NovelToon NovelToon
MENJADI PILIHAN KEDUA SAHABATKU

MENJADI PILIHAN KEDUA SAHABATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak
Popularitas:44.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ibu Cantik

Sadewa dan Bianca sudah bersahabat dari kecil. Terbiasa bersama membuat Bianca memendam perasaan kepada Sadewa sayang tidak dengan Sadewa,dia memiliki gadis lain sebagai tambatan hatinya yang merupakan sahabat Bianca.

Setelah sepuluh tahun berpacaran Sadewa memutuskan untuk menikahi kekasihnya,tapi saat hari H wanita itu pergi meninggalkannya, orang tua Sadewa yang tidak ingin menanggung malu memutuskan agar Bianca menjadi pengantin pengganti.

Sadewa menolak usulan keluarganya karena apapun yang terjadi dia hanya ingin menikah dengan kekasihnya,tapi melihat orangtuanya yang sangat memohon kepadanya membuat dia akhirnya menyetujui keputusan tersebut.

Lali bagaimana kisah perjalanan Sadewa dan Bianca dalam menjalani pernikahan paksa ini, akankah persahabatan mereka tetap berlanjut atau usai sampai di sini?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibu Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bagian 26

Sejak siang tadi, Sadewa tidak benar-benar menyentuh pekerjaannya dengan serius. Dokumen-dokumen di meja hanya dipindah dari sisi kiri ke kanan, bukan dibaca. Angka-angka dalam presentasi strategi investasi terasa seperti huruf-huruf acak tanpa makna. Pikirannya penuh bukan tentang merger, bukan tentang target triwulan tapi tentang satu hal Raka.

Dan Bianca.

Entah kenapa, sejak lift tadi, dada Sadewa terasa sesak. Pemandangan Bianca turun dari mobil Raka terus muncul seperti potongan film yang diputar ulang tanpa henti.

"Kenapa mereka terlihat sedekat itu?"

"Dan kenapa aku peduli?"

Sadewa mengusap wajah keras-keras. Dia mencoba menepis rasa gelisah itu, namun tidak berhasil. Lebih parah lagi, Raka, dengan wajah tengilnya, berani menampakkan ketertarikan pada Bianca secara terang-terangan. Menggoda dengan santai, seolah Bianca bukan seseorang yang dimiliki. Meski secara teknis, Sadewa dan Bianca hanya pasangan kontrak.

“Fokus, Dewa,” gumamnya pada diri sendiri.

Tapi fokus itu bubar ketika ponselnya berdering.

Tampilan layar menunjukkan nama Mama.

Sadewa langsung mengernyit. Sepanjang ingatannya, Mama Hanum tidak pernah menelepon di jam kerja kecuali ada sesuatu yang penting.

“Halo, Ma?” Sadewa mengangkat telepon.

“Dewa? Mama ini sudah di jalan ke apartemen kamu. Sekitar satu jam lagi sampai. Kamu di rumah, kan? Wah, Mama bawa makanan buat kalian. Kalian pasti belum makan enak selama ini.”

Darah Sadewa seperti berhenti mengalir.

Mama ke apartemen? Sekarang? Tanpa kabar sebelumnya?

“A-Apa?” Sadewa terdengar gagap. “Ma, kok tiba-tiba? Dewa masih kerja—”

“Ah, masa iya anak Mama nggak bisa izin pulang sebentar? Sekalian Mama mau lihat menantu Mama. Mama kangen sama Bianca.”

Jantung Sadewa turun ke perut.

Bianca.

Pisah kamar.

Barang-barang Bianca di kamar tamu.

Baju-bajunya.

Semua akan terlihat jelas kalau Mama datang.

“Ma, setidaknya kasih kabar dulu—”

“Dewa, Mama cuma mampir. Kira-kira satu jam lagi ya. Nggak apa-apa kan?”

Telepon terputus sebelum Sadewa bisa mencari alasan.

