
Apa mungkin salah sebut?
Seolah mengerti raut wajah kebingungan semua anak, guru yang berada di atas panggung kembali mengulangi kata-katanya.
"Saya ulangi, perwakilan dari kelas 11-D silakan naik."
Senyum Linda kian getir. Kini keheranannya menjelma jadi kekesalan dan kebingungan. Ia merasa tak ada satu penampil pun yang layak juara selain kelasnya.
Tak ada kesalahan berarti dalam teknis dan akting anggota kelasnya. Bahkan seorang Bagas yang ia libatkan secara tiba-tiba pun, tidak membuat kesalahan berarti.
Sebagai anggota ekskul drama, ia merasa penampilan kelas 11-D tak bisa dibilang lebih baik dibanding kelasnya. Bahkan mereka terlihat melakukan kesalahan kecil karena gugup.
Linda merasa harus tahu alasannya. Karena itu, hanya satu langkah yang bisa ia tempuh: protes.
Tak hanya Linda yang merasa seperti itu, seisi sekolahan pun sepakat dalam hati kalau ada yang aneh dengan hasil ini.
Seperti sudah memprediksi keadaan janggal ini, pak Nanang buru-buru mengambil alih jalannya acara,
"Aku tahu kalian pasti mempertanyakan keputusan kami. Bahkan saya pribadi pun merasa kalau kelas 11-B yang layak juara. Namun, karena mereka melakukan pelanggaran. Maka sebagai orang yang suportif, saya mendiskualifikasi mereka. Saya berharap kalian mengerti soal ini."
Pernyataan barusan justru membuat Bagas semakin keheranan. Ia merasa tak ada yang salah dengan penampilan mereka. Juga tak ada satu hal pun yang bisa membuat mereka didiskualifikasi.
Acara ditutup dengan sebuah tanda tanya besar yang belum ia temukan jawabannya.
...----------------...
Meski orang-orang mulai membubarkan diri, anak-anak kelas Bagas justru sebaliknya. Mereka malah berkumpul untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Jadi siapa yang melakukan pelanggaran di sini?"
Pertanyaan Linda tiba-tiba saja datang bersamaan dengan tatapan tajam khas miliknya. Membuat siapapun tak berani berucap sembarangan. Keadaan pun seketika menghening.
Di celah keheningan itu, seseorang mengangkat tangannya perlahan sambil bergetar. Menyita perhatian orang-orang, serempak.
Gadis dengan mata yang berkaca-kaca itu, membuat tatapan mereka mengendur. Hanya Linda yang masih tak kenal ampun.
"Kamu yang melakukannya?" tanyanya dengan nada yang naik.
"Demi apa pun, aku tidak tahu apa-apa."
Mereka yang mendengar semakin terheran. Gadis yang menjadi lawan main Bagas itu nampak tak kuasa menahan laju air matanya.
"Lalu kenapa kamu mengangkat tangan HAH!?" nada Linda semakin tak terbendung kekesalannya.
"S-sebenarnya aku tidak naik ke panggung tadi." jelasnya dengan terbata.
Bagas yang paling tercengang. Ia tak sadar dengan perubahan gadis itu karena wajahnya pun tidak ia lihat.
Kalau bukan dia, siapa dong?
"Ada seseorang yang tiba-tiba naik ke panggung sebelum aku." jelasnya lagi.
"HAH!? Yang benar saja?"
"Aku tidak tahu, tiba-tiba saja orang itu naik ke panggung. Aku pun tidak tahu harus berbuat apa."
"Jadi bukan kamu yang berakting tadi?"
"Bukan."
Pernyataannya barusan seolah menjawab segala keanehan yang terjadi.
Lalu siapa penyusup yang tadi berakting di atas panggung?
"Gas! Kamu tahu siapa orangnya?" lempar Linda mendadak.
