NovelToon NovelToon
SLEEP WITH MY UNCLE

SLEEP WITH MY UNCLE

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cinta Terlarang / Dark Romance / Romansa
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.

Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 SWMU

Mansion Mahendra seolah terbagi menjadi dua kutub yang ekstrem. Di satu sisi, ada Nadia yang kini menjadi es yang membeku—dingin, diam, dan tak tertembus. Di sisi lain, ada Bramantya yang kian hari kian kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Sejak malam kejadian itu, sesuatu dalam diri Bramantya tidak lagi sama. Alih-alih merasa puas karena telah menaklukkan Nadia, ia justru terjebak dalam rasa lapar yang lebih besar. Ia kecanduan. Bukan hanya pada fisik Nadia, tapi pada kekuasaan mutlak yang ia rasakan saat gadis itu berada di bawah kendalinya.

Sore itu, terik matahari sedikit melunak, meninggalkan hawa hangat yang membalut area kolam renang outdoor di sayap kanan mansion. Area ini sangat tertutup, dikelilingi oleh dinding marmer tinggi dan tanaman merambat yang lebat, menjadikannya sebuah tempat pribadi yang terisolasi dari dunia luar.

Nadia berada di sana. Ia mengenakan baju renang satu potong berwarna hitam polos yang kontras dengan kulitnya yang pucat. Ia tidak sedang berenang; ia hanya duduk di tepi kolam, membiarkan kedua kakinya terendam di dalam air yang jernih. Matanya menatap kosong ke arah riak air, sementara pikirannya merangkai rencana-rencana gelap yang belum ia eksekusi.

Ia tahu, sejak ia mengubah sikapnya menjadi dingin, perhatian Bramantya padanya justru menjadi semakin obsesif. Pria itu tidak lagi pergi ke kantor hingga larut malam. Ia lebih sering berada di rumah, memperhatikan Nadia dari kejauhan, atau tiba-tiba muncul di hadapannya hanya untuk menghirup aroma rambutnya.

Tap. Tap. Tap.

Suara langkah sepatu kulit di atas lantai porselen memberi tahu Nadia bahwa sang predator telah datang. Nadia tidak menoleh. Ia tetap diam, mempertahankan ekspresi wajahnya yang sekeras batu.

Bramantya berdiri di belakangnya. Ia sudah melepas jasnya, hanya mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku. Matanya menelusuri bahu Nadia yang terbuka, menatap lekuk tubuh gadis itu dengan pandangan yang berkabut.

"Airnya tampak segar, bukan?" suara Bramantya memecah kesunyian.

Nadia tidak menyahut. Ia bahkan tidak berkedip.

Bramantya berlutut di belakang Nadia, tangannya yang besar mendarat di bahu Nadia yang dingin. Ia merasakan sedikit getaran dari tubuh gadis itu, namun Nadia tetap tidak menghindar. Kedinginan Nadia justru menjadi tantangan bagi Bramantya. Semakin Nadia diam, semakin besar keinginan Bramantya untuk membuatnya bereaksi—entah itu dengan tangisan atau rintihan.

"Kau mengabaikanku lagi, Nadia," bisik Bramantya, bibirnya kini menyentuh telinga Nadia. "Kau pikir dengan diam seperti ini, aku akan membiarkanmu? Kau salah. Diammu justru membuatku semakin ingin menghancurkan dinding yang kau bangun."

Nadia akhirnya menoleh perlahan. Matanya yang kosong bertemu dengan mata Bramantya yang berkilat liar. "Apa lagi yang kau inginkan, Paman? Bukankah kau sudah mengambil semuanya?"

"Aku menginginkanmu. Lagi. Dan lagi," jawab Bramantya dengan suara parau.

Tanpa peringatan, Bramantya menarik Nadia berdiri. Nadia kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh, namun lengan kuat Bramantya segera menangkap pinggangnya. Pria itu menarik tubuh Nadia hingga menempel erat pada tubuhnya. Aroma maskulin yang menyesakkan itu kembali menyergap indra penciuman Nadia.

"Lepaskan aku, Bram. Para pelayan bisa melihat," ucap Nadia datar.

"Pelayan? Tidak akan ada yang berani mendekati area ini tanpa izin dariku. Kau tahu itu," Bramantya mulai menciumi leher Nadia dengan paksa. Tangannya mulai menjelajahi tubuh Nadia dengan kasar, mengabaikan fakta bahwa mereka berada di area terbuka.

"Kau gila... kau benar-benar sudah kehilangan akal sehatmu," desis Nadia, meskipun ia tidak lagi berontak sekuat dulu. Ia tahu perlawanan fisik hanya akan membuat Bramantya semakin bersemangat.

