SINOPSIS
Feng Ruxue adalah Permaisuri dari Kekaisaran Phoenix yang dikhianati oleh suaminya sendiri, sang Kaisar, dan adik perempuannya yang licik. Mereka menjebak Ruxue, mencabut tulang sumsum phoenix-nya (sumber kekuatannya), dan membakarnya hidup-hidup di Menara Terlarang.
Namun, alih-alih mati, jiwa Ruxue justru bangkit kembali ke tubuh seorang gadis lemah berwajah buruk rupa yang sering ditindas di desa terpencil. Dengan ingatan masa lalunya sebagai kultivator tingkat tinggi, ia mulai berlatih kembali, menyembuhkan wajahnya, dan membangun pasukan rahasia. Ia kembali ke ibu kota bukan untuk meminta maaf, tapi untuk mengambil kembali mahkotanya dan membakar setiap orang yang pernah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mieayam(•‿•), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Fajar di Atas Langit Mawar
Satu bulan telah berlalu sejak malam di mana pilar-pilar emas Istana Phoenix runtuh ke bumi, terkubur di bawah reruntuhan kesombongan klan Long. Ibu Kota yang dulunya menjadi simbol diskriminasi klan bangsawan kini tengah menjalani transformasi besar yang belum pernah terbayangkan dalam seribu tahun terakhir.
Reruntuhan batu marmer yang hancur tidak dibuang begitu saja; Lin Xiao memerintahkan agar puing-puing itu digunakan kembali untuk membangun fondasi pasar rakyat dan sekolah kultivasi bagi mereka yang tidak mampu. Sebuah pesan simbolis yang jelas: Kekuasaan baru ini dibangun dari sisa-sisa kegagalan masa lalu yang telah dihancurkan.
Di atas bukit tertinggi yang menghadap ke seluruh kota, sebuah istana baru telah berdiri dengan keanggunan yang berbeda. Strukturnya tidak lagi menyerupai naga yang angkuh dan mengancam, melainkan desain yang lebih organik dan terbuka, menyatu dengan alam sekitarnya. Taman-taman luas yang dulu hanya berisi tanaman hias mahal, kini dipenuhi oleh mawar hitam yang tumbuh subur, memancarkan aroma wangi yang menenangkan sekaligus misterius. Tempat ini kini dikenal oleh rakyat sebagai Paviliun Mawar Nirwana.
Lin Xiao berdiri di balkon paviliun tertinggi, menatap matahari pagi yang mulai merangkak naik. Ia mengenakan jubah permaisuri berwarna hitam pekat dengan bordiran perak berbentuk sulur mawar yang tampak hidup saat tertimpa cahaya. Rambutnya, yang sempat memutih seluruhnya saat ia mencapai puncak kekuatan Inti Dewa, kini telah kembali hitam legam dan berkilau. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, terdapat satu helai perak tipis yang tetap ada di bagian depan—sebuah tanda permanen, semacam medali perang yang mengingatkannya akan harga nyawa dan umur yang ia pertaruhkan demi kemenangan ini.
"Nona... ah, maksud saya, Yang Mulia," suara langkah kaki yang familiar terdengar di belakangnya.
Lin Xiao menoleh perlahan dan tersenyum tipis—sebuah senyuman tulus yang jarang ia tunjukkan selama masa pelariannya. "Gu, sudah berapa kali kukatakan? Di antara kita, tidak perlu ada gelar formal yang kaku itu. Tanpa kesetiaanmu dan Paviliun Pengobatanmu, aku mungkin sudah menjadi tulang belulang di dasar jurang sejak lama."
Kepala Paviliun Gu membungkuk hormat, namun matanya yang tua tampak berkaca-kaca penuh haru. "Melihat Anda berdiri di sini, membawa kedamaian bagi kekaisaran yang sempat hancur ini, adalah pencapaian terbesar dalam hidup saya yang renta ini. Laporan dari provinsi timur dan barat telah tiba pagi ini. Para menteri dan jenderal yang dulu fanatik mendukung Long Tian telah menyerahkan segel kekuasaan mereka tanpa perlawanan. Rakyat di desa-desa mulai memuja nama Anda sebagai penyelamat, bukan sebagai pemberontak."
