Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.
Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.
Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MOMEN YANG MENJADI JANJI
Hari itu muncul seperti permata yang baru saja dipoles hingga bersinar terang—langit biru jernih tanpa sehelai awan pun, udara pagi yang segar seperti air mata bidadari yang menyentuh kulit, dan setiap hembusan angin membawa aroma bunga kamboja yang tumbuh di sudut jalanan. Khem dan Murni telah menyusun rencana kencan yang sederhana namun penuh makna, seperti sebuah puisi yang ditulis dengan hati yang tulus.
Mereka pergi ke taman kota yang terletak di tengah hiruk-pikuk kota—suatu tempat di mana waktu seolah berjalan lebih lambat, dan alam masih bisa ditemukan di antara rerumputan beton. Pohon-pohon besar menjulang tinggi seperti penjaga yang setia, dedaunannya yang hijau rimbun menyediakan naungan sejuk bagi siapa pun yang mencari kedamaian. Di tengah taman, kolam kecil dengan ikan koi berwarna-warni berenang dengan anggun, seperti perhiasan hidup yang berenang di dalam air yang jernih seperti kristal.
Khem membawa keranjang piknik yang diisi dengan makanan yang dibuat oleh tangan Murni sendiri—nasi kuning yang wangi seperti harum bumi setelah hujan, ayam bakar yang kulitnya kecokelatan seperti matahari sore, dan lalapan segar yang hijau seperti dedaunan muda. Mereka duduk di atas tikar kain yang berwarna merah bata, menyebarkan makanan dengan hati-hati seperti seorang seniman yang menyusun karya agungnya. Setiap suapan makanan yang mereka nikmati bersama adalah seperti getaran cinta yang mengalir melalui setiap serat tubuh mereka—manis, hangat, dan penuh dengan rasa syukur.
Setelah makan, mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang melingkar di sekitar taman. Tangan mereka saling bergandengan erat, seperti dua rantai yang tak bisa dipisahkan lagi—kaku namun penuh dengan kelembutan, kuat namun bisa menyesuaikan bentuk. Khem melihat ke wajah Murni yang sedang menyaksikan anak-anak bermain layang-layang di lapangan terbuka, dan hatinya terasa penuh dengan rasa cinta yang meluap-luap seperti sungai yang meluap banjir setelah hujan lebat.
“Kamu tahu tidak, Murni?” ujar Khem dengan suara yang lembut seperti bisikan angin. “Hari ini rasanya seperti aku sedang hidup di dalam mimpi yang paling indah. Seolah seluruh dunia hanya miliki kita berdua.”
Murni menoleh, senyumnya mekar seperti bunga matahari yang menghadap sinar matahari. “Aku juga merasakan hal yang sama, Khem. Sejak kita bersama lagi, setiap hari rasanya seperti mendapatkan hadiah terindah yang tidak pernah kubayangkan bisa kumiliki.”
Mereka berhenti di tepi kolam kecil, menyaksikan ikan koi yang berenang dengan tenang di dalamnya. Khem mengambil tangan Murni dengan lembut, kemudian membawanya ke arah gerbang taman. “Aku ingin membawamu ke suatu tempat,” katanya dengan senyum yang penuh dengan misteri dan harapan. “Suatu tempat yang aku sebut sebagai rumahku sendiri.”
Tanpa menunggu jawaban, Khem menggendong tangan Murni dan mengarahkannya ke arah tempat dia menyewa kamar kos kecil di pinggiran kota. Jalanan yang mereka lalui semakin sepi, dan rumah-rumah yang berdiri rapi di kedua sisi jalan seperti menyambut kedatangan mereka dengan diam-diam. Ketika mereka tiba di depan rumah kos yang sederhana namun rapi, Khem membuka pintu dengan lembut dan mengajak Murni masuk.
Ruang tamu yang kecil namun nyaman terasa hangat dan penuh dengan aroma kayu yang wangi. Dinding yang dicat putih bersih seperti lembaran kertas yang belum ditulis apa-apa, sementara furnitur kayu yang sederhana memberikan kesan hangat dan akrab. Khem membuka pintu kamar tidur yang terletak di belakang ruang tamu, dan Murni melihat sebuah kamar yang rapi dengan ranjang yang besar dan lembut, ditutupi dengan seprai berwarna biru muda yang segar seperti langit pagi.
