Kalimat 'Mantan Adalah Maut' rasanya tepat jika disematkan pada rumah tangga Reya Albert dan suaminya Reyhan Syahputra
Reyhan merasa jika dirinya yang hanya seorang staff keuangan tidaklah sebanding dengan Reya yang seorang designer ternama, setidaknya kata-kata itu yang kerap ia dengar dari orang-orang disekitarnya
Hingga pertemuannya dengan Rani yang merupakan mantan kekasihnya saat sekolah menengah menjadi awal dari kehancuran bahtera rumah tangga yang telah dibangun selama tujuh tahun itu
Apa yang akan terjadi pada pernikahan ini pada akhirnya? Dapatkah Reya mempertahankan rumah tangga yang ia bina walaupun tanpa restu dari orang tuanya? Atau pada akhirnya semua akan berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTPS 26
Reya larut dalam lamunannya hingga seseorang menyodorkan satu cup es krim coklat
Wanita cantik itu mendongak, ia tersenyum kearah seorang pria yang datang menghampirinya
"Revan"
Revan duduk disampingnya, Reya mengambil es krim coklat itu dan mengucapkan terima kasih
"Kata orang, coklat itu mengandung dopamin yang bisa bikin happy!" Ujar Revan
"Gue emang butuh kayaknya!" Reya mulai menyendok eskrim dan memasukkannya kedalam mulut "Enak!"
"Gue seneng kalau lo suka!" Revan tersenyum, lalu ikut membawa pandangannya kearah danau yang tenang
"Gimana sidangnya?"
"Semuanya sudah berakhir Revan, gak ada yang bisa diselametin lagi dari pernikahan gue!" Ujar Reya, terlihat jelas jika wanita cantik itu terluka dan mencoba untuk menyembunyikan nya
"Lo cantik Reya, cowok-cowok pasti ngantri buat dapetin elo!" Reya tertawa kecil mendengar ucapan sahabatnya itu
Pernikahannya baru saja berakhir, rasanya terlalu cepat jika membicarakan tentang pernikahan
"Gue belum mikir kearah sana Van, gue mau fokus dulu sama Arlo!" Ujar Reya
"Lo bener,gak mudah sembuh dari pengkhianatan Re!" Keduanya saling melempar senyum
"Lo gimana? Udah dapet pengganti Rani?" Tanya Reya bercanda
"Udah!"
Reya terkejut, sahabatnya ini memang terbaik jika urusannya adalah wanita
"Siapa? Gue kenal gak?" Tanya Reya antusias
Revan mengangguk "Hmmm"
"Siapa?"
"Nanti deh gue kasih taunya, tunggu sampai dia sembuh dulu!"
"Dia sakit!"
"Dia baru aja cere dari suaminya, katanya sih belum siap buat buka hati!"
Revan sudah memberi kode-kodenya, hanya saja Reya memang bukan tipe orang yang peka
"Gue balik dulu yaa Van, thanks buat eskrim nya!" Reya tersenyum, ia merasa sudah cukup lama disana, Arlo pasti sudah menunggunya sekarang
"Sama-sama!" Revan ikut berdiri "Mau gue anterin?"
"Gak usah, gue bawa mobil kok" tolak Reya dan pria tampan itu mengangguk
Keduanya berpisah, Reya dengan mobilnya dan Revan dengan mobilnya
***
Setelah berbulan-bulan, Reyhan memutuskan untuk menemui Rani. Ia ingin meminta maaf pada wanita itu karena telah mengabaikannya
Reyhan juga ingin mengakhiri hubungan terlarang ini, setelah ini ia akan menjadi ayah yang baik untuk Arlo, jika mungkin ia akan mengejar lagi wanita yang selama ini mengisi hidupnya
Reyhan ingin memperjuangkan Reya lagi, ia tau tak mudah tapi tak ada salahnya untuk mencoba kan? Kesempatan itu pasti masih ada, dirinya hanya perlu lebih berusaha lagi
Kini Reyhan telah tiba didepan kediaman Rani! Apapun yang akan terjadi ia akan menerimanya
Reyhan mengetuk hingga pintu rumah tersebut dibuka, menampilkan seorang wanita paruh baya yang menatapnya dengan heran
"Cari siapa yaa mas?" Tanya ibu Rani
"Rani nya ada Bu?" Tanya Reyhan dengan menunduk hormat
Ibu Rani menghela napasnya "Rani gak disini lagi!"
Mendengar itu Reyhan mengerutkan keningnya "Rani kemana ya Bu?"
Tak lama dari dalam rumah keluar seorang pria yang ia ketahui adalah ayah Rani
"Siapa Bu?"
