Di saat resepsi pernikahan. Anjani Thalia harus menerima kenyataan pahit jika calon suaminya tiba-tiba saja membatalkan pernikahannya.
Keluarga Anjani merasa malu dan marah karena merasa di permainkan oleh Arjuna . Calon menantu mereka.
Bahkan yang paling mengejutkan, ternyata Arjuna memilih wanita lain. Dan yang lebih mengejutkan dia memilih teman Anjani sendiri sebagai calon istrinya.
Saat keadaan kacau Anjani terlihat pasrah dengan kehancuran di depan matanya. Namun siapa sangka seseorang justru menyelamatkannya dari kehancuran itu.
Keandra Alarick. Mantan Anjani datang dengan tiba-tiba dan ingin menikahinya. Hal itu pun membuat semua orang terkejut.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Apa Anjani akan melanjutkan pernikahannya dengan Keandra?
Apakah setelah ini kehidupan Anjani akan bahagia?
Ikuti kisah mereka sampai selesai.
Jangan lupa follow. Beri like dan komentar kamu ya!
Happy Reading...! 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Ketakutan Anjani
Keandra terdiam. Entah kenapa, hatinya kesal saat mendengar ucapan Anjani yang terdengar putus asa. Bukan ini yang ingin ia dengar dari Anjani. Melainkan, ia ingin Anjani menyemangatinya. Bukan terlihat lemah seperti ini.
"Tidak." jawab Keandra dingin. Menatap lekat wajah Anjani. "Kenapa kamu selemah ini, Anjani? Apa jangan-jangan kamu mengharapkannya?" tanyanya balik.
Anjani menggeleng cepat. "Tidak, Kean. Bukan begitu maksud ku. Hanya saja...."
"Jangan dengar apa kata kakek. Biarkan saja dia melakukan apa yang dia mau. Yang penting, aku tidak akan melakukan hal seperti yang dikatakannya." sela Keandra tegas.
"Baiklah, Kean. Aku percaya pada mu." Anjani tersenyum tipis. Meskipun sebenarnya hati Anjani masih ragu, jika Keandra akan berpihak kepadanya. Sebab yang ia tahu jika sampai detik ini Keandra masih belum bisa menerimanya sepenuh hati.
Malam hari
Setelah kejadian tadi pagi, membuat Anjani merasa tidak tenang. Walaupun saat ini Keandra masih bersikap sama seperti biasanya. Malam ini Anjani sedang terlihat mengerjakan pekerjaannya yang belum selesai di kantor. Menyiapkan beberapa dokumen yang di minta oleh Keandra.
Anjani tetap fokus. Sampai pada akhirnya ia merasakan pusing yang hebat.
"Kenapa kepala ku pusing?" tanya Anjani pada dirinya sendiri. Memijat pelan kening yang terasa sangat pusing. Anjani lupa, jika dari tadi pagi belum makan sama sekali. Sebab kedatangan Darma membuatnya tertekan.
Anjani menyudahi pekerjaannya. Kepalanya semakin pusing. Sedangkan Keandra tidak terlihat keberadaannya. Sebab tadi ia tidak pamit mau pergi kemana.
Anjani memutuskan untuk pergi ke luar. Tujuannya dapur. Ingin mengambil air minum untuk minum obat. Berharap rasa pusingnya sembuh setelah minum obat.
Anjani berjalan perlahan. Namun seketika pandangannya kabur. Semua terasa gelap. Tak ada cahaya sedikit pun. Ia pun jatuh pingsan, sebelum membuka pintu kamar.
BRAAAAK...!
Tubuh Anjani tergeletak di lantai. Keadaannya sangat mengkhawatirkan.
CKLEK...
Pintu kamar terbuka. Keandra yang baru saja pulang masuk ke dalam kamar. Namun seketika matanya membulat, melihat Anjani tergeletak tak sadarkan diri.
"ANJANI!" teriak Keandra terkejut. Berlari mendekati Anjani. Memastikan keadaannya. "Anjani. Sadarlah." Menepuk pelan pipi Anjani yang terlihat pucat.
Keandra menggendong tubuh Anjani. Membaringkannya di atas tempat tidur.
"Apa yang sudah terjadi pada mu, Anjani? Kenapa kamu tidak memberitahu ku, kalau kamu sakit?" ucap Keandra, dengan tangan sibuk menyelimuti tubuh Anjani.
Setelah selesai menyelimuti tubuh Anjani. Keandra berdiri sebentar. Menatap wajah Anjani dengan perasaan penuh rasa bersalah. Tak lama kemudian, ia menghubungi dokter untuk memeriksa keadaan Anjani.
Keandra duduk di tepi ranjang. Perlahan tangannya memegang tangan Anjani, yang terasa dingin. Mengusapnya perlahan dengan rasa bersalah menyelinap pada relung hatinya.
"Aku tahu. Ini salah. Tapi... Aku benar-benar tidak bisa melihat mu seperti ini. Bangun lah Anjani. Bangunlah." ucap Keandra penuh kekhawatiran. Hatinya benar-benar rapuh, melihat keadaan wanita yang ia cintai terbaring lemah seperti itu. Namun itu Keandra tunjukkan, karena Anjani sedang tidak sadarkan diri.
Tok... Tok... Tok...
Tidak lama kemudian, terdengar ketukan pintu dari luar. Keandra bangkit dari duduknya. Membukakan pintunya.
