Mikhasa tidak pernah menyangka jika cinta bisa berakhir sekejam ini. Dikhianati oleh pacar yang ia cintai dan sahabat yang ia percaya, impian tentang pelaminan pun hancur tanpa sisa.
Namun Mikhasa menolak runtuh begitu saja. Demi menjaga harga diri dan datang dengan kepala tegak di pernikahan mantannya, ia nekat menyewa seorang pelayan untuk berpura-pura menjadi pacarnya, hanya sehari semalam.
Rencananya sederhana, tampil bahagia dinikahan mantan. Menyakiti balik tanpa air mata.
Sayangnya, takdir punya selera humor yang kejam. Pelayan yang ia sewa ternyata bukan pria biasa.
Ia adalah pewaris kaya raya.
Mikhasa tidak bisa membayar sewa pria itu, bahkan jika ia menjual ginjalnya sendiri.
Saat kepanikan mulai merayap, pria itu hanya tersenyum tipis.
“Aku punya satu cara agar kau bisa membayarku, Mikhasa.”
Dan sejak saat itu, hidup Mikhasa tak lagi tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Enam
Pagi hari. Mikhasa baru saja selesai mandi, bahkan ia masih mengenakan bathrobe saat ponselnya berkedip-kedip.
"Apakah si tuan aneh itu menelfon pagi-pagi buta begini. Astaga." Kesalnya. Ia mengambil ponselnya di atas kasur dan mantap ke layar.
"Bibi?" Mikhasa menggumam. "Apakah yang semalam kukirim untuk Moana masih kurang?"
Pelan, ia mengangkat panggilan itu dan langsung terdengar tangisan menyayat di seberang sana.
"Kenapa Bi?" Tanya Mikhasa rendah. Dia bisa menebak jika pamannya yang laknat itu berulah lagi. Main slot nggak ada kapoknya.
"Tolongin, Bibi. Mikha. Tolongin Bibi. Cuma kamu yang bisa bibi andalkan." Suara itu mengiba dengan tangisan yang lirih.
"Apakah ini tentang paman dan hutang-hutangnya karena masih judi?" Tanya Mikhasa tanpa rasa iba.
“Iya…” suara bibi melemah. “Dia... dia keterlaluan, Mikha. Utangnya makin banyak. Orang-orang itu datang ke rumah semalam.”
Mikhasa mengusap wajahnya lelah. Luar biasa lelah karena siklus yang tak pernah selesai hingga saat ini.
“Bi, sebenarnya apa gunanya paman?” katanya akhirnya, suaranya turun. “Nggak ada,” lanjut Mikhasa tanpa nada tinggi. “Paman cuma beban. Sudah berapa kali kejadian begini? Selalu bibi yang nanggung. Selalu.”
Ia menarik napas, berusaha menahan sesuatu di dadanya. “Sekali-kali biarin saja, Bi. Biar dia masuk penjara. Biar jera. Bibi jangan ngalah terus.” Kali ini Mikhasa bicara jujur, “Aku juga capek, Bi,” ucapnya lirih. “Utang-utang kalian, kebutuhan kalian… aku semua yang nanggung.”
Bibi semakin menangis diseberang sana. Tangis yang sangat pilu dan menyayat. Baru kali ini ia tidak membantah ucapan Mikhasa. Bahkan seolah mendengarkannya dengan baik.
Mikhasa menghala nafas iba mendengar tangisan bibinya di seberang sana. Dia menutup matanya sejenak. “Berapa, Bi?” tanyanya akhirnya.
Tangis itu mereda sedikit. Suara bibi terdengar parau. “Seratus…” katanya rendah. "Juta."
Mikhasa membeku di tempat. Dunia Mikhasa seperti berhenti. “Seratus juta?” ulangnya pelan, nyaris tak percaya.
"Tolong bibi, Mikha, kasihani bibimu ini." suara itu lirih, hampir putus. "Jika ibumu masih ada pasti dia tidak akan tega melihat bibi begini. Bibi nggak tau harus pada siapa meminta tolong kalau nggak sama kamu." Suaranya lebih lirih dan menyayat.
"Seratus juta bukan jumlah yang sedikit, Bi," ucap Mikhasa. Dia merasa putus asa tiba-tiba. "Dan aku nggak punya tabungan sama sekali. "
Dia duduk di tepi ranjang, menatap lantai. "Setiap bulan aku mengirimkannya untuk kalian. Untuk kuliah Moana. Kemarin aku nggak kerja selama tiga bulan lebih, jadi aku benar-benar nggak punya uang, Bi. Sama sekali nggak ada."
Bibi terdiam di sana, lalu suara itu kembali terdengar, lebih pelan dan hati-hati. "Bibi percaya padamu, Mikha. Kamu pasti bisa mendapatkan uang itu. Kamu punya teman-teman kerja yang baik kan di sana? Kau pinjam saja dulu pada mereka, Mikha. Tolong bibi ya. Selanjutnya, kamu nggak perlu ngirim uang buat kebutuhan kami. Kamu cukup mencicil hutang itu. Tolong bibi Mikha."
