Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.
Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.
Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 Kelahiran Kirana
Rabu malam, lima hari setelah false alarm terakhir, kehamilan Alya memasuki minggu ke-36. Rumah terasa aneh semua orang dalam mode siaga. Tas persalinan sudah setia menemani pintu depan sejak seminggu lalu. Nomor rumah sakit ada di speed dial. Reyhan tidur dengan ponsel di bawah bantal, siap melompat kapan saja. Bahkan Arka sudah punya tas kecil sendiri isinya buku dan mainan, "jaga-jaga kalau harus nunggu lama di rumah sakit," katanya.
Pukul sepuluh malam, Alya berbaring di ranjang sambil nonton TV. Kirana lagi aktif banget, tendangannya ke mana-mana.
"Kirana, sayang, ini udah malam. Mama butuh tidur," keluhnya sambil mengusap perut.
Reyhan yang lagi baca dokumen di laptop melirik. "Dia lagi apa? Dance party?"
"Kayaknya. Dia lagi ADUH!"
Alya tiba-tiba meringis. Tangannya langsung mencengkeram perut.
Reyhan nutup laptop, cepet ke sampingnya. "Kontraksi?"
"Iya, tapi... ini beda dari sebelumnya. Lebih... intens."
Reyhan lirik jam. 22:03. "Oke, kita mulai hitung."
Alya ngangguk, atur napas kayak yang diajari di kelas persiapan persalinan. Kontraksi berlangsung sekitar 45 detik, lalu reda.
"Mungkin false alarm lagi," kata Alya lega.
Tapi sepuluh menit kemudian, 22:13, kontraksi datang lagi. Lebih kuat.
"AAHHH... Rey... ini sakit..." Alya remas tangan Reyhan kuat-kuat.
"Breathe, sayang. Slow breath. Tarik dari hidung, keluarin dari mulut."
Alya ngikutin instruksi suaminya, napas pelan-pelan meski sakitnya luar biasa.
Kontraksi reda. Reyhan catat waktu. Interval sepuluh menit.
Delapan menit kemudian, 22:21, kontraksi berikutnya datang.
"Interval makin pendek," kata Reyhan sambil terus catat. "Tapi masih di atas lima menit. Kita tunggu dulu."
Satu jam kemudian, kontraksi udah konsisten tiap tujuh menit. Intensitasnya makin gila.
"Rey... aku rasa ini bukan false alarm," kata Alya dengan napas ngos-ngosan abis kontraksi.
"Aku juga rasa gitu. Tapi kita tunggu sampai interval lima menit. Dokter bilang"
"REY, AKU RASA AIR KETUBAN KU PECAH!"
Reyhan lihat ke bawah. Ada rembesan cairan di seprai.
Jantungnya langsung kenceng banget. "Oke. OKAY. Ini real. Kita ke rumah sakit SEKARANG."
Pukul Sebelas Malam Persiapan Darurat
Reyhan gerak cepat banget. Bangunin Arka, bantu Alya ganti baju, ambil tas persalinan, sambil telepon rumah sakit.
Arka bangun dengan mata bingung, tapi begitu lihat situasi, langsung alert.
"Mama mau melahirkan sekarang?" tanyanya, mata lebar.
"Iya, Nak. Air ketuban Mama udah pecah. Kirana mau keluar." Reyhan bantu Alya jalan pelan-pelan turun tangga.
"AKU IKUT!"
"Iya, kamu ikut. Cepet ambil tas kamu."
Di mobil, Reyhan nyetir hati-hati tapi cepet. Berusaha hindari jalan berlubang biar Alya nggak makin nggak nyaman.
Alya di kursi belakang sama Arka, nggak bisa di depan karena lebih enak tidur miring.
"Ma, kamu baik-baik aja?" Arka pegang tangan ibunya, suara khawatir.
"Mama baik... AAHHH!" Kontraksi datang lagi.
"BREATHE, MA! Kayak yang Ayah ajarin!" Arka ngatur napas, conth-in ibunya.
Alya tersenyum di tengah sakit. Anaknya yang baru lima tahun ini berusaha bantu.
"Rey... cepetan..." desisnya abis kontraksi reda.
"Sebentar lagi, sayang. Lima menit lagi."
