Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.
Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)
untuk mengubah sejarah Grand Line.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Reinkarnasi
Gelap.
Sesak.
Lalu cahaya menyilaukan menusuk mataku.
"UWEEEKK! UWEEEKK!"
Tunggu. Itu suaraku? Kenapa suaraku seperti... tangisan bayi?
Tubuhku basah, dingin, dan ada tangan besar yang mengangkatku dengan kasar. Aku mencoba protes tapi yang keluar hanya tangisan lebih keras. Paru-paruku terasa seperti baru pertama kali menghirup udara—karena memang baru pertama kali.
"Selamat, Rouge-san! Anak laki-laki yang sehat!"
Siapa yang bicara? Aku memaksa mata yang berat ini terbuka. Pandanganku kabur, hanya menangkap bayangan-bayangan buram. Seorang pria tua dengan kumis putih. Beberapa orang lain bergerak cepat di sekitarku.
"Berikan dia padaku..." suara wanita yang sangat lemah.
Aku dipindahkan ke pelukan yang hangat tapi gemetar. Bau darah tercium kuat. Wanita ini... dia sekarat.
"Ace... namamu Ace..."
Ace?
PORTGAS D. ACE?!
Kesadaran menghantamku seperti petir. Ingatan mengalir deras—pesawat jatuh, tubuhku hancur, lalu gelap. Dan sekarang... aku bayi? Di dunia One Piece?!
Tidak mungkin. Ini mimpi. Atau aku sudah gila.
Tapi detak jantung yang belum stabil ini nyata. Udara yang menyentuh kulitku nyata. Pelukan wanita yang sekarat ini... nyata.
"Hiduplah dengan bahagia, Ace..." suara itu semakin lemah. "Jangan biarkan siapa pun bilang kau tidak seharusnya dilahirkan... Ibu mencintaimu..."
Portgas D. Rouge. Wanita yang menahan kehamilan dua puluh bulan untuk melindungi anaknya dari Marine. Ibuku sekarang.
"ROUGE! BERTAHANLAH!" pria tua itu berteriak.
Pelukan di sekitarku melonggar. Kehangatan memudar. Detak jantung yang tadinya terdengar di telingaku... berhenti.
Aku menangis. Entah karena refleks bayi atau karena kesedihan yang tiba-tiba menghantam dadaku yang mungil. Mungkin keduanya.
"Sial... Rouge..." pria tua itu—sepertinya bidan atau dokter—terdengar putus asa.
Waktu berlalu. Aku tidak tahu berapa lama. Kesadaranku masuk dan keluar seperti gelombang. Setiap terbangun, ada tangan berbeda yang memegangku. Suara berbeda yang berbisik.
Sampai akhirnya—
"Jadi ini cucuku?"
Suara itu berat, keras, dan familiar meski aku baru mendengarnya langsung untuk pertama kali.
Monkey D. Garp.
Aku diangkat oleh tangan yang sangat besar. Kasar seperti batu tapi menggenggamku dengan hati-hati aneh untuk pria sebesar dia.
"Kau Portgas D. Ace, ya?" Garp menatapku dengan mata yang tajam. "Nama bagus. Kuat. Tapi juga beban berat, bocah."
Dia tahu. Tentu saja dia tahu. Garp tahu siapa ayah biologis Ace—Gol D. Roger, Raja Bajak Laut yang baru saja dieksekusi.
"Dengar baik-baik meski kau cuma bayi," Garp melanjutkan dengan suara serius yang jarang dia gunakan. "Darah yang mengalir di tubuhmu bukan menentukan siapa dirimu. Mengerti? Yang penting bagaimana kau hidup. Bukan siapa orang tuamu."
Aku menatap wajah tua itu. Ada kesedihan tersembunyi di sana. Kehilangan. Garp baru saja kehilangan Rouge, wanita yang dia janjikan akan dilindungi.
"Kakek akan menjagamu. Sampai kau cukup kuat untuk menjaga dirimu sendiri. Itu janji."
Garp memelukku—canggung dan terlalu erat—tapi hangat.
Dan untuk pertama kalinya sejak terlahir kembali, aku merasa... aman.
Tiga bulan berlalu dalam kabut yang aneh.
Menjadi bayi adalah siksaan. Aku punya pikiran orang dewasa dua puluh tujuh tahun tapi terjebak dalam tubuh yang bahkan tidak bisa berguling sendiri. Tidak bisa bicara. Tidak bisa makan sendiri. Bahkan buang air—jangan mulai bahas itu.
Tapi tiga bulan ini juga memberiku sesuatu yang berharga: waktu berpikir.
Aku Arya Kusuma. Arsitek dari Jakarta. Penggemar One Piece yang sudah membaca manga hingga chapter terakhir sebelum aku mati. Dan sekarang aku Portgas D. Ace—karakter yang mestinya mati di Marineford, ditusuk Akainu di depan Luffy.
Tidak. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.
Aku tahu masa depan. Aku tahu dimana bahaya. Aku tahu siapa musuh. Dan yang paling penting—aku tahu bagaimana menjadi kuat.
Tapi masalahnya... aku masih bayi sialan.
"ACE! Bangun! Kita berangkat!"
Suara keras Garp membangunkanku dari tidur. Dia mengangkatku tanpa peringatan, memasukkanku ke dalam semacam gendongan improvisasi yang dia buat dari seragam Marine.
"Kita mau kemana, jii-chan?" tentu saja aku tidak bisa bicara. Yang keluar cuma "Aaa... uuu..."
"Kita ke Foosha Village! Kakek punya teman yang akan merawatmu!" Garp tertawa keras—tawa khasnya yang memekakkan telinga. "Namanya Dadan! Dia bandit tapi jangan khawatir! Kakek sudah ancam dia baik-baik! GWAHAHAHA!"
Bandit?
Oh. Curly Dadan. Bos bandit gunung yang akan jadi ibu pengganti untuk Ace, Luffy, dan Sabo.
Kapal Marine kecil membawa kami menyeberangi laut. Angin laut menerpa wajahku. Asin tapi segar. Langit biru tanpa awan. Ombak berkilauan dibawah sinar matahari.
Ini East Blue. Laut terlemah tapi tempat kelahiran para legenda—Roger, Dragon, Luffy.
Dan sekarang... aku.
"Kau suka laut, ya?" Garp memperhatikanku yang terus menatap air. "Bagus! Berarti kau punya darah petualang! Tapi jangan jadi bajak laut, mengerti?! Jadi Marine saja seperti kakekmu!"
Kalau dia tahu masa depan, dia pasti menyesal bilang itu.
Kapal merapat di dermaga kecil. Desa yang tenang dengan rumah-rumah sederhana. Foosha Village. Tempat yang akan jadi rumah Luffy nanti.
"Garp-san!"
Seorang gadis muda dengan rambut hijau berlari mendekat. Makino. Dia masih remaja, mungkin tujuh belas atau delapan belas tahun. Tapi senyumnya sudah sama lembutnya.
"Ini siapa?" dia menatapku dengan mata berbinar.
"Cucuku! Namanya Ace!" Garp menyerahkanku begitu saja pada Makino.
"Eh?! Garp-san punya cucu?!" Makino menerimaku dengan hati-hati. "Halo, Ace-chan... kamu sangat manis..."
Wanginya berbeda dari Garp. Lembut. Seperti roti dan bunga. Aku memutuskan Makino adalah orang baik dan memberikan senyum terbaikku.
"KYAA! Dia tersenyum!" Makino memelukku lebih erat. "Garp-san, boleh saya jaga dia saja? Dia sangat menggemaskan!"
"Tidak bisa! Kakek sudah ada rencana!" Garp mengambilku kembali. "Lagipula kau masih muda. Fokus ke bar-mu dulu!"
Kami meninggalkan desa, masuk ke hutan lebat. Jalan setapak semakin sempit. Pohon-pohon tinggi menghalangi cahaya matahari. Suara binatang liar terdengar di kejauhan.
Ini jalan ke markas Dadan.
"DADAN! KELUAR!"
Teriakan Garp membuat burung-burung beterbangan ketakutan. Pintu gubuk besar terbuka kasar. Seorang wanita tinggi dengan rambut oranye keriting dan wajah sangar muncul.
Curly Dadan.
"APA LAGI, GARP?! Aku tidak mau—" dia berhenti melihatku. "Jangan bilang..."
"Ini cucuku! Ace!" Garp langsung menyerahkanku. "Mulai sekarang kau yang rawat dia!"
"HAH?! TIDAK MAU! AKU BANDIT, BUKAN BABYSITTER!"
"Kalau nolak, aku tangkap semua anak buahmu dan masukkan ke Impel Down."
Dadan berkeringat dingin. "Kau... bajingan..."
"Dan aku kirim uang setiap bulan buat biaya makan."
"Berapa?"
"Lima ratus ribu belly."
"SATU JUTA!"
"Tujuh ratus lima puluh ribu. Final."
"...deal."
Negotiation paling cepat yang pernah kulihat.
Dadan menatapku dengan tatapan kompleks—kesal, bingung, dan sedikit kasihan.
"Siapa orangtuanya?" tanyanya pelan.
"Bukan urusanmu," Garp menjawab cepat. "Yang penting, jaga dia baik-baik. Kalau sampai ada yang berani sakiti dia..." auranya berubah gelap. "Aku akan datang. Dan kau tahu aku serius."
Dadan menelan ludah.
Garp berjongkok di depanku. Tangannya yang besar menepuk kepalaku pelan.
"Ace. Tumbuh jadi pria kuat. Tidak peduli apa kata orang tentangmu, tentang darahmu, tentang siapa orangtuamu. Kau yang tentukan nilai hidupmu sendiri. Mengerti?"
Aku menatap matanya. Mata seorang pria yang sudah melihat terlalu banyak perang, terlalu banyak kematian, tapi masih memilih melindungi.
Kalau bisa bicara, aku akan bilang: "Terima kasih, jii-chan. Aku tidak akan mengecewakan harapanmu."
Tapi yang keluar cuma: "Aaah... uuu..."
Garp tertawa. "Gwahahaha! Kau bicara apa sih?! Sudah ya, kakek pergi dulu! Dadan, jaga dia baik-baik!"
Dia pergi begitu saja. Punggungnya tegap seperti gunung saat berjalan menjauh di antara pepohonan.
Dadan dan aku terdiam canggung.
"...ck. Apa yang harus kulakukan dengan bayi?" dia menggumam. "Hei! Kalian! Siapkan kasur untuk bocah ini!"
Beberapa anak buah bandit keluar dari gubuk. Mereka menatapku dengan ekspresi bingung.
"Dadan-san pelihara bayi sekarang?"
"Bukan pelihara! Aku dipaksa!"
"Tapi dia lucu..."
"DIAMLAH DAN KERJA!"
Malam pertamaku di markas bandit berisik. Sangat berisik. Teriakan, tawa keras, suara mabuk-mabukan. Tapi anehnya... tidak merasa kesepian.
Dadan menaruhku di kasur improvisasi dari baju-baju bekas. Kasar tapi hangat.
"Jangan rewel, ya," dia berkata sambil minum sake. "Aku tidak pandai urus bayi."
Aku menatap langit-langit kayu yang penuh retakan. Cahaya bulan masuk dari celah-celah.
Ini kehidupan kedua.
Kesempatan kedua.
Dan aku tidak akan sia-siakan.
Aku akan hidup. Aku akan kuat. Dan aku akan mengubah takdir sialan yang menanti di Marineford.
Tidak peduli berapa lama. Tidak peduli seberapa keras.
Aku, Portgas D. Ace—atau lebih tepatnya, Arya yang terlahir sebagai Ace—akan bertahan.
Api takdir mulai menyala.
Dan tidak ada yang bisa memadamkannya.
BERSAMBUNG