Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.
Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.
Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melon Jepang dan Stroberi Putih
Aroma manis yang asing masih menguar samar di dapur gubuk reyot itu.
Bukan aroma gula jawa atau pisang goreng yang biasa digoreng Ibu Rahayu, melainkan aroma buah-buahan mewah yang bahkan tak pernah dilihat penduduk desa seumur hidup mereka.
Di atas meja kayu yang lapuk, tergeletak sebuah tampah anyaman bambu.
Di sana, berbaris rapi biji-biji yang sedang dikeringkan.
Sekar Wening menatap biji-biji itu dengan tatapan setajam mikroskop.
Tadi siang, Aryasatya datang lagi. Pria itu tidak datang dengan tangan kosong. Dengan senyum sopan yang meluluhkan hati para gadis desa, ia membawa bingkisan buah tangan.
Melon Crown dan Stroberi Putih. Ibu Rahayu sempat gemetar saat menerima kotak buah itu. Bagi ibunya, buah adalah pepaya yang tumbuh liar di kebun, atau mangga tetangga yang jatuh.
Melihat buah melon dengan kulit berukir jaring-jaring sempurna dan stroberi berwarna putih pucat berbintik merah, Rahayu mengira buah itu belum matang.
Namun, satu gigitan mengubah segalanya.
Manisnya meledak di mulut, teksturnya lembut seperti mentega, dan airnya melimpah ruah.
"Nduk, bijinya dibuang ke tempat sampah ya, biar Ibu cuci piringnya," ujar Rahayu tadi sore.
"Jangan, Bu," cegah Sekar cepat. "Ini bukan biji biasa. Ini emas."
Sekarang, malam telah larut.
Suara jangkrik di luar gubuk terdengar seperti orkestra malam yang meninabobokan lereng Menoreh.
Sekar memastikan ibunya sudah terlelap di kamar sebelah. Napas ibunya terdengar teratur, meski sesekali terbatuk kecil karena dinginnya angin malam yang menyusup lewat celah dinding bilik. Sekar membaringkan tubuhnya di dipan.
Ia menarik selimut tipis sebatas dada. Matanya terpejam, tapi kesadarannya terjaga penuh.
Dalam hitungan detik, sensasi tarikan gravitasi yang familiar itu datang.
Tubuh fisiknya tertidur pulas, tapi jiwa Profesor Sekar Ayu melesat menembus dimensi. Suasana di dalam Ruang Spasial selalu menenangkan.
Cahaya di sini tidak berasal dari matahari atau bulan, melainkan pendaran alami yang lembut, seolah seluruh atmosfernya terbuat dari bioluminescence partikel energi.
Pondok kayu ulin yang baru terbentuk berdiri kokoh di tengah hamparan hijau.
Namun, Sekar tidak masuk ke pondok itu, tujuannya adalah lahan kosong di sebelah timur mata air spiritual.
Di tangannya, ia menggenggam segenggam biji yang tadi ia ambil dari dunia nyata.
"Melon Crown dari Prefektur Shizuoka, dan Stroberi White Jewel atau Shiroi Houseki," gumam Sekar.
Otak ensiklopedianya langsung membedah data.
Di kehidupan sebelumnya, ia tahu persis harga buah-buahan ini.
Satu buah Melon Crown dengan kualitas grade tertinggi bisa terjual seharga dua juta rupiah, bahkan lebih di pelelangan.
Sementara satu kotak kecil stroberi putih bisa setara dengan gaji sebulan buruh tani di desanya.
Arya membawanya sebagai oleh-oleh biasa, seolah itu hanya gorengan pinggir jalan.
"Orang kaya memang beda," cibir Sekar pelan, meski ada rasa terima kasih di hatinya.
Tanpa "sampah" sisa makan siang Arya, Sekar tidak akan memiliki akses ke plasma nutfah berharga ini.
Sekar berjongkok.
Ia tidak mencangkul tanah dengan kasar. Di ruang ini, tanahnya gembur, hitam pekat, dan beraroma humus yang kaya.
Sekar menggunakan sekop kecil yang terbuat dari bahan logam ringan yang ia temukan di gudang pondok kayu.
Ia membuat gundukan tanah yang rapi. "Di dunia nyata, menanam ini butuh rumah kaca dengan pengatur suhu presisi," batin Sekar menganalisis.
Melon Crown adalah primadona yang manja.
Mereka butuh sinar matahari yang tidak menyengat, kelembapan yang terjaga, dan pijatan tangan petani untuk memastikan jaring di kulitnya terbentuk sempurna.
Tapi di sini?
Sekar tersenyum miring.
"Di sini, aku adalah hukum alamnya." Ia membenamkan biji melon itu sedalam dua sentimeter.
Lalu, di bedengan sebelahnya, ia menaburkan biji-biji kecil stroberi putih dengan hati-hati.
Sekar mengambil gayung dari batok kelapa, menciduk air dari kolam mata air spiritual.
Ia tidak mengencerkannya.
Untuk varietas sultan ini, ia memberikan nutrisi murni.
Byur.