Pukul Sebelas Lewat Dua Puluh UGD
Mereka sampai. Tim medis udah siap dengan kursi roda.
"Bu Alya Mahardika?" tanya perawat.
"Iya! Air ketuban udah pecah! Kontraksi interval tujuh menit!" Reyhan lapor cepet.
Alya langsung digiring ke ruang VK. Dr. Sari, dokter kandungan mereka, udah di sana.
"Selamat malam, Bu Alya. Kayaknya Kirana udah siap ketemu kita ya?" sapanya sambil periksa.
"Dok... ini sakit banget..."
"Saya tahu, Bu. Tapi ini normal. Saya periksa pembukaan dulu ya."
Setelah periksa, Dr. Sari ngumumin, "Pembukaan lima. Masih harus nunggu sampai sepuluh baru bisa ngejan."
"Berapa lama lagi, Dok?" Reyhan pegang tangan Alya yang basah keringat.
"Susah diprediksi. Bisa dua jam, bisa enam jam. Tergantung kecepatan pembukaan."
Alya merintih. Denger "enam jam" rasanya drop.
Pukul Dua Belas Malam Proses Persalinan
Reyhan nggak ninggalin sisi Alya sedetik pun. Setiap kontraksi yang sekarang udah tiap lima menit dia pijit punggung Alya, bantu atur napas, bisikin kata-kata semangat.
"Kamu kuat, sayang. Kamu bisa. Kirana hampir keluar. Sebentar lagi kita ketemu dia."
"Rey... aku capek... aku nggak kuat lagi..." Alya nangis. Campur sakit, lelah, dan hormon.
"Kamu kuat. Kamu wanita terkuat yang aku kenal. Kamu bisa lewatin ini."
Arka duduk di ruang tunggu sebelah. Ada pintu kaca, jadi dia bisa liat ibunya. Setiap denger Mama eritan, mukanya pucat, mata berkaca-kaca.
"Ayah... Mama baik-baik aja kan?" tanyanya gemetar.
Reyhan keluar sebentar, jongkok di depan Arka. "Mama baik-baik aja, Nak. Ini proses normal. Mama lagi kerja keras ngeluarin Kirana. Tapi dia kuat. Mama kita sangat kuat."
"Aku... aku nggak suka liat Mama kesakitan..."
"Aku juga nggak suka. Tapi ini satu-satunya cara Kirana bisa keluar. Sebentar lagi kamu bakal jadi kakak beneran."
Arka ngangguk, usap air matanya.
Pukul Dua Pagi Puncak Kontraksi
Dua jam berlalu. Pembukaan udah delapan. Kontraksi sekarang tiap tiga menit, intensitasnya gila.
Alya berteriak tiap kontraksi. Nggak kuat nahan.
"DOK! AKU NGGAK KUAT! KUMOHON KASIH AKU SESUATU!"
Dr. Sari geleng lembut. "Bu, sekarang udah terlalu late buat epidural. Kita hampir sampai. Pembukaan delapan. Sebentar lagi pembukaan lengkap."
"AKU NGGAK BISA! AKU NGGAK KUAT!"
Reyhan peluk kepala Alya, bisik di telinga. Suaranya bergetar, dia sendiri hampir nangis.
"Alya, lihat aku. Lihat aku, sayang."
Alya buka mata, tatap suaminya.
"Kamu BISA. Kamu udah sampai sejauh ini. Dua jam lagi mungkin kurang Kirana bakal ada di tangan kita. Kamu udah hamil sembilan bulan. Kamu udah lewatin morning sickness, kontraksi palsu, bed rest... kamu BISA lewatin ini juga."
"Rey... aku takut... takut aku nggak bisa..."
"Kamu bisa. Dan aku di sini. Aku nggak ke mana-mana. Aku pegang tangan kamu sampai Kirana keluar. Aku janji."
Alya ngangguk, kumpulin sisa kekuatan dari kata-kata suaminya.
Pukul Tiga Pagi Saatnya Mengejan
Satu jam kemudian, Dr. Sari periksa lagi. Senyumnya lebar.
"Pembukaan lengkap! Bu Alya, sekarang saatnya mengejan!"
Alya campur lega dan takut. "Dok, aku nggak tau harus gimana..."
"Saya pandu. Setiap kontraksi, tarik napas, tahan, push ke bawah kayak mau BAB. Push dengan semua tenaga."