Mikhsa menunduk sejenak. "Baik, Bi. Akan kuusahakan," jawabnya akhirnya. "Tapi ada syaratnya."
"Apa syaratnya, Mikha. Apa? Bibi siap, asal kau mengirimkan seratus juta itu."
Mikhasa menguatkan rahangnya. "Biarkan pria nggak ada manfaatnya itu masuk ke dalam penjara." Ucapnya. "Bibi juga tentu tahu apa yang dulu dia perbuat padaku. Tapi bibi selalu saja membelanya. Sekali saja, jangan bela dia. Biarkan dia di penjara."
"Mikha... " Suara bibi terdengar tinggi disana.
Mikhasa segera memotong. "Kalau dia masuk penjara. Aku siap menanggung semua keperluan bibi dan Moana. Sampai kapanpun."
Hening. Tidak ada percakapan tapi tak lama bibi menjawab. "Baik, Mikha. Baik. Bibi terima syaratmu. Jadi tolong segera kirim seratus juta ke bibi ya."
🍀
Taksi melaju pelan menembus jalanan pagi. Mikhasa bersandar di jok, tatapannya kosong, pikirannya sibuk menghitung hal yang rasanya tidak mungkin.
Seratus juta. Dari mana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu?
“Apa aku pinjam saja ke Nyonya Besar Mercier ya?” gumamnya lirih.
Namun ia segera menggeleng, seolah menolak pikirannya sendiri. “Nggak. Nggak boleh.” Rahangnya mengeras. “Aku nggak boleh bergantung pada mereka. Hutang ke orang seperti mereka… pasti ada harga mahal yang harus dibayar nanti.”
Ia menghela napas, lalu menoleh ke samping jendela. Kota bergerak pelan di luar sana, orang-orang berangkat kerja, hidup berjalan seperti biasa. Hanya kepalanya yang terasa macet.
Lalu sesuatu menyambar ingatannya. “Kacamata—!” pekiknya spontan agak keras.
Sopir taksi tersentak kaget. “Kenapa, Kak?”
Mikhasa tersenyum kecil, canggung. “Nggak apa-apa, Pak. Maaf."
Sopir mengangguk, kembali fokus menyetir.
Mikhasa segera membuka tas miliknya. Bibirnya melengkung ketika menemukan kacamata hitam itu tersimpan rapi di dalam, rasanya seperti menemukan giok naga sakti yang langka.
Ia mengeluarkannya dengan hati-hati, lalu memotret kacamata itu. Dengan tenang, ia membuka aplikasi jual beli barang bekas.
“Jual berapa ya?” gumamnya sambil menatap layar. “Dua ratus juta kemahalan nggak, ya? Atau… pas-in aja seratus. Sesuai yang aku butuhin.”
Jarinya mengetik angka 100.000.000. Tanpa menawar. Harga mati.
Namun tangannya berhenti. Mikhasa menatap kembali kacamata hitam itu. Dari bentuknya saja sudah terlihat jika ini bukan barang sembarangan. Desainnya terlalu elegan, terlalu mewah, terlalu… mahal.
Alisnya mengernyit. Pelan, ia membuka mesin pencarian web, mengarahkan kamera pada kaca mata itu.
Dan... Layar ponsel langsung menampilkan sebuah artikel.
"Kacamata Hitam Shiels Emerald. US$200.000 atau setara dengan Rp.3,1 miliar.
Lensanya berbahan dasar zamrud. Membutuhkan waktu lima tahun untuk mendapatkan lensa zamrud dan tuga bulan untuk memolesnya."
Mata Mikhasa membelalak, mlutnya terbuka tanpa suara. Jantungnya berdegup kencang, tangannya gemetar tiba-tiba.
“Tiga… miliar?” gumamnya tak percaya.
Harga kacamata di pangkuannya saat ini bahkan lebih mahal dari cek yang ia terima dari Nyonya Besar Mercier.
Dengan gerakan panik, Mikhasa buru-buru mengunci ponselnya dan memasukkannya ke saku. Ia mengeluarkan sapu tangan, untuk nanti membungkus tiga miliar ini.
“Pelan… pelan,” gumamnya sambil mengangkat kacamata itu dengan dua tangan, seolah benda keramat.
“Tiga miliar…” Ia ingin menangis darah melihat jelas kesenjangan sosial ini. "Tiga miliar hanya untuk sebuah kaca mata? Ya Tuhan, capek banget jadi orang miskin. Dah ah nikah sama Axel aja biar auto kaya raya tanpa pesugihan."
Otaknya mulai kacau, jiwa miskinnya meronta-ronta.
ciee..yg udh mulai suka sama Axel,mulai senyum senyum walaupun kesel