"Selamat malam tuan Keandra." sapa dokter, tersenyum ramah. Dia dokter Steven. Dokter pribadi keluarga besar Keandra.
Keandra mengangguk pelan. "Selamat malam, dok. Silahkan masuk!" titahnya, ramah.
Dokter Steven masuk. Langsung memeriksa Anjani yang masih belum sadarkan diri.
"Bagaimana keadaannya, dok?" tanya Keandra, tak sabaran. Apalagi saat melihat raut wajah dokter Steven yang serius, membuat Keandra semakin khawatir sekaligus penasaran.
Dokter Steven tersenyum. "Yang pastinya, keadaan nona Anjani tidak baik-baik saja. Asam lambungnya naik. Apa dia suka telat makan? Dan bisa jadi, hal ini juga di akibatkan stress berlebihan." paparnya menjelaskan.
Keandra hanya terdiam. Jujur selama ini, ia tidak pernah memperhatikan keadaan Anjani. Mau begini mau begitu, ia benar-benar tidak peduli.
Dokter Steven menyimpan stetoskop nya. Menulis sesuatu di selembar kertas.
"Ini ada beberapa resep obat yang harus di beli. Dan saya sarankan, nona Anjani tidak telat makan. Makan makanan yang lembut dulu. Usahakan untuk saat ini jangan banyak pikiran." ucap dokter Steven, sambil memberikan resep obat pada Keandra.
Keandra mengambil resep tersebut. Menatap kertas itu, dengan pikiran yang sedikit berkecamuk. Di samping itu, dokter Steven hanya tersenyum tipis. Ia dapat melihat kekhawatiran Keandra pada Anjani saat ini.
"Kalau begitu, saya permisi dulu." ucap dokter Steven, membuyarkan lamunan Keandra.
"Saya antar sampai depan, dok."
Dokter Steven mengangguk pelan. Mereka pergi keluar. Meninggalkan Anjani sendirian di kamar itu.
Setelah mengantarkan dokter Steven ke depan rumah. Keandra menyuruh salah satu pelayan, untuk pergi ke apotek. Membeli beberapa obat untuk Anjani. Tak lama kemudian, Keandra memutuskan untuk kembali kekamar. Berharap Anjani sudah siuman saat dirinya kembali kekamar.
CKLEK...
Keandra masuk kedalam kamar. Kembali menghampiri tempat tidur. Menatap Anjani, yang masih setia memejamkan mata.
"Hei, bangunlah." ucapnya pelan. Duduk di tepi ranjang. Menggenggam tangan Anjani yang kembali hangat. "Kamu sengaja membuat ku khawatir."
Seorang Keandra terlihat rapuh, saat melihat keadaan Anjani lemah seperti itu. Tanpa menyadari, jika sikap yang ia tunjukkan pada Anjani saat ini berbeda dengan sikapnya di hari-hari biasa.
Jari Anjani perlahan bergerak. Hal itu membuat Keandra terlihat senang.
"Anjani. Bangunlah." ucap Keandra, antusias. " Anjani. Ini aku. Kamu tidak sendirian lagi."
Anjani membuka matanya perlahan. Menatap langit-langit kamar, seakan sedang mengumpulkan penuh kesadarannya.
"Kean." ucapnya pelan. Menatap Keandra. Tersenyum tipis. Bahagia karena sekarang Keandra berada di sampingnya. "Kean apa yang sudah terjadi? Kenapa kepala ku sangat pusing?" Berusaha bangun. Namun dengan cepat Keandra mencegahnya.
"Jangan bangun dulu. Keadaan kamu masih lemah. Tadi kamu pingsan. Dan tadi dokter sudah memeriksa kamu." jawab Keandra, tegas.
"Apa pingsan?" tanya Anjani. Mencoba mengingat apa yang sudah terjadi pada dirinya. Bayangan dimana dirinya merasakan sakit seketika terlintas. "Maaf... aku sudah merepotkan kamu."
Keandra menghela nafas. "Kamu sama sekali tidak merepotkan, ku. Dokter bilang, kamu telat makan. Dan juga stress." ucapnya, memberitahu hasil pemeriksaan dokter Steven.
Anjani terdiam. Iya benar-benar lupa, jika hari ini memang belum menyentuh makanan apapun. Di tambah lagi persoalan Darma yang membuatnya selalu tertekan, jika mengingat semua ucapannya.
"Apa semua ini karena kakek?" tanya Keandra, seakan tahu apa yang sedang Anjani pikirkan.
"Tidak, Kean."
"Jangan bohong, Anjani. Aku tahu keadaan mu seperti ini, karena sikap kakek tadi pagi. Aku juga merasakan apa yang kamu rasakan. Tapi aku tidak terlalu memikirkan hal itu. Karena semua itu sudah terbiasa bagiku."
Anjani kembali terdiam. Terbiasa. Apa selama ini, Keandra juga tertekan oleh sikap kakeknya. Tapi kenapa? Bahkan mertuanya saja tidak pernah menekan Keandra. Tapi tidak dengan Darma. Ingin selalu melakukan yang terbaik untuk Keandra. Meskipun hal itu, sama sekali membuat Keandra tidak nyaman.
"Aku takut, Kean." ucap Anjani pelan.
lanjut Thor double up 🔥🔥🔥
lanjutin ceritanya sampai tamat