Bagas, seorang petani yang hidup di desa. Walaupun seorang pertani, dia mempunyai keuangan yang stabil. Bahkan bisa di katakan dia dan keluarga termasuk orang berada.
Namun, uang bukan segalanya. Buktinya, walaupun banyak uang dia tidak bisa menikah dengan pacar yang sudah menemaninya sejak delapan tahun terakhir.
Kenapa begitu?
Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menyatu ...
Yuk, ikuti kisah Bagas ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Dan Luka
Bagas mengaruk tekuknya.
"Maaf, jika sikap abang mengganggumu," tutur Bagas dengan lirih.
Safira masih diam. Dia ingin mendengar penjelasan dari Bagas.
"Abang, ingin belajar membuatmu bahagia. Ingin memastikan cintamu utuh untuk abang. Dan yang pasti gak akan hilang. Sampai, abang bisa membalasnya," papar Bagas. Dia bahkan menggenggam tangan Safira.
"Jadi, cinta abang masih untuk orang lama?" tanya Safira.
Bahkan, dia enggan menyebut namanya.
Safira tahu, Nadia gak salah. Tapi, menyukainya, ataupun menganggap Nadia bukan siapa-siapa untuk hubungannya dan Bagas. Oh, Safira tak bisa.
Karena dia tahu, Nadia masih menyimpan rasa itu.
"Abang gak harus menjawab. Tapi yang pasti, abang akan berusaha mencintaimu, sepenuhnya,"
Safira menatap manik mata Bagas. Dia mencari setitik kebohongan. Namun nihil.
Yang ada disana, ialah harapan.
Safira memilih diam. Membiarkan Bagas menerka-nerka apa yang sedang di pikirkannya.
✨✨✨
Perjalanan menuju km-12 dimulai menjelang sore.
Motor melaju perlahan menyusuri jalan tanah yang mulai menanjak. Di kanan-kiri, hamparan kebun dan pepohonan menjulang, membuat udara terasa lebih dingin dari biasanya.
Safira duduk membonceng, memeluk tas kecil di pangkuannya. Jaket tebal sudah melekat di tubuhnya, sementara Bagas mengenakan jaket gelap yang sesekali berkibar tertiup angin.
Sepanjang perjalanan, mereka lebih banyak diam.
Bukan karena canggung, sepenuhnya—melainkan karena masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.
Jika Bagas fokus ke jalanan. Pikiran Safira malah berbeda.
Tadi, ketika keluar dari rumah. Safira dan Bagas masih bisa tertawa bersama. Namun, semua itu lenyap hanya karena satu bayangan.
Iya, akhirnya Safira tahu dimana rumah Nadia.
Rumah, yang selalu menjadi pertanyaan kenapa Bagas selalu memelankan laju sepeda motornya disana.
Dan kini, semua pertanyaan dan rasa penasarannya terjawab, tanpa jawaban.
"Bang ..."
"Apa?" tanya Bagas, melirik sekilas ke spion.
"Gak jadi," balas Safira lirih.
"Bagaimana pun, tadi bang Bagas, tetap pada laju yang sama. Tak lagi memelankan sepeda motornya," batin Safira.
"Katakan aja, jangan di pendem sendiri. Bukan kah, kita kesini, ingin memperbaiki semuanya?" Bagas, menghentikan sepeda motornya.
Penasaran.
"Itu ..." Safira menggigit bibirnya, ragu.
"Aku disini, katakan saja," Bagas mencubit pipi Safira gemas.
"Makasih, karena tadi tidak memelankan laju sepeda motor lagi, di depan rumah Nadia," ujar Safira menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Jadi, selama ini dia sadar?" batin Bagas.
Bagas tersenyum canggung.
"Tolong ingatkan abang selalu ya dik ... Semoga niat Abang, Allah mudahkan," balas Bagas mengelus pipi Safira.
Safira mengangguk, dengan mata berkaca-kaca. Berharap dan berdoa, agar Tuhan menjaga ikatan rumah tangganya.
✨✨✨
Dua jam perjalanan, keduanya tiba di sebuah bukit, yang biasa di sebut dengan km-12.
Hawa dingin langsung menusuk. Bahkan jaket yang mereka pakai, tak bisa memberikan kehangatan sepenuhnya.
Safira berdiri, di tepi pembatas. Pandangan lurus ke depan. Disana, dia bahkan seperti bisa menggapai awan-awan.
"Subhanallah, Ya Allah. Sungguh indah ciptaanmu," ujar Safira takjub.
Jika Safira masih menatap keindahan di sekitar km-12. Bagas malah mencari petugas.