Bagas mencoba mengorek informasi dalam ingatannya. Ia baru sadar, gadis yang menjadi lawan mainnya itu memang sedikit berbeda. Terlihat dari tinggi badannya yang semakin kentara.
Seharusnya ia bisa sadar lebih cepat jika sedang tidak di atas panggung.
Mengenali dari wajah, jelas tidak mungkin. Selain ia tidak bisa, ia juga tidak mungkin melihatnya meski sengaja karena topi yang gadis itu kenakan menutupi wajahnya.
"Aku bahkan tidak sadar jika beda orang." kilah Bagas agar terdengar masuk akal.
"Betul sih, aku tadinya mengira kalau itu Lastri yang sedang berdandan. Setelah dipikir, itu memang terlalu cantik untuk seorang Lastri." sahut seseorang.
"Apa ada yang tahu siapa dia? Dia harus bertanggung jawab!" ujar Linda berapi-api.
Semua anak menggeleng hampir bersamaan.
"Sepertinya tak ada yang sadar dia siapa karena kita semua sibuk masing-masing."
Hampir seluruh siswa mengangguk.
"Kalau begitu, kita tanya saja ke orang-orang, barang kali ada yang mengenalnya."
"Betul itu, Lin."
Linda menoleh ke kanan dan ke kirinya. Mendapati dua orang gadis yang sedang berbincang.
"Win! Sini deh!"
Gadis yang ia panggil, menyambanginya dengan segera.
"Apa, Lin?"
"Apa kamu melihat penampilan kelas kami tadi?"
"Lihat."
"Apa kamu kenal dengan gadis bertopi yang tadi naik ke atas panggung?"
"Tidak. Sepertinya itu bukan murid sekolah ini deh."
"Kok bisa?"
"Gadis itu menggemaskan sekali loh. Aku tidak pernah melihat murid semenggemaskan itu di sekolah ini."
"Tidak, itu mustahil." sanggah Linda,
"Kalau dia murid sekolah ini, jelas ia ingin melakukan sabotase kepada kita. Tapi jika bukan, aku benar-benar tidak tahu tujuannya." papar Linda, melanjutkan.
Semua orang berpikir keras. Namun, jawabannya tidak mereka temukan.
"Kita cari tahu saja dia! Aku yakin dia pasti murid di sekolah ini."
Kesimpulan itulah yang sementara bisa diambil. Barulah setelah itu mereka bubar.
Hanya Bagas yang tak ingin memikirkannya jauh. Sejak awal ia memang tidak peduli dengan menang-kalahnya mereka. Ia tidak kesal barang secuil pun.
Malah ia ingin berterima kasih kepada gadis itu. Berkat topi yang ia kenakan, wajahnya jadi tak terlihat. Membuatnya bisa menatap lurus tanpa khawatir akan ketakutan. Dengan begitu, fobianya tak menambah buruk aktingnya.
Bagas juga tak berniat mencarinya. Bahkan jika perlu, ia akan melindungi identitas aslinya karena berkat gadis itu, ia tidak jadi mempermalukan dirinya.
Tiba-tiba saja terlintas dalam benaknya.
Tapi, kenapa?
Pertanyaan itu memang membuatnya heran. Bagaimana bisa orang yang tak ada sangkut paut dengan kelasnya, tiba-tiba saja naik ke atas panggung.
Apa untuk mengacaukan penampilan kami?
Bagas merasa gerak-geriknya tidak seperti seseorang yang ingin mengacau.
Tapi, kalau memang ingin membuat kekacauan, kenapa harus sampai repot-repot naik ke panggung? Bahkan sampai berakting segala.
Bagas yang belum habis pikirnya, terus berjalan meninggalkan sekolah.
Lalu kenapa pakai topi? Untuk penyamaran?
Bagas tidak tahu lagi. Segudang pertanyaan yang ia miliki hanya bisa ia pendam.
"Semoga gadis itu tidak ketahuan oleh mereka." Gumamnya.
Bagas berharap dari lubuk hatinya yang terdalam.