Gawat, ini benar-benar gawat. Oke perkenalkan, aku Ravindra Arvana, dari keluarga terpandang Arvana. Aku KUALAT!
Karena aku ketahuan menyelingkuhi istri kontrakku dengan cinta pertamaku masa SMP. Tapi kan... dia cuma istri kontrak.
Anyway, setelah kepergok, semesta seperti tidak membiarkan aku dan Yunika, selingkuhanku, bersama.
Ada aja halangan. Apalagi sejak itu, hasratku ke dia kok hilang?!?
Aku memohon maaf pada Tafana, istriku, agar kutukan ini berakhir.
Dia setuju memaafkan dengan syarat:
1. Aku menceraikannya
2. Aku mencarikan PENGGANTIKU yang lebih baik dariku
Masalahnya pria muda, lajang, baik hati dan tidak sombong dengan status kekayaan menyaingiku SANGAT JARANG...
Begitu ketemu kandidatnya... kok kejadiannya begini?
Pokoknya kalian baca aja lah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pihak yang Ditinggalkan
Tafana melangkah ke meja mereka tanpa ragu. Hak sepatunya berhenti tepat di sisi kursi Yunika, cukup dekat untuk membuat keduanya menoleh bersamaan.
“Maaf, ganggu,” katanya datar. “Obrolannya sudah selesai kan? Aku cuma mau klarifikasi sedikit.”
Ravindra membeku. Wajahnya kehilangan warna dalam satu detik. “Ta—Tafana?”
Yunika sempat tersenyum. Refleks kemenangan yang terlambat. Sampai ia menangkap sorot mata Tafana yang tenang, jernih, dan tidak lagi berharap apa pun.
“Aku dengar kamu mau mengakhiri kontrak pernikahan kita,” Tafana melanjutkan, menatap Ravindra lurus. “Tenang aja. Nggak perlu repot. Aku udah urus semuanya.”
Ia mengeluarkan map tipis dari tasnya, meletakkannya di meja dengan satu ketukan pelan. “Gugatan cerai sudah masuk. Lengkap. Kamu tinggal datang kalau dipanggil pengadilan.”
Sunyi jatuh.
Yunika berkedip. “Oh,” katanya ringan, seolah ini kabar baik. “Berarti—”
“Belum selesai,” Tafana memotong, kali ini menoleh padanya. “Kamu jangan senang dulu.”
Senyum Yunika mengeras.
“Semua bukti aku masukkan ke pengadilan ya,” lanjut Tafana, suaranya tetap rata. “Pesan, foto, riwayat perjalanan kalian. Supaya masalah perceraiannya jelas, perselingkuhan. Aku nggak bisa bohong kayak kalian soalnya.”
Ravindra bangkit setengah, panik. “Tafana, kamu pakai itu ke pengadilan? Kamu nggak mikir dampaknya?"
Ia mencengkram pergelangan tangan Tafana, menariknya mendekat. "Gimana kalau sampai keluarga kita tahu? Reputasi aku bakal hancur," bisiknya geram. "Kalau kabar ini kemana-mana, relasi bisnisku bisa bubar."
“Reputasi? Baru kepikiran sekarang?” Tafana terkekeh pendek. “Kamu bahkan nggak menyesal menyembunyikan ini, nggak merasa bersalah ke aku, kenapa aku yang harus bijak? Ingat nggak, harusnya ini hari jadi pernikahan kita.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari tamparan. Ravindra membuka mulut, menutupnya lagi. Tidak ada bantahan.
Yunika mulai gelisah. “Kamu nggak bisa ancam kami begitu.”
Tafana memiringkan kepala. “Aku nggak mengancam, cuma mengingatkan. Kamu pikir bakal mulus jadi menantu keluarga Arvana?"
Langkah kaki mendekat. Darren muncul di samping Tafana, santai seperti baru datang ke janji makan siang. Ia menyelipkan tangan ke saku, menatap Ravindra lalu Yunika dengan senyum malas.
“Wah,” katanya. “Lengkap ya. Ada acara apa ini?"
Yunika menegang. “Kamu—”
“Darren,” Tafana memperkenalkan singkat. “Adikku, yang ngurus semua berkas, dan saksi perselingkuhan kalian. Dia udah cerita semuanya.”
Darren mencondongkan badan sedikit ke arah Yunika, suaranya rendah tapi jelas. “Kita pernah ketemu, kan? Kenal banget malah."