“Tempat ini mungkin tidak besar atau mewah seperti rumah impian kita,” ujar Khem dengan suara yang penuh dengan rasa malu namun juga kebanggaan. “Tetapi di sini, aku selalu merindukanmu setiap kali aku sendirian. Aku selalu membayangkan bagaimana rasanya jika kamu ada di sisiku.”
Murni mendekati Khem dengan langkah yang lambat dan lembut, kemudian memeluknya dengan erat seperti ingin menggenggam seluruh dunia dalam pelukannya. “Tempat ini indah, Khem. Sebab di sini aku bisa merasakan kehadiranmu yang nyata. Ini adalah tempat yang penuh dengan cinta.”
Mereka menghabiskan waktu bersama dengan penuh kehangatan dan keakraban yang mendalam. Khem memeluk Murni dengan lembut di dalam pelukannya, menyanyikan lagu rakyat yang pernah dia dengar dari ibunya ketika dia masih kecil—lagu yang penuh dengan cerita tentang cinta dan kesetiaan yang abadi. Suaranya yang sedikit kasar namun penuh dengan perasaan terdengar seperti musik yang paling indah di telinga Murni, membuatnya merasa aman dan damai seperti pernahkali.
Murni menggerakkan tubuhnya dengan lembut di dalam pelukan Khem, menyelaraskan napasnya dengan napas kekasihnya. Sentuhan kulit mereka yang saling bersentuhan terasa seperti percikan api yang hangat dan menyenangkan, membuatnya merasa seperti sedang terapung di atas awan yang lembut dan hangat. Mereka berbicara tentang segala hal—mimpi mereka tentang rumah yang akan mereka bangun bersama nantinya, tentang anak-anak yang akan mereka miliki, tentang masa depan yang penuh dengan harapan dan cinta yang tak akan pernah pudar.
Seiring berjalannya waktu, matahari mulai bergeser ke arah barat, menyebarkan warna-warni indah di atas langit yang mulai menguning. Kelelahan perlahan-lahan menyerang tubuh Murni, dan matanya mulai terasa berat seperti dibebani oleh batu bata yang berat. Khem melihatnya dengan penuh kasih sayang, kemudian membujuknya untuk berbaring di ranjang yang lembut.
“Ayo tidurlah, sayang,” ujar Khem dengan suara yang lembut seperti lagu pengantar tidur. “Kamu sudah lelah setelah seharian bersama aku. Istirahatlah, aku akan ada di sisimu.”
Murni mengangguk perlahan, kemudian berbaring dengan nyaman di dalam pelukan Khem yang hangat dan aman. Khem menutupi tubuhnya dengan selimut yang lembut seperti kapas, kemudian membungkus lengannya dengan erat di sekitar tubuhnya yang kecil dan lembut. Dalam sekejap, Murni terlelap dalam tidur yang nyenyak dan damai—wajahnya tampak tenang seperti anak kecil yang sedang bermimpi indah, bibirnya sedikit terbuka dengan senyum yang lembut.
Khem melihat wajah Murni yang sedang tidur dengan penuh kagum dan cinta yang mendalam. Ia menyentuh pipi Murni dengan ujung jarinya yang lembut, seperti menyentuh bunga yang rapuh namun indah. Dalam hatinya, ia membuat janji yang paling suci dan abadi—janji untuk selalu melindungi dia, selalu mencintainya, dan selalu ada untuknya dalam suka maupun duka. Ia tahu bahwa cinta yang mereka miliki adalah cinta yang sesungguhnya—cinta yang telah melalui segala ujian, cinta yang telah tumbuh dari benih kecil menjadi pohon besar yang kokoh dan kuat.
Saat malam mulai menyelimuti dunia dengan kain gelapnya yang penuh dengan bintang-bintang yang bersinar terang, Khem juga mulai merasakan kantuk yang menyerang. Ia menutup matanya dengan perlahan, masih memeluk erat tubuh Murni yang sedang tidur di sisinya. Dalam tidur yang dalam dan damai, mereka berdua bermimpi tentang masa depan yang penuh dengan kebahagiaan dan cinta yang tak akan pernah berakhir—sebuah masa depan yang mereka bangun bersama, satu langkah demi satu langkah, dengan hati yang tulus dan penuh dengan harapan...
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Matahari pagi telah menyelinap melalui celah tirai yang terbuka sedikit, menyebarkan cahaya emas seperti serat sutra yang melilitkan tubuh mereka yang masih saling berpelukan erat. Suara burung berkicau di luar jendela terdengar seperti lagu pagi yang menyambut kelahiran hari baru—lembut, riang, dan penuh dengan harapan. Khem terbangun lebih dulu, matanya perlahan membuka dan menyaksikan wajah Murni yang masih tertidur dengan damai di dalam pelukannya. Bibirnya yang merah muda sedikit terbuka, menghembuskan napas yang lembut seperti hembusan angin musim semi.