Sebelumnya, Bagas memang sudah reservasi tenda di sana. Namun, berhubung ada sebuah kamar kosong. Alhasil, Bagas memilih kamar saja.
Kamar tersebut, hanya berukuran 4x5 meter. Di dalamnya sudah tersedia, tempat tidur, lemari, dan yang paling penting kamar mandi di dalam.
Sedangkan pengguna tenda, mereka harus mengantri untuk ke kamar mandi.
"Katanya mau tidur di tenda," protes Safira. Begitu tiba di kamar.
"Awalnya abang juga berpikir begitu. Tapi, jarak tenda satu dengan tenda lainnya, terlalu dekat," sahut Bagas melirik sekilas ke arah Safira yang sudah terlentang di kasur.
"Ya, kan enak bang ... Nanti bisa saling mengenal satu sama lain,"
Bagas memilih tidur di samping Safira. Sebelah tangannya menompang kepala. Agar bisa menatap wajah Safira lebih jelas.
"Tapi gak enak untukku ... Karena aku gak mau, desahan mu, di dengar oleh orang lain," lirih Bagas, yang kini semakin dekat dengan Safira.
Safira bergidik. "Bukannya kita hanya jalan-jalan, menikmati malam di sinari bulan dan di temani api unggun?" tanya Safira mengerjap.
"Itu setelah kita berbagi kehangatan," Bagas menarik tubuh Safira kepelukannya.
Dan kini, hanya tawa mereka yang memenuhi kamar berwarna putih bersih itu.
✨✨✨
Sementara itu, di rumah Nadia, sedang jadi pertegangan.
Ketiga sedang berada di ruang tamu.
Nadia, menatap jengah pada ke dua orang tuanya.
"Aku gak mau," tolak Nadia, menatap nyalang ke arah orang tuanya. "Berulang kali aku katakan pada kalian. Aku gak mau menikah, jika lelaki itu bukan bang Bagas," tekan Nadia geram.
"Kalau memang itu keputusan mu. Maka, suruh Bagas untuk kembali melamarmu. Karena kami, berjanji akan langsung merestuinya kali ini," putus Anwar.
Nadia tercekat, bahkan tubuhnya menegang.
"Jangan gila. Aku gak mau jadi pelakor," bentak Nadia, menatap tak percaya pada ayahnya.
"Pelakor apa? Semua orang disini, tahu kalo kalian saling cinta. Yang orang ke tiga itu Safira. Dia datang, dan memanfaatkan keadaan," terang Hesti, dengan nada sinis.
"Tetap saja, aku yang jadi kedua kan?" tanya Nadia dengan suara getir.
"Kalau begitu, terima saja pinangan, dari suami sepupumu. Toh dia pegawai," ujar Anwar dingin.
"Dia emang pegawai. Tapi, ayah dan ibu juga tahu kan? Dia itu selingkuh. Maka dari itu istrinya sampai stres hingga sakit-sakitan. Dan sekarang, kalian mau, aku juga merasakan hal yang sama? Begitu?" Nadia menggeleng-gelengkan kepalanya, tersenyum miris.
Anwar dan Hesti saling pandang. Keduanya tersenyum tipis. Bahkan, Nadia tak menyadari itu.
"Maka dari itu, untuk melindungimu. Sebaiknya, kamu minta Bagas untuk kembali," Hesti mendekat. Dia mengenggam tangan anaknya, guna memberikan dukungan.
"Tapi ..."
"Walaupun kamu jadi istri kedua, ibu yakin. Kamu satu-satunya wanita yang di cintainya," Hesti terus mengompori Nadia. Berharap Nadia, luluh.
"Aku gak bisa. Aku gak bisa membiarkan Safira merasakan luka yang sama. Kami sama-sama wanita yang mencintai Bagas, jadi biarkan aku yang mencintai dengan kekalahan," tolak Nadia. Karena masih mempunyai akal sehat.
"Nadia, Bagas bisa menikah denganmu. Dia mampu. Lagipula, Safira itu cacat. Dia mandul," tekan Anwar, pada kata mandul.
"Iya, kamu bisa masuk dengan membawa harapan. Janjikan anak untuk mereka. Jangan biarkan garis keturunan Bagas menghilang," kembali Hesti meyakinkan Nadia.
"Aku rasa, Safira juga akan mengerti. Karena disini, kalian saling mencintai," tambah Anwar
Nadia terdiam. Akal dan pikirannya bulan bekerja.
Yang satu malah menyuruh Nadia sadar.
Dan yang satu lagi, setuju jika Nadia harus menjadi istri kedua.
kebiasaan ih