Ketika ada yang telah mengisi hati Amara, datanglah seseorang yang membuatnya kembali ke kisah masa lalu yang ingin di lupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Arafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkara hukum
" Sepertinya ada pertunjukan di sini? ".
Dia lah gadis muda cantik yang beberapa hari lalu telah memakai gaun rancangan butik ini. Mbak Sofia, dia datang bersama sang adik. Dia juga terlihat geram melihat situasi ini.
" Saya sudah cukup dengar tentang apa yang terjadi. Tapi saya juga ada kejutan lain"
Dia menyodorkan ponselnya pada bulan Zahira.
" Lagi rame di sosmed kalau gaun yang ku pakai kemaren itu meniru karya seseorang".
Aku terkejut sampai hampir tumbang. Bagaimana mungkin? Bahkan kami merancangnya sendiri.
" Maksudnya apa? ". Mbak Nayla mulai tak bisa mengontrol emosi. Dan aku hanya memegangi pundaknya agar dia tak sampai meledak ledak.
" Ya.. intinya. Design yang kemarin rusak itu ada yang meniru. Mirip banget untungnya gaun untuk ku segera jadi dengan beda, walaupun mirip, jadi tetep punya butik ini.".
" Kamu juga yang melakukan ini Ran? ". bu Zahira benar benar marah.
"Kamu jual karya kami? "
" ya.... udah rusak juga kan, dari pada di buang. Kalo gini kan jadi banyak yang menikmati ".
" Benar benar kejam kamu"..
" Kamu maunya apa sih...? tega banget menusuk saya dari belakang. Kamu harus di hukum".
" Saya nantikan hukumannya".
Gila memang. Rani bahkan tidak takut apa pun. Apa sesakit hati itu dia sama kami sampai dia lakuin hal ini. Tapi apapun alasannya dia tidak bisa lolos dari hukuman.
" Saya akan perkara kan dia karena menjual karya kami tanpa ijin". Mbak Nayla begitu marah dan juga kecewa.
" Betul.. dan saya akan mengeluarkan dia dari butik ini. Dengan. tidak hormat. Tadi nya aku pikir kesempatan kedua akan kamu terima karena biar bagaimanapun kamu sudah berkontribusi untuk kemajuan butik ini. Tapi setelah yang kamu lakukan di belakang kami, Saya tidak akan membiarkan kamu lolos kali ini". Bu Zahira masih mengamuk.
" Ya... memang saya sudah si anggap tidak ada sejak Amara masuk. Jadi lakukan saja, saya tidak takut sedikitpun ". Rani masih begitu kokoh berdiri di sana.
" Saya juga tak terima karena gaun saya di bilang tiruan. Padahal Eksklusif, Apalagi saya dapat banyak kritikan pedas di medsos.. jadi saya menyumbang pengacara untuk mengusut hal ini. Kalian bisa pakai pengacara keluarga saya".
" Terima kasih mbak Sofia. Sekarang enaknya kita apain nih orang? ".
"Ya sudah yang lain bubar dam kembali bekerja". bu Zahira memerintahkan pada semua karyawan agar kejadian ini tak terulang lagi".
" Rani.... " Aku mendekatinya tenang walau dalam hati menahan. emosi. " Apa salah saya sampai kamu tega melakukan ini".
" Salah kamu karena kamu hadir di sini. Karena kamu mengambil jon saya".
" Lalu kamu dapat apa dari kejadian ini? Nggak dapat apapun kan? tapi kehilangan segalanya, termasuk kebebasan".
Rani masih diam membeku.
" Kamu itu cuma di jadikan alat sama seseorang. Orang yang kamu kirimi design kami itu. Dan parahnya lagi kamu juga lah yang harus memerima hukuman secara hukum maupun sosial. Apa kamu nggak menyesal? ".
Sepertinya dia mulai berpikir tentang akibat yang akan di terima nya. Wajahnya mulai memucat tapi masih sok tegar.
" Sudahlah... Bersiap lah keluar butik ini sekarang juga. Dan bersiaplah menghadapi kami di pengadilan". Bu zahira menegaskan keputusan nya.
Rani tersentak tapi masih bisa mengendalikan diri.
" Baik.. saya pergi.. dan akan bersiap untuk resiko apapun ".
" Bagus kalau begitu.... Keluar sekarang juga".
Rani pergi dari ruangan itu, bahkan dari butik ini. Sebenarnya aku kasihan juga tapi kalau mengingat kelakuan nya, sungguh ingin rasanya aku ingin mengacak acak wajahnya seperti dia yang sudah mengacak acak karyaku. Tapi itu pun tak akan berguna. Yang pasti dia harus membayar mahal untuk hal ini.