Ia mencium dahinya dengan lembut seperti menyentuh permukaan air yang tenang, dan sentuhan itu membuat Murni perlahan-lahan membuka matanya. Senyum mekar di wajahnya seperti bunga yang mekar di saat sinar matahari menyentuhnya pertama kali. “Selamat pagi, cinta,” ujarnya dengan suara yang masih sedikit serak akibat tidur yang nyenyak.
“Selamat pagi, sayangku yang cantik,” jawab Khem dengan suara yang hangat seperti teh panas yang menghangatkan dada. Tangan mereka saling menggenggam erat di atas selimut yang lembut, seperti dua nyawa yang telah terjalin menjadi satu.
Kemudian mereka berdiri bersama, menuju kamar mandi yang kecil namun bersih. Air hangat yang mengalir dari keran seperti aliran sungai kehidupan yang menyegarkan setiap serat kulit mereka. Mereka saling membantu membersihkan tubuh satu sama lain—tangan Khem yang kasar namun lembut menyeka punggung Murni, sementara jari-jarinya yang halus menyapu debu besi yang masih menempel di antara ujung jari Khem. Suara air yang mengalir menyatu dengan tawa kecil mereka, menciptakan harmoni yang indah seperti simfoni alam yang hanya mereka berdua yang bisa dengar.
Setelah mandi, mereka memasuki dapur yang sederhana namun penuh dengan kehangatan. Khem menyalakan kompor, sementara Murni mengambil bahan-bahan yang telah disiapkan sebelumnya—telur segar yang putih seperti mutiara, bawang merah yang merah seperti hati yang penuh cinta, dan cabai hijau yang segar seperti dedaunan muda. Mereka bekerja sama dengan selaras seperti dua penari yang menari dalam irama yang sama—Khem menggoreng telur dengan keahlian yang mengejutkan, sementara Murni membuat sambal yang pedas namun lezat seperti percikan cinta yang menyengat namun menyenangkan.
Mereka makan sarapan di atas meja kecil yang ditutupi dengan taplak meja berwarna merah bata. Roti bakar yang hangat dan renyah seperti kerak cinta yang kuat, telur mata sapi yang lembut seperti hati mereka yang penuh kasih, dan kopi hangat yang aromanya meresap ke setiap sudut ruangan seperti doa yang mengangkat harapan. Setiap suapan yang mereka nikmati bersama adalah seperti pijatan yang menghilangkan lelah dari tubuh dan pikiran mereka, membawa kedamaian yang mendalam ke dalam hati.
Setelah sarapan, Khem berdiri dengan perlahan dan menghampiri lemari kayu yang terletak di sudut kamar. Ia membukanya dengan hati-hati, seperti seseorang yang sedang membuka kotak harta karun yang sangat berharga. Dari dalam lemari, ia mengambil sebuah amplop coklat yang sudah cukup lama, namun tetap terjaga dengan baik. Ia kembali duduk di sisi Murni, tangan yang memegang amplop terlihat sedikit gemetar akibat kegembiraan dan sedikit rasa takut.
“Murni... aku punya sesuatu yang ingin kubagikan denganmu,” ujar Khem dengan suara yang penuh dengan emosi yang tertekan. “Sesuatu yang aku rencanakan jauh-jauh hari yang lalu, namun baru sekarang aku berani memberitahumu.”
Murni melihatnya dengan mata yang penuh dengan rasa penasaran dan sedikit kekhawatiran. Ia mengangguk perlahan, memberikan izin tanpa perlu berkata apa-apa. Khem membuka amplop dengan hati-hati, kemudian mengeluarkan sebuah tiket penerbangan yang masih terbungkus dalam plastik bening—warna putihnya bersih seperti salju yang baru turun, dengan tulisan dan angka yang tercetak rapi seperti puisi yang terstruktur dengan sempurna.
“Tiket ini untuk pergi kembali ke kampung halamanku,” ujar Khem dengan suara yang lembut namun jelas. “Aku sudah merencanakan perjalanan ini jauh sebelum kita kembali bersama lagi. Aku ingin memperkenalkanmu pada keluarga ku, ingin menunjukkan padamu tempat di mana aku tumbuh besar, tempat di mana akar-akar hidupku berada. Namun karena segala kejadian yang terjadi, aku baru bisa memberitahumu sekarang.”