Alya ngangguk.
Kontraksi berikutnya datang. Kuat banget.
"SEKARANG, BU! PUSH!"
Alya ngejan dengan semua sisa tenaga. Wajah merah, pembuluh darah di leher keliatan.
"Bagus! Terus! Push lagi!"
"AAAAAAHHHHHHH!" Alya teriak sambil ngejan.
Reyhan pegang tangannya erat. Tangannya sendiri hampir remuk.
"Bagus, sayang! Terus! Kamu luar biasa!"
"ISTIRAHAT! Tunggu kontraksi berikutnya."
Alya ambruk di ranjang. Keringetan, napas ngos-ngosan. "Rey... aku nggak ada tenaga lagi..."
"Kamu bisa. Kirana udah hampir keluar. Sebentar lagi kita lihat wajahnya."
Kontraksi berikutnya.
"PUSH, BU ALYA!"
Alya ngejan lagi. Lebih kuat. Tubuh udah lelah banget, tapi dia paksain.
"Bagus! Saya udah lihat kepalanya! Rambutnya banyak! Satu push lagi mungkin!" Dr. Sari excited.
"KAMU DENGAR?! KIRANA HAMPIR KELUAR!" Reyhan teriak, air matanya jatuh.
Kontraksi terakhir datang.
"PUSH SEKUAT TENAGA, BU ALYA! INI PUSH TERAKHIR!"
Alya kumpulin semua sisa tenaga. Semua rasa sakit sembilan bulan. Semua harapan. Semua cinta. Dan dia ngejan.
"AAAAAAAAAAHHHHHHHHHH!"
Dan tiba-tiba
Tangisan bayi. Nyaring. Kuat. Tangisan paling indah yang pernah Reyhan dengar seumur hidup.
Pukul Tiga Lewat Dua Puluh Tiga Menit – Kirana Lahir
"SELAMAT! BABY PEREMPUAN! SEHAT DAN KUAT!" Dr. Sari angkat baby mungil yang masih penuh darah.
Alya nangis. Lega, bahagia, lelah semua jadi satu.
Reyhan berdiri, lututnya gemetar. Matanya nggak lepas dari baby itu.
"Itu... itu Kirana..." bisiknya, suara bergetar.
Dr. Sari bersihin wajah Kirana, potong tali pusat (Reyhan yang potong, tangannya gemetar parah), lalu taruh Kirana di dada Alya buat skin-to-skin.
Alya tatap wajah putrinya buat pertama kalinya. Mungil, merah, mata masih terpejam, mulut nangis.
"Halo, sayang... halo, Kirana... Mama akhirnya ketemu kamu..." Alya nangis sambil cium kepala baby-nya yang penuh rambut hitam lebat.
Reyhan berdiri di samping, tangan nutup mulut, nahan tangis. Gagal. Air matanya deras.
"Alya... kamu... kamu luar biasa. Kamu melahirkan putri kita. Kamu..." Dia nggak bisa lanjut. Tenggorokan tersumbat.
Alya raih tangan Reyhan, tarik lebih dekat. "Rey... ini dia. Ini Kirana. Putri kita."
Reyhan sentuh kepala mungil Kirana. Jarinya gemetar. Takut, kagum, terpesona.
"Halo, putri kecil Ayah... selamat datang di dunia... Ayah udah nggak sabar ketemu kamu..."
Kirana kayak denger suara ayahnyaberhenti nangis. Wajahnya gerak, nyari sumber suara.
"Dia... dia denger suara aku..." bisik Reyhan nggak percaya.
"Dia recognize suara Ayah. Udah denger dari dalam perut," kata Dr. Sari sambil senyum. "Saya periksa baby dulu ya. Bapak mau ikut?"
"Boleh?"
"Tentu. Bapak suaminya, berhak ada di setiap momen."
Reyhan ikut perawat yang bawa Kirana ke meja periksa. Ditimbang: 3.1 kg. Diukur: 49 cm. Refleks, detak jantung, pernapasan semua normal.
"Baby-nya sehat sempurna, Pak. Meski lahir minggu ke-36, nggak ada masalah. Ini baby yang kuat," kata perawat.
Abis dibersihin dan dibedong, Kirana dikembalikan ke Alya.