Wajah Yunika pucat.
“Tenang,” Darren menambahkan sambil tersenyum genit. “Aku cuma penonton.”
Ravindra tak bisa terima situasi ini, kontrolnya diambil alih. "Tafana, kamu lupa ya? Pernikahan kita cuma kontrak."
Tafana tertegun mendengarnya. "Selama ini kamu pikir begitu? Serius?" dadanya sesak, seakan rusuknya enggan mengembang.
Ia memandang dengan tatapan nyalang, "Kontrak itu sudah kamu terabas di saat kamu menyentuhku, jadi itu udah nggak berlaku buatku."
"Aku harap semesta nggak merestui kalian berdua!" pekik Tafana.
Hening.
Tafana menarik napas, lalu melangkah mundur. “Aku muak.”
Ia berbalik pergi. Darren mengikuti, bahunya sejajar, seperti tameng yang tak perlu diminta.
Di belakang mereka, Ravindra berdiri kaku. Untuk pertama kalinya, ia sadar: permainan sudah selesai. Dan ia kalah bukan karena ditinggalkan—melainkan karena kendali itu, akhirnya, berpindah tangan.
-oOo-
Siang masih terang ketika Tafana membuka pintu kamar yang selama setahun terakhir ia sebut miliknya. Cahaya matahari masuk lewat jendela besar, jatuh lembut ke seprai yang rapi, ke lemari kayu berwarna hangat, ke sudut meja rias yang nyaris tak pernah berubah. Tidak ada suasana dramatis. Tidak ada musik latar di kepalanya. Hanya sunyi yang bersih, seperti ruangan yang menunggu ditinggalkan.
Ia menutup pintu perlahan.
Tafana membuka koper kecil, meletakkannya di atas ranjang. Tangannya bergerak tenang, efisien. Pakaian-pakaiannya ia lipat satu per satu, hanya yang ia beli sendiri, yang benar-benar miliknya.
Tidak ada yang dilempar. Tidak ada yang disobek. Semua dilakukan dengan ketelitian dingin, seperti menyortir hidup yang tak lagi ingin ia bawa utuh.
Di lemari, gaun ombre biru-ungu itu tergantung paling dalam.
Gaun yang ia kenakan di malam pertama mereka mendatangi acara keluarga sebagai “suami istri sungguhan”, bukan sekadar dua orang yang menandatangani kontrak. Gaun yang dipuji Ravindra dengan nada tulus—atau setidaknya terdengar tulus waktu itu. Gaun yang menyimpan tawa kecil, foto buram, dan harapan yang pernah terasa masuk akal.
Tafana menyentuh ujung kainnya sebentar.
Tidak ada air mata, ataupun keraguan.
Ia menutup kembali pintu lemari, membiarkan gaun itu tetap tergantung di sana. Bersama jam tangan mahal, tas-tas bermerek, perhiasan kecil, dan semua hadiah Ravindra yang dulu ia terima tanpa banyak tanya. Semua itu bukan miliknya. Semua itu bagian dari kehidupan yang tidak ia pilih dengan sadar.
Di laci meja samping ranjang, ia mengeluarkan dompet tipis. Kartu-kartu kredit dan debit tersusun rapi, yang dulu Ravindra beri dengan menyebutnya nafkah. Tafana mengeluarkannya satu per satu, meletakkannya di atas meja. Tidak ada amarah dalam gerakannya. Justru sebaliknya, ada kelegaan kecil saat dompet itu menjadi ringan.
Ia menatap ruangan itu untuk terakhir kali.
Kamar itu akan terlihat sama persis setelah ia pergi. Rapi. Bersih. Utuh. Tidak ada bekas perlawanan. Tidak ada tanda tragedi.
Hanya satu hal yang tertinggal: harum Tafana yang khas—lembut, tidak menyengat, seperti kehadirannya selama ini. Tidak pernah menuntut, tapi selalu ada.
Ia mengangkat koper, membuka pintu, dan pergi tanpa menoleh.
-oOo-
Tafana berdiri di depan pintu apartemen Darren dengan koper kecil di samping kakinya. Bel baru ditekan sekali, pintu langsung terbuka setengah.
“Loh—” Darren menatap koper itu dulu, baru wajah kakaknya. “Kakak mau… tinggal di sini?”
“Sementara aja,” Tafana menjawab ringan. “Nggak boleh?”
“Bo—boleh.” Darren mundur memberi jalan, senyumnya kaku.