Murni terkejut sepenuhnya—matanya membesar seperti bulan purnama yang terbit di langit malam, dan bibirnya sedikit terbuka tanpa bisa mengeluarkan suara apa-apa. Kejutan dan syok melanda dirinya seperti ombak besar yang menghantam dermaga, namun di balik itu semua, ada rasa senyum yang tidak bisa ditahan seperti bunga yang mekar di tengah badai. Ia mengambil tiket dengan hati-hati, menyentuh permukaannya dengan jari-jarinya yang gemetar, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Kamu... kamu benar-benar merencanakan ini?” tanya Murni dengan suara yang bergetar, air mata mulai mengumpul di sudut matanya. “Aku tidak pernah menyangka... aku tidak tahu harus berkata apa.”
Khem mengambil tangannya dengan erat, melihatnya dengan mata yang penuh dengan cinta dan harapan. “Aku tahu ini sangat tiba-tiba untukmu, sayang. Dan aku juga ingin memberitahumu sesuatu yang lain,” ujarnya dengan nada yang sedikit menjadi serius. “Kali ini... aku harus pergi sendirian dulu. Ada beberapa urusan yang harus kulakukan sendiri di sana, beberapa masalah yang harus kuklarifikasi dengan keluarga ku sebelum aku bisa membawa kamu pergi. Aku tidak ingin kamu melihat atau merasakan hal-hal yang tidak menyenangkan.”
Murni terdiam sejenak, mengerti makna di balik kata-kata Khem. Ia tahu bahwa setiap orang memiliki masa lalu dan masalah yang harus diselesaikan sendiri, seperti setiap pohon memiliki akar yang harus menyembuhkan diri sebelum bisa tumbuh lebih besar. Ia mengangguk perlahan, kemudian memberikan senyum yang penuh dengan pengertian dan cinta.
“Baiklah, Khem... aku mengerti,” ujarnya dengan suara yang tenang namun penuh dengan keyakinan. “Aku akan menunggu kamu di sini. Kamu harus menyelesaikan segala urusanmu dengan baik, sehingga ketika kamu kembali dan mengambil aku pergi, kita bisa menghadapi segala sesuatu dengan hati yang damai dan penuh dengan harapan.”
Khem merasa lega seperti beban besar yang diangkat dari pundaknya. Ia memeluk Murni dengan erat, menyelamatkan tubuhnya yang kecil dan lembut di dalam pelukannya yang kuat dan hangat. Ia mencium bagian atas kepalanya dengan penuh kasih sayang, seperti seorang ayah yang mencium anaknya sebelum pergi jauh.
“Ku janjikan padamu, sayangku,” ujar Khem dengan suara yang penuh dengan janji yang tak terucapkan. “Aku akan kembali secepat mungkin. Dan ketika aku kembali, kita akan pergi bersama-sama ke kampung halamanku. Kita akan menghadapi segala sesuatu bersama, seperti yang selalu kita lakukan.”
Mereka tetap berpelukan begitu lama, menyimpan kehangatan satu sama lain di dalam hati seperti api yang disimpan di dalam bara agar tidak padam. Matahari mulai tinggi di langit, menyinari dunia dengan cahaya yang cerah dan penuh dengan janji. Khem tahu bahwa perjalanan yang akan dia tempuh bukanlah perjalanan yang mudah, seperti menyeberangi lautan yang luas dan penuh dengan ombak besar. Namun ia juga tahu bahwa di akhir perjalanan itu, ada cinta yang akan menantinya, cinta yang akan membuat segala usaha menjadi berharga...
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Hari yang telah lama ditunggu-tunggu akhirnya tiba seperti pelangi yang muncul setelah hujan deras—langit yang tadinya mendung kini terbuka lebar dengan warna biru yang jernih seperti mata Murni yang penuh dengan cinta. Cahaya matahari menyebar seperti kain keemasan di atas setiap sudut kamar kos Khem, menyinari barang-barang yang sedang mereka siapkan dengan hati-hati, seperti benda-benda suci yang akan dibawa ke tempat yang kudus.
Murni berada di sana, tangan-tangannya yang terampil dan penuh dengan kasih sayang sedang menyusun barang-barang ke dalam koper besar yang berwarna biru tua. Setiap benda yang dia masukkan adalah seperti buah cinta yang dia tanam dengan penuh perhatian—baju yang sudah disetrika rapi seperti hati yang sudah dibersihkan dari kesalahpahaman, buku-buku yang dibungkus dengan kertas kado berwarna merah muda seperti hati yang penuh dengan semangat, dan makanan khas kota yang dia bungkus rapi seperti kenangan yang tak ingin terlupakan.