Sadewa menatap layar ponsel seperti benda asing.

Lima detik kemudian, dia berdiri.

Lima detik berikutnya, dia sudah keluar dari ruangannya dan berjalan cepat menuju lantai tempat Bianca bekerja.

 

Di ruang divisi perencanaan, Bianca baru saja kembali dari lapangan produksi material, mencatat hasil pengecekan. Ia terlihat benar-benar fokus, sementara beberapa teman kerja menilai dia cepat beradaptasi.

Tok. Tok.

Bianca menoleh.

Bukan tok-tokan pintu, tapi ketukan sepatu Sadewa yang berhenti tepat di depan mejanya. Tatapan karyawan lain menyapu dalam hitungan detik ketegangan yang timbul secara otomatis melihat CEO datang.

“M-maaf Pak, ada apa?” Bianca tersentak kaget. Ia berdiri.

“Ke ruangan saya. Sekarang.” Nada Sadewa dingin, tapi ada urgensi di matanya.

Teman-teman Bianca saling pandang. Bianca menelan ludah dan mengangguk, mengikuti Sadewa menuju lift. Mereka berjalan tanpa suara, hanya suara langkah dan detak jantung Bianca yang terlalu keras di telinganya sendiri.

Begitu pintu ruangan Sadewa tertutup, Bianca langsung bicara duluan.

“Kenapa ya, Pak?” suaranya pelan.

“Mama …” Sadewa menarik napas panjang. “…lagi dalam perjalanan ke apartemen.”

Bianca membelalak. “APA?”

“Dia mau ketemu kita. Mungkin makan bareng. Mungkin nginep. Aku nggak tahu!” suara Sadewa meninggi, lalu merendah lagi. “Dan kamar kamu… semua barang kamu masih di sana. Mama bisa lihat kalau kita pisah kamar.”

Bianca merasa lututnya melemas. Ia memegangi meja agar tetap berdiri.

“Kita - kita gimana? Aku belum siap. Ini terlalu cepat. Dan kalau kita pulang bareng dari kantor, orang-orang bisa curiga.”

Sadewa berjalan mondar-mandir. Satu tangan di pinggang, satu lagi mengacak rambutnya yang selalu rapi.

“Bilang kamu sakit? Tidak. Mama akan memaksa datang ke rumah sakit. Bilang kamu lembur? Tidak mungkin, Mama akan menunggu.”

Sadewa berhenti, menatap Bianca. “Kamu harus pulang duluan. Rapikan barang-barangmu. Pindahkan ke kamar utama. Setidaknya buat seolah-olah kita tidur di kamar yang sama.”

Pipi Bianca panas. Dia tahu ini hanya sandiwara. Pernikahan kontrak. Tapi tetap saja, membayangkan itu membuatnya gugup.

“Tapi, Pak… ini masih jam kerja. Kalau aku pulang sekarang tanpa alasan jelas—”

“Benar,” Sadewa memotong, wajahnya berubah seolah baru menemukan ide gila. “Aku punya cara.”

Ia meraih ponselnya lagi dan mengetik sesuatu dengan cepat, lalu menekan tombol panggilan.

 

Kepala divisi Bianca menerima telepon. Suaranya terdengar di speaker.

“Halo, Pak Sadewa?”

“Pak, saya butuh Bianca untuk ikut saya meninjau lapangan proyek. Ada beberapa data yang perlu dicek langsung. Saya sudah minta izin ke direktur operasional.”

“Oh—baik Pak! Kalau begitu saya izinkan Bianca ikut.”

Telepon ditutup.

Bianca tercekat. “Kita beneran mau ke lapangan? Sekarang?”

“Tidak.” Sadewa meraih jasnya. “Kamu turun duluan. Nanti aku belakangan. Kita tidak boleh terlihat pergi bersama.”

“Tapi alasan—”

“Alasannya sudah jelas. Kamu di bawah komando saya soal ini.”

Bianca menunduk. “Baik, Pak.”

