Nadya adalah definisi istri sempurna: cantik dengan wajah baby face yang menggemaskan, tubuh sintal yang terjaga, dan hati selembut sutra. Namun, kebaikannya yang tanpa batas justru menjadi bumerang. Demi membangkitkan butik eksklusifnya yang mulai lesu, Nadya mempekerjakan Stefani, seorang top affiliate e-commerce berusia 21 tahun yang sedang naik daun.
Stefani bukan sekadar rekan kerja biasa. Di balik wajah cantiknya yang sensual dan gaya bicaranya yang manja, ia adalah predator yang haus akan kemewahan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah mewah Nadya, target Stefani berubah. Ia tidak lagi menginginkan komisi penjualan, ia menginginkan seluruh hidup Nadya—termasuk suaminya, Erian.
Erian, seorang eksekutif muda yang gagah, selama ini memendam gairah besar yang tidak tersalurkan karena sifat Nadya yang terlalu pasif dan "terlalu baik" di ranjang. Celah inilah yang dimanfaatkan Stefani dengan sangat licik. Dengan kedok profesionalisme—sering menginap untuk alasan live.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gusmon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Kedatangan Clarissa
Kamar hotel bernuansa minimalis itu terasa begitu luas dan dingin bagi Erian. Ia duduk di tepi ranjang yang spreinya masih tampak rapi, menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan deretan gedung pencakar langit Jakarta yang berkelap-kelip. Di tangannya, sebuah gelas air mineral yang sudah kosong ia remas pelan, mencerminkan kekalutan jiwanya yang sedang di ambang kehancuran.
Pikirannya melayang pada kejadian di dapur semalam—pergulatan kotor yang direkayasa Stefani, tatapan hancur Nadya di tangga, hingga tuduhan korupsi di kantor yang terasa begitu tiba-tiba dan sistematis. Erian merasa seperti tikus yang sedang terjebak di dalam labirin yang dinding-dindingnya mulai menyempit, siap menghimpitnya sampai mati.
"Bagaimana bisa semuanya terjadi dalam satu malam?" gumamnya lirih. Suaranya tenggelam dalam kesunyian kamar.
Tepat saat ia hendak memejamkan mata untuk mengusir bayangan wajah kecewa Nadya, ponselnya yang tergeletak di atas nakas bergetar hebat. Sebuah nama muncul di layar: Clarissa.
Erian menghela napas panjang. Clarissa adalah manajer keuangan di kantornya, sekaligus sahabat karibnya sejak masa kuliah. Mereka pernah memiliki kedekatan yang sangat dalam, sebuah rasa yang hampir saja bermuara pada komitmen, sebelum akhirnya Clarissa harus mengikuti orang tuanya pindah ke luar negeri selama lima tahun dan melanjutkan studi di Eropa. Saat Clarissa kembali ke Indonesia, ia mendapati Erian sudah bersanding dengan Nadya. Meski begitu, profesionalitas dan persahabatan mereka tetap terjaga, meski ada ruang kosong yang tak pernah mereka bahas lagi.
Erian menggeser tombol hijau, suaranya terdengar sangat lelah. "Halo, Clar?"
"Erian, sorry banget ganggu larut malam begini," suara Clarissa di seberang sana terdengar cepat dan penuh tekanan, seolah ia baru saja melarikan diri dari sebuah pertempuran. "Urgent soalnya. Tadi aku dipanggil dan diinterogasi selama tiga jam sama tim audit, gila! Aku sampai keringetan, Er. Aku jawab semuanya sesuai prosedur dan sepengetahuanku sebagai manajer keuangan."
Erian memijat pangkal hidungnya. "Interogasi? Jadi mereka serius mau menyeretku?"
"Ini lebih dari serius, Er. Semua pertanyaan mereka benar-benar menjebak dan semuanya mengarah ke kamu. Seolah-olah ada 'jalur' yang sengaja dibuat supaya semua kesalahan berhenti di meja kamu," lanjut Clarissa dengan nada khawatir yang tidak bisa disembunyikan. "Sekarang kamu di mana? Ada waktu? Bisa aku ketemu? Aku mau kasih lihat beberapa poin yang tadi ditanyakan audit, mungkin kamu bisa ingat sesuatu."