“Tunggu sebentar, sayang,” ujar Murni dengan suara yang lembut seperti bisikan angin pagi. Ia berdiri dengan perlahan dan mengambil sebuah tas kecil yang tersembunyi di balik bantal ranjang. Dari dalam tas itu, dia mengeluarkan kotak-kotak kecil yang dibalut dengan hati-hati menggunakan kain batik yang indah seperti lukisan alam.
Pertama, dia membuka kotak kayu kecil yang berukir motif bunga melati. Di dalamnya terletak sebuah jam tangan dengan tali kulit hitam yang lembut seperti malam yang damai, dan permukaan jam yang mengkilap seperti bulan purnama yang bersinar terang. “Ini untukmu, Khem,” katanya dengan senyum yang penuh dengan makna. “Aku ingin kamu selalu tahu bahwa waktu yang kita lewati bersama adalah waktu yang paling berharga dalam hidupku. Semoga jam ini selalu mengingatkanmu pada aku, di mana pun kamu berada.”
Khem melihat jam tangan itu dengan mata yang berkaca-kaca. Tangannya yang kasar akibat bekerja dengan besi dan baja merentang untuk mengambilnya dengan hati-hati, seolah itu adalah benda yang paling rapuh dan berharga di dunia. “Ini... ini terlalu mahal untukku, sayang,” ujarnya dengan suara yang sedikit bergetar akibat emosi yang meluap-luap.
“Tidak ada yang terlalu mahal untukmu, Khem,” jawab Murni dengan tegas namun penuh kelembutan. “Kamu layak mendapatkan yang terbaik, karena kamu telah memberikan yang terbaik untukku.”
Kemudian dia membuka kotak kedua yang lebih besar, di dalamnya terdapat sebuah rajutan yang cantik berwarna cream seperti susu yang lembut. Rajutan itu berbentuk jaket dengan motif bunga mawar yang dirajut dengan sangat detail, seperti bunga yang hidup dan mekar di atas kain. “Ini untuk ibu kamu, calon ibu mertuaku yang kupuja dalam hati,” ujar Murni dengan suara yang penuh dengan harapan. “Aku menghabiskan waktu selama beberapa minggu untuk merajutnya dengan tangan sendiri. Semoga dia menyukainya dan merasa bahwa aku adalah bagian dari keluarganya.”
Setelah itu, dia mengeluarkan sebuah kotak kayu lain yang dihiasi dengan ukiran motif sungai dan gunung. Di dalamnya terdapat sepasang sandal kulit buaya dengan warna coklat tua yang mengkilap seperti tanah yang subur. “Ini untuk ayah kamu,” katanya dengan senyum yang penuh dengan rasa hormat. “Aku tahu dia menyukai barang-barang yang dibuat dengan bahan alami dan awet. Semoga sandal ini bisa menemani langkahnya dalam setiap perjalanan hidupnya.”
Dan terakhir, dia membuka kotak plastik yang terlindungi dengan baik, di dalamnya terdapat sebuah laptop tipis dengan warna perak yang bersinar seperti bintang di langit malam. “Ini untuk adik kamu,” ujarnya dengan mata yang penuh dengan harapan. “Aku ingin dia bisa belajar dengan baik, mengejar mimpinya tanpa hambatan. Semoga laptop ini bisa membantunya mencapai impiannya yang tinggi seperti langit.”
Khem tidak bisa berkata apa-apa lagi. Air mata sudah mulai menetes di pipinya yang biasanya kuat dan tangguh, seperti embun yang menetes di atas daun pada pagi yang sejuk. Ia mendekati Murni dan memeluknya dengan erat seperti ingin menyatu menjadi satu tubuh dan satu jiwa. “Bagaimana aku bisa beruntung memiliki seorang wanita seperti kamu, Murni?” ujarnya dengan suara yang penuh dengan rasa syukur yang tak terucapkan. “Kamu telah memikirkan segalanya, bahkan hal-hal yang tak pernah kuduga bisa ada.”
Murni menangis pelan di dalam pelukan Khem, air matanya mengalir ke bajunya yang sudah dipakai dengan hati-hati. “Keluargamu adalah keluarga ku juga, Khem,” jawabnya dengan suara yang bergetar. “Aku hanya ingin mereka menyukai aku, ingin mereka tahu bahwa aku akan selalu merawatmu dengan baik.”