Air itu meresap ke dalam tanah dengan cepat, seolah tanah itu kehausan meminum energi kehidupan.
Sekar mundur selangkah, melipat tangan di dada, dan menunggu. Biasanya, butuh waktu berhari-hari untuk melihat tunas muncul. Tapi ini Ruang Spasial.
Tanah mulai bergetar halus.
Retakan kecil muncul di permukaan gundukan.
Sepasang daun kotiledon hijau muda menyembul malu-malu, lalu dengan cepat merekah, disusul daun sejati yang lebar dan berbulu halus.
Tanaman melon itu tumbuh menjalar seperti ular hijau yang bersemangat. Sulur-sulurnya mencari pegangan.
Sekar dengan sigap menancapkan tongkat bambu yang sudah ia siapkan.
Tanaman itu melilit naik, memanjat dengan kecepatan yang bisa dilihat mata telanjang. Bunga-bunga kuning cerah bermekaran.
Aroma nektar manis memenuhi udara.
Sekar tidak memiliki lebah di sini. Maka, ia melakukan peran itu sendiri.
Dengan jari telunjuknya yang lentik, ia mengambil serbuk sari dari bunga jantan dan mengusapkannya dengan lembut ke putik bunga betina.
Sentuhan yang presisi.
"Polinasi manual," bisiknya. "Menjamin kemurnian varietas." Tak lama kemudian, bakal buah mulai terbentuk. Membesar.
Sekar melakukan seleksi kejam. Dalam budidaya Melon Crown, satu pohon hanya boleh menghidupi satu buah.
"Satu pohon, satu jiwa," gumam Sekar.
Ia memangkas bakal buah lain yang terlihat lebih lemah, membiarkan seluruh nutrisi tanaman terpusat hanya pada satu buah terpilih yang posisinya paling ideal.
Ini adalah seni. Bukan sekadar bertani.
Sementara itu, di bedengan sebelah, stroberi putih mulai berbuah.
Berbeda dengan stroberi biasa yang memerah saat matang, buah ini membesar, berubah dari hijau menjadi putih susu yang berkilau, dengan biji-biji merah yang mencolok.
Warnanya seperti porselen. Cantik dan rapuh.
Waktu berlalu di dalam ruang spasial.
Sekar duduk di beranda pondok kayu ulin, memandangi hasil karyanya.
Di depannya kini menggantung beberapa butir melon dengan kulit hijau pucat yang dihiasi jaring-jaring (netting) timbul yang sangat rapi dan artistik.
Tangkainya membentuk huruf 'T' yang sempurna, tanda kualitas premium.
Di bawahnya, hamparan stroberi putih tampak seperti butiran permata yang berserakan di atas daun hijau tua.
Sekar memetik satu stroberi.
Ukurannya besar, hampir sebesar telur ayam kampung.
Ia menggigitnya.
Krak.
Renyah, lalu lumer.
Rasa manis yang dominan langsung menyerbu lidahnya, disusul sedikit rasa masam yang menyegarkan, dan aroma... nanas?
Ya, ada jejak aroma nanas dan permen kapas.
"Tingkat Brix, kadar gula pasti di atas 15," analisis Sekar cepat. "Ini jauh lebih manis daripada yang dibawa Arya."
Efek air spiritual telah memutasi genetika tanaman ini ke potensi maksimalnya.
Sekar menatap hamparan kebun ajaibnya dengan otak berputar cepat.
Sekar menyeringai tipis. Senyum itu bukan senyum gadis desa yang lugu, melainkan senyum penuh perhitungan seorang strategis.
Ia tidak akan menjual melon dan stroberi ini sekarang.
Belum saatnya.
Jika dia tiba-tiba menjual buah ini sekarang, orang akan curiga. Dari mana gadis miskin mendapat buah impor? Mencuri?
Sekar butuh alibi.
Dia butuh "jembatan" logika.
"Lahan tandus itu..." batin Sekar.
Rencananya sederhana namun brilian.
Ia akan terus mengolah lahan tandus di dunia nyata dengan "pupuk cair rahasia" (air spiritual encer).
Ketika tanaman sayur biasa mulai tumbuh subur di sana dan membuat orang ternganga, barulah ia akan mengeluarkan kartu as ini.
Dia akan mengklaim bahwa ia berhasil melakukan eksperimen pertanian di lahan ekstrem.
Bahwa tanah tandus berbatu itu, dengan perlakuan khusus, justru memiliki kandungan mineral unik yang mampu menghasilkan buah kualitas super premium.
Melon Crown dan Stroberi Putih ini akan menjadi duta besarnya.
Ia akan membranding produk ini sebagai "Permata Menoreh".
Harganya tidak akan murah.
Sekar membayangkan reaksi Arya nanti.
Pangeran lulusan luar negeri yang bangga dengan teori ekonominya itu pasti akan kehilangan kata-kata saat melihat gadis desa yang ia kasihani, justru mampu menghasilkan komoditas yang lebih unggul dari negara asalnya.
"Tunggu saja, Mas Arya," desis Sekar sambil membelai kulit melon yang kasar namun berharga itu.