Clarissa terdiam sejenak, lalu suaranya melunak, "Tapi... ya kalau Nadya ngebolehin sih. Minta izin dulu gih ama Nadya. Aku nggak mau nambah masalah rumah tangga kamu."
Erian terdiam mendengar nama Nadya disebut. Ia menatap selimut hotel yang dingin, merasa ironi yang amat sangat. Istrinya saat ini mungkin sedang menganggapnya sebagai pengkhianat, sementara ia sedang berjuang membersihkan namanya dari fitnah yang disusun rapi oleh orang-orang di sekitarnya.
"Nadya... dia sedang butuh waktu, Clar," jawab Erian pelan, menyembunyikan kenyataan bahwa ia sedang terusir dari rumahnya sendiri. "Kita ketemu sekarang. Di lounge hotel tempatku menginap saja. Aku akan kirim lokasinya. Aku benar-benar butuh bantuanmu untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di sistem keuangan itu."
Suasana di kamar hotel itu mendadak berubah drastis saat bel pintu berbunyi. Erian melangkah dengan berat, mengira itu mungkin layanan kamar atau pesan antar yang ia lupakan. Namun, saat pintu terbuka, ia seolah ditarik paksa dari keterpurukannya oleh kehadiran sosok yang sangat kontras dengan suasana hatinya yang kelam.
Clarissa berdiri di sana, dan harus diakui, ia tampak lebih menawan daripada terakhir kali mereka bertemu di ruang rapat. Sebagai keturunan campuran—ayahnya seorang bule—Clarissa memiliki fitur wajah yang eksotis: hidung mancung yang tegas, bibir penuh, dan yang paling mematikan adalah matanya yang berwarna biru jernih serta rambut hitam dengan semburat kemerahan alami yang ia sibakkan seluruhnya ke bahu kiri.
Malam itu, ia tidak berpakaian seperti seorang manajer keuangan yang kaku. Ia mengenakan jaket kulit hitam ketat model crop yang menonjolkan lekuk pinggangnya. Di balik jaket yang terbuka itu, hanya ada sebuah tank top putih yang sangat tipis dan ketat, dengan belahan dada yang begitu rendah hingga memamerkan sepasang gundukan dadanya yang bulat, kencang, dan tampak sangat berisi. Dipadukan dengan rok super mini dari bahan katun yang agak longgar, paha mulusnya yang jenjang terpampang nyata di bawah lampu koridor hotel yang remang.
Begitu ia melangkah masuk, aroma tubuhnya langsung memenuhi ruangan. Perpaduan antara floral sweet, kesegaran Dunhill Blue, dan eksotisme bunga Rosella menciptakan sebuah aroma yang begitu memabukkan, jenis parfum yang mampu melumpuhkan logika pria mana pun dalam hitungan detik.
"Sorry, Erian... aku ke kamar aja langsung. Tadi aku tanya ke resepsionis kamarmu di mana," ucap Clarissa dengan suara seraknya yang khas sambil mengangkat sebuah botol kaca berwarna gelap. "Aku bawa wine vintage ini. Baru dikirim omku dari Eropa. Lagian aku pusing banget, pening kepalaku habis diinterogasi tadi."
Ia berjalan melewati Erian menuju meja kecil di sudut kamar, langkahnya yang gemulai membuat rok mininya sedikit bergoyang, memberikan kilasan paha yang lebih jelas.
"Kalau kamu nggak mau minum nggak apa-apa, biar aku minum sendiri. Maklum, aku kalau lagi pusing atau stres, suka minum wine buat pelepas penat," lanjutnya sambil menaruh botol itu dan menatap Erian dengan mata birunya yang seolah bisa menembus jantung pria itu.
Erian hanya bisa terpaku di depan pintu yang baru saja ia tutup. Kehadiran Clarissa yang begitu sensual dan membawa aroma masa lalu yang intim, kini berada di ruang pribadinya di saat ia sedang dalam titik terlemahnya.
"Clar... kamu nekat banget ke sini jam segini dengan pakaian seperti itu," gumam Erian, mencoba menarik kembali sisa-sisa kewarasannya yang mulai tumpul oleh aroma parfum Clarissa.