Dalam hati ia sudah menghela napas panjang. Privasi, pamit dulu ya.
Tafana masuk tanpa drama. Ia hanya menaruh koper di sudut, duduk, dan meneguk air yang disodorkan Darren. Sunyi tipis menggantung, lalu ponsel Tafana bergetar.
“Sierra,” katanya singkat, lalu bangkit. “Aku ke butik sebentar.”
-oOo-
Malam merambat pelan ketika Ravindra akhirnya pulang.
Ia membuka pintu kamar Tafana dengan niat biasa—sekadar mengecek keberadaannya, menghindari ruang tengah yang terlalu sunyi. Tapi langkahnya terhenti di ambang pintu.
Ada sesuatu yang berbeda.
Bukan berantakan, justru terlalu rapi.
Lemari tertutup rapat. Meja rias kosong. Kursi kecil di sudut kamar bersih tanpa tas yang biasanya tergantung di sana. Tidak ada koper, tidak ada baju tercecer, tidak ada tanda orang pergi dengan tergesa.
Hanya harum Tafana yang masih menggantung di udara.
Ravindra melangkah masuk, pelan, seolah takut mengusik sesuatu yang rapuh. Ia membuka lemari. Gaun ombre biru-ungu itu masih di sana. Hadiah-hadiah mahal masih tersusun utuh. Di atas meja, kartu-kartu yang ia kenal baik tergeletak rapi, sejajar, seolah sengaja ditinggalkan sebagai pesan tanpa kata.
Ia duduk di tepi ranjang.
Baru saat itu ia sadar: rumah ini kosong lagi.
Sunyi yang dulu ia kenal, sebelum Tafana datang, kini kembali—lebih pekat, lebih memalukan.
Ia teringat tawaran Yunika sore itu, setengah bercanda, setengah berharap:
"Aku tinggal di rumahmu aja, gantikan dia."
Ravindra menolaknya tanpa pikir panjang. Bukan karena kesetiaan, tapi karena takut keluarganya tahu. Properti Arvana sering dipantau keluarganya, mereka akan murka dengan kehadiran perempuan yang “belum sah” di keluarga.
Ironis.
Ia menghirup napas panjang, dan untuk pertama kalinya sejak siang tadi, pikirannya benar-benar jernih.
Tafana tidak marah. Tidak berteriak. Tidak menghancurkan apa pun. Kekecewaannya jauh lebih kejam—ia pergi dengan martabat utuh, meninggalkan Ravindra sendirian dengan kesalahannya sendiri.
Dan baru sekarang, Ravindra ingat. Hari ini hari jadi pernikahan mereka, genap satu tahun.
Ia tertawa kecil, getir. Semua ia hancurkan. Dan sampai akhir pun, ia bahkan tidak meminta maaf dengan benar. Yang ia pikirkan justru aib, posisi, dan dirinya sendiri. Tafana benar. Ia keterlaluan.
Ravindra menunduk, menatap lantai yang bersih.
Malu. Bukan pada orang lain, tapi pada kedewasaan perempuan yang ia remehkan. Serta pada dirinya sendiri—lelaki yang terlalu tamak dan egois, mengorbankan orang-orang di sekelilingnya, lalu heran ketika akhirnya ditinggalkan sendirian.
-oOo-
Butik Sierra dipenuhi aroma kain baru dan suara mesin jahit. Begitu melihat Tafana, Sierra langsung memeluknya erat.
“Udah cukup,” katanya tegas. “Cowok pengecut itu nggak pantas dapat lo.”
Tafana tersenyum tipis, kali ini tulus. Mereka duduk di ruang belakang, kopi menghangatkan telapak tangan.
“Gue ada properti keluarga,” lanjut Sierra. “Letaknya di pinggir kota, tapi akses ke sini dekat. Lo bisa tinggal dengan tenang di sana.”
“Gue mau,” Tafana mengangguk. “Satu syaratnya. Jangan beri tahu siapa pun keberadaan gue. Baik itu keluarga gue, keluarganya—apalagi dia.”
“Deal.”
-oOo-
Malamnya, Darren membantu menurunkan koper ke mobil Sierra. Ia tersenyum lega saat pintu lift menutup.
“Makasih, Dek,” kata Tafana.
Darren mengangguk. Pintu apartemen tertutup kembali. Sunyi yang ia kenal menyambut, dan akhirnya malam itu, ia merasa benar-benar bebas lagi.
batu kali kau dapatkan