Setelah selesai packing, Murni mengambil teleponnya dan menghubungi atasan di pabrik makanan ringan tempat dia bekerja. Dia meminta cuti untuk satu hari dengan sopan, dan dengan senang hati izinnya diberikan. “Aku harus mengantarmu ke bandara, Khem,” katanya dengan tegas ketika dia menutup telepon. “Aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendirian.”
Mereka berangkat ke bandara menjelang sore hari, ketika matahari mulai bergeser ke arah barat dan menyebarkan warna-warni indah di atas langit Jakarta yang sibuk. Khem mengendarai motornya yang setia, sementara Murni duduk di belakangnya dengan tangan yang erat menggenggam pinggangnya, kepalanya menyandar pada punggungnya yang kuat dan aman. Udara sore yang segar menyegarkan wajah mereka yang berkeringat, dan setiap hembusan angin membawa aroma bunga dan pepohonan yang tumbuh di pinggir jalanan.
Ketika mereka tiba di bandara, gedung yang megah berdiri tinggi seperti penjaga yang setia menunggu kedatangan dan kepergian orang-orang dengan berbagai cerita hidup. Mereka berjalan bersama-sama ke dalam bandara, tangan mereka saling bergandengan erat seperti dua rantai yang tak bisa dipisahkan. Suasana bandara yang ramai dengan suara orang-orang yang sedang berbicara dan tawa mereka tidak mengganggu kedamaian yang ada di antara mereka berdua—seolah dunia luar tidak ada, dan hanya mereka berdua yang ada di dalam ruang yang sama.
Mereka sampai di loket check-in, dan Khem mulai melakukan proses yang diperlukan dengan hati-hati. Murni berdiri di sisinya, tangan masih menggenggam tangan Khem dengan erat, seperti ingin menyimpan setiap detik yang mereka miliki bersama sebelum dia pergi. Ketika proses check-in selesai dan Khem harus memasuki jalur keberangkatan, mereka berhenti di pintu masuk yang menjadi batas antara mereka berdua dan perjalanan yang akan dia tempuh.
Khem menoleh ke arah Murni, wajahnya penuh dengan rasa sakit karena harus berpisah namun juga penuh dengan harapan karena akan segera bertemu dengan keluarga dan kemudian kembali untuknya. Ia mengambil wajah Murni dengan kedua tangannya yang kasar namun lembut, kemudian mencium bibirnya dengan lembut seperti menyentuh bunga yang rapuh. “Aku akan kembali secepat mungkin, sayangku,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan janji yang tak akan pernah dilanggar. “Aku akan memberitahu keluarga ku tentangmu, tentang betapa baiknya kamu, tentang betapa cintaku padamu.”
Murni mengangguk perlahan, air mata sudah mulai mengalir di pipinya yang cerah. Ia menyentuh wajah Khem dengan lembut, menyeka air mata yang menetes di pipinya. “Jangan khawatir tentangku ya, Khem,” ujarnya dengan suara yang tenang namun penuh dengan keyakinan. “Aku akan selalu menunggu kamu. Aku akan merawat diri dengan baik, bekerja dengan giat, dan menyusun semua hal yang kita butuhkan untuk masa depan kita bersama.”
Kemudian suara pengumuman terdengar di seluruh bandara—memberitahu bahwa pesawat akan segera berangkat. Khem mengambil kopernya dengan perlahan, kemudian melihat ke arah Murni untuk terakhir kalinya. Ia memberikan senyum yang penuh dengan cinta dan harapan, kemudian berjalan dengan langkah yang mantap ke arah jalur keberangkatan. Murni berdiri di sana, menatap sosok kekasihnya yang semakin menjauh, sampai akhirnya hilang di balik pintu yang tertutup.
Ia tetap berdiri di sana untuk waktu yang lama, melihat ke arah langit yang mulai gelap dan bintang-bintang mulai muncul satu per satu. Dalam hatinya, dia berdoa dengan tulus—berdoa agar perjalanan Khem selamat, berdoa agar keluarganya menyukainya, berdoa agar semua urusan yang harus diselesaikan bisa berjalan dengan lancar. Ia tahu bahwa perpisahan ini hanya sementara, seperti malam yang pasti akan berlalu dan digantikan oleh pagi yang cerah. Dan ketika pagi itu tiba, kekasihnya akan kembali dengan tangan terbuka, membawa harapan baru dan cinta yang semakin dalam...
...