Alya peluk putrinya lembut. Tatap wajah mungilnya dengan cinta luar biasa.
"Kirana... Mama sayang kamu. Sangat, sangat sayang kamu."
Pukul Empat Pagi Arka Bertemu Adiknya
Setelah Alya dipindah ke ruang pemulihan, Reyhan keluar jemput Arka. Masih di ruang tunggu, tidur di kursi dengan posisi nggak nyaman.
"Nak... Arka, bangun. Ada yang mau kamu lihat." Reyhan guncang pelan.
Arka bangun, mata masih ngantuk. "Ayah? Mama gimana? Kirana?"
"Kirana udah lahir. Mama baik. Kamu mau ketemu adik kamu?"
Mata Arka langsung melek. Semua kantuk hilang.
"SERIUS?! KIRANA UDAH LAHIR?!"
"Iya. Ayo. Tapi pelan-pelan ya. Mama capek, Kirana lagi tidur."
Arka ngangguk semangat. Tangannya gemetar.
Mereka masuk. Alya di ranjang, pucat tapi senyum bahagia. Di dadanya ada bundle kecil terbungkus selimut pink-putih.
"Arka, sayang, sini." Alya panggil lemah.
Arka jalan pelan-pelan. Matanya nggak lepas dari bundle itu.
Pas sampai di samping, Alya buka sedikit selimut. Arka lihat wajah Kirana.
Mungil. Merah. Mata terpejam. Bibir mungil terbuka sedikit. Rambut hitam lebat.
Arka beku. Nggak gerak. Nggak bersuara. Cuma tatap.
Lalu... air matanya jatuh.
"Ma... Pa... ini... ini Kirana?" Suaranya bergetar.
"Iya, sayang. Ini adik kamu. Kirana." Alya ikut nangis.
"Dia... kecil banget. Dan... cantik..." Arka usap air matanya, tapi terus aja jatuh.
"Kamu mau pegang?" tanya Reyhan.
Arka panik. "Aku... aku takut jatuh. Takut sakit-sakitin dia."
"Nggak akan. Ayah bantu. Ayo duduk."
Reyhan bantu Arka duduk di kursi, posisiin tangannya bener, lalu angkat Kirana dari dada Alya dengan hati-hati, taruh di tangan Arka.
Arka beku lagi. Tatap adiknya yang sekarang ada di tangannya.
"Halo, Kirana." Bisiknya, suara gemetar. "Ini... ini Kakak Arka. Akhirnya kita ketemu..."
Kirana kebetulan atau emang denger buka mata. Sebentar. Mata yang masih blur, nggak fokus. Tapi terbuka.
Arka lihat mata adiknya buat pertama kali. Nangis lebih keras.
"Ayah... Mama... dia buka mata... dia lihat aku..."
"Iya, sayang. Dia tau itu Kakak-nya." Alya usap kepala Arka.
Arka tatap Kirana dengan cinta luar biasa. Cinta yang udah tumbuh sejak baby ini masih di perut.
"Kirana," bisiknya lembut, "Kakak janji akan jaga kamu. Kakak lindungin kamu. Kakak jadi kakak terbaik di dunia. Kakak sayang kamu. Sangat, sangat sayang kamu."
Reyhan dan Alya tatap anak pertama dan kedua mereka. Mata mereka basah. Arka begitu lembut, begitu penuh cinta.
"Rey," bisik Alya, "kita punya dua anak sekarang. Keluarga kita lengkap."
Reyhan peluk Alya dari samping, tangannya usap kepala Kirana yang ada di tangan Arka.
"Iya. Keluarga kita lengkap. Arka, Kirana, kamu, aku. Keluarga Mahardika. Keluarga yang utuh. Yang saling cinta. Yang akan selalu ada satu sama lain."
Pagi itu, di ruang pemulihan dengan fajar mulai nyingsing, mereka berempat Reyhan, Alya, Arka, dan Kirana merasakan sesuatu yang istimewa.
Keluarga yang akhirnya lengkap.
Cinta yang berlipat ganda, nggak terbagi.
Kehangatan yang sempurna.
Awal dari chapter baru. Chapter di mana empat hati bersatu jadi satu keluarga yang utuh, saling cinta tanpa syarat, dan akan hadapi semuanya bersama.
Selamanya.
[Bersambung]