Aku, mbak Nayla, mbak Sofia dan juga Arsaka kini duduk di sofa di ruangan bu Zahira. Banyak hal yang harus di diskusikan.
" Saya akan menghubungi pengacara untuk datang kesini sekarang". ucap Arsaka memecah keheningan.
" Lakukan... Bilang padanya kalau saya yang menyuruh dan saya juga tunggu disini". Mbak Sofia menimpali.
" Terima kasih bantuan nya mbak". bu Zahira sudah mulai tenang. Tidak semarah sebelumnya.
" Kita bisa kan menyeret dia ke penjara" mbak Nayla masih terlihat sangat marah.
" Bukan hanya dia. tapi juga orang yang berani mengklaim karya kalian". mbak Sofia memastikan.
" Menurut saya... ada pihak lain yang berbunyi si kasus ini". Arsaka mengatakan pendapatnya setelah berhasil menghubungi pengacara.
" Bagaimana kamu bisa bilang begitu? ". Aku penasaran.
" Melihat si pelaku tak gentar seperti tadi tak mungkin kan dia sendirian? Pasti ada seseorang di belakangnya yang bisa memperkuat posisi dia".
" Benar juga. Mungkinkah dia hanya suruhan seseorang? ".
Deg....
Apa benar begitu? tapi siapa? aku merasa tak punya musuh.
" Kita akan bahas ini lebih lanjut setelah pak Ahkam, pengacara saya sampai di sini. Kita akan bahas segala kemungkinan yang bisa terjadi". Mbak Sofia menengahi.
Keheningan mengusai ruangan ini. Semua sedang sibuk dengan pikiran nya masing masing. Hingga seseorang masuk. Ku kira si pengacara yang datang, tapi ternyata kurir minuman.
" Nah.. sambil nunggu pah Ahkam, mending kita minum dulu untuk mendinginkan pikiran. Biar nanti kita bisa berpikir jernih untuk menyusun strategi kita".
Tanpa banyak bicara, kami hanya menurut saja. Karena jujur aku masih syok dengan kejadian yang baru saja terjadi.
Satu jam lebih setelah Arsaka menghubungi pengacara, akhirnya yang di nanti datang. Kami menyambutnya hangat dan menceritakan semua yang terjadi Tanpa melewatkan apapun.
" Saya rasa, kita bisa segera memperkarakan nya mengingat bukti yang sudah ada. Bahkan sampai dalangnya pun bisa segera kita tangkap. Tapi semua pasti ada prosesnya. Dan mungkin akan panjang". Pak Ahkam menjelaskan.
" Saya percayakan semua kepada anda pak".
Bu Zahira menanggapi dan di ikuti anggukan oleh pak Ahkam.
Akhirnya pertemuan pertama selesai. Semua akan di mulai dari laporan ke kantor polisi esok hari.
Pikiran yang penat membuat kami ingin segera beristirahat. Di jam makan siang, kami mengistirahatkan diri sejenak.
" Ra... keluar yuk... me re fresh otak sejenak".
Arsaka mengajakku setelah sang pengacara pamit meninggalkan butik. Tapi aku nggak enak sama yang lain.
" Nggak enak sama yang lain Ar.... aku di sini aja deh... ". Tolak ku halus.
" Maaf semuanya... Bagaimana kalau kita makan di luar dulu. Itung itung mengumpulkan tenaga untuk mulai berperang? ". Arsaka malah mengajak kami semua.
" Ide bagus". jawab mbak Sofia. " Kamu yang traktir kan? ".
" Iya siap... dari pada lihat wajah kalian semua kusut seperti ini. Mungkin ini sebagai sedikit ucapan penyemangat. Agar kita bisa menghadapi kasus ini dengan baik".
" Oke lah... yuk pergi. Ke restoran terdekat aja biar nggak memakan banyak waktu". kali ini mbak Sofia yang mengajak kami.
Kami masih diam dan saling pandang. Sementara Arsaka memandangmu seperti memohon agar aku mau pergi bersamanya.
" Ayo lah... Jangan banyakan mikir. Masalah ini biar pak Ahkam yang tangani. Kalian cuma perlu memastikan kalau butik baik baik saja dan tidak akan mengalami kelumpuhan dengan keluarnya Rani. Kan di butik ini ada designer hebat lain nya".mbak Sofia kembali mengajak kami yang masih terdiam.
" Itu pasti.. Butik akan tetep sempurna. Bahkan akan lebih baik". bu Zahira mengatakan dengan lantang sambil menatapku dan mbak Nayla bergantian.
Aku dan mbak Nayla mengangguk. Dan kami pun pergi maka di luar untuk memulihkan tenaga yang hampir habis terkuras karena emosi.