"Ini pak, mas ini cari Rani!" Jawab ibu Rani
Wanita paruh baya itu mundur, kini Reyhan berhadapan langsung dengan ayah Rani. Entah kenapa suasananya sedikit mencekam
"Kamu siapanya Rani?" Tanya pria paruh baya itu dingin
"Saya, saya temennya Rani pak" jawab Reyhan
"Teman? Apa kamu pria yang sudah merusak hidup anak saya?"
Tatapan ayah Rani seolah ingin menguliti nya membuat Reyhan sedikit merasa takut
"Maksud bapak?"
"Jangan pura-pura tidak mengerti kamu! Apa kamu ayah dari anak yang dikandung oleh Rani?"
Pertanyaan itu membuat Reyhan membeku, apa hubungan terlarang itu menghadirkan benih dirahim wanita itu, tapi kenapa Rani tidak mengatakan apapun padanya
"Saya ingin bertemu Rani pak! Dimana Rani!"
"Saya mengusir putri saya sendiri karena kelakuan bejat kamu! Sekarang saya tidak tahu dimana putri saja berada!"
Ayah Rani mencengkram kerah kemeja yang Reyhan kenakan lalu
Bugh
Reyhan mundur, pukulan pria tua itu cukup membuat rahangnya terasa sakit. Tapi semua itu tak terasa karena sekarang yang ia pikirkan adalah Rani dan kandungannya
"Apa bapak benar-benar tidak tau Rani dimana?"
"Pergi kamu dari sini! Saya gak mau melihat wajah kamu disini!" Usir ayah Rani sembari menunjuk kearah wajah Reyhan
"Saya harus bertemu Rani pak!"
Kedua orang tua Rani tak menjawab, keduanya masuk dan menutup pintu. Membiarkan Reyhan berteriak memanggil nama Rani
"Apa benar itu anak aku?" Tanya Reyhan pada dirinya sendiri "Kamu dimana Rani?"
Reyhan kembali ke kontrakan kecilnya, pikirannya penuh. Perceraian dengan Reya, lalu Rani yang tengah hamil dan kemungkinan besar itu adalah anaknya
Reyhan meraih ponsel lalu menghubungi nomor wanita itu, namun beberapa kali pun dicoba, tetap saja nomor Rani tidak aktif
"Dimana kamu Rani?" Reyhan mengacak rambutnya frustasi
***
Reya melanjutkan hidupnya, hatinya masih terluka, tapi baginya melanjutkan hidup jauh lebih penting daripada harus meratapi pengkhianatan yang dilakukan suaminya
Hari ini ia sibuk dengan pekerjaannya di butik setelah sebelumnya mengantarkan Arlo sekolah
"Selamat pagi mbak!" Sapa seorang wanita yang menghampirinya
"Selamat pagi"
"Ada tamu ingin bertemu!"
Reya mengerutkan keningnya "Selamat pagi princess Reya"
Suara khas itu membuyarkan rasa penasaran Reya, jelas sekali itu adalah sahabatnya Revan
"Terima kasih Sisil" wanita muda itu beranjak dan keluar dari ruangan tersebut berganti dengan pria tampan yang datang dengan senyum manisnya
Reya menatap sahabatnya itu "Ngapain sih lo kesini?"
"Ck, sinis banget sih princess!"
Revan terus memperhatikan sahabatnya itu, sejenak ia berpikir apa yang membuat Reyhan berpaling dari Reya
Reya memiliki segalanya. Cantik, lembut, karir yang mentereng terlebih dia seorang ibu yang baik
"Re"
"Hmmm" Reya tidak mengalihkan perhatiannya dari pekerjaannya
"Lo gak mau nikah lagi?"
Reya menghela napasnya berat lalu membawa pandangannya pada sahabatnya itu "Gue baru sehari jadi janda Van, gak mungkin mikirin nikah sekarang!"
"Tapi lo gak trauma kan?"
"Ya enggak lah, tapi buat sekarang gue belum berani Van" Reya meninggalkan pekerjaannya
"Arlo masih kecil, gue cuma takut kalau gue ketemu cowok yang gak bisa nerima Arlo!"
"Kalau ada cowok yang serius sama lo dan sayang sama Arlo, lo mau nikah lagi?" Wajah Revan tiba-tiba saja serius
"Maksud lo apaan sih?" Lanjutnya "Gue itu banyak kurangnya Van, Reyhan aja lebih milih perempuan lain!"
"Kalau gue gimana?"
"Elo?" Reya menatap sahabatnya itu lalu tertawa terbahak-bahak "Cowok kayak lo mana mungkin suka sama janda anak satu kayak gue, Van"
Reya menggelengkan kepalanya, ucapan sahabatnya itu malah terdengar lucu di telinganya
"Lo gak percaya sama gue?"
"Gue gak tau lo serius apa enggak Van"
Reya kembali sibuk dengan pekerjaannya, Revan sendiri larut dalam lamunannya
Entah apa yang ada dipikirannya saat ini, ia seperti ingin saja bersaing dengan Darren dalam hal mendapatkan Reya