Bramantya tidak memedulikan kata-kata itu. Ia mengangkat tubuh Nadia dan membawanya menuju kursi panjang di tepi kolam, namun kemudian ia berubah pikiran. Ia melangkah masuk ke dalam air kolam yang dangkal, membawa Nadia bersamanya. Air membasahi pakaian mereka, membuat kemeja putih Bramantya menjadi transparan dan baju renang Nadia menempel ketat di kulitnya.

Di dalam air yang tenang itu, Bramantya kembali memaksakan kehendaknya. Ia tidak peduli pada martabat, tidak peduli pada tempat, dan tidak peduli pada tatapan benci yang terpancar dari mata Nadia. Bagi Bramantya, Nadia adalah obat bagi rasa haus yang tak pernah padam—sebuah perwujudan dari masa lalu yang kini bisa ia genggam sepuas hatinya.

Nadia memejamkan matanya rapat-rapat saat punggungnya membentur dinding kolam yang keras. Ia membiarkan air kolam membasuh wajahnya, berharap air itu bisa menghapus rasa kotor yang kembali merayap di seluruh tubuhnya. Di tengah perlakuan kasar Bramantya, Nadia hanya membayangkan satu hal: suatu saat nanti, air yang jernih ini akan berubah menjadi merah oleh darah pria yang sedang menindihnya ini.

Kejadian di tepi kolam itu berlangsung dengan penuh ketegangan. Bramantya bertindak seperti pria yang sedang kerasukan, sementara Nadia bertindak seperti boneka yang tak bernyawa. Setiap sentuhan Bramantya dibalas dengan kehampaan oleh Nadia, sebuah bentuk perlawanan diam yang justru membuat Bramantya semakin frustrasi dan hilang kendali.

Ketika gairah gelap itu mereda, Bramantya melepaskan Nadia. Ia berdiri di tengah kolam, napasnya tersengal, menatap Nadia yang masih bersandar di dinding kolam dengan rambut basah yang menutupi sebagian wajahnya.

Bramantya merapikan rambutnya yang berantakan, mencoba mengembalikan wibawanya yang baru saja ia gadaikan demi nafsu. Ia menatap Nadia, berharap melihat setidaknya sedikit kemarahan atau kesedihan. Namun, Nadia hanya mengusap wajahnya dari sisa air kolam dengan gerakan yang sangat tenang.

"Sudah selesai?" tanya Nadia. Suaranya tidak bergetar sama sekali.

Bramantya tertegun. Respon Nadia yang begitu dingin dan mekanis membuatnya merasa seperti baru saja melakukan kontak dengan benda mati. "Kau... kau benar-benar sudah tidak punya perasaan, hah?!"

Nadia keluar dari kolam, air menetes dari tubuhnya, menciptakan jejak basah di lantai marmer. Ia mengambil handuk putih yang tersedia di sana dan membungkus tubuhnya dengan rapi.

"Perasaan adalah kemewahan yang tidak bisa kumiliki di rumah ini, Paman," sahut Nadia tanpa menoleh. "Kau ingin tubuhku? Kau sudah mendapatkannya. Tapi jangan pernah berharap kau akan mendapatkan reaksi apa pun dariku. Kau hanyalah seorang pria kesepian yang terpaksa menggunakan kekerasan untuk merasa dicintai."

Kata-kata Nadia menghujam tepat di ulu hati Bramantya. Pria itu berdiri kaku di dalam kolam, membiarkan pakaiannya yang basah kuyup membebani tubuhnya. Ia melihat Nadia berjalan pergi menuju mansion dengan kepala tegak, tanpa sedikit pun rasa malu atau takut.

Bramantya mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menyadari sebuah kenyataan yang pahit: semakin sering ia menyentuh Nadia, semakin jauh jiwa gadis itu pergi darinya. Ia memiliki raga Nadia, namun ia telah menciptakan sebuah monster yang jauh lebih dingin daripada dirinya sendiri.

Di dalam kamarnya, Nadia segera mengunci pintu. Ia masuk ke bawah shower, membiarkan air dingin mengguyur tubuhnya. Ia tidak menangis. Ia justru mulai tertawa kecil—sebuah tawa yang terdengar sangat mengerikan di dalam kamar mandi yang sunyi itu.

"Teruslah begitu, Bramantya," bisik Nadia pada dirinya sendiri. "Teruslah kecanduan padaku. Teruslah hilang kendali. Karena semakin kau bergantung padaku, semakin mudah bagiku untuk menarikmu ke dalam jurang yang sudah kusiapkan."

Nadia menyadari bahwa tubuhnya kini adalah senjatanya. Jika Bramantya menginginkan kehancuran, maka Nadia akan memberikannya dengan cara yang paling manis sekaligus mematikan.

1
itsmeiblova
semangatt thor 🔥 yukk update lagi
Han*_sal
jadi kepo aku
Han*_sal
lanjut
Han*_sal
wawwwww 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!