"Kenapa? Kamu takut sama aku? Atau takut sama diri kamu sendiri?" goda Clarissa sambil mulai membuka tutup botol wine itu, memberikan senyum tipis yang penuh teka-teki.
Suasana di dalam kamar hotel yang kedap suara itu kini terasa begitu pengap dan bermuatan listrik statis yang berbahaya. Ketegangan profesional antara seorang manajer keuangan dan rekan kerjanya perlahan-lahan terkikis oleh tarikan gravitasi fisik yang sangat kuat.
Clarissa bergerak dengan santai namun penuh maksud. Ia perlahan mencopot jaket kulitnya dan menyampirkannya di kursi, meninggalkan tubuh bagian atasnya hanya terbalut tank top putih tipis yang sangat provokatif.
"Sorry Er, aku gerah banget. AC hotel ini kerasa nggak sanggup nurunin suhu badanku," ucapnya dengan nada manja yang bergetar rendah, sambil mengibaskan rambutnya yang harum ke belakang.
Clarissa kemudian duduk di tepi ranjang, membuka laptopnya, dan menepuk area kasur di sebelahnya. "Duduk sini Er, jauh-jauhan kenapa? Kamu takut aku terkam ya? Kalau duduk di situ kamu nggak bisa liat layar laptopku, datanya kecil-kecil lho."
Erian, dengan jantung yang berdegup tidak karuan, akhirnya menyerah dan duduk di samping Clarissa. Jarak mereka kini hanya terpaut beberapa sentimeter. Aroma parfum floral-rosella yang memabukkan itu kini menyerang indra penciuman Erian tanpa ampun, menumpulkan logika yang tersisa di kepalanya.
Saat Clarissa mulai menunjukkan barisan angka dan grafik di layar, Erian harus condong ke arahnya untuk melihat detail transaksi yang mencurigakan. Karena keperluan menunjuk data, tangan Erian berkali-kali harus menjangkau area touchpad laptop yang sedang dikendalikan Clarissa. Akibatnya, tangan Erian berulang kali bersentuhan dengan tangan Clarissa, dan dalam gerakan yang canggung, telapak tangan Erian tak sengaja menyentuh sisi dari kedua gundukan kenyal Clarissa yang menyembul dari balik tank top tipisnya.
"Sorry Clar, aku nggak sengaja... sumpah," bisik Erian dengan suara parau, tenggorokannya terasa sangat kering.
Clarissa tidak marah, bahkan tidak menjauhkan diri. Ia justru menoleh sedikit, memberikan tatapan dari mata birunya yang berkilat nakal. Dari jarak sedekat itu, wajah mereka nyaris bertempelan. Erian bisa melihat dengan sangat jelas belahan dada Clarissa yang menyembul bulat dan berhimpitan ketat, terdorong oleh posisi duduknya yang sedikit membungkuk. Kulit putihnya yang halus tampak berkilauan tertimpa lampu nakas yang kuning keemasan.
Erian berulang kali menelan ludah. Kombinasi antara visual yang begitu vulgar, sentuhan fisik yang tak disengaja, dan aroma parfum yang merangsang, membuat pertahanan biologisnya runtuh. Di balik celana boxer yang ia kenakan, "tongkat sakti" Erian bereaksi hebat, berdiri tegak dan menyembul dengan sangat jelas.
Clarissa melirik ke bawah, ke arah pangkuan Erian. Sebuah senyum tipis, hampir seperti seringai kemenangan, muncul di bibirnya. Ia tahu persis apa yang sedang terjadi pada pria di sampingnya. Ia tidak mengalihkan pandangannya, seolah ingin menikmati pemandangan reaksi tubuh Erian yang tak bisa berbohong itu.
"Data ini memang bikin pusing ya, Er..." bisik Clarissa, suaranya kini semakin pelan dan menggoda, sementara tangannya perlahan bergeser dari laptop, seolah-olah secara 'tidak sengaja' mendekat ke arah paha Erian.
ntar kl suami selingkuh dng wanita itu yg di Salah kan suaminya pdhl yg Salah jls istri sah yg mmbawa wanita lain tinggal di situ 🤣🤭.
mkne kl erian terjerat ma pelakor ya yg Salah istri sah lah. gk muasin suami plus malah bawa wanita lain seatap. 😄🤭