Ricky Riswan ( Yasir Hamdan)seorang pekerja di kota Jakarta yang baru saja mendapatkan gelombang PHK dari perusahannya tempatnya bekerja, ia memutuskan untuk kembali ke Tasikmalaya, di mana tanah kelahirannya berada ,ia berencana untuk mengembangkan dan mengolah lahan milik keluarganya , hanya saja di tengah jalan ,mobil bus yang ditumpanginya mengalami kecelakaan dan meledak ,dan saat ia sadar ia berada di desa yang sangat asing bagi dirinya dan baru mengetahui bahwa dirinya akan dijadikan sebagai pengantin pria untuk dua gadis yang tidak dia kenal , bagaimana kelanjutan cerita ini, masih lama bro ,mungkin nunggu dua tahun atau lebih...!!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pecinta timur10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26 mengantarkan umi berobat
Yasir tidak tahu apa yang dipikirkan oleh orang Belanda itu , ia terlihat berjalan bersama keluarganya menuju arah timur , di mana dengan tujuannya rumah mantri desa yang cukup terkenal .
Ia tahu dengan lokasi tempat kediaman mantri desa itu, karena beberapa bulan yang lalu pernah mengacaukan halaman rumah mantri desa itu dan juga mencuri beberapa barang berharga seperti uang dan emas.
Mengingat hal itu tanpa sadar ia tersenyum kecut dan menggelengkan kepala .
" untung saja saat itu tidak ada yang tahu , kalau tidak, aku tidak punya muka untuk menatap ke dunia , tapi dari hal itu aku tahu bahwa mantri itu tidak jujur dan suka mengacaukan hubungan keluarga orang lain " gumamnya dalam hati .
" mas ada apa ?"
" tidak apa apa , ayo segera cepat, sebelum malam tiba " kata Yasir tersenyum tipis.
" iya mas ..!".
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya satu keluarga itu tiba di halaman depan sebuah rumah gedung berwarna putih, penampilannya yang modern dan penuh arsitektur Barat membuatnya menjadi satu satunya rumah paling mewah di desa Plarangan, bahkan rumah kepala desa dan kepala kampung tidak begitu mewah , hal itu kemungkinan hasil dari gaji pemerintah dan biaya tarif obat yang dikeluarkan oleh mantri desa itu pada setiap pelanggan yang datang .
Tok Tok Tok....!"
" pak mantri ... halo... !" Yasir memukul pintu keras keras dan dari dalam suara langkah kaki terdengar pelan .
Bruakk..
Pintu kayu jati itu terbuka, memperlihatkan sosok pria paruh baya yang tampak begitu kuyu , seperti habis melakukan kegiatan yang berlebihan .
" ada apa , kamu siapa ?" Tanyanya dengan nada datar , pandangan matanya teralihkan ke arah dua wanita muda yang tampak menatap ke bawah , sekilas baru ingat bahwa ucapannya pada waktu tadi pagi untuk mengharuskan ibu dari gadis muda itu agar datang berobat ke rumahnya.
Yasir tersenyum tenang, matanya yang tajam bisa melihat bagaimana pandangan aneh pria paruh baya yang ada di hadapannya terhadap kedua istrinya, namun ia masih menahan dan tidak menimbulkan masalah.
" umi kami sakit , seperti yang pak mantri katakan, bahwa umi kami harus dirawat di rumah anda " kata Yasir tersenyum tipis.
" ohh iya , aku baru ingat , segera bawa pasien masuk ..!"
Yasir menoleh ke belakang dan kedua istrinya paham , dengan hati hati membimbing wanita paruh baya yang tampak rapuh itu masuk ke dalam .
Di dalam tidak terlihat keberadaan seseorang atau pelayan , hanya ruang putih tanpa ada satu potret pun tergantung di dinding .
Ia mengamati dengan cermat, posisi rumah , setiap sudut dan juga tempat yang mencurigakan, ia melihat bahwa ada tiga pintu yang tertutup rapat dan samar ia mendengar suara gemerisik di dalamnya.
Ia curiga bahwa itu adalah suara seorang yang sedang melakukan pengepakan atau penataan di dalam ruangan, tapi ia tidak bisa memastikan kecurigaannya sekarang.
Kembali ia memfokuskan kepada mantri desa itu, ia cukup kagum dengan betapa cepat dan terampilnya perawatan mantri desa itu, uminya yang sudah duduk di kursi , di periksa secara detail dan profesional.
