Malam itu, di Desa Gadhing yang damai, Tirta hanyalah seorang pemuda biasa yang lebih akrab dengan cangkul daripada pedang. Wajahnya selalu menunduk malu, bicaranya pelan, dan tubuhnya kurus. Ia tak punya minat pada dunia persilatan yang sering dibicarakan para tetua di gardu. Baginya, kebahagiaan adalah melihat ladang bapaknya subur dan senyum ibunya mengembang.
Namun, ketenangan itu hancur saat desa mereka diserang. Sekelompok perampok yang dipimpin oleh Lurah Karta, seorang demang serakah yang terkenal bengis, datang dengan tujuan menjarah. Tirta menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kedua orang tuanya tewas di tangan mereka saat berusaha melindunginya. Suara pedang yang beradu dan jeritan pilu ibu masih terngiang-ngiang di telinganya. Dalam duka dan amarah yang meletup, sesuatu di dalam dirinya pecah. Sebuah kekuatan terpendam bangkit. Dengan tangan kosong, ia berhasil melumpuhkan beberapa perampok, membuat Lurah Karta terkejut dan mundur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LABIRIN KARANG DAN NYANYIAN DARAH
Lorong udara itu sempit, lembap, dan dipenuhi oleh lumut yang licin. Tirta merayap di depan, diikuti oleh Mayangsari dan Sekar Wangi di belakangnya. Suara napas mereka yang teratur menjadi satu-satunya irama di tengah kegelapan yang menghimpit. Setiap beberapa meter, Tirta harus berhenti, menempelkan telinganya ke dinding batu untuk mendengarkan getaran di balik struktur karang tersebut.
"Kita berada tepat di atas koridor penjagaan sektor utara," bisik Tirta, suaranya nyaris tak terdengar. "Ada setidaknya sepuluh detak jantung di bawah kita. Mereka bernapas dengan berat... itu teknik pernapasan Arus Dalam milik Bajak Laut Mata Satu."
Sekar Wangi, yang berada di posisi paling belakang, menggeser sedikit busur tulangnya agar tidak membentur langit-langit lorong. "Jika mereka dari faksi Mata Satu, berarti mereka punya indra pendengaran yang tajam terhadap getaran air. Jangan sampai ada keringat atau air yang menetes dari pakaian kalian ke lubang ventilasi di bawah."
Mayangsari menggenggam ujung jubah Tirta. Di tempat sesempit ini, energi Rembulan Merah-nya terasa gelisah, bereaksi terhadap kumpulan energi hitam yang semakin kuat di pusat benteng. "Tirta... suaranya semakin keras. Bukan hanya mantra, tapi suara air yang dipaksa mengalir melawan arus. Mereka sedang memompa air laut ke dalam bejana ritual."
Tirta terus merayap hingga mereka tiba di sebuah persimpangan yang sedikit lebih luas. Di sana, terdapat sebuah terali besi tua yang sudah berkarat, menjadi satu-satunya penghalang antara mereka dan aula besar di bawahnya. Tirta mengintip melalui celah terali.
Pemandangan di bawah sana sungguh mengerikan. Sebuah aula raksasa yang terbentuk dari gua karang alami telah diubah menjadi tempat pemujaan yang megah namun kelam. Di tengah aula, terdapat sebuah kolam berbentuk lingkaran yang airnya berwarna merah pekat—darah yang bercampur dengan air laut. Puluhan pendekar dengan pakaian kulit hiu dan penutup mata sebelah—para Bajak Laut Mata Satu—berdiri mengelilingi kolam itu dengan parang panjang yang terhunus.
Di tengah kolam, mengapung sebuah bola kristal berwarna biru gelap yang berdenyut-denyut. Itulah Mustika Samudra.
"Itu dia," desis Sekar Wangi. "Tapi lihat siapa yang menjaganya."
Di sisi kolam, berdiri seorang pria raksasa dengan tato gurita yang menutupi seluruh wajah dan kepalanya. Ia tidak memegang senjata, namun tangannya yang sebesar paha manusia terus mengeluarkan uap dingin. Ia adalah Kapten Kraken, tangan kanan dari penguasa bajak laut yang beraliansi dengan Mata Meratap.
"Cepatlah!" suara Kraken menggelegar, memantul di dinding gua. "Ritual ini butuh lebih banyak energi rembulan! Jika bejana ini tidak penuh saat air pasang mencapai puncaknya, kalian semua akan kujadikan pakan hiu!"
Tirta menarik kepalanya kembali. "Kita tidak bisa menyabotase dari sini. Jalurnya terlalu terbuka. Kita harus memutar ke ruang mesin penggerak air. Jika kita menghentikan aliran airnya, ritual itu akan gagal secara otomatis."
"Tapi jalannya melewati barak mereka," sahut Sekar.
"Aku akan memberikan pengalihan," ujar Tirta. Ia menatap Mayangsari. "Mayang, kau dan Sekar harus menuju ruang mesin. Gunakan energi rembulanmu untuk membekukan katup utamanya. Aku akan memancing Kraken dan anak buahnya ke arah dermaga barat."
"Tirta, itu terlalu berbahaya! Kau akan dikepung oleh ratusan bajak laut!" Mayang memprotes, matanya memancarkan kecemasan yang mendalam.
Tirta tersenyum tenang, ia menyentuh pipi Mayang sejenak—sebuah kontak fisik singkat yang memberikan kekuatan luar biasa bagi keduanya. "Di tempat luas, mereka menang jumlah. Tapi di lorong-lorong sempit ini, mereka hanya akan saling bertabrakan. Percayalah padaku. Aku adalah bayangan di bawah gerhana."