Ada jeda, hening, lalu Sadewa menambahkan, lebih pelan:

“Bianca… aku tidak mau Mama kecewa. Aku tahu ini tidak mudah buat kamu. Tapi tolong… bantu aku.”

Kalimat itu bukan perintah.

Itu permintaan tulus mungkin yang pertama sejak mereka menikah.

Bianca mendongak. Matanya bertemu mata Sadewa. Ada keraguan, ada gugup, tapi juga ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuatnya mengangguk.

“Aku bantu,” katanya lirih. “Aku akan pulang duluan.”

Sadewa seperti menghembuskan napas untuk pertama kalinya sejak pagi. “Terima kasih.”

Bianca melangkah menuju pintu, tapi sebelum ia memutarnya, Sadewa memanggil.

“Bianca.”

Bianca menoleh.

“Jangan naik mobil siapa-siapa. Jangan kasih alasan tambahan buat Mama curiga.”

Bianca mengerti maksudnya. Ia mengangguk lagi.

“Baik.”

Bianca keluar.

Sadewa berdiri sendiri di ruangannya. Tangan menggenggam meja begitu erat sampai buku jarinya memutih.

"Ini cuma sandiwara."

"Tapi kenapa degup jantungnya terasa nyata?"

 

1
Khusnul Khotimah
KLO Sadewa SDH kumpul kebo sama Sarah jg kasih Bianca kembali sama Sadewa biar saja Sadewa sama Sarah sekalian biar dipuas puasin zinanya,,,,,KLO Bianca biar dpt jodoh lelaki baik yg g mdh berzina,,,,
kalea rizuky
laki bekas kayak ku gk ada kesempatan
kalea rizuky
kapok kau dewa hancur lebur sudah karena kegoblogan mu
kalea rizuky
mending anak nya mati biar g berhubungan lagi ma dewa
kalea rizuky
pantes sadewa bejat niru. bapak ne
Isma Nayla
rasakan tuh dewa,pengadilan pasti mengabulkan gugatan bianca.
karena bukti2nya sdh kuat utk membuatmu harus menceraikan bianca
Khusnul Khotimah: KLO mo insaf jadilah pribadi yg lebih baik tp KLO kembali jg za Thor,,,,,,cukup Hima terlahir kek gitu karena prilaku bapaknya yg pezina dan membawa energi negatif,,,,,bekas lubang WC bareng BPK nya pakai,,,,hwuuuuekkk,,,,,cukup jadi cerita masalalu,,,,,biarkan Biancaenemukan bahagia dg pria baik bukan pria seperti sadewa
total 1 replies
Isma Nayla
rasakan penyesalanmu sadewa.
biarkan keluarga sadewa hancur sehancur-hancurnya,seperti perasaan bianca yg terus disakiti sadewa.
Isma Nayla
bagus lebih baik bianca menjauh dari kehidupan sadewa.
Isma Nayla
😭😭 thor bawang sebaskom buat mata ku nangis
dwi astrid
ngga sabar pengin liat terbongkarnya bapaknya sadewa dan sarah pasti tmbah nyesell si sadewaaa .... makin kejang " pasti /Cry//Cry//Cry/
Isma Nayla
thor jangan biarkan bianca kembali sama sadewa,please.
Isma Nayla
eh,ternyata kelakuan sadewa nurun dari bapaknya.buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up thor
dwi astrid
Gilaaa perempuan 1 untuk 1 ayah dan 2 anak laki" /CoolGuy//CoolGuy/
Dian Fitriana
update
kalea rizuky
menjijikkan berbagi jalang ma bapak sendiri ya Sadewa di kasih bidadari milih lacur
kalea rizuky
hahaha enak ya dewa berbagi lubang sama ayahmu sendiri
kalea rizuky
moga cpet cerai laki najis bekas lagi
Reni Anjarwani
anak sama bpk sama brengseknya yaaa heran aku
Nurlaila Ikbal
anak dan bapak luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!