"Pemujaan adalah hal yang berbahaya, Gu," jawab Lin Xiao sambil mengalihkan pandangannya kembali ke arah kota. "Long Tian pun dulu dipuja. Aku tidak ingin rakyat patuh karena takut atau karena menganggapku dewa. Aku ingin mereka patuh karena mereka merasakan keadilan. Aku telah menghapuskan sistem 'Pajak Darah' dan membuka gudang makanan kekaisaran untuk musim dingin mendatang. Pastikan distribusi itu diawasi dengan ketat; jika ada pejabat yang berani mencuri satu butir beras pun, biarkan mereka berhadapan langsung dengan pedangku."
Gu mengangguk tegas, tahu bahwa di balik kelembutan wajah Lin Xiao sekarang, masih tersimpan ketegasan seorang penguasa yang tak kenal ampun terhadap ketidakadilan.
"Lalu, bagaimana dengan Yun'er?" tanya Lin Xiao, nada suaranya melembut secara drastis.
Gu menunjuk ke arah taman bawah. Di sana, Yun'er terlihat sedang berlari-lari riang bersama sekelompok anak yatim piatu yang orang tuanya menjadi korban selama perang saudara kemarin.
Yun'er tidak lagi tampak seperti gadis kecil yang ketakutan dan kotor; ia mengenakan pakaian sutra berwarna ungu muda, wajahnya bulat sehat dengan rona merah di pipi. Tawa renyahnya membumbung tinggi, menjadi satu-satunya melodi yang mampu mencairkan sisa-sisa es di hati Lin Xiao.
"Dia sangat bahagia, Nona. Dia sering bertanya kapan Kakak Xiao akan berhenti bekerja dan menemaninya memetik bunga mawar di hutan belakang," lapor Gu.
Lin Xiao merasakan matanya sedikit memanas. Inilah alasan sebenarnya ia bertarung. Bukan hanya untuk membunuh Long Tian, tapi untuk memastikan tawa seperti itu bisa tetap ada.
"Dan... mengenai Feng Meili?" tanya Lin Xiao lagi, suaranya kembali mendingin.
Gu menghela napas panjang. "Dia masih berada di penjara bawah tanah terdalam. Namun, dia bukan lagi ancaman. Feng Meili telah kehilangan seluruh kesadarannya. Ia menderita kegilaan total. Setiap hari ia merias wajahnya yang kusam dengan debu lantai, berbicara pada dinding kosong seolah sedang berada di pesta perjamuan, dan memerintahkan bayangan untuk mengambilkan teh. Para tabib mengatakan jiwanya telah hancur karena tekanan rasa takut dan kehilangan. Dia tidak akan bertahan lama; tubuhnya menolak makanan karena ia yakin seseorang sedang meracuninya—sebuah ironi, mengingat itu adalah metodenya dulu."
Lin Xiao terdiam cukup lama. Tidak ada rasa puas yang melonjak di dadanya, hanya sebuah kekosongan yang tenang. "Biarkan dia di sana. Jangan sakiti dia lebih jauh, tapi jangan juga bebaskan dia. Biarkan kegilaannya menjadi penjara yang ia bangun sendiri. Kadang, hidup dalam bayang-bayang kesalahan sendiri jauh lebih menyiksa daripada kematian yang cepat."
Sore harinya, Lin Xiao meninggalkan istana dengan pakaian penyamaran sederhana. Ia melesat menuju tebing terpencil di pinggiran Ibu Kota—tebing yang menjadi saksi bisu hari di mana ia dikhianati dan ditusuk tepat di jantungnya oleh pria yang paling ia percayai.
Tebing itu kini telah berubah. Di pinggirannya, Lin Xiao telah membangun sebuah monumen batu granit hitam yang megah namun sederhana. Tidak ada ukiran emas, hanya sebuah batu yang berdiri kokoh menghadap matahari terbenam. Monumen itu didedikasikan untuk keluarganya, untuk klan Mawar Hitam yang dibantai habis, dan untuk semua orang yang namanya dihapus dari sejarah oleh klan Long.
Ia meletakkan setangkai mawar hitam segar di atas batu tersebut. Bunga itu berkilau tertimpa cahaya jingga senja.
"Ayah, Ibu... Kakak..." bisik Lin Xiao. "Dendam ini sudah lunas. Nama klan kita tidak lagi menjadi kutukan, melainkan menjadi dasar dari hukum yang baru. Aku telah membalas setiap tetes darah yang tumpah, namun aku sadar... itu tidak bisa membawa kalian kembali."
Lin Xiao memejamkan mata, membiarkan angin kencang menerpa wajahnya. Untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan, ia merasa benar-benar ringan. Beban kebencian yang selama ini menjadi bahan bakar kekuatannya telah menguap, meninggalkan ruang kosong yang kini mulai ia isi dengan harapan.
Namun, kedamaian ini bukanlah akhir dari segalanya. Di dalam dirinya, Inti Dewa Kegelapan berdenyut pelan, memberikan getaran sensorik yang melampaui batas kekaisaran. Lin Xiao menatap ke arah utara, melintasi pegunungan salju yang belum terjamah, menuju benua-benua luar yang dihuni oleh praktisi tingkat tinggi yang bahkan belum pernah ia impikan.
Ia tahu bahwa dunia ini sangat luas. Masih ada misteri tentang asal usul Energi Nirwana, tentang dewa-dewa kuno yang memberikan kekuatan padanya, dan mungkin ancaman yang jauh lebih besar dari sekadar seorang pangeran haus kekuasaan seperti Long Tian.
"Nona," suara Gu muncul lagi, kali ini ia membawakan sebuah gulungan kuno yang ditemukan di ruang rahasia milik Kaisar Long yang lama. "Ini adalah peta 'Tanah Tanpa Nama' di seberang lautan. Sepertinya klan Long selama ini menyembunyikan fakta bahwa ada peradaban lain yang mengincar energi kekaisaran kita."
Lin Xiao menerima gulungan itu, matanya berkilat penuh minat. Semangat petualangnya yang sempat terkubur oleh dendam kini mulai bangkit kembali.
"Sepertinya masa pensiun dini ku harus ditunda, Gu," ucap Lin Xiao dengan senyum penuh tantangan.
Ia berjalan kembali menuju istananya, langkahnya kini jauh lebih mantap. Di pintu masuk istana, Yun'er berlari menyambutnya dan langsung memeluk kakinya. Lin Xiao menggendong adik kecilnya itu, menatap ke arah langit malam yang kini mulai dipenuhi bintang.
Ia mengambil sebuah batu kecil dan mengukir baris terakhir di monumen tebing menggunakan ujung jarinya yang dialiri energi:
"Kegelapan tidak pernah benar-benar lenyap, ia hanya menunggu mawar yang tepat untuk mekar di tengah-tengahnya. Dan mawar itu kini memegang kunci fajar."
Lin Xiao menyarungkan pedang Nightshade-nya untuk terakhir kalinya dalam babak ini. Ia bukan lagi seorang pembalas dendam; ia adalah seorang pelindung, seorang penguasa, dan yang terpenting, ia adalah seorang wanita yang akhirnya menemukan kedamaian dalam dirinya sendiri.
Kisah tentang pengkhianatan naga telah usai, namun legenda tentang Permaisuri Mawar Hitam baru saja menuliskan halaman pertamanya di buku sejarah dunia.
TAMAT.
Sampai Jumpa di Season 2 👋