Dengan gerakan yang sangat presisi, Tirta melepas terali besi itu tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Ia melompat turun, mendarat di atas sebuah pilar karang yang gelap, sementara Mayang dan Sekar bergerak melalui jalur atas menuju ruang mesin.
Tirta menunggu hingga Mayang menghilang dari pandangan sebelum ia sengaja menjatuhkan sebuah batu kecil ke lantai aula.
TING!
Suara kecil itu terdengar seperti ledakan di tengah keheningan ritual. Seluruh bajak laut di aula itu seketika menoleh ke arah sumber suara.
"Siapa di sana?!" raung Kraken.
Tirta melompat turun dari pilar, Sasmita Dwipa terhunus namun belum dinyalakan cahayanya. Ia berdiri di tengah remang aula, sosoknya nampak seperti malaikat maut yang baru bangkit dari dasar laut.
"Hanya seorang musafir yang salah jalan," ucap Tirta dingin.
"Habisi dia!" perintah Kraken.
Belasan bajak laut menerjang ke arah Tirta. Mereka bergerak dengan gaya bertarung yang unik, meliuk-liuk seperti belut dan menyerang dengan parang yang berlumur racun ikan buntal. Tirta menari di antara mereka. Ia tidak menggunakan tenaga dalam yang besar agar tidak memicu alarm energi, namun setiap gerakannya adalah eksekusi efisiensi.
Ia menggunakan sarung pedangnya untuk mematahkan pergelangan tangan musuh, lalu menggunakan sikutnya untuk menghantam ulu hati lawan. Dalam waktu singkat, enam bajak laut terkapar tanpa sempat mengeluarkan suara teriakan.
Kraken yang melihat anak buahnya tumbang dengan mudah, mulai geram. Ia melangkah maju, setiap langkahnya membuat lantai karang retak. "Kau bukan musafir biasa. Pedang itu... kau adalah tikus yang menghancurkan Kelana dan Aki Sapu Jagad!"
Kraken mengangkat tangannya, dan tiba-tiba air dari kolam ritual melesat ke arahnya, membentuk sepasang sarung tangan raksasa yang terbuat dari air yang sangat padat. "Mari kita lihat, apakah cahayamu bisa bernapas di dalam air!"
Kraken menghantamkan tinju airnya. Tirta melompat mundur, namun gelombang air itu mengejarnya seperti memiliki nyawa sendiri. Tirta terpaksa menyalakan energi pedangnya.
"Sinar Gadhing: Tebasan Pembelah Arus!"
Cahaya perak membelah tinju air itu menjadi dua, namun Kraken hanya tertawa. Air yang terbelah itu segera menyatu kembali. Di dalam gua yang lembap ini, Kraken memiliki keuntungan mutlak atas elemen air.
Sementara itu, di ruang mesin yang terletak jauh di bawah aula, Mayangsari dan Sekar Wangi berhasil melumpuhkan dua penjaga mesin. Di depan mereka, terdapat sebuah roda gigi raksasa yang digerakkan oleh tenaga uap dan aliran laut, yang berfungsi memompa air ke kolam ritual.
"Ini dia katupnya," bisik Sekar. "Tapi ia dilindungi oleh segel energi hitam. Jika kita menyentuhnya secara paksa, seluruh benteng ini akan meledak."
Mayangsari mendekati mesin itu. Ia memejamkan mata, memanggil energi Rembulan Merah yang kini terasa lebih tenang dan terkendali. Ia meletakkan telapak tangannya di atas segel hitam tersebut.
"Bukan dengan kekuatan, Sekar... tapi dengan harmoni," gumam Mayang.
Cahaya merah saga mulai merembes dari jemari Mayang, masuk ke dalam celah-celah mesin. Ia tidak menghancurkan segel itu, melainkan "membujuk" energi hitam itu untuk tertidur.
Perlahan, roda gigi raksasa itu mulai melambat. Suara deru air yang masuk ke benteng pun mulai mereda.
Di aula, Kraken mendadak berhenti menyerang. Ia menoleh ke arah kolam ritual yang airnya mulai surut dan pulsasi Mustika Samudra yang melemah. "Apa?! Siapa yang berani menyentuh mesin pemompa?!"
Tirta menyeringai di balik luka kecil di pipinya. "Teman-temanku jauh lebih pintar daripada yang kau duga, Kapten."
"KAU!" Kraken menggeram, seluruh tubuhnya kini diselimuti oleh aura biru gelap yang pekat. "Jika ritual ini gagal, maka jantungmu akan kugunakan sebagai pengganti Mustika itu!"
Kraken melesat maju dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi. Kali ini, ia tidak menggunakan tinju air, melainkan ia mengubah seluruh tubuhnya menjadi pusaran air yang berputar kencang, menghancurkan pilar-pilar karang di sekelilingnya.
Tirta memposisikan dirinya dalam kuda-kuda rendah. Ia tahu, ia tidak bisa menahan serangan ini hanya dengan kekuatan fisik. Ia harus menggunakan teknik yang ia pelajari dari Ki Ageng Lingga tentang sifat air: Air tidak bisa dipotong, tapi air bisa dibekukan atau diuapkan.
"Sasmita Dwipa: Matahari yang Membakar Samudra!"
Tirta memutar aliran energinya menjadi sangat panas. Pedangnya yang tadinya putih perak kini berubah menjadi jingga membara. Saat pusaran air Kraken menghantamnya, terjadi ledakan uap yang luar biasa besar yang menyelimuti seluruh aula.
BOOM!
Di tengah kabut uap yang panas, suara benturan logam dan teriakan kesakitan terdengar. Rencana penyusupan ini kini telah berubah menjadi pertempuran terbuka yang akan menentukan siapa yang akan menguasai lautan selatan.