Hingga dua puluh menit kemudian, perawatan selesai dan obat untuk resep kesehatannya sudah di sediakan .
" ibu Lestari harus mengisi kembali stok minggu depan , karena obat yang sudah saya siapkan ini cukup untuk minggu sekarang, semoga cepat sembuh ..!" Katanya dengan memberikan sebungkus obat anti demam dan pusing .
" baik pak mantri ..!" Lestari hanya menganggukan kepala saja , ia dengan sopan mengambil obat yang disodorkan oleh mantri desa itu dan segera mundur beberapa langkah ke belakang.
" mas semuanya sudah selesai , kita segera pulang " kata Lestari menatap ke arah pemuda yang tampak sedang bermain main dengan beberapa buku di atas meja .
" iya ... !"
Yasir tersenyum konyol , ia mengambil dua buah jeruk yang ada di atas meja ,lalu memakannya pelan ,seraya kulit kulit jeruk di buang begitu saja , tanpa melihat ke arah mantri desa yang sudah memiliki ekspresi suram di wajahnya .
" pak mantri kami semua pamit , sampai jumpa ." Yasir melangkahkan kakinya dengan anggun dan bekas sepatu yang kotor terlihat menempel jelas di lantai rumah mantri tersebut.
Pria paruh baya itu sudah marah dan setelah kepergian satu keluarga itu , langsung melempar barang yang ada di sekitarnya.
" sialan, kalau saja dia bukan seorang preman sudah tembak kepalanya itu !" Makinya keras .
Setelah itu matanya tertuju ke arah pintu yang tertutup rapat .
" mungkin malam nanti akan aku kerjakan " pikirnya dengan wajah tua yang sangat menjijikan.
Setelah berobat, Yasir dan lainnya segera pulang dan setelah sampai di atas bukit, ia melihat sepuluh kayu jati sudah tampak putih bersih dengan tumpukan serpihan kulit jati yang tampak masih basah .
" kang Yasir sudah pulang !" Suara seorang remaja terdengar nyaring di samping kanan rumahnya .
" ya baru saja , kalau sudah selesai kamu bisa pulang, besok ke sini lagi " kata Yasir meletakan barang barang bawaannya .
" baik kang , kalau begitu saya pamit pulang !" Kata Imran bersiap untuk turun bukit.
" ya hati hati...!"
Yasir masuk ke dalam rumah dengan kantong penuh uang hasil jualan sayur keong sawah, lalu meletakannya di atas balai bambu yang ada di dalam.
Ia bersiap untuk membersihkan badannya , karena waktu sudah malam dan tidak baik bila mandi malam malam.
Musim hujan masih berlangsung dan waktu sore itu langit yang awalnya berwarna jingga menjadi gelap gulita.
Yasir tahu bahwa hujan akan datang dan ia teringat dengan keanehan yang ada di dalam rumah mantri desa itu .
" aku harus memberi tahu kepala kampung dan polisi desa , agar menyelidiki apa yang sebenarnya dikerjakan oleh mantri desa itu " gumamnya dalam hati .
Mengingat tentang mantri desa , ia merasa khawatir dengan keselamatan keluarganya terutama kedua istrinya yang sudah memiliki kecantikan desa yang murni , dan bisa saja mengundang kejahatan datang kerumah.
Menyingkirkan ingatan tentang hal itu , Yasir dengan cepat membersihkan badannya dan segera naik ke atas.
Ia dengan cepat memakai pakaian bersih, berwarna biru tua dan ada beberapa sobekan di bagian pinggang atas, sehingga terlihat kulit coklat sehat yang tampak kekar itu.
" mas sudah mandinya ?" Halimah yang sedang membersihkan barang barang dagangan menatap kagum ke arah pemuda yang segar itu.
" ya , kamu dan tari segera mandi ,keburu malam , tidak baik bila malam tiba " kata Yasir berlalu dan masuk ke dalam rumah .
" iya mas , kami akan segera mandi " keduanya segera bersiap mandi , dan secara bersamaan turun ke bawah , ketempat mandi satu keluarga itu.
Yasir menghela nafas lega , ia berjalan menuju tumpukan kayu jati yang sudah bersih terkelupas, dan tampak puas saat melihat hasil pekerjaan yang dilakukan oleh Imran.
" ya malam ini aku akan pergi ke rumah pak Hasyim.." pikirnya tenang .