Kejutan yang Freya siapkan untuk William berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki pria itu berselingkuh. Tanpa niat melabrak, Freya justru merekam pengkhianatan tersebut dan bersumpah akan membalasnya.
Namun, sebelum rencananya selesai, Freya diculik dan dipaksa menerima perjodohan dengan Steven, pria dingin dan berkuasa.
Menolak tunduk, Freya kabur dan menghancurkan karier William dengan menyebarkan video perselingkuhannya.
Tapi, masalah tidak berhenti di sana. Steven murka karena Freya melarikan diri. Ia mengerahkan anak buah untuk menangkap gadis itu, tanpa menyadari bahwa mereka akan bertemu dengan cara yang tak terduga, yang mana Freya menyamar sebagai laki-laki, dan menjadi bodyguard barunya dengan nama Boy.
Kedekatan mereka memicu konflik yang lebih berbahaya, saat Steven mulai merasakan perasaan terlarang pada sosok yang ia yakini sebagai seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Freya mengejar Steven hingga ke mansion nya. Napasnya masih tersengal saat mobil berhenti di halaman luas yang terasa dingin. Ia bahkan tidak sempat menenangkan diri sebelum melangkah masuk.
"Steven!" teriak Freya. Namun, langkahnya terhenti saat Miko berdiri menghadang di depan pintu utama.
"Maaf, Boy ... Maksudku, nona Freya," ucap pria itu hati-hati. "Tuan Steven tidak ingin bertemu siapa pun. Dia tidak ingin diganggu."
Freya menggeleng pelan, matanya berkaca-kaca. "Tidak, aku harus bicara dengannya."
"Maaf, jika aku harus bersikap kasar." Beberapa detik kemudian, dua bodyguard bertubuh besar sudah berdiri di belakang Miko.
"Tuan Miko, kau... "
"Aku hanya menjalankan perintah," ujar Miko.
Freya mengangguk, "baiklah!" Freya mendorong kasar tubuh Miko hingga tersungkur ke lantai. Lalu, ia melangkah masuk, namun tangan bodyguard refleks menahannya.
"Maaf, nona. Anda di karang masuk," ujar Bodyguard itu.
Freya menatap tangan yang menghadangnya, lalu pandangannya terangkat, menatap langsung ke mata bodyguard.
Detik berikutnya, Freya mencengkeram tangan bodyguard lalu memutarnya sehingga terdengar suara retakan tulang.
Krek!
"Argh!" bodyguard berteriak kesakitan.
Melihat temannya di perlakukan seperti itu, Bodyguard satunya mengangkat tangannya, siap memukul Freya. Namun, dengan gerakan cepat, Freya memiringkan tubuhnya tanpa melepas cengkeramannya. Sehingga pukulan itu menghantam angin.
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Freya menendang tangan bodyguard, di susul Dengan pukulan keras di dada.
"Ugh!" bodyguard kedua mundur beberapa langkah, dengan cairan darah yang keluar dari mulutnya.
"Aku hanya ingin bertemu dengan Steven. Tapi, kalian justru mempersulit ku. Jadi, jangan salahkan aku." Freya menendang betis bodyguard pertama, hingga jatuh berlutut. Lalu, ia melakukan tendangan berputar, tepat mengenai sisi kepala bodyguard.
Miko menelan ludahnya kasar, melihat dua bodyguard yang di kalahkan dengan mudah oleh Freya. Dia bangun, membungkuk ketakutan. Ia hendak mengatakan sesuatu, tapi Freya sudah melangkah lebih dulu dengan tekad kuat yang tidak bisa dihentikan.
Ia berjalan cepat menaiki anak tangga, menelusuri lorong lalu berhenti tepat di depan pintu kamar Steven.
TOK! TOK! TOK!
Freya mengetuk pintu itu berkali-kali, telapak tangannya gemetar.
"Steven, aku minta maaf," suaranya pecah. "Aku tidak bermaksud membohongimu. Aku tidak pernah berniat menyakitimu."
Ia menunggu namun, hening. Tidak ada suara langkah. Tidak ada jawaban. Bahkan, tidak ada tanda-tanda seseorang berada di balik pintu itu.
Freya menelan ludah, kembali mengetuk, lebih keras. "Tolong dengarkan aku. Sekali ini saja."
Tetap tidak ada jawaban. Hal itu sudah cukup menjadi jawaban. Steven benar-benar tidak ingin bertemu dengannya.
Miko mendekat dari belakang dengan hati-hati. "Boy, eh... Maksudku, nona Freya. Pulanglah dulu. Biarkan Tuan menenangkan diri. Kalau dipaksakan sekarang, hasilnya justru akan semakin memburuk."
Freya tidak segera menjawab. Ia hanya menatap pintu kamar itu lama, seolah berharap kayu dingin di hadapannya tiba-tiba terbuka dengan sendirinya.
Namun, harapan itu tidak kunjung terwujud. Akhirnya, Freya menarik napas dalam, lalu berbalik pergi. Langkahnya pelan, bahunya jatuh, seolah meninggalkan sebagian hatinya di balik pintu yang tertutup rapat itu.
Tapi, tanpa mereka sadari, dari sudut lorong yang gelap, seseorang memperhatikan kepergian Freya. Jari-jarinya bergerak cepat di layar ponsel dengan sebuah senyum tipis terukir di wajahnya sebelum layar ponsel kembali gelap.
Di dalam kamar, Steven bersandar di pintu cukup lama. Kepalanya tertunduk, telapak tangannya menekan daun pintu seolah itu satu-satunya hal yang menahannya agar tidak runtuh.
Ia mendengar perkataan Freya. Tapi, ia enggan membuka pintu dan memilih diam.
Setelah semua terasa sunyi, Ia berjalan melepas jasnya dengan kasar, melemparkannya sembarangan ke kursi. Tangannya gemetar, bukan karena lelah, tapi karena dadanya terasa sesak. Napasnya berat, seolah ada beban tidak kasatmata yang menekan tepat di tengah dadanya.
'Boy'
Nama itu terus berputar di kepalanya. Ia mengacak rambutnya sendiri, tertawa pendek tanpa suara. Entah, ia harus merasa senang atau marah setelah tahu Boy adalah wanita.
'Freya'
Seharusnya ia senang. Itu berarti semua kebingungannya selama ini, tidak nyata. Ia normal. Tidak ada yang salah dengan dirinya. Tapi, kenapa dadanya justru terasa perih?
Ia mengingat setiap tatapan Boy, setiap senyum kecil, setiap kebersamaan mereka, semuanya kini terasa seperti sandiwara yang rapi dan terencana. Dan ia... Hanya bagian dari kebohongan itu.
"Apa semua ini hanya permainan?" gumamnya pelan, nyaris tidak terdengar. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras. Ia marah. Sangat marah.
Bukan karena Boy adalah wanita. Melainkan karena ia dibohongi. Karena perasaan yang tumbuh tanpa ia sadari ternyata berakar dari sebuah rahasia besar. Karena kepercayaannya dipermainkan oleh orang yang, tanpa ia sadari telah mengambil tempat paling rapuh di hatinya.
Steven melangkah ke ranjang, duduk dengan bahu merosot. Pandangannya kosong menatap lantai. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana saat ini. Haruskah ia membenci Freya? Atau, justru memeluk kenyataan bahwa orang yang selama ini ia cintai adalah seorang wanita.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Hatinya benar-benar sakit.
Bukan luka yang berdarah. Tapi, luka yang menggerogoti perlahan, membuatnya sulit bernapas, sulit berpikir, dan mustahil untuk sekadar berpura-pura baik-baik saja.
Dan, setelah sekian lama merenung, Steven menyadari satu hal yang paling ia benci. Ia sudah jatuh terlalu dalam.
Di sisi lain, Freya ternyata tidak benar-benar pergi.
Ia berdiri di luar pagar mansion, sedikit tersembunyi di balik bayangan pepohonan. Angin malam menyapu rambutnya, dingin, tapi tidak sedingin perasaan yang mengendap di dadanya. Tatapannya terus terarah ke lantai atas, ke satu jendela kamar Steven.
Ia menunggu. Berharap pintu itu terbuka. Berharap Steven muncul, meski hanya sekadar berdiri dan menatapnya dari kejauhan. Ia bahkan tidak butuh kata-kata. Satu tatapan saja sudah cukup.
Menit demi menit berlalu. Kaki Freya mulai terasa pegal, tapi ia tidak bergeser sedikit pun. Matanya tetap terpaku ke sana, seolah dengan menatap lebih lama, harapannya akan terkabul.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Lampu kamar itu padam.
Freya tertegun. Dadanya mengencang, seolah sesuatu runtuh perlahan di dalam dirinya. Ia memejamkan mata, dan air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh begitu saja, hangat membasahi pipinya.
"Steve!" bisiknya lirih, hampir tidak terdengar di tengah sunyi nya malam.
Ia menggigit bibirnya, menahan isak yang ingin pecah. Hatinya sakit, bukan karena ditolak, tapi karena ia belum diberi kesempatan untuk menjelaskan. Belum sempat mengatakan bahwa semua yang ia lakukan bukanlah permainan. Bahwa perasaannya nyata, ia benar-benar mencintainya.
Freya menghapus air matanya dengan punggung tangan, menarik napas dalam-dalam. Pandangannya kembali terangkat ke jendela yang kini gelap.
"Aku tidak akan menyerah," bisiknya penuh tekad.
Jika malam ini Steven memilih menutup diri, maka besok ia akan datang lagi. Jika hari ini pintu itu tertutup rapat, maka ia akan mengetuknya sekali lagi.
"Besok, aku akan datang lagi," gumamnya.
Dengan langkah pelan, Freya akhirnya berbalik pergi. Tapi, cintanya tertinggal di sana, menunggu waktu yang tepat untuk